Choco

Choco
Menginap



Tak terasa waktu pun sudah menunjukkan pukul 11.00 malam, semua pun sudah pulang ke rumah mereka masing-masing, kecuali Dika yang masih ditahan oleh Restu karena keadaan rumah Restu terlalu berantakan, Restu pun menyuruh Dika untuk membantu membersihkan rumahnya.


Restu, Dika, dan seorang pembantu kemudian membersihkan rumah bersama-sama. Satu jam sudah berlalu dan mereka pun akhirnya sudah selesai membersihkan rumah.


Bugg...


Dika merebahkan badannya di atas sofa. Dika mengatur nafasnya yang tidak beraturan, ia juga mengelap keringatnya menggunakan lengan baju. "Akhirnya selesai juga..."


Bugg...


Restu pun juga merebahkan badannya di atas sofa. Nafas Restu juga terengah-engah dan keringat pun membasahi tubuhnya.


"Gue ngindep sini ya, udah malam," ucap Dika.


"Terserah lo. Tapi lo mandi dulu, nanti bantal gue pada hitam gara-gara lo," ucap Restu karena wajah Dika masih hitam akibat terkena arang saat memanggang bebek.


"Iya..." balas Dika.


"Sono mandi, kenapa masih diem?"


"Lo punya handuk sama sabun baru nggak?" tanya Dika.


"Punya, bentar, gue ambilin," ucap Restu.


"Lo emang temen yang pengertian Res hehe..." ucap Dika yang diakhiri dengan tawa kecil.


"Eleh," balas Restu. Restu pun berdiri dan hendak pergi mengambil handuk serta sabun.


"Eh, sekalian pinjemin gue baju sama celana. Sekalian kalo ada daleman baru, gue minta wkwkwk..."


Restu memandang malas kepada Dika. "Mengganggu ketenangan hidup gue aja lo."


"Sekali-sekali nggak apa-apa dong wkwkwk..."


"Iya, iya, ada kok, gue ambilin sekarang." Restu pun pergi mengambilkan barang-barang yang diminta oleh Dika.


Tak berselang lama Restu datang membawa barang-barang tersebut. Restu pun juga membawa barang-barang keperluannya untuk mandi.


"Nih... Semuanya baru," Restu memberikan barang-barang tersebut kepada Dika.


"Hehe.. gini dong jadi temen, tencuu..."


"Udah, lo nggak usah sok imut," ucap Restu.


Dika memperhatikan baju yang diberikan oleh Restu. Baju tersebut merupakan sweater perempuan berwajah hitam yang berisi gambar hati. "Wah, wah, lo kasi gue baju siapa nih?"


"Itu baju Intan, kemarin dia beli online, tapi kegedean. Jadi Intan kasi baju itu ke gue. Udah.. terima aja, udah untung gue kasi."


"Yaa.. nggak apa-apa deh... Tapi emangnya Intan nggak marah bajunya lo kasi ke gue?"


"Nggak, dia nggak akan marah. Lo pikir baju itu gratis? Gue beli tu baju dari Intan," ucap Restu.


"Wkwkk.. ternyata Intan perhitungan juga sama lo."


"Lo ngomong terus, mandi sana!"


"Iya, iyaa... Ngomong-ngomong lo juga mau mandi?" ucap Dika.


"Iya lah," balas Restu.


"Siapa yang mandi duluan?" tanya Dika.


"Barengan," jawab Restu singkat.


Seketika Dika membelalakkan matanya karena mendengar ucapan Restu. "Hah?! Ogah!" ucap Dika kaget.


"Idihh.. gue juga nggak mau mandi sama lo. Gue masih normal, lo pikir gue cowok apaan?!"


"Lah, tadi lo bilang barengan," ucap Dika.


"Iya, bareng, tapi nggak satu kamar mandi. Gue pake kamar mandi di kamar gue, lo pake kamar mandi di belakang."


"Oala.. jadi kayak gitu toh wkwkwk..."


...****************...


Sekitar 15 menit kemudian Dika sudah selesai mandi, ia pun mencari Restu ke kamarnya. Namun sesampainya di kamar Restu, Dika tidak melihat keberadaan Restu disana. Dika mendengar suara gemericik air dari kamar mandi yang bertanda bahwa Restu masih sedang mandi.


"Lama banget Restu mandi..." gumam Dika.


Dika pun memperhatikan dirinya di cermin. Terlihat wajah Dika yang masih sedikit hitam karena terkena arang saat membakar bebek.


"Ini kenapa sih susah banget hilangnya?" gumam Dika sembari terus mengusap wajahnya. Dika pun mencoba mencari sesuatu untuk membersihkan wajahnya di laci Restu.


"Lo ngapain ngacak-ngacak laci gua?" tanya Restu yang baru keluar dari kamar mandi.


Dika kemudian membalikan badannya dan terlihat wajah Dika yang masih berisi noda hitam.


"Buakakakakak..." Restu pun tertawa karena melihat wajah Dika.


"Malah ketawa lagi," ucap Dika.


"Gue nggak tau, ini nggak mau hilang. Lo punya sesuatu nggak supaya muka gue bersih lagi?"


"Gue sih nggak punya. Tapi coba lihat di meja rias mama gue pasti ada."


Restu pun mengajak Dika masuk ke kamar mama (Bu Ayu) dan papanya (Pak Riko) untuk mencari sesuatu yang dapat membersihkan wajah Dika.


Restu dan Dika membaca tulisan di botol-botol yang ada di meja rias milik Bu Ayu.


"Bayak juga ya alat make up mama lo," ucap Dika.


"Iya, gue juga baru nyadar, gue nggak pernah merhatiin," ucap Restu.


"Susu pembersih," ucap Restu dalam hati ketika membaca tulisan di salah satu botol.


"Ini bukan?" Restu menunjukkan botol tersebut kepada Dika.


"Eh iya, ini tulisannya isi pembersih pasti buat bersihin," ucap Dika.


"Ya udah, lo pake ini aja. Baca aja caranya, udah ada di kemasannya," ucap Restu.


Dika pun membersihkan wajahnya menggunakan susu pembersih tersebut.


"Cepetan Dik, nanti keburu mama gue dateng," ucap Restu.


"Iya, iyaa... Ngomong-ngomong ini udah jam 1 pagi, ortu lo pulang jam berapa?" ucap Dika.


"Papa gue lagi kerja di luar kota. Sementara mama gue pulangnya sering nggak tentu, maklum lah, mama gue kan dokter. Hari ini katanya dia ada jadwal operasi," jawab Restu.


"Pantesan aja jam segini belum pulang."


...****************...


Sekitar 10 menit kemudian Dika pun sudah selesai membersihkan wajahnya.


Dika memperhatikan wajahnya di cermin. "Akhirnya kegantengan gue kembali wkwkk..."


Dika kemudian membangunkan Restu yang sedang tertidur di kasur. Dika menepuk pipi Restu. "Oi.. bangun..."


Dengan perlahan Restu pun mulai membuka matanya. "Hmm..."


"Bangun, gue udah selesai," ucap Widia.


"Sampai ketiduran gue," balas Restu.


Restu dan Dika kemudian pindah ke kamar Restu. Sambil berbaring di ranjang, Dika memperhatikan sekeliling dinding kamar Restu yang dihiasi oleh banyak koleksi raket.


"Nambah terus koleksi raket lo," ucap Dika.


"Iya, yang di kanan gue baru beli minggu lalu. Hampir tiap bulan gue beli baru."


"Gue tau lo sebenarnya suka main bulutangkis. Tapi kenapa lo jarang main bulutangkis?"


"Gue cuma nggak mood aja," jawab Restu.


"Ah, nggak mungkin. Setiap gue main bulutangkis sama lo, lo kelihatan semangat banget. Udah, jujur deh lo sama gue," ucap Dika.


Restu menghela nafasnya. "Gue emang suka main bulutangkis, tapi orang tua gue nggak setuju kalau gue terlalu sering main bulutangkis, mereka nyuruh gue buat belajar aja."


"Ternyata orang tuanya Restu ketat juga," batin Dika.


"Gue bukan ngajarin lo ngelawan orang tua, tapi nggak ada salahnya juga kalo lo jujur soal hobi lo. Kalo lo bener-bener suka main bulutangkis, tunjukin sama mereka apa yang lo suka," ucap Dika.


"Mereka nggak pernah dengerin gue. Sejak kecil hidup gue udah diatur sama orang tua gue, seakan-akan takdir gue ada di tangan mereka, mereka nggak pernah perduli sama apa yang gue inginkan. Orang tua gue pengen nanti gue jadi pengacara kayak papa, sementara gue sedikit pun nggak pernah tertarik dengan pekerjaan seperti itu."


"Saran gue, lo lakukan apa yang lo yakini, yang lo percayai," ucap Dika.


"Udahlah, mendingan sekarang tidur aja," ucap Restu.


"Kasihan juga Restu, mungkin ini penyebab nilainya selalu buruk," batin Dika.


......................


...BERSAMBUNG...


......................


...°...


...°...


...°...


Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya judulnya "Berbeda"


Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...


1 like dan komentar singkat dari para pembaca sangat berharga bagi Author 😊...


Terima kasih 🙏💕...