Choco

Choco
Menjenguk



Waktu sudah menunjukkan pukul 07.30 pagi. Seharusnya Dika saat ini sudah bersiap-siap untuk berangkat sekolah, namun ia malah duduk melamun di dekat jendela kamarnya. Tatapannya kosong seakan-akan ia sedang memikirkan sesuatu, hal tersebut membuatnya tidak menyadari jika sinar mentari sudah bersinar sangat terang.



Pak Arthama pun mencari Dika ke kamarnya karena Dika tidak turun untuk sarapan. Dika bahkan sampai tidak menyadari kedatangan Pak Arthama karena ia terlalu larut dalam lamunannya.


"Dika..." ucap Pak Arthama.


"Papa."


"Kamu kenapa masih pakai pakaian seperti itu?"


"Hari ini Dika nggak pengen ke sekolah."


"Kenapa?"


"Hari ini papa sama Dimas akan pindah ke luar kota. Dika mau ikut nganterin kalian."


"Tapi sekarang kamu harus sekolah..."


"Papa udah nggak kasi Dika buat tinggal bareng sama kalian di luar kota tapi setidaknya papa bolehin Dika nganterin kalian hari ini."


"Dika, papa belum selesai bicara. Kamu boleh ikut ke luar kota hari ini. Kita akan berangkat ke luar kota nanti sore, sekarang kamu bisa sekolah dulu."


"Tapi Dika pengen bantu beres-beres juga."


"Papa tau kamu menyayangi Dimas lebih dari diri kamu sendiri. Tapi Dimas tidak akan senang jika kamu terlalu khawatir dan sampai mengabaikan banyak hal demi dirinya. Dimas pasti akan sedih melihat kamu seperti ini."


"Dika takut... Dika baru aja bisa bareng-bareng sama Dimas, tapi sekarang..." Dika mengalihkan pandangannya dari Pak Arthama. Mata Dika pun terlihat berkaca-kaca.


"Iya papa tau, tapi kamu harus percaya kalau semua akan baik-baik saja," ucap Pak Arthama sembari mengusap kepala Dika.


"Apa Dika boleh tinggal bareng di luar kota?"


"Dimas akan menjalani pengobatan rutin dalam waktu yang lama. Kamu harus sekolah, selain itu kamu juga harus jaga rumah, jadi kamu tidak bisa ikut tinggal di sana. Tapi kamu masih bisa mengunjungi Dimas dan menginap beberapa hari setiap liburan."


"Tapi masih banyak yang bisa jaga rumah, masih ada satpam dan beberapa pembantu yang akan mengurus rumah. Dan Dika juga bisa pindah sekolah."


"Apa kamu tidak berat meninggalkan teman-teman kamu? Restu, Bryan, Widia..."


"Nggak, Dika bisa balik ke sini setiap weekend."


"Tapi papa yakin Dimas tidak akan setuju."


"Dika akan coba bujuk Dimas. Dika mohon pa."


"Baik, papa akan segera urus mengenai pindah sekolah kamu, itupun dengan persetujuan dari Dimas... Sekarang kamu pergi ke sekolah ya..." ucap Pak Arthama dan dibalas anggukan oleh Dika.


...****************...


Sebelum berangkat ke sekolah Dika menyempatkan diri menemui Dimas. Dimas saat ini tengah berbaring di kasurnya, kondisinya terlihat kurang baik dan wajahnya pun terlihat pucat.


"Dika..." ucap Dimas ketika melihat Dika membuka pintu kamarnya. Dimas tetap berbaring di kasurnya karena kondisinya sangat lemah.


"Gue kira lo udah berangkat ke sekolah," lanjut Dimas.


Dika pun duduk di pinggir kasur. "Muka lo kelihatan pucat banget. Apa kita perlu ke rumah sakit sekarang?"


"Nggak usah, gue cuma ngerasa sedikit lemas aja."


"Lebih baik gue jangan bahas soal pindah sekolah sekarang. Gue takut kondisinya semakin melemah karena banyak pikiran," batin Dika.


"Kenapa nggak ada yang jagain lo? Papa sama suster kemana?" tanya Dika.


"Papa kan ke kantor, papa harus ngurus beberapa hal sebelum pindah. Kalau suster masih ngambilin gue makanan, ntar aja tateng."


"Ya udah, gue tunggu sampai suster dateng."


"Nggak usah, mendingan sekarang lo berangkat ke sekolah."


Dika samasekali tidak menghiraukan perkataan Dimas, ia masih tetap duduk di samping Dimas.


"Kenapa masih diem di sini? Cepetan berangkat," ucap Dimas.


Akhirnya tak berselang lama suster yang merawat Dimas pun datang dengan membawa sarapan untuk Dimas.


"Nah, susternya udah dateng, lo harus berangkat sekarang."


"Iya, tapi sebelum gue pulang sekolah lo jangan pergi dulu. Gue mau ikut nganterin lo."


"Iya," balas Dimas.


"Dika..." ucap Dimas.


Dika pun menghentikan langkahnya karena Dimas memanggilnya. "Ada apa?"


"Nanti ajak temen-temen ke sini juga. Gue mau lihat mereka semua sebelum gue pergi."


"Iya," ucap Dika yang diakhiri dengan senyuman. Dika pun langsung bergegas berangkat ke sekolah.


...****************...


Sepulang sekolah Dika langsung mengajak Willy, Aulia, Restu, Bryan, dan Widia ke rumahnya untuk menjenguk Dimas. Kini Dimas masih berbaring di kasurnya karena kondisinya yang lemah.


"Gimana keadaan lo Dim?" tanya Willy.


"Yah, seperti yang lo lihat. Gue ngerasa lemes banget, rasanya nggak ada tenaga," jawab Dimas.


"Kenapa lo tutupi semua ini dari kita? Seharusnya lo cerita sama kita," ucap Bryan.


"Gue cuma nggak mau nyusahin siapapun. Gue juga nggak mau buat kalian sedih."


"Gue malah lebih sedih kalau lo nggak cerita sama gue. Gue itu temen lo Dim, sahabat lo. Gue udah anggap lo seperti saudara sendiri," ucap Wiily.


"Iya Dim, lo nggak usah sungkan-sungkan sama kita," ucap Restu.


"Iya, kalian bener... Mungkin akhir-akhir ini kita akan jarang ketemu. Karena mulai nanti sore gue akan pindah ke luar kota untuk menjalani pengobatan. Kalau kalian ada waktu jangan lupa sering-sering tengokin gue," ucap Dimas yang diakhiri dengan senyuman.


"Pasti Dim, kalau libur kita akan jengukkin lo," ucap Willy.


"Dan hari ini kita juga akan ikut anterin lo ke luar kota," ucap Aulia.


"Makasi ya."


"Kak Dimas yang kuat, Kak Dimas harus semangat," ucap Widia.


"Iya, pasti Widia... Lo udah gue anggap seperti adik gue sendiri, sama kayak Dika. Lo sering-sering tengokkin Dika. Dia pasti kesepian dan cuma lo yang bisa buat dia ketawa."


"Iya kak," balas Widia.


"Kalau soal gue lo nggak perlu pikirin," ucap Dika.


"Tapi kenapa lo nggak mau berobat ke luar negeri?" tanya Willy.


"Gue masih bisa ditangani di sini, nggak perlu sampai ke luar negeri."


"Tapi di luar negeri pengobatannya pasti lebih canggih."


"Kalau masih bisa ditangani di sini Kenapa harus ke luar negeri?"


"Jawaban lo selalu aja kayak itu. Mau siapapun yang bujuk lo, lo tetep nggak mau," ucap Dika.


"Sekarang gue masih bisa ditangani di sini. Nanti kalau gue perlu berobat ke luar negeri, tanpa perlu dibujuk gue pasti akan ke sana..."


"Ya udah kalau itu mau lo Dim. Yang terpenting lo harus semangat, lo harus yakin," ucap Bryan.


"Kita akan selalu ada buat lo," ucap Willy.


"Iya, makasi ya. Gue beruntung punya temen-temen seperti kalian."


"Sebenarnya sama aja kalau gue berobat di sini ataupun ke luar negeri. Kemungkinan gue untuk sembuh sangat kecil. Gue lebih ingin menghabiskan sisa hidup gue sama kalian, berada di dekat kalian... Ya Tuhan, jika aku kehilangan harapan ku, tolong ingatkan aku bahwa rencanamu lebih baik dari yang aku inginkan," batin Dimas.


...----------------...


...BERSAMBUNG...


...----------------...


...°...


...°...


...°...


...Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya yang berjudul "Berbeda"...


...Jangan lupa dijadiin fav yaaa🤭......


...Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya agar author jadi lebih semangat 🤗......


...Terima kasih 🙏💕......