
Pak Arthama memutuskan pulang sejenak untuk membersihkan diri. Kini giliran Dimaslah yang menggantikan Pak Arthama untuk menjaga Dika dirumah sakit.
...****************...
Karena Dimas merasa haus, ia memutuskan pergi ke kantin rumah sakit untuk membeli air mineral. Setelah membeli air mineral ia langsung bergegas menuju ruang rawat Dika.
Ketika Dimas berjalan di lorong rumah sakit, ia melihat ada 2 orang perawat dari arah yang berlawanan membawa jenazah.
Krek.. krek.. krek.. krek.. krek...
Suara roda kasur jenazah yang didorong oleh 2 orang perawat tersebut.
Ketika sedang berpapasan dengan jenazah tersebut entah kenapa tiba-tiba saja Dimas menjadi merinding dan jantungnya pun berdegup dengan kencang.
"Kenapa perasaan gue jadi nggak enak? Ada apa ini?" batin Dimas.
Dimas menghentikan langkahnya serta menoleh ke belakang. Sejenak ia memperhatikan 2 orang perawatan dan jenazah tersebut sampai mereka menghilangkan ketika berbelok kearah kanan.
"Somoga keluarga yang ditinggalkannya bisa tabah..." gumam Dimas.
Dimas kemudian kembali berjalan menuju ruang rawat Dika yang berada sudah sangat dekat.
Sesampainya di ruang rawat Dika, Dimas mendapati Dika sudah tidak berada disana. Tempat tidur Dika pun sudah kosong dan hanya ada seorang perawat yang tengah membereskan tempat tidur Dika serta seorang dokter yang sedang duduk di meja sembari menulis sesuatu.
"Ini?! Adik saya dimana sus?!" tanya Dimas dengan panik kepada suster.
Perawat tersebut menghela nafas panjang. "Pasien di ruangan ini sudah meninggal..." ucap perawat tersebut sembari menundukkan kepalanya.
Deg...
Jantung Dimas rasanya seperti berhenti seketika setelah mendengar ucapan perawat tersebut. "Apa?! Nggak mungkin!"
Brak...
Dimas menghempaskan air yang dibawanya ke lantai sehingga air merceceran dimana-mana.
"Saya tidak berbohong, jenazah pasien baru saja dibawa keluar," ucap perawat.
Deg.. deg.. deg...
Jantung Dimas berdegub dengan kencang dan nafasnya pun menjadi tidak teratur.
"Jenazah tadi?..." batin Dimas.
"Nggak! Nggak mungkin! Lo jangan bercanda!" Dimas yang merasa kesal meremas leher baju perawat tersebut. "Jangan berani main-main lo sama gue! Dimana adek gua!"
Melihat kejadian tersebut, Dokter yang juga berada disana segera mengamankan Dimas.
"Suster ini tidak berbohong. Jenazah pasien baru saja dibawa keluar," ucap Dokter.
Tangan dan kaki Dimas pun bergemetar, air mata Dimas tanpa disadari sudah mengalir dan membasahi pipinya. Dimas menggelengkan kepalanya. "Nggak! Nggak mungkin! Kalian bohong!"
Dimas segera berlari keluar dan menyusul jenazah tadi. Akhirnya Dimas menemui 2 orang perawat dan jenazah tersebut sebelum mereka masuk ke kamar jenazah.
Dengan tangannya yang sudah bergemetar Dimas membuka kain yang menutupi wajah jenazah tersebut.
Deg...
Alangkah terkejutnya Dimas ketika melihat jenazah tersebut adalah benar-benar Dika.
Dimas memeluk jenazah tersebut sembari menangis. "ARGHH!!... DIKAAA!!... NGGAK MUNGKIN!!... DIKAA!!..." teriak Dimas.
...****************...
"Nggak! Nggak! Dikaa!" ucap Dimas ditengah-tengah tidurnya.
Dimas sekarang memang sedang tertidur di atas sofa yang ada di ruangan tempat Dika dirawat untuk melepaskan penatkan karena beberapa hari ini ia tidak dapat istirahat dengan cukup.
Seketika Dimas langsung tersadar dari tidurnya dengan keringat dingin yang sudah membasahi tubuhnya. Jatung Dimas berdegub dengan kencang serta nafasnya pun menjadi tidak teratur.
Dimas duduk dan ia segera melirik ke arah Dika. Perasaannya pun menjadi lega ketika melihat Dika yang masih terbaring di tempat tidurnya.
Dimas mengusap wajahnya. "Syukurlah cuma mimpi..." gumam Dimas. Dimas menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, Dimas melakukan hal tersebut beberapa kali untuk menenangkan dirinya.
Dimas kemudian menghampiri Dika dan duduk di kursi dekat tempat tidur Dika. Dimas mengusap rambut Dika.
"Cepat sembuh Dik..." ucap Dimas.
Dimas memeriksa handphonenya dan terlihat waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi, selain itu Dimas juga mendapati 2 panggilan tak terjawab dan sebuah pesan WhatsApp masuk dari Pak Arthama.
...----------------...
...Via WhatsApp...
...----------------...
Pak Arthama : Dimas, kamu temani Dika dulu. Kemungkinan papa kembali ke rumah sakit nanti siang, karena papa harus mengurus kasus Yuni di kantor polisi dulu.
...----------------...
Dimas mematikan layar handphonenya kemudian ia memasukkan handphonenya ke dalam saku.
Dimas melirik ke arah Dika, seketika matanya membesar ketika melihat jari-jari Dika bergerak.
"Dika!" Senyuman bahagia pun terukir di wajah Dimas.
Dimas segera menggenggam tangan Dika. Dimas memperhatikan wajah Dika, terlihat perlahan mata Dika mulai terbuka.
"Dika... Akhirnya lo sadar..." ucap Dimas sembari memegang tangan Dika.
Dika hanya diam tanpa berkata sepatah kata pun. Mata Dika yang setengah terbuka memandang ke langit-langit ruangan.
"Terima kasih Tuhan, terima kasih..." ucap Dimas.
Dimas segera memencet bell untuk menghubungi dokter.
"Gue bahagia banget Dika..." Saking bahagianya Dimas sampai-sampai meneteskan air mata, dan dengan segera Dimas mengusap air matanya.
Tak berselang lama dokter datang dan langsung memeriksa keadaan Dika. Dimas diperintahkan untuk sementara keluar ruangan oleh dokter. Melalui jendela, Dimas memperhatikan dokter sedang memeriksa keadaan Dika. Senyuman bahagia pun terus terukir di wajah Dimas.
Di luar, dengan bersemangat Dimas menelepon semua orang untuk menginformasikan kabar bahagia tersebut.
Sekitar 30 menit kemudian dokter pun keluar dari ruangan Dika.
"Pasien ingin bertemu dengan kakaknya," ucap dokter.
"Iya, saya kakaknya dok..." Dimas segera masuk kedalam dan menghampiri Dika.
"Akhirnya lo sadar Dika..." ucap Dimas.
Dengan posisi masih terbaring lemah, Dika melirik Dimas dengan tatapan sayu.
Dimas memegang tangan Dika. "Gue bahagia banget Dik, akhirnya lo sadar... Gue bahagia banget..."
"Gue nggak mimpi kan Dim?..." ucap Dika dalam hati.
Air mata Dika pun keluar karena mendengar ucapan Dimas.
Dimas segera mengusap air mata Dika. "Banci lo Dika, masak nangis sih. Jangan nagis..." ucap Dimas yang diakhiri dengan tawa kecil.
Dika pun tersenyum karena mendengar ucapan Dimas kepadanya yang sama persis dengan yang ia ucapkan kepada Dimas ketika Dimas menangis saat mereka berdua sedang diculik.
"Dika... gue minta maaf. Gue udah banyak salah sama lo. Maaf.. " ucap Dimas dengan rasa bersalah.
Perlahan Dika membuka mulutnya. "Sebe-lum lo min-ta maaf, gu-gue udah maafin lo..." ucap Dika dengan terbata-bata.
Dimas pun merasa senang dan sekaligus lega mendengar ucapan Dika. "Jadi lo udah maafin gue?"
Dika mengedipkan matanya perlahan yang bertanda bahwa ia sudah memaafkan Dimas.
Karena saking senangnya Dimas langsung memeluk Dika. "Makasi Dika, makasi... Gue bahagia banget hari ini..."
"Gue lebih bahagia Dim..." ucap Dika dalam hati.
Beberapa saat kemudian Dimas melepaskan pelukannya. "Gue janji Dik, mulai sekarang gue akan selalu berusaha jadi kakak yang baik buat lo."
Dika hanya merespon ucapan Dimas dengan tersenyum bahagia.
"Lo butuh apa? Kalo lo perlu apapun, lo segera bilang ke gue," ucap Dimas.
"Berapa hari di-sini?..." tanya Dika.
"Lo disini udah dua hari lebih. Selama dua hari ini semua khawatir banget sama keadaan lo, karena keadaan lo sempat kritis dan lo juga sempat koma."
"Pa-pa sama yang lain mana?" tanya Dika.
"Beberapa hari ini semua terus jagain lo. Papa dan yang lain baru aja pulang, sebentar lagi mereka kesini. Lo tunggu sebentar aja..."
BERSAMBUNG•••••••
°
°
°
Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya judulnya "Berbeda"
Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...
1 like dan komentar singkat dari para pembaca sangat berharga bagi Author 😊...
Terima kasih 🙏💕...