Choco

Choco
Penyesalan Dimas



Dika segera menghampiri Bu Yuni dengan menyeret kedua kakinya yang terus-menerus mengeluarkan Darah. Bu Yuni yang melihat hal tersebut pun tertawa dan merasa sangat puas. Bu Yuni kemudian memerintahkan suruhannya untuk mengikat Dika di sebuah kursi yang berada bersebelahan dengan Dimas.


Bu Yuni mengambil pisau, ia lantas mengusap dan memainkan pisau tersebut. Dimas dan Dika yang melihat hal tersebut menatap Bu Yuni dengan tatapan penuh amarah.


"Lo mau ngapain?!" tanya Dika.


"Jangan macem-macem!" bentak Dimas.


Bu Yuni menodongkan pisau tersebut ke leher Dimas. Bu Yuni kemudian menatap Dika sembari tersenyum. "Sekarang keselamatan Dimas berada di kamu Dika. Jika kamu diam, saya akan menyakiti Dimas. Sementara jika kamu tidak mau Dimas celaka, kamu harus berteriak dan mengatakan Dika anj*ng, saya tidak akan menyakiti Dimas, tapi, sebagai gantinya saya akan menyakiti kamu."


"Psikopat bang*ke!" ucap Dimas.


"Lepasin kita!" bentak Dika.


Bu Yuni menatap Dimas. "Tapi Dimas, jika menusuk dan melukai leher kamu, kamu akan mati dengan cepat, saya tidak suka itu. Bagaimana dengan sayatan di tangan? Kamu akan menderita secara perlahan karena kekurangan darah. Bagaimana Dika? Apakah kamu setuju?" Bu Yuni lantas menatap Dika sembari tersenyum.


Bu Yuni menempelkan pisau ke pergelangan tangan Dimas. Bu Yuni pun mulai menghitung. "Sa-tu..."


"Jangan!" cegah Dika.


"Diam!" bentak Dimas.


"Du-a..." lanjut Bu Yuni.


"Berhenti!" cegah Dika lagi.


"Jangan!" bentak Dimas.


"Ti..." ucapan Bu Yuni terpotong.


"Dika Anj*ng..." teriak Dika dengan lantang.


Dimas yang merasa kaget menatap Dika dengan membelalakkan matanya. Dimas benar-benar tidak menyangka Dika sepeduli itu dengan dirinya sampai-sampai Dika rela mengorbankan dirinya sendiri hanya agar Dimas dapat selamat. "Dika!..." ucap Dimas dalam hati.


"Ouch... jika itu mau kamu, dengan senang hati mama akan mengabulkan permintaan kamu sayang..." ucap Bu Yuni sambil tersenyum.


Bu Yuni kemudian menyayat kedua pergelangan tangan Dika secara bergantian menggukkan pisau tersebut dengan sangat kejam sehingga menciptakan luka yang begitu dalam dan darah pun terus mengalir keluar dari kedua pergelangan tangan Dika. Dika yang terikat hanya bisa menggigit bibirnya karena menahan sakit. Peluh Dika pun terus mengalir karena mengalami rasa sakit yang teramat sangat.


Dimas yang mengetahui kejadian tersebut memejamkan matanya karena merasa ngeri melihat perbuatan Bu Yuni yang menyayat tangan Dika layaknya psikopat tanpa belas kasihan sedikit pun.


"Ini balasan untuk kamu Dika! Kamu yang sudah buat rencana saya menjadi hancur dan karena itu juga paman kamu, Dion brengs*k itu, mencampakkan saya dan anak saya Amel... Kamu lihat kakak kamu Dimas?! Lihat dia! Dia hanya diam melihat kamu seperti ini, bahkan dia tidak membela kamu sama sekali."


Mata Dika yang sayu tersebut melirik ke arah Dimas kemudian Dika menatap Bu Yuni. Dika kemudian menundukkan kepalanya dan hanya tersenyum simpul serta tidak berkata sepatah kata pun. Pahit rasanya menerima kenyataan jika Dika selama ini memang dianggap anak bandel dan pembawa sial oleh orang-orang terutama keluarganya, terlebih lagi setelah mamanya meninggal dan Dikalah yang dituduh sebagai penyebab mamanya meninggal. Tidak bisa dipungkiri Dika memang kecewa karena Dimas tidak membelanya sedikit pun, akan tetapi Dimas adalah saudara kembarnya sendiri, Dika lebih memilih untuk merasakan sakit dibandingkan harus melihat Dimas tersakiti.


Bu Yuni tertawa puas. "Saya senang kamu menderita secara lahir dan batin seperti ini. Kamu merasakan sakit karena luka dan darah yang terus keluar dari kaki dan tangan kamu, selain itu kamu dapat melihat sendiri jika kakak yang kamu sayangi itu tidak peduli sedikit pun dengan kamu, semua orang benci kamu! samp*h!"


Dimas menatap Bu Yuni dengan tatapan kesal. "Bac*t!"


Dengan nafasnya yang sudah lemah serta darah yang terus-menerus keluar dari luka Dika, Dika hanya bisa diam menahan rasa sakit sembari menundukkan kepalanya.


"Lepasin!" teriak Dimas sambil memberontak.


Bu Yuni mengambil pistol kamudian mengelusi pistol tersebut. "Usstt!... Saya sudah bosan bermain-main! Saya akan langsung menghabisi kalian berdua. Tapi saya akan memberikan pilihan untuk kalian berdua. Diantara kalian berdua siapa yang lebih dulu ingin menyusul mama kalian ke neraka?"


"Dasar Anji*g! Sakit jiwa!" bentak Dimas.


"Kamu bilang apa?! Kamu bilang saya anj*ng?! Sakit jiwa?!"


Dimas tersenyum menyeringai. "Ck! Jika sepatu itu cocok dengan anda, kenakan Cinderella!"


"Dimas!... Kamu terlalu berisik, lebih baik saya kirim kamu ke neraka lebih dulu." Bu Yuni menodongkan pistol tersebut ke kepala Dimas.


"Jangan!... Lo bunuh gue aja..." ucap Dika dengan tenaganya yang sudah lemah.


"Ouh, jadi kamu ingin lebih dulu ke neraka? Baiklah kalau begitu, mama akan segera mengakhiri penderitaan kamu sayang." Bu Yuni mengalihkan pistol tersebut ke kepala Dika.


Dimas menatap kaget pada Dika. "Ya ampun Dika... Sebesar itu kah pengorbanan lo ke gue? Selama ini kakak macam apa gue sebenarnya?!" batin Dimas.


"Dika..." ucap Dimas sambil menatap Dika dengan matanya yang berkaca-kaca. Seketika air mata langsung keluar dari mata Dimas karena merasa terharu melihat pengorbanan Dika.


Bu Yuni pun mulai menghitung. "Tiga..."


"Nggak!" cegah Dimas.


"Du-a..."


"BERHENTI!" teriak Dimas.


"Sa..."


"JANGANN!!!" teriak Dimas. Tanpa disadari Dimas pun menangis dengan sangat histeris.


Dika tersenyum. "Gue seneng ternyata Bang Dimas masih perduli sama gue. Sekarang gue bisa mati dengan tenang..." batin Dika.


"Banci lo bang, masak nagis sih. Jangan nagis..." ucap Dika di tengah-tengah kesadarannya yang mulai melemah.


Air mata pun terus mengalir di pipi Dimas. "Haaaa!... Gue mohon.. jangan.. jangan.. bunuh gue aja.. gue mohon..."


"Jangan dengerin Dimas..." ucap Dika.


"Dika, lo nggak pantes berkorban buat orang biadab kayak gue! Gue kakak yang nggak berguna! Gue bukan orang baik! Gue udah jahat sama lo Dika, gue udah terlalu buruk untuk dimaafin..." ucap Dimas yang masih menangis.


"Ba-bagi gue, lo adalah ka-kak terbaik di dunia ini bang. Ta-tau lo ma-sih perduli sa-sama gue aja, itu udah cu-kup buat gue ma-mati dengan tenang," ucap Dika dengan terbata-bata karena rasa sakit yang dialaminya dan kesadarannya yang mulai melemah.


Dimas menggelengkan kepalanya. "Nggak! Nggak! Lo nggak boleh mati!" bantah Dimas.


Saking puasnya Bu Yuni tertawa dengan bangga. "Hua ha ha... Saya tidak pernah sebahagia ini."


"Yuni... gue mohon jangan bunuh Dika, jangan sakiti dia... Gue mohon.. jangan.. jangan.." ucap Dimas ditengah-tengah tangisnya.


"Menyesal?! Kamu menyesal sekarang Dimas? Nikmati penyesalan ini!" ucap Bu Yuni.


"Ti..." ucap Bu Yuni.


"Haaa!... Jangann!... Haaa..." teriak Dimas yang masih menangis.


"Ga..." lanjut Bu Yuni.


"Lo pasti selamat Dim..." batin Dika.


Dor!... Dor!... Dor!...


...----------------...


..."Jika Anda menyakiti seseorang dan dia masih mendoakan yang terbaik untuk Anda, Anda telah kehilangan hal terbesar untuk Anda..."...


...----------------...


BERSAMBUNG•••••••


••••••••••••••••••••


°


°


°


Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya judulnya "Berbeda"


Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...


1 like dan komentar singkat dari para pembaca sangat berharga bagi Author 😊...


Terima kasih 🙏💕...