
»»»»» Kilas Balik «««««
Siang harinya Dimas sedang membeli kopi di sebuah kedai. Ketika keluar dari kedai ia ditabrak oleh seseorang dan tas orang tersebut terjatuh. Dimas langsung berlari dan mengejar orang tersebut untuk mengembalikan tasnya. Akhirnya Dimas berhasil mengejar orang tersebut dan mengembalikan tasnya.
"Ini pak, tasnya." Dimas mengembangkan tas orang tersebut.
"Jambret! Jambret! Jambret!..." Teriak beberapa orang dari jauh, salah satunya satpam yang berjaga di kedai kopi tersebut.
Mengetahui dirinya sudah ketahuan, jambret tersebut langsung kabur.
"Eh! Siapa jambret! Dimana ada jambret!" Mata Dimas berkeliling namun kini hanya ada dirinya seorang. Orang-orang semakin dekat dan ia menyadari orang-orang tersebut sedang mengejar dirinya. Dimas pun kabur dan berlari sekencang mungkin. Akhirnya Dimas berhasil masuk ke dalam mobilnya dan kabur.
"Gila, gila... masak gue dikira jambret... Sial*n!" Dimas memukul stirnya.
"Mereka pasti akan terus ngejar-ngejar gue. Gue nggak akan bisa kemana-mana kalo kayak gini. Gue nggak mau jadi buronan," gumam Dimas.
Dimas tersenyum jahat. "Ck! Gue ada ide..." batin Dimas.
Ketika sampai di rumah Dimas melihat Dika hendak pergi. Dimas dengan sengaja menabrak Dika sehingga jaket yang dikenakan Dika kotor. Dimas lalu memberikan jaketnya kepada Dika, Dika pun menerima jaket Dimas tanpa ada rasa curiga.
Sore harinya Dimas mengirimi Dika pesan dan menyuruh Dika untuk membeli kopi di kedai tersebut agar Dika dikira sebagai jambret tersebut dan Dimas pun tidak takut untuk pergi kemanapun lagi.
»»»»» Kilas Balik Selesai «««««
"Kesialan gue hari ini ada baiknya juga. Untung gue punya kembaran. Dika, Dika..." ucap Dimas dalam hati.
* * * * * * * *
"Oi... bangun..." ucap Bryan sambil menggoyangkan-goyangkan pundak Widia yang sedang tertidur.
"Hmm..." ucap yang baru setengah sadar.
"Kebiasaan dari kecil nggak pernah bangun pagi. Cepetan bangun, nanti kesiangan." Bryan menarik tangan Widia sampai Widia bangun dan duduk.
"Iya, iya... 5 menit lagi." Widia kembali merebahkan badannya.
"Nggak bisa! cepetan bangun!" Bryan kembali menarik tangan Widia.
"Iyaa..." Widia duduk sambil mengusap matanya.
Bryan membereskan buku Widia dan beberapa benda lainnya yang beserakan di atas sofa. "Kamu anak perempuan tapi barang-barangnya berantakan kayak gini. Habis belajar buku nggak diberesin, ini lagi ada kulit coklat. Bikin mumet aja lihatnya. Dari kecil kebiasaan banget kayak gini..." oceh Bryan.
Widia tertawa mendengar ocehan Bryan yang sambil membereskan barang-barangnya itu. "Udahlah bang, kayak emak-emak aja..."
Widia berdiri dan merenggangkan badannya.
Bryan mendekati Widia dan menjewer telinganya. "Lagian kamu nggak bisa rapi sedikit apa?"
"Duh, duh, sakit bang! Serius banget jewernya..."
"Awas kalo nanti sore kamar kamu nggak rapi! PS4 yang udah abang kasi akan abang ambil lagi!"
"Yah, kan udah dikasi, nggak bisa diambil lagi dong."
"Yeee... suka-suka abang."
"Iya deh, iya, nanti Widia janji akan beresin."
"Sekalian bersihin kandang anjing, kandang kucing, kandang burung, sama kolam ikan. Abang beberapa hari ini lagi sibuk, pak Ahmad juga belum dapet kerja."
"Yah, kok jadi Widia?!"
"Kalo udah selesai, nanti abang beliin PS terbaru," ucap Bryan sambil berjalan keluar.
"Wah, beneran bang?!." Widia langsung memeluk Bryan dari belakang.
"Iyaa... Mandi sana, bau banget."
"Janji kan?"
"Iyaaa..."
* * * * * * * * * *
Setelah selesai sarapan, Bryan yang hendak berangkat sekolah dan masuk ke dalam mobilnya.
Widia ikut masuk ke dalam mobil Bryan. "Yuk berangkat..."
"Kamu berangkat sama siapa?" tanya Bryan.
"Sama abang lah, sama siapa lagi?"
"Kemarin kan sama Dika, sekarang kenapa nggak sama Dika lagi? Sama Dika aja sana, kalau nggak sama supir aja."
"Kemarin abang masih lomba, makanya sama Dika. Biasanya kan emang sama abang. Lagian kalau sekarang nelepon Dika, bisa-bisa Widia terlambat."
"Sama supir aja kalo gitu. Abang mau jemput Bunga."
"Hah?! Tumben jemput Kak Bunga. Wah, wah... jangan-jangan udah jadian ni??"
"Hehe... iya dong... Bunga loh yang nembak abang..."
"Nggak penting siapa yang nembak. Mana pajak jadiannya? Abang udah janji wkwkwk..."
"Lah, kemarin kan udah abang kasi cokelat satu kerdus. Masih kurang?"
"Itu kan oleh-oleh, yang ini beda lah wkwkwk..."
"Ngak, ngak, cepet keluar sana! Abang mau sekolah."
"Nggak mau, Widia juga kan mau sekolah."
"Abang mau jemput Bunga. Sana sama pak supir aja."
"Asal abang tau, yang nyaranin Kak Bunga biar nembak abang itu Widia."
"Alah, boong."
"Yah, nih lihat. Kak Bunga itu sering curhat sama Widia." Widia menunjukkan obrolannya lewat chat dengan Bunga.
"Kenapa nggak bilang dari dulu?"
"Kak Bunga larang Widia buat bilang, dia nggak mau kalo abang tau dari orang lain. Lagian udah Widia suruh nembak dari dulu pake ragu segala. Kak Bunga cantik lah, Kak Bunga banyak yang suka lah, takut ditolak lah... Sekarang mana pajak jadiannya?"
"Iya nanti abang beliin PS terbaru."
"Yaudah, abang ambil lagi PS yang udah abang kasi."
"Ambil aja, Widia kan bisa minta sama kakek, pasti dikasi. Widia juga nggak mau bersihin kandang-kandang peliharaan abang yang banyak kayak kebun binatang itu, biarin aja berantakan, biarin aja bau..."
Bryan memandang malas Widia. "Yaudah, iya, kamu mau minta apaan?"
"Hmm... enaknya apaan ya?"
"Cokelat?"
"Nggak"
"Kue?"
"Nggak"
"Ice Cream? Permen?
"Nggak"
"Mie?"
"Nggak mau."
"Terus apalagi? Biasanya kamu minta makanan, semuanya udah abang sebutin."
"Hmm... gimana kalo abang turutin permintaan Widia selama 1 hari?"
"Hari ini gue pulang sore karena ada rapat OSIS, palingan gue cuma nurutin permintaan Widia selama beberapa jam," batin Bryan.
"Oke, abang mau, tapi sekarang kamu berangkat sama supir dulu."
"Oke deh, awas aja nanti..." Widia pun keluar dari mobil Bryan.
* * * * * * * * * *
Seperti biasa, jam istirahat Widia, Intan dan Adit makan di kantin. Ketika sedang membawa minuman, Adit tidak sengaja menabrak seorang perempuan. Perempuan itu tak lain adalah orang yang menemukan kartu pelajar Adit yang hilang.
"Maaf, maaf, gue nggak sengaja... Ya ampun, jam lo basah, ini pasti jam mahal," ucap Adit.
Anak perempuan itu hanya diam dengam wajah datar sambil mengusap jamnya.
"Gue akan ganti rugi, tapi sekarang gue lagi nggak bawa uang."
"Nggak usah," jawab perempuan itu dengan datar.
"Nggak bisa gitu, lo tenang aja, gue akan tanggung jawab. Nama lo siapa?"
"Bintang," jawab Bintang dengan singkat.
"Gue boleh minta nomor lo nggak? Gue pasti ganti rugi jam lo."
"Nggak perlu." Bintang langsung pergi meninggalkan Adit.
"Yah, pergi... woi..." teriak Adit.
"Wkwkwk... dikacangin," ucap Widia.
"Heran gue, biasanya cewek-cewek yang pada nyari nomor gue, ini malah dimintain nomor malah pergi."
"Ciah, pede banget lo Dit wkwkwk..." ucap Widia.
"Yang penting kan kamu udah mau tanggung jawab," ucap Intan.
"Ya udahlah... Yuk kita cari tempat duduk," ucap Adit.
Widia, Intan, dan Adit pun duduk dan makan.
"Kenapa dari tadi nggak gue lihat Dika ya? Apa mungkin dia nggak sekolah? Tapi kenapa dia nggak angkat telepon gue?" batin Widia.
"Ee... kenapa bengong?" Intan menepuk pundak Widia.
"Hmm... bukan apa-apa."
"Ini lagi Adit, lo dari tadi ngelihatin apaan sih?" tanya Intan.
"Itu..." Adit melirik ke arah Leo, Ricky, dan Satriya yang sedang makan. Leo adalah teman sebangku Adit dan mereka semua merupakan teman sekelas.
"Emang mereka kenapa?" tanya Widia.
"Tadi mereka nyuruh murid lain pindah, padahal murid itu lagi makan. Untung aja murid itu dapet meja kosong, kalo nggak udah gue samperin mereka," jelas Adit.
"Gue heran sama mereka, suka bikin masalah. Tidur di kelas, PR jarang buat, dateng terlambat, sering dihukum. Gue juga kasihan sama si Bisma, dia sering di palak sama si Leo, Ricky, sama Satriya." ucap Widia.
"Dan itu juga alasan gue nggak bareng-bareng sama Leo dan lebih milih sama kalian atau temen-temen futsal gue. Walau dia temen sebangku gue, gue cuma bicara seperlunya sama dia," ucap Adit.
"Aku juga udah nyaman kita selalu bertiga kayak gini. Kalau di kelas temen-temen kayak udah ada blocknya masing-masing." ucap Intan.
"Mungkin karena mereka selalu bareng dan dari awal udah selalu sama-sama, kayak kita juga kan kayak gitu, udah kadung dari awal sama-sama dan selalu bareng-bareng," ucap Widia.
"Iya juga sih..." ucap Intan.
•••••••••••••••
BERSAMBUNG
°
°
°
°
°
Sambil nunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya judulnya "Berbeda"
Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...
Terima kasih 🙏💕...