Choco

Choco
Rahasia Dimas



Kini hanya tinggal Dimas yang menemani Dika di rumah sakit.


"Dika..." ucap Dimas.


"Hmm?..." balas Dika.


"Lo ada perlu sesuatu? Makan, minum, atau apa?" tanya Dimas.


"Nggak ada, gue lagi nggak pengen apa pun," jawab Dika.


Dimas memperhatikan tangan dan kaki Dika yang masih diperban. "Gimana keadaan lo sekarang? Masih sakit?" tanya Dimas.


"Iya, masih nyeri-nyeri gitu, nggak bisa digerakin," jawab Dika.


"Ini semua salah gue. Gue minta maaf Dika, maafin gue..." ucap Dimas dengan penuh penyesalan.


"Lo nggak perlu minta maaf, gue udah maafin lo. Dengan lo udah mau nerima gue aja, itu udah lebih dari cukup bagi gue," balas Dika.


Dimas menggelengkan kepalanya. "Gue benar-benar menyesal Dika, gue merasa bersalah dengan semua yang udah gue lakuin selama ini. Kesalahan gue terlalu besar, terlalu banyak. Bahkan gue sendiri aja udah nggak ngerti, gue nggak tau bagaimana cara gue mengungkapkan rasa penyesalan dan bersalah yang gue rasain," ucap Dimas.


Dika menatap wajah Dimas, dan ia bisa melihat rasa bersalah dan penyesalan yang ditunjukkan melalui raut wajah Dimas. "Gue ngerti Dim... Walau pun lo nggak bisa mengungkapkan perasaan lo, tapi gue bisa mengerti dari mata lo... Mata bisa menggatakan apa yang kata-kata tidak bisa," batin Dika.


"Udah Dim, udah,ngue udah lupain semuanya," ucap Dika yang diakhiri dengan senyuman.


"Nggak Dika... Bagaimana caranya lo bisa lupain semua kesalahan gue? Sementara lo aja nggak tau semua kesalahan gue, kesalahan gue terlalu banyak sama lo, masih banyak yang belum lo tau..." ucap Dimas.


Dika pun hanya bisa menatap Dimas karena ia merasa bingung dengan semua yang diucapkan oleh Dimas.


"Apa maksud Dimas sebenarnya? Emang apa yang udah dia lakuin?" batin Dika.


Dimas pun menundukkan kepalanya karena ia sudah tidak sanggup menatap Dika. "Gue dulu nggak suka dengan kehadiran lo, karena kasih sayang mama sama papa jadi terbagi diantara lo sama gue. Sejak kecil, gue selalu iri lihat mama sama papa lebih perhatian sama lo. Selama ini gue yang menghasut semua orang supaya benci sama lo, bahkan papa sampai pernah usir lo dari rumah. Semua itu perbuatan gue Dik. Maafin gue Dika..."


Dika menghela nafas panjang. "Udah lupain aja, gue nggak permasalahin soal itu. Lagian ada hikmahnya juga gue diusir dari rumah, gue bisa jadi orang yang lebih mandiri. Nggak kayak Dika yang dulu, Dika yang selalu harus dibantu setiap melakukan apa pun, Dika yang nggak bisa ngapa-ngapain... Tapi gue cuma mau kasi tau lo, dulu papa sama mama lebih perhatian sama gue bukan karena mereka lebih sayang sama gue. Semua itu karena gue nggak bisa melakukan segala hal lebih baik dari lo, gue nggak bisa melakukan apa pun dengan benar. Sedangkan lo lebih pintar dan mandiri daripada gue, lo jarang butuh bantuan dari orang lain."


"Iya Dika, lo bener. Selama ini gue udah buta karena sifat iri dan serakah gue. Gue minta maaf... Tapi selain semua itu, gue juga punya rahasia yang selama ini gue sembunyikan," ucap Dimas.


Dika pun menjadi sangat penasaran mendengar ucapan Dimas. "Rahasia? Rahasia apa?"


"Sebenarnya gue yang udah..." ucapan Dimas terpotong karena kehadiran Pak Arthama.


Pak Arthama langsung duduk disebelah Dika. Pak Arthama terlihat tidak memperdulikan keberadaan Dimas dan ia pun juga tidak menyapa Dimas.


"Papa masih marah sama gue..." ucap Dimas dalam hati.


"Gimana keadaan kamu?" tanya Pak Arthama kepada Dika.


"Yah, masih kayak gini aja pa, tapi udah mendingan," jawab Dika.


Karena Pak Arthama terlihat masih marah dengan Dimas, Dimas pun merasa canggung dan ia memutuskan untuk pindah duduk di sofa dekat tembok.


"Papa dari tadi kemana aja?" tanya Dika.


"Papa tadi ke kantor sebentar. Sudah beberapa hari papa tidak ke kantor, banyak pekerjaan yang belum papa selesaikan," jawab Pak Arthama.


Berbeda dengan Dika yang menatap Dimas, Pak Arthama hanya menatap Dika dan ia tetap menjaga pandangannya agar tidak menatap Dimas.


"Papa lebih baik disini saja dulu, sampai kamu sembuh. Lagipula papa tidak bisa berkonsentrasi berkeja karena masih memikirkan kamu," ucap Pak Arthama.


"Nggak usah terlalu dipikirin pa. Papa nggak perlu khawatir, lagian kan Dika udah mulai membaik," ucap Dika dan hanya dibalas senyuman oleh Pak Arthama.


Kini terlihat Pak Arthama tengah sibuk dengan handphonenya sambil duduk menemani Dika yang sedang tertidur. Sementara itu Dimas hanya melamun dengan tatapannya yang kosong. Keadaan pun terasa sangat sunyi.


"Gue nggak bisa kayak gini terus, gue harus minta maaf sama papa lagi," batin Dimas. Dimas pun akhirnya memberanikan diri untuk menghampiri Pak Arthama.


"Pa..." ucap Dimas kepada Pak Arthama yang terlihat masih sibuk dengan handphonenya.


Pak Arthama pun mematikan layar handphonenya kemudian menatap Dimas.


"Papa masih marah sama Dimas?" tanya Dimas.


Pak Arthama hanya tetap menatap Dimas tanpa ekspresi.


"Dimas tau, Dimas salah. Dimas minta maaf sama papa..." ucap Dimas.


Pak Arthama mengalihkan pandangannya tanpa memberikan jawaban kepada Dimas.


"Dimas janji nggak akan mengulangi kesalahan Dimas. Dan Dimas akan lakukan apa pun supaya papa bisa maafin Dimas..." ucap Dimas.


Lagi-lagi Pak Arthama hanya diam dan tidak merespon ucapan Dimas.


Tiba-tiba saja Dika membuka matanya dan berkata, "udahlah pa, lagipula Dimas sudah benar-benar menyesali semua perbuatannya." Dika memang sejak tadi tidak benar-benar tidur, ia hanya sekedar menutup matanya, dan Dika juga sudah mendengar semua percakapan diantara Pak Arthama dan Dimas.


"Dimas minta maaf pa..." ucap Dimas.


"Iya," jawab Pak Arthama singkat.


"Dan gue juga minta maaf sama lo Dika," ucap Dimas.


Dika pun merasa tidak enak kepada Dimas karena Dimas terus menerus meminta maaf kepadanya. "Bang... Gue udah maafin lo, lo nggak perlu minta maan berkali-kali," ucap Dika.


"Tapi Dimas nggak akan pernah lega sebelum Dimas jujur. Dimas selama ini punya rahasia yang Dimas sembunyiin dari papa sama Dika. Sebenarnya..." Dimas menghela nafas panjang. "Sebenarnya mama meninggal bukan sepenuhnya karena Dika..."


Pak Arthama dan Dika pun merasa bingung dengan apa yang diucapkan oleh Dimas.


"Maksud kamu apa?" tanya Pak Arthama.


"Apa sebenarnya yang dimaksud sama Dimas?" batin Dika bertanya-tanya.


"Lo harus berani jujur Dimas. Kalo nggak, rasa bersalah ini akan menghantui lo selamanya," batin Dimas.


Jantung Dimas pun berdegup dengan kencang, ia kemudian menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya. "Sebenarnya..."


BERSAMBUNG••••••••