
Terima kasih udah mampir kakak-kakak cantik dan ganteng 😘...
Selamat membaca 💓...
°
°
°
Widia dan Dika pulang ke kostnya Dika. Sesampai disana Dika langsung menuju dapur dan diikuti oleh Widia.
"Lo mau ngapain?" tanya Dika karena Widia ikut ke dapur.
"Ya mau bantuin lo lah, katanya nggak bisa masak."
"Udah, biar gue aja yang masak. Mending lo mandiin si Moza aja sana, biar bersih."
"Bener lo bisa sendiri?" tanya Widia yang merasa tidak yakin pada Dika.
"Iya, bener, tinggal goreng-goreng aja kan." Dika menarik Widia untuk keluar dari dapur.
"Tapi..."
"Udahh... Nggak percaya banget lo sama gue."
"Ya udah kalo gitu."
Dika kemudian memasak dan Widia memandikan si Moza. Beberapa saat kemudian datang Dika membawa 2 piring nasi goreng.
"Ni Nyet, hasil karya gue. Kuy cobain..."
"Waah, kelihatannya enak banget." Widiapun mencicipi nasi goreng buatan Dika.
"Kok rasanya gini sih?. Gue kira enak, ni bocah mau ngeracunin gue kayaknya," batin Widia.
Dengan penuh perjuangan, Widia memakan sesuap nasi goreng tersebut. Setiap kunyahan yang Widia rasakan, terasa tidak karuan, ada rasa asin, gosong, manis, masam, pedas, menyatu menjadi satu kesatuan yang rasanya tidak bisa dideskripsikan.
Dika menatap Widia yang sedang makan dengan tatapan penuh harapan akan mendapat pujian dari Widia.
"Dika ngapain sih lihatin gue kayak gitu?..." batin Widia.
Setelah berhasil menelan suapan pertama itu Widia juga menatap Dika sambil tersenyum pada Dika.
"Gue minum air ya..." Widiapun meminum langsung segelas penuh air.
"Gimana? enak nggak?" tanya Dika.
"Hmm... Enak kok, pinter juga lo masak," ucap Widia dengan senyuman agar Dika tidak curiga padanya.
"Iya lah, gue yang masak..." Dikapun duduk dan memakan nasi goreng tersebut.
Baru suapan pertama, Dika langsung memuntahkan nasi goreng tersebut. "Cuih... Ya ampun, rasanya jelek banget."
Dika langsung meminum air. "Apanya yang enak coba, lo kok kuat sih makannya Nyet?. Maaf ya Nyet."
"Lo kan udah susah payah buatnya, masak gue bilang jelek sih."
"Udah, udah, kita buang aja. Kita beli yang baru." Dika mengambil 2 piring nasi goreng tersebut dan hendak membuangnya.
"Jangan, nggak usah beli, gimana kalo gue aja yang masak?."
"Tapi..."
"Nggak pake tapi-tapian." Widia langsung berdiri dan menuju dapur, tapi dia sudah tidak menemukan apapun disana.
"Tapi bahannya udah habis Nyet."
"Ya udah, kita masak bahan-bahan yang ada di kulkas aja." Widia membuka kulkas Dika yang di dalamnya hanya dipenuhi persediaan mie instan yang sangat banyak.
"Cuma ada mie aja Nyet," ucap Dika
"Gak apa-apa, kita makan mie aja ya."
"Boleh..."
"Lo mau ngapain?" tanya Widia melihat Dika ikut ke dapur.
"Bantuin lo lah."
"Lo duduk manis aja, biar gue yang masak. Kelihatannya lo udah capek banget, muka lo pucet."
"Gue nggak apa-apa kok."
"Kalo lo nggak biarin gue masak, gue pulang nih!" ancam Widia.
"Iya, iya..."
Widiapun membereskan piring kotor dan memasak mie kuah. Sementara Dika menunggu sambil merebahkan diri di kasur. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 ketika Widia sudah selesai masak. Widia datang membawakan 2 mangkuk mie kuah, namun Dika sudah tertidur karena menunggu Widia.
Widia memperhatikan Dika yang sedang tertidur pulas. "Dika manis banget kalo lagi tidur," batin Widia
Widia menepuk pelan bahu Dika dan membangunkannya. "Dika... bangun Dika..."
"Ini mienya udah selesai," ucap Widia
Dikapun duduk dan merenggangkan badannya. "Hoahm... Cepet banget sih selesainya."
"Karena lo tidur, makanya cepet. Ini udah jam 7."
"Apa? jam 7?!. Ya ampun, seharusnya jam setengah 7 gue udah ke warnet." Dika terlihat panik dan langsung bediri.
"Udahlah, nggak usah kesana, lo kan lagi sakit," ucap Widia.
"Tapi gue belum minta ijin."
"Tenang dulu, jangan panik. Coba minta ijin baik-baik, pasti dikasi kok," ucap Widia menenangkan Dika.
"Iya, gue coba telepon dulu."
Dika kemudian menelepon pemilik warnet dan meminta izin karena sakit. Untung saja pemilik warnet mau memberikan toleransi dan memberikan izin pada Dika.
"Untung deh nggak dimarahin gue," ucap Dika.
"Yuk kita makan dulu, nanti keburu dingin, nggak enak."
Mereka kemudian memakan mie kuah yang dibuat oleh Widia tadi. Dika sangat menikmati masakan Widia dan makan dengan sangat lahap.
"Hmm... Enak banget Nyet. Padahal kelihatannya sederhana, tapi bisa enak gini sih?" ucap Dika yang mulutnya masih penuh.
"Pelan-pelan makannya, jangan makan sambil bicara."
"Heum... Abis sih enak banget..."
Widia tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Dika, Dika... Lo lagi laper, makanya jadi enak."
"Nggak Nyet, emang beneran enak. Gue selama ini udah sering buat mie, tapi nggak pernah seenak ini."
"Tapi lo jangan sering-sering makan mie, nggak baik buat kesehatan."
"Iya, iya... Besok-besok gue jarang-jarangin makan mie."
"Jangan terlalu kecapekan juga. Mending lo berhenti aja kerja di warnet, ngurus bebek aja kayaknya udah cukup penuhin kebutuhan lo. Lo kan harus sekolah juga."
Telihat senyuman lebar di wajah Dika. "Perhatian banget lo sama gue..."
"Gue kan temen lo. Emang salah?."
"Nggak sih, gue seneng aja lo perhatian sama gue," ucap Dika sambil tersenyum dan menatap Widia.
"..." Widia melanjutkan makan dan hanya diam tidak merespon ucapan Dika.
Selesai makan Dika dan Widia membereskan piring-piring kotor. Ketika sedang mencuci piring, Dika menggaruk pipinya yang gatal. Tanpa disadari busa sabun cuci piring menempel di pipinya.
Widiapun tertawa melihat hal tersebut. "Wkwkwkwk..."
"Kenapa ketawa?. Ada yang lucu?" tanya Dika.
"Itu, pipi lo isi sabun. Wkwkwk..."
Dika kemudian mengusap pipinya dan mendapati busa di tangannya. "Eh iya, wkwkwk..." Dikapun tertawa karena hal tersebut.
"Wkwkwk..." Widia masih tertawa.
"Seneng rasanya bisa sama-sama bareng lo, bisa ketawa bareng. Tapi... gue nggak pernah lihat lo ketawa kalo sama Dimas," ucap Dika sambil menatap Widia.
Mendengar perkataan Dika membuat Widia berhenti tertawa dan keadaan menjadi canggung. "Mungkin itu cuma perasaan lo aja..."
"Lo beneran suka sama Dimas?."
"Iya, dia kan pacar gue... Gue pulang dulu ya."
"Gue anter ya."
"Nggak usah, gue pesen ojol aja." Widiapun memesan ojek online dan kemudian hendak pergi meninggalkan kostnya Dika.
"Nggak mau nunggu disini aja?."
"Nggak usah, gue tinggal dulu ya."
"Bener nggak mau gue anter?."
"Nggak usah Dika."
"Hati-hati, makasi ya Wid."
"Iya, sama-sama." Widiapun pergi meninggalkan kostnya Dika.
"Mulai sekarang gue nggak boleh terlalu deket sama Dika," batin Widia.
°
°
°
Jangan lupa like, komentar, dan ratenya ya, agar author lebih semangat 🤗...
Terima kasih 🙏💕...