Choco

Choco
Dikroyok



Terima kasih sudah mampir 😊...


Selamat membaca 💕...


°


°


°


Di perjalanan pulang, Dika teringat dengan ucapan Widia.


"Jadi kepikiran gue sama ucapan Widia. Kenapa perasaan gue jadi nggak enak ya?" batin Dika.


Brakk...


Tiba-tiba ada pengendara motor yang menyebrang di depan Dika, dan Dika pun tidak sengaja menabrak pengendara motor tersebut. Dika kemudian langsung keluar dan menghampiri pengendara motor tersebut. Orang-orang di sekitar sana pun juga ikut mengahampiri pengendara motor laki-laki yang bertubuh kekar tersebut. Pengendara motor laki-laki tersebut mengaku bernama Agus.


Untung saja Agus tidak mengalami cidera ataupun luka yang serius. Mereka pun menyelesaikan masalah tersebut secara kekeluargaan. Dika menawarkan untuk menghantar Agus ke rumah sakit sebagai permintaan maafnya, karena merasa tidak mengalami luka atau cidera yang serius, Agus hanya meminta untuk dihantarkan pulang.


Dika pun menghantarkan Agus ke rumahnya. Tetapi Agus malah mengarahkan Dika untuk menghantarnya ke jalanan yang sangat sepi.


"Berhenti disini saja," ucap Agus datar.


"Baik pak..." jawab Dika. Dika pun meminggirkan mobilnya.


"Rumah bapak dimana?" tanya Dika.


"Rumah saya di sekitar sini. Terima kasih sudah menghantar saya. Saya akan senang jika nak Dika mau mampir ke rumah saya," ucap Agus dengan ekspresi datar lagi.


"Iya pak, dengan senang hati saya akan mampir..." Dika pun mengiyakan ajakan Agus walaupun Dika merasa sedikit aneh pada Agus karena sikapnya terkesan datar.


Dika dan Agus pun keluar mobil. Agus mengajak Dika ke rumahnya dengan berjalan kaki, dengan alasan karena rumahnya berada di gang sempit.


"Ni orang aneh banget, mana badannya gede banget, pantes aja kecelakaan nggak kenapa-kenapa," batin Dika yang berjalan mengikuti Agus dari belakang.


Agus mengajak Dika ke gang yang sangat sepi, disana juga sudah ada 2 orang laki-laki bertubuh besar seperti Agus yang ternyata adalah temannya Agus.


"Kenalkan, ini teman saya," ucap Agus dengan senyuman penuh tanda tanya.


Kini Dika benar-benar curiga pada Agus. "Kenapa malah ngajak saya kesini?! Rumah bapak dimana?!"


Tanpa menghiraukan pertanyaan Dika, Agus dan teman-temannya langsung mengeroyok Dika. Tidak mungkin bagi Dika untuk melawan 3 orang yang bertubuh lebih besar darinya. Selain itu, Dika tidak bisa kabur karena dirinya sudah dipegang oleh teman-temannya Agus. Merekapun mengeroyok Dika habis-habisan. Tetapi anehnya setelah mengeroyok Dika hingga tak berdaya, mereka langsung pergi tanpa marampok atau mengambil apapun dari Dika.


Dengan sisa tenaganya Dika menunju mobil dan dengan hati-hati kembali pulang.


"Apa motif mereka ngeroyok gue? Mereka nggak ngambil apapun dari gue. Seingat gue, gue nggak ada masalah sama siapapun. Apa semua ini udah direncanain? Pantes aja dia ketabrak nggak apa-apa... Tapi musuh gue siapa?" batin Dika


"Agus Ban*sat!!! Sialan!!!..." gumam Dika.


* * * * * * * * * *


Sementara di kediaman keluarga Arthama semua orang sedang sibuk mempersiapkan acara makan malam dengan keluarga Wardana atau keluarga Aulia.


Pak Arthama yang baru pulang dari kantor langsung menuju kamarnya dan mengganti pakaian. Setelah itu Pak Arthama mencari Dimas ke kamarnya, terlihat Dimas yang sedang sibuk mengerjakan tugas di laptopnya.


"Kamu siap-siap gih, untuk acara makan malam nanti," ucap Pak Arthama.


"Mendadak banget ngadain acara makan malam. Ada apa pa?"


"Papa hanya ingin tetap menjaga hubungan baik dengan sahabat papa, Pak Wardana. Lagipula kita sudah lama tidak makan malam bersama keluarga Wardana... Ngomong-ngomong Dika dimana?"


"Dika lagi," batin Dimas.


"Dika dari tadi belum pulang sekolah pa..." jawab Dimas.


"Emang dia kemana?"


"Dimas nggak tau pa. Tapi..." ucap Dimas dengan ekspresi ragu.


"Tapi apa?"


"Tapi tadi Dimas ada tawuran, dan sebagian besar yang Dimas lihat ikut tawuran anak IPS."


"Dika ikut tawuran?" tanya Pak Arthama.


"Papa yakin Dika nggak ikut tawuran, papa percaya sama adik kamu... Papa tinggal dulu ya, kamu jangan lupa siap-siap."


"Iya pa..."


Pak Arthama pun pergi meninggalkan kamar Dimas.


"Kita lihat aja pa..." ucap Dimas dalam hati sambil tersenyum menatap Pak Arthama berjalan keluar.


* * * * * * * * *


Beberapa saat kemudian datang Dika dengan wajahnya yang sudah lebam akibat dikroyok tadi.


"Ada apaan ni? Pake siapin makanan banyak banget," gumam Dika melihat banyak hidangan di atas meja.


"Dika..." ucap Pak Arthama.


"Papa?... Tumben papa udah pulang jam segini. Ini ada acara apa pa? Kenapa nyiapin makanan sebanyak ini?"


"Kamu dari tadi kemana aja?! Wajah kamu kenapa lembam seperti itu?!" tanya Pak Arthama sambil menatap Dika dengan tatapan marah.


"Ternyata benar yang dibilang Dimas," batin Pak Arthama.


"Dika tadi dikroyok pa..."


"Sama siapa?!"


"Dika nggak tau, Dika nggak kenal sama mereka."


"Jangan bohong kamu!"


"Dika nggak bohong pa," tungkas Dika.


"Kamu dikroyok apa habis tawuran?!"


"Maksud papa apa?" tanya Dika bingung.


"Papa tau kamu habis tawuran kan?!"


"Dika jujur pa, Dika nggak tawuran!"


"Kamu jangan bohong! Papa akan maafin kamu kali ini jika kamu jujur!"


"Dika nggak bohong sama papa dan Dika jujur! Kapan sih papa bisa percaya sama Dika?!" ucap Dika kesal. Dika langsung pergi menuju kamarnya dengan perasaan kecewa.


* * * * * * *


Pak Arthama duduk di teras rumah, ia menyenderkan badan di kursi sambil mendongakkan kepalanya menatap langit.


Pak Arthama mengambil nafas panjang dan menghembuskannya pelan untuk menenangkan dirinya. "Tidak seharusnya aku menuduh Dika seperti itu. Harusnya aku bisa percaya dengan Dika. Aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama dan merusak hubungan ku lagi dengan Dika," batin Pak Arthama.


••••••••••••••••••••


Mulai minggu depan up setiap Selasa.


°


°


°


°


°


Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya judulnya "Berbeda"



Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...


Terima kasih 🙏💕...