
Pagi ini Dika tidak berangkat sekolah, melainkan ia pergi ke rumah papanya untuk memberitau kebenaran mengenai mama tirinya.
Bu Yuni yang sedang menyiram tanaman di halaman depan melihat kedatangan Dika, ia kemudian menghampiri Dika.
"Selamat pagi sayang..." sapa Bu Yuni.
"Jangan sok ramah deh lo!." ucap Dika ketus.
"Kamu kenapa sih selalu benci sama mama?. Salah mama apa?..." ucap Bu Yuni dengan wajah sedih.
"Jangan kira gue nggak tau kebusukan lo!" ucap Dika dengan nada tinggi.
Pak Arthama yang baru keluar dari dalam rumah dan hendak pergi ke kantor melihat Dika membentak mamanya. Tentu saja Pak Arthama yang mengetahui hal tersebut tidak tinggal diam.
"DIKA!..." bentak Pak Arthama.
"Papa kenapa sih malah bentak Dika?!" ucap Dika kesal.
"Kenapa sih kamu bisanya cuma cari gara-gara?!. Pagi-pagi bukannya ke sekolah, malah kesini bikin ribut!."
"Siapa yang cari gara-gara pa?. Seharusnya papa salahin dia, bukannya Dika."
"Jangan keterlaluan kamu!. Dia itu mama mu!."
"Kamu nggak akan pernah bisa menang dari saya Dika..." batin Bu Yuni.
"Dika nggak sudi punya mama kayak dia!" bentak Dika.
"DIKAA!..." bentak Pak Arthama. Pak Arthama langsung meremas kasar leher baju Dika dan menyeretnya menuju keluar rumah.
"Papa bakalan nyesel udah lakuin ini ke Dika pa!."
"Jangan terlalu keras sama Dika mas..." ucap Bu Yuni menenangkan Pak Arthama.
Pak Arthama pun melepaskan Dika. "Kamu lihat kan, mama kamu orang baik!. Walau kamu benci sama dia, dia tetep belain kamu."
Dika tersenyum menyerigai dan menggelengkan kepalanya heran. "Cih... papa, papa..."
Dika mengambil 10 lembar foto dari sakunya dan melemparnya ke Pak Arthama. Foto tersebut adalah foto Bu Yuni bersama selingkuhannya sewaktu di mall yang dipotret oleh Widia waktu itu.
Pak Arthama mengambil foto tersebut. "Dion?..." ucap Pak Arthama terkejut melihat laki-laki yang ada difoto tersebut. Pak Arthama menatap Bu Yuni dengan penuh amarah.
"Dari mana anak ini bisa dapat foto itu?... Aku tidak rela semuanya terbongkar secepat ini, bahkan aku belum bisa mendapatkan apapun dari Arthama," batin Bu Yuni.
"Ini tidak seperti yang kamu lihat mas..." ucap Bu Yuni.
"Nggak usah ngelak lagi lo!" ucap Dika. Dika kemudian memutar rekaman suara yang berisi percakapan antara Bu Yuni dan selingkuhannya sewaktu di mall.
"A-a... itu, itu..." ucap Bu Yuni gemetar karena takut.
"Apa hubungan kamu sama Dion!" bentak Pak Arthama.
Karena sudah tidak bisa mengelak lagi, akhirnya Bu Yuni pun mengaku. "Iya, saya memang ada hubungan sama Dion!. Dia itu suami saya, dan dia papanya Amel. Saya kesini cuma mau balas dendam sama kalian semua dan mengambil kembali hak suami saya. Puas kamu!."
"Keterlaluan kamu! Dion udah nggak punya hak atas apapun!. Sekarang kamu pergi dari sini!" bentak Pak Arthama.
"Kamu nggak bisa ngusir saya seenaknya seperti ini!."
"Saya tau apa yang kamu inginkan!." Pak Arthama mengambil cek di dalam kopernya dan menuliskan nominal Rp 50.000.000.000,00. Pak Arthama pun melempar cek tersebut pada Bu Yuni.
"Kamu pikir ini cukup!." Dengan cepat tangan Bu Yuni mengambil gunting rumput yang ada di sampingnya dan hendak menikam Pak Arthama. Untung saja Dika berhasil mendorong Bu Yuni sehingga Pak Arthama dapat terselamatkan.
"Dasar perempuan gila!" bentak Dika.
Pak Arthama menghembuskan nafasnya kasar. "Sekarang kesabaran saya sudah habis, cepat kamu pergi dari sini!... Pak Satpam!..."
"Tidak perlu panggil satpam, saya bisa pergi sendiri. Kalian akan terima akibatnya!" ucap Bu Yuni.
"Mending lo cari tempat sembunyi aja, semuanya udah kerekam di CCTV!" ucap Dika.
Bu Yuni pun pergi meninggalkan kediaman keluarga Arthama. Sementara Dika dan papanya saling bertatapan.
"Dika..." ucap Pak Arthama.
Dika pun langsung memeluk papanya. "Papa..."
Pak Arthama pun membalas pelukan Dika. "Selama ini papa udah salah... Karena papa, selama ini kamu hidup menderita diluar sana... Maafin papa..."
"Maafin papa sayang... maafin papa... " lanjut Pak Arthama.
"Iya pa... Dika juga minta maaf..." ucap Dika.
Mereka pun melepaskan pelukannya. Dika langsung mengusap air matanya, karena tidak ingin papanya mengetahui bahwa ia menagis.
Pak Arthama menepuk pundak Dika. "Hei, kamu kenapa nangis?. Nggak laki banget ..." Pak Arthama yang juga tidak bisa menahan haru, matanya langsung mengeluarkan air mata.
Dika tertawa sambil tetap mengusap air matanya. "Papa juga nangis... Nggak laki banget..."
Air mata Pak Arthama mengalir semakin banyak dan membasahi pipinya. Pak Arthama pun kembali memeluk Dika. "Papa sayang kamu nak..."
"Dika juga sayang papa..."
"Kamu jangan kemana-mana lagi, kamu tinggal disini sama papa ya..."
"Iya pa..."
**********
Waktu sudah menunjukkan pukul 15.00. Pak Arthama tidak pergi ke kantor dan meluangkan waktunya penuh untuk bersama Dika. Untuk mengalihkan pikiran, mereka berdua pun bermain basket di halaman belakang. Dika dari dulu memang suka bermain bola, terutama basket, tetapi dia selalu dimarahi karena terlalu sering bermain basket dan tidak ingin belajar.
Dimas hari ini pulang terlambat karena ada urusan OSIS, dia yang melihat pemandangan yang tidak biasa itupun merasa bingung.
"Papa?... Dika?..." ucap Dimas heran, karena melihat papanya dan Dika sedang asik bermain basket.
"Sini Dimas, main bareng sama kita. Jangan sibuk terus, sekali-sekali kita perlu refreshing," ucap Pak Arthama sambil tetap asik bermain basket.
"Yok bang..." ucap Dika.
Dimas mendekati papanya. "Ini ada apa pa?... Papa kenapa nggak pergi ke kantor dan malah main basket sama Dika?. Amel mana pa?..." tanya Dimas.
Pak Arthama menghentikan permainannya dan duduk di teras, begitu juga dengan Dimas dan Dika yang juga ikut duduk.
"Jangan sebut nama dia lagi Dim, apalagi si Yuni..." ucap Dika.
"Maksud lo apa?..." tanya Dimas bingung.
"Ternyata adik kamu selama ini benar, Yuni sama Amel bukan orang baik. Yuni istrinya Dion, dan mereka mau balas dendam sama kita," jawab pak Arthama.
"Dimas kok malah tambah binggung, ini ada apa sebenarnya?."
"Dion siapa pa?" tanya Dika.
"Kejahatan Yuni udah terungkap, tadi Dika udah kasi bukti berupa foto dan rekaman suara Yuni sama Dion. Dion itu sebenarnya paman kalian. Cuma dia bukan saudara kandung papa. Dulu kakek dan nenek kalian lama nggak bisa punya anak, dan akhirnya mereka mengadopsi Dion. Tak lama setelah itu, nenek kalian hamil papa," jelas Pak Arthama.
"Terus kenapa mereka mau balas dendam sama kita?" tanya Dimas.
"Sebelum kakek kalian meninggal, beliau mengalami sakit keras yang cukup lama. Tak lama setelah kakek kalian meninggal, ternyata terungkap bahwa paman kalian Dion yang menyebabkan kakek sakit, Dion yang selalu membawakan kakek obat, yang ternyata selalu dia tukar dengan racun. Dia kemudian diusir oleh nenek, namun dia tetap diberikan warisan dari keluarga Arthama, tapi dia tidak terima dan meminta lebih karena dia anak pertama. Sejak dia diusir dari keluarga Arthama, papa sudah tidak pernah bertemu dengan dia lagi. Dulu papa pernah dengar kalau paman kalian masuk penjara karena terlilit utang akibat kebiasaannya berjudi, tapi papa nggak tau kapan dia menikah dan punya anak," jelas Pak Arthama.
"Keterlaluan si Dion..." ucap Dika.
"Masalah itu papa udah ikhlasin, papa nggak mau ada dendam. Kita jangan bahas masalah ini lagi ya..."
"Iya pa..." ucap Dimas dan Dika.
"Ternyata memang nggak ada yang lebih tulus dan baik dari mama kalian..." ucap Pak Arthama sayu.
"Iya pa, mama emang yang terbaik..." ucap Dimas.
"Papa benar, nggak ada yang lebih baik dari mama... Gimana kalo nanti sore kita ziarah ke makam mama?" ucap Dika.
"Iya nak, kita kesana nanti sore..." jawab Pak Arthama.
Seperti yang mereka rencanakan, sore harinya mereka bertiga berziarah ke makam Bu Rahayu atau istri Pak Arthama dan mama kandung dari Dimas dan Dika.
°
°
°
Jangan lupa like, komentar, dan ratenya ya, agar author lebih semangat 🤗...
Terima kasih 🙏💕...