
Widia yang hendak pergi meminjam buku ke perpustakaan melihat Dika sedang bersih-bersih di toilet. Widiapun menghampiri Dika.
"Eh, lo ngapain di sini?. Pasti lo kena hukum kan?" tanya Widia.
"Nggak kok, gue cuma lagi piket," jawab Dika.
"Gak percaya gue, masak piket pas jam pelajaran. Jujur deh lo... lo pasti kena hukum kan?. Rasain lo, itu karma gara-gara lo kemarin ngerjain gue. Ha.hah..ha..." ejek Widia sambil tertawa.
Tiba-tiba ada sesosok kepala keluar dari toilet sebelah yang tak lain adalah Restu. "Karma apaan?. Dika kan emang sering dihukum, dia gak pernah buat PR. Bukan Dika namanya kalo nggak dihukum."
"Diem lo Restu Ibu!. Nyahut aja lo, lo juga sama, sering dihukum," sahut Dika.
BRUKK...
Dika melempar ember kecil ke samping Restu. Restupun kembali masuk ke toilet sebelah dan lanjut bersih-bersih.
"Parah banget lo Dik, masak PR gak pernah dibuat. Bersihin tuh toilet." Widia kemudian meninggalkan Dika menuju perpustakaan.
Dika kemudian menyusul Widia. "Nyet, ntar siang lo mau ke mana?. Jalan yuk?."
"Nggak ah, ntar siang gue mau ke toko buku."
"Kalo gitu gue anter ya?."
"Ngga usah repot-repot, gue bisa sendiri. Mending lo bikin PR aja."
"Yah, kok gitu sih?. Gue anter ya?. Pulangnya gue langsung ngerjain PR deh..."
"Iya..." Widia kemudian berjalan pergi meninggalkan Dika.
"Oke, nanti pulang sekolah gue tunggu di depan ya!" teriak Dika.
"Iya..."
*******
Sepulang sekolah merekapun pergi ke toko buku. Setelah itu mereka pergi melihat-lihat pakaian di Mall.
Saat Dika sedang asik melihat-lihat pakaian, ada seseorang yang menyapanya dari samping. "Dika..."
Dika menoleh ke samping, ternyata orang itu adalah papanya atau Pak Arthama. "Eh, papa. Papa apa kabar?" tanya Dika.
"Kok Dika nanya kabar ke papanya sih?. Aneh banget," pikir Widia yang kebingungan.
"Kabar papa baik," jawab Pak Arthama.
"Siang Om." Widia menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
Pak Arthama hanya memandang Widia dari atas ke bawah dengan ekspresi datar dan bertanya pada Dika. "Ini siapa?. Pacar kamu ya?. Kamu kalo cari pacar, cari yang dari keluarga baik-baik, bukan yang kayak..."
Dika berdiri di depan Widia. "Papa jangan bicara sembarangan tentang dia!" kata Dika dengan ekspresi marah.
"Ternyata kamu gak pernah berubah, gak ngerti papa sama kamu. Kaki kamu kenapa diperban?. Apa kamu berantem gara-gara cewek ini?."
"Serem banget ekspresi papanya Dika," pikir Widia melihat ekspresi Papanya Dika.
Dika meninggikan nada suaranya. "Stop pa!. Stop!. Dika gak terima papa jelek-jelekin dia!."
"Udah Dika, udah... Jangan marah." Widia mengusap pundak Dika untuk menenangkannya.
"Eh, ada Dika." Tiba-tiba ada seorang perempuan menyapa Dika dan memegang tangan Dika.
"Gak usah lo pegang-pegang gue!. Gak sudi gue disentuh sama lo!." Dika menepis tangan perempuan itu.
"Jangan kurang hajar kamu!. Dia itu mama kamu, cepat minta maaf!!" bentak Pak Arthama.
"Nggak pa, dia bukan mama Dika!. Dika gak sudi punya mama kayak dia!."
"Dasar anak..." Tangan papa Dika langsung melayang ke wajah Dika dan memukulnya.
Karena kejadian itu membuat orang-orang disekitar memperhatikan pertengkaran antara ayah dan anak itu.
"Pa-pa" kata Dika yang hanya menatap papanya dan memegang wajahnya yang terkena pukulan. Mata Dika terlihat berkaca-kaca menahan air mata. Dika langsung memegang tangan Widia dan mengajaknya pergi dari sana tanpa berkata sepatah katapun.
Setelah beberapa jauh Widia menghentikan langkahnya dan bertanya kepada Dika.
"Lo nggak apa-apa kan Dik?."
"Nggak, gue gak apa-apa. Maaf ya, gara-gara gue, lo jadi dihina sama papa gue. Sekarang gue anterin lo pulang ya." Telihat ekspresi bersalah di wajah Dika.
"Ngga apa-apa Dik, ngga usah. Mending kita obatin memar lo aja, itu sampai berdarah."
"Ngga usah repot-repot Wid, gue ada obatnya. Gue anter lo pulang ya."
"Kalo gitu gue gak mau pulang kalo belum obatin memar lo!."
"Ya udah deh, lo ikut gue." Dika mengajak Widia pulang ke kos nya.
Sampailah mereka di depan kosnya Dika
"Dika, lo kenapa ngajak gue ke sini?. Katanya mau pulang," kata Widia yang masih duduk di atas motor.
Dika turun dari motor dan berjalan masuk. "Ya, gue tinggal disini, yuk cepet masuk."
Widia hanya diam di tempat dan tidak mau masuk ke kosnya Dika.
"Tenang aja, gue gak akan apa-apain lo kok, gue orang baik-baik. Pintunya juga gue buka kok."
Widiapun menuruti perkataan Dika dan ikut masuk, kemudian dia duduk di lantai, karena memang kosan Dika sempit dan tidak muat untuk menambahkan kursi.
Widia memperhatikan sekeliling kamar Dika yang terlihat rapi. "Ni kamar rapi juga... Pantes aja lo tadi nanya kabar papa lo. Ternyata lo ngekos ya, udah berapa lama Dik?."
"Sekitar 3 tahunan, maaf ya, gak ada tempat duduk, lo jadi duduk di bawah." Dika membuka sebuah lemari dan mengambil kotak obat. Kemudian dia duduk di samping Widia.
"Santai aja kali... Tapi, kalo lo tinggal di sini, nanti yang biayain kebutuhan lo siapa, sekolah lo, semuanya?," tanya Widia sambil mengobati memar di wajah Dika.
"Gue kan pelihara bebek, waktu lo lihat gue di pasar, gue lagi jual bebek, gue gak bohong. Selain itu gue juga kerja di warnet dari sore sampai tengah malem. Biasanya kalo siang gue tidur, makanya gue jarang buat PR. Kalo masalah sekolah... sekolah itu punya keluarga gue. Jadi papa cuma bayarin sekolah gue," jelas Dika.
"Tapi kenapa tadi lo kelihatan benci banget sama mama lo?."
"Ngga, bukan apa-apa."
"Kalo lo mau cerita, gue siap dengerin kok. Emang sih gue gak bisa bantu, tapi setidaknya dengan cerita, beban lo bisa berkurang. Kalo lo gak mau juga gak apa-apa."
"Gue cerita aja deh, lagian gue juga percaya sama dia," pikir Dika.
"Tapi lo janji ya, jangan bilang ke siapa-siapa, soalnya gue gak pernah cerita ke orang lain."
"Iya, gue janji."
"Sebenarnya dia bukan ibu kandung gue, dia ibu tiri gue, namanya Yuni. Gue pernah lihat dan dengar sendiri kalo dia selingkuh. Gue benci banget sama dia, apalagi sama anaknya. Papa ngusir gue juga karena gue sering ngelawan dia, coba aja nggak ada papa sifatnya berubah, dasar muka dua. Dulu aja sebelum gue tau sifat mereka yang sebenarnya, gue percaya sama mereka. Tapi gue yakin, mereka pasti punya niat jahat." Wajah Dika terlihat penuh dengan kebencian.
"Lo yang sabar ya Dik. Gue yakin suatu saat nanti papa lo akan tau yang sebenarnya."
Dika menghadap kesamping dan berkata. "Ngga Wid, Papa gak suka sama gue. Semua orang benci gue, gak kayak Dimas. Dia pinter, nurut, sopan. Sedangkan gue cuma anak bandel, yang gak bisa apa-apa."
"Dika, lo gak boleh ngomong kayak gitu. Menurut gue lo itu orang baik." Widia memegang pundak Dika.
"Bahkan gue penyebab mama gue meninggal. Waktu gue SD, gue sama Dimas disuruh diem di rumah. Tapi gue malah kabur nonton bola ke lapangan. Mama sama papa nyari gue kemana-mana, tapi mereka gak nemuin gue. Mereka pikir gue hilang, sakit jantung mama kambuh, dia panik dan khawatir waktu tau gue hilang. Dan... Mama gue meninggal." Dika menundukkan kepalanya untuk menutupi matanya yang berkaca-kaca.
Dika akhirnya tidak bisa membendung air matanya, ia pun menangis. "Gue ngerasa bersalah Wid. Seandainya gue bisa bicara sama mama, gue mau minta maaf ke dia. Mama... maafin Dika ma... maafin Dikaa... maaf..."
Melihat Dika, membuat Widia ikut sedih dan air mata mengalir di wajahnya. "Dika, ini semua bukan salah lo. Lo jangan nyalahin diri lo sendiri."
Dika menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. "Ngga Wid, ini semua salah gue. Gue selalu bikin orang-orang di sekitar gue susah, gue gak berguna. Bahkan sekarang gue juga bikin lo sedih, maafin gue... Maaf..."
"Dika, lo jangan nangis, lo harus kuat. Gue yakin suatu saat nanti semuanya akan indah."
Dika bergeser menjauhi Widia dan memeluk kedua lututnya dengan wajahnya yang menunduk dan air matanya yang terus menetes. "Jangan deket-deket sama gue, gue cuma bisa nyusahin... Gue nggak tau kenapa gue nangis, gue nggak tau kenapa... Ada banyak hal di kepala gue, terlalu banyak... Gue nggak ngerti. Gue minta maaf. Tolong jangan marahin gue, tolong... Gue minta maaf... maaf..." Dika kemudian memegang kepalanya.
Widia mendekati Dika dan mengusap air mata Dika. "Tenang Dika, tenang... Gak ada yang marah... Gue nggak akan marah. Lo nggak nyusahin gue, lo selalu bantu gue. Gue akan selalu ada buat lo. Gue emang belum tau kunci keberhasilan, tapi kunci kegagalan adalah menyenangkan semua orang. Gak ada orang yang sempurna, tapi gue tau lo itu orang baik Dika." Widia kemudian memeluk Dika.
"Makasi ya Widia, makasi..." kata Dika di tengah tangisnya.
"Iya Dika, sama-sama." Widia mengusap rambut Dika.
"Ternyata kita sama Dik, Gue bisa ngerasain apa yang lo rasain," kata Widia dalam hati.
°
°
°
Jangan lupa like komentar dan ratenya ya kak ✌️😊...
Terima kasih 🙏🤗♥