Choco

Choco
Perjanjian



Pagi harinya Restu membawa 2 roti isi dan 2 gelas susu, ia kemudian menaruh roti isi dan susu tersebut di atas meja yang ada di samping kasur. Restu pun kemudian membangunkan Dika.


"Oi bangun!" ucap Restu, namun Dika masih tetap tertidur.


Restu menepuk pundak Dika. "Bagun Dik, udah jam 11."


Dika pun masih tertidur pulas dan ia bahkan tidak bergerak sedikit pun saat Restu menepuk pundaknya.


"Wah, nggak mau bangun juga ni bocah." Karena Dika belum juga bangun, Restu pun menarik tangan Dika hingga Dika terduduk.


Dika menoleh ke kanan dan ke kiri seperti orang linglung karena ia belum sadar sepenuhnya.


Dika kemudian menghentikan pandangan pada Restu yang duduk di sampingnya. "Gue lagi enak-enak tidur malah lo bangunin," ucap Dika sembari menggusap matanya.


"Lagian udah jam segini lo masih belum bangun."


"Emang sekarang jam berapa?" tanya Dika.


"Jam 11. Itu udah gue buatin lo sarapan." Restu melirik makanan yang ditaruhnya di atas meja tadi.


"Eh? Itu buat gue?" tanya Dika sembari tersenyum.


"Iya," jawab Restu singkat.


Tiba-tiba saja Dika memeluk Restu. "Wkwkwk.. lo emang sahabat yang terbaik. Aa.. gue kan jadi terhura."


Secara spontan Restu mendorong tubuh Dika. "iihh... Lo apa-apaan sih?!"


"Gue cuma terharu aja sama kebaikan lo wkwkwk..."


"Giliran kayak gini aja lo bilang gue baik. Udah, cepertan lo makan."


"Waah, makasi aja nih sarapannya."


"Iya," balas Restu.


Mereka berdua pun memakan sarapan tersebut.


"Setelah ini lo langsung pulang," ucap Restu.


"E o o ui ue?" Dika mengucapkan kata dengan tidak jelas karena mulutnya masih penuh dengan makanan.


"Lo bilang apa sih? Ngomong yang jelas. Kalo mulut masih penuh jangan bicara, habisin dulu makanannya."


Dika pun menelan makanannya. "Lo kok ngusir gue? Tumben gue main ke rumah lo, masak lo nyuruh gue pulang."


"Gue nggak ngusir, gue mau ke acara nikahan tante gue."


"Yah, padahal gue masih pengen disini. Kalo gitu kapan-kapan aja gue kesini lagi."


"Iya," balas Restu.


"Gue juga sebenarnya masih pengen lo disini, cuma gue nggak mau kalau sampai orang tua gue tau gue masih temenan sama lo," batin Restu.


Selesai sarapan Restu dan Dika membereskan piring dan gelas yang mereka pakai untuk makan dan minum.


"Ngomong-ngomong mama lo dimana? Belum pulang?" tanya Dika.


"Udah, mama gue lagi istirahat karena kemarin dia pulang pagi," jawab Restu.


"Ooh.. baru aja gue mau pamitan. Gue titip salam ya sama mama lo," ucap Dika.


"Iya," balas Restu.


"Gue pulang Res." Dika hendak pergi.


Restu pun menghentikan Dika. "Eh, handuk sama sabun yang lo pake kemarin bawa pulang aja."


"Nggak usah, biarin disini aja."


"Bawa aja pulang, daripada nggak kepake." Restu pergi mengambil handuk dan sabun yang dipakai oleh Dika kemarin.


Beberapa saat kemudian Restu datang membawa handuk dan sabun, ia pun memberikan barang-barang tersebut kepada Dika. "Nih.. lagian nggak akan ada yang mau pake disini bekas lo wkwkwk..."


"Eleh, gaya bener... Ngomong-ngomong makasi nih barang-barangnya. Udah dikasi handuk, sabun, baju, sampai daleman juga wkwkk..."


"Oke, santai aja," balas Restu.


"Ya udah, gue pulang,"


"Iya..." balas Restu.


...****************...


Di kediaman keluarga Arthama terlihat Pak Arthama sedang sibuk menyirami tanaman di halaman depan rumahnya.


"Papa?" Dika merasa sedikit bingung melihat Pak Arthama berada di rumah, karena seharusnya Pak Arthama sekarang bekerja di kantor.


"Eh Dika, kamu sudah pulang," ucap Pak Arthama.


"Papa nggak kerja? Sekarang kan bukan hari libur."


"Papa mengambil cuti," jawab Pak Arthama.


"Dika perhatiin, papa akhir-akhir ini jarang ke kantor atau pun ke luar negeri."


"Iya, papa ingin istirahat. Nggak ada salahnya menghabiskan waktu di rumah."


"Iya, papa bener..."


"Ngomong-ngomong kamu dapat baju itu dari mana? Seperti baju perempuan," ucap Pak Arthama yang diakhiri dengan tawa kecil.


"Ah ini, kemarin Dika ngindep nggak bawa baju, ini Restu yang kasi, dia salah beli baju," ucap Dika.


"Oohh..." balas Pak Arthama.


"Dika masuk ya pa," ucap Dika.


"Iya," balas Pak Arthama.


Ketika Dika melewati kamar Dimas, ia tidak sengaja melihat Dimas sedang tidur karena pintu kamar Dimas tidak tertutup. Dika kemudian masuk ke kamar Dimas dan terlihat juga kucing peliharaan (Mpus) milik Dika tertidur di samping Dimas.


"Si Dimas, tidur nggak nutup pintu. Kucing gue kan jadi masuk, nanti gue lagi yang kena omel kalo kucing gue pop di kasurnya," gumam Dika. Dika kemudian menurunkan kucing tersebut.


"Dimas akhir-akhir ini sering banget tidur siang," gumam Dika. Dika kemudian merebahkan badannya di kasur sembari bermain handphone.


Lagi-lagi kucing peliharaan Dika naik ke atas kasur. Namun Dika memilih membiarkan kucing peliharaannya berada disana karena dirinya juga berada disana.



"Dika?" ucap Dimas yang baru sadar. Dimas kemudian duduk sambil merenggangkan badannya.


Dimas memperhatikan Dika yang masih berbaring sembari bermain handphone. Dimas pun menahan tawa karena melihat Dika memakai sweater perempuan. "Huft... Lo ngapain pake baju cawek?"


"Restu yang kasi," jawab Dika sambil tetap fokus pada handphonenya.


Dimas kemudian duduk di pinggir kasur. Dika memasukkan handphonenya ke dalam saku lalu ia duduk di samping Dimas.


"Lo sakit?" tanya Dika.


"Nggak, gue biasa-biasa aja," jawab Dimas.


"Kenapa akhir-akhir ini lo sering tidur? Lo juga sering bilang sakit kepala."


"Gue cuma nggak enak badan aja." Dimas kemudian beranjak pergi.


Dika pun menyusul Dimas. "Nggak ada yang lo sembunyiin kan dari gue?"


"Lo bilang apa sih? Nggak ada yang gue sembunyiin dari lo." Dimas kemudian pergi meninggalkan Dika agar Dika tidak bertanya lebih jauh lagi.


"Gue ngerasa ada yang aneh sama Dimas," batin Dika.


...****************...


Disisi lain Restu tengah tidur santai sambil bermain handphone di kamarnya.


"Restu..." ucap Bu Ayu yang baru datang.


Restu pun duduk dan menaruh handphone di atas meja. "Mama udah bangun..."


"Kamu masih temenan sama Dika? Kata bibi, mobil di depan kemarin itu punya Dika, dia juga menginap disini," ucap Bu Ayu dengan nada tidak suka. Bu Ayu selama ini memang tidak menyukai Dika karena Dika terkenal sebagai murid yang sering melanggar peraturan di sekolah, selain itu nilai Dika juga selalu buruk. Bu Ayu mengetahui hal tersebut melalui adiknya yang bekerja sebagai guru di SMA Nusantara.


"Iya," jawab Restu singkat.


"Beruntung kemarin mama sedang lelah dan tidak ingin marah-marah. Kalau tidak, mama sendiri yang akan usir anak itu!" Terlihat ekpresi marah di wajah Bu Ayu.


Restu kemudian berdiri dan terlihat ekpresi tidak terima di wajah Restu. "Dika itu temen Restu ma!"


Bu Ayu merasa kaget karena baru kali ini Restu berani menjawab ucapannya. Biasanya Restu hanya diam ketika Bu Ayu memarahinya. "Berani ya kamu melawan mama sekarang! Berani kamu membalas ucapan mama! Siapa yang ngajarin kamu?! Dika?!" ucap Bu Ayu dengan nada tinggi.


"Mama jangan bawa-bawa Dika! Dia nggak salah apa pun, dia itu orang baik!"


"Kamu salah! Dia selalu memberikan pengaruh buruk buat kamu."


"Nggak ma! Dika nggak salah apa-apa!"


"Tapi memang itu kenyataannya!Gara-gara kamu berteman dengan dia, nilai kamu jadi ikut buruk seperti nilai dia! Bagaimana kamu bisa diterima di universitas terbaik jika seperti ini?!"


"Nilai! Nilai! Nilai! Kenapa selalu itu yang mama bahas?! Mama nggak pernah mikirin Restu! Mama nggak pernah perduli sama apa yang Restu mau, mama nggak perduli sama perasaan Restu!"


Bu Ayu berjalan menuju meja belajar Restu kemudian ia mengambil raport Restu. Bu Ayu lalu membaca raport tersebut. Dengan kesal Bu Ayu membanting raport tersebut. "Apa ini?! Nilai kamu buruk lagi! selalu saja buruk setiap semester! Kamu tidak pernah menghargai mama!"


"Mama yang nggak pernah perduli sama Restu!" balas Restu.


"Ada apa ini?! Baru sampai rumah sudah ada ribut-ribut seperti ini!" ucap Pak Riko atau papanya Restu yang berada di depan pintu, ia baru saja pulang bekerja dari luar kota. Pak Riko pun menghampiri Bu Ayu dan Restu.


Pak Riko mengambil raport milik Restu yang tergeletak di lantai, ia pun memeriksa raport tersebut. "Nilai kamu buruk lagi. Kalau selalu seperti ini bagaimana bisa kamu mendapatkan pekerjaan yang baik!" ucap Pak Riko kesal.


"Mau jadi apa kamu nanti kalau terus seperti ini?! Kamu tidak akan bisa menjadi pengacara hebat seperti papa kamu!"


Restu hanya diam menundukkan kepalanya mendengar amarah Pak Riko dan Bu Ayu.


"Kamu harus menjadi orang sukses! Kamu akan menjadi seperti papa!" ucap Pak Riko.


"Kamu tidak boleh berteman dengan Dika lagi!" ucap Bu Ayu.


"Sudah berapa kali papa suruh kamu jangan main bulutangkis?!" Pak Riko mengambil salah satu raket yang dipajang oleh Restu di dinding. Dengan kasar Pak Riko membanting Raket tersebut.


"Cukup!" teriak Restu.


Sontak saja Pak Riko dan Bu Ayu menatap ke arah Restu.


"Papa sama mama nggak pernah perduli sama Restu! Dari kecil papa dan mama selalu menentukan apa yang harus Restu lakukan dan apa yang akan Restu lakukan. Mulai dari sekolah, teman, cita-cita, semuanya papa dan mama yang ngatur. Papa dan mama selalu maksain keinginan kalian sama Restu. Tapi apa papa dan mama pernah perduli sama apa yang Restu suka? Apa kalian pernah nanya apa yang Restu inginkan?" ucap Restu.


"Sudah cukup kamu bicara?!" ucap Bu Ayu.


"Kami melakukan semua ini untuk kebahagiaan kamu!" ucap Pak Riko.


"Tapi Restu nggak bahagia pa! Restu bukan anak kecil lagi. Restu berhak atas hidup Restu," balas Restu.


"Baik, kali ini papa akan beri kamu satu kesempatan untuk menunjukkan bahwa jalan yang kamu pilih memang jalan yang benar," ucap Pak Riko.


"Restu akan tunjukkan dalam lomba bulutangkis antar club kali ini. Restu akan buktikan sama papa dan mama, Restu akan jadi juara," ucap Restu.


"Jika kamu menang, papa berjanji, papa akan membiarkan kamu melakukan apa pun yang kamu mau. Tapi jika kamu kalah, kamu harus menuruti semua saran dari papa dan mama," ucap Pak Riko.


"Restu yakin, Restu akan berhasil," balas Restu.


"Kita lihat saja nanti," ucap Pak Riko.


"Kamu tidak mengerti apa-apa. Suatu saat nanti kamu akan berterima kasih sama mama dan papa," ucap Bu Ayu.


Pak Riko dan Bu Ayu pun pergi meninggalkan Restu.


......................


...BERSAMBUNG...


......................


...°...


...°...


...°...


Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya judulnya "Berbeda"


Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...


1 like dan komentar singkat dari para pembaca sangat berharga bagi Author 😊...


Terima kasih 🙏💕...