
Terima kasih sudah mampir 😍...
Selamat membaca 💕...
°
°
°
°
°
Malam itu Dika sedang duduk di gubuk bambu yang berada tidak jauh dari kandang bebeknya. Dika duduk memeluk lututnya sambil mendongakkan kepalanya termenung menatap langit malam. Disana ia hanya sendiri dengan ditemani sebuah lentera dan udara malam yang dingin.
"Kenapa sih papa nggak pernah percaya sama gue?..." batin Dika ditengah lamunannya.
"AAAA!!!..." teriak Dika sambil melompat kaget karena merasa ada yang memegang pundaknya.
"Papa?..." ucap Dika melihat Pak Arthama yang tiba-tiba sudah berada disana. Dika pun kembali duduk karena mengetahui orang itu adalah Pak Arthama dan bukan hantu atau lain sebagainya.
Pak Arthama duduk disamping Dika. "Ternyata kamu disini."
"Darimana papa tau Dika disini?" tanya Dika dengan perasaan yang masih kesal.
"Papa pasang alat pelacak di mobil kamu. Tempat ini jauh banget ke tengah-tengah sawah, untung tadi papa nanya sama bapak-bapak yang pulang dari nyari belut. Ternyata kandang bebek kamu disini, lumayan juga," ucap Pak Arthama sambil memperhatikan kandang bebek Dika.
"Papa nggak bisa seenaknya pasang alat pelacak kayak gitu di mobil Dika!"
"Maafin papa, itu cuma buat jaga-jaga, papa khawatir sama kamu."
"Ngapain papa khawatir sama Dika?! Papa nggak pernah percaya sama Dika! Papa cuma anggap Dika anak bandel kan?!"
"Maksud papa bukan begitu, papa cuma pengen kamu dapat yang terbaik. Aulia anak baik, dia pasti bisa buat kamu jadi orang yang lebih baik."
"Secara tidak langsung papa bilang Dika bukan orang baik!"
"Maksud papa..." Karena tidak bisa berkata apa-apa, Pak Arthama menghela nafas panjang dan menghembuskannya pelan untuk menenangkan dirinya.
"Papa minta maaf Dika..." ucap Pak Arthama dengan perasaan bersalah.
"..." Dika hanya diam tidak merespon ucapan Pak Arthama.
"Papa sadar, kamu itu anak baik. Papa seharusnya bangga sama kamu... Papa salah, papa minta maaf..."
"..." Lagi-lagi Dika hanya diam tidak merespon ucapan Pak Arthama.
Mereka berdua pun diam tanpa berkata apa-apa, hanya terdengar suara jangkrik yang saling bersahutan di tengah malam yang sepi itu.
PLAKK...
Tiba-tiba Pak Arthama menampar pipi Dika.
"Papa?!" Dika memegang pipinya sambil menatap kaget pada Pak Arthama.
"Wkkwkwkk..." Pak Arthama tertawa karena melihat ekspresi Dika yang sangat kaget.
Pak Arthama menunjukkan telapak tangannya. "Nyamuk..."
Awalnya Dika sudah berpikir kemana-mana karena Pak Arthama menamparnya. Dika pun tertawa mengetahui Pak Arthama menamparnya karena ada nyamuk di pipinya. "Wkwkwk..."
"Papa senang lihat kamu ketawa..."
Dika berhenti tertawa karena mendengar ucapan Pak Arthama. Seketika keadaan pun kembali hening.
"Disini banyak nyamuk, hawanya juga dingin, serem..." ucap Pak Arthama sembari menggosok telapak tangannya.
"Pulang aja," ucap Dika ketus. Sebenarnya rasa kesal Dika pada papanya sudah hilang, hanya saja dia masih gengsi untuk berbaikan dengan Pak Arthama.
"Kamu masih marah sama papa?... Papa minta maaf... Papa sadar kamu itu anak baik, mulai sekarang papa akan selalu percaya sama kamu... Masalah perjodohan itu, papa nggak akan paksa kamu."
"Makasih pa," ucap Dika singkat.
"Jadi kamu maafin papa?"
"Iya..."
Pak Arthama mengusap kepala Dika.
"Hmm... sebenarnya Dika udah punya pacar pa..."
"Yah, kenapa kamu nggak kenalin sama papa?"
"Hmm... ee... itu pa..." ucap Dika bingung.
"Gimana ya caranya jujur sama papa kalo pacar gue Widia? Papa kan taunya Dimas yang pacaran sama Widia," batin Dika.
"Tenyata anak papa bisa malu kayak gitu," ucap Pak Arthama sambil tersenyum menggoda Dika.
"Apaan sih!... Yuk pulang," ucap Dika kemudian berdiri.
Pak Arthama tersenyum kemudian berjalan mengikuti Dika. Pak Arthama dan Dika pun kembali ke rumah menggunakan mobil mereka masing-masing. Pak Arthama juga menginformasikan kepada Dimas bahwa dia sudah menemukan Dika.
***** di rumah
"Dika, papa ke kamar duluan ya. Tadi papa suruh Dimas bantu cari kamu, kamu tunggu dia disini," ucap Pak Arthama pada Dika.
"Papa..." Dika menghentikan Pak Arthama yang hendak menuju kamarnya.
"Ada apa?"
"Sebenarnya Dika mau bilang sesuatu sama papa."
"Sebenarnya... sebenarnya Widia... pacar Dika Widia," ucap Dika gugup.
Pak Arthama mengerutkan alisnya karena bingung. "Ini?... sebenarnya maksud kamu apa?"
"Iya, pacar Dika yang Dika bilang tadi itu Widia."
"Tunggu, tunggu! Papa nggak ngerti. Bukannya Widia itu pacar Dimas?"
"I-itu semua salah paham pa..." ucap Dika gugup.
"Apa yang salah paham? Kamu jangan setengah-setengah bicara. Coba kamu jelasin semuanya, papa nggak ngerti. Kenapa kamu bisa pacaran sama pacar Dimas?"
"Sebenarnya, sebenarnya..."
"Sebenarnya Widia salah paham pa," ucap Dimas yang baru datang.
"Daripada papa tau kebenaran ini dari Dika, lebih baik gue jujur aja," batin Dimas.
"Maksud kalian apa?!" tanya Pak Arthama.
"Widia mau pacaran sama Dimas karena Dimas bohong sama dia dengan ngaku jadi Dika," ucap Dimas datar. Dimas langsung berjalan menuju kamarnya dan menutup pintu kamarnya dengan keras.
Pak Arthama hanya diam termenung, dia masih tidak mengerti dengan semua ini. Selain itu Pak Arthama juga tidak bisa percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Mustahil baginya Dimas yang ia kenal sangat disiplin bisa berbohong seperti itu.
Pak Arthama menarik nafas dalam-dalam dan hembuskan pelan untuk menenangkan dirinya "Coba kamu jelasin sama papa Dika..."
Dika pun menjelaskan semuanya kepada Pak Arthama.
"Papa nggak masalah kamu pacaran sama siapapun, apalagi pacar kamu Widia, cucunya kakek Dharma, anak almarhum sahabat papa, Pak Bimo. Papa nggak mau ikut campur masalah seperti itu, asalkan kamu bahagia. Tapi kakak kamu... papa nggak abis pikir sama Dimas. Selama ini papa pikir Dimas itu anak yang sangat jujur dan disiplin, tapi sekarang dia udah bikin papa kecewa." ucap Pak Arthama. Pak Arthama pun hendak menemui Dimas di kamarnya.
"Pa..." ucap Dika.
Pak Arthama menghentikan langkahnya dan menatap Dika.
"Dimas udah sering bikin papa bangga, cuma baru kali ini dia buat kesalahan. Papa jangan terlalu marah sama Dimas. Dika pernah ngerasain di..." ucap Dika sambil menundukkan kepalanya.
Pak Arthama menatap sayu pada Dika seakan-akan ia tau apa yang Dika ingin katakan. Pak Arthama mengerti ia selama ini sudah bersikap terlalu keras pada anak-anak terutama pada Dika.
"Iya, papa ngerti..." Pak Arthama kemudian pergi ke kamar Dimas.
Tok, tok, tok...
"Dimas, ini papa... Dimas..."
Karena Dimas tidak merespon ucapan Pak Arthama dan pintu kamar Dimas tidak terkunci, Pak Arthama memutuskan langsung masuk ke kamar Dimas. Di dalam kamar terlihat Dimas yang sedang duduk di sofa, Pak Arthama pun kemudian juga duduk di samping Dimas.
"Kamu kenapa melakukan hal seperti itu? Itu buka Dimas yang papa kenal," ucap Pak Arthama.
"Papa mau marah, marah aja. Papa kecewa kan sama Dimas?!"
"Jujur, Papa memang kecewa sama kamu. Papa nggak akan marah sama kamu... Tapi yang kamu lakukan itu memang salah. Tidak ada orang yang mau dan suka dibohongi. Perasaan marah, kecewa, sedih, hingga hilangnya kepercayaan dari orang yang sudah kamu bohongi pasti kamu rasakan."
Dimas hanya termenung mendengar ucapan Pak Arthama.
"Papa tau, Widia pasti kecewa dan masih marah sama kamu. Saran papa, sebaiknya kamu segera minta maaf dan perbaiki hubungan kamu sama dia. Dan jangan pernah lakukan hal yang sama lagi."
"Iya pa, papa bener. Dimas salah, Dimas akan segera selesaikan semua ini. Dimas juga minta maaf sama papa..."
Pak Arthama mengusap kepala Dimas. "Ini baru anak papa. Dengan kamu berani mengakui kesalahan kamu, itu sudah sangat hebat bagi papa, papa bangga sama kamu."
"Makasih pa..."
"Iya sama-sama... Papa sadar, selama ini papa udah keras sama kalian... terutama sama Dika..."
"Papa jangan bilang kayak gitu. Dimas tau, papa pasti selalu berusaha melakukan yang terbaik."
"Makasi kamu udah mau ngertiin papa... Papa tinggal ke kamar dulu ya."
"Iya pa..."
Pak Arthama pun pergi meninggalkan kamar Dimas.
"Lagi-lagi Dika!.." gumam Dimas kesal.
•••••••••••••••
BERSAMBUNG
Up setiap Selasa
°
°
°
°
°
Sambil nunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya judulnya "Berbeda"
Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...
Saya penulis pemula, jadi maaf jika ada banyak kesalahan dalam novel ini✌️...
Jika ada kritik dan saran mohon disampaikan, karena itu sangat bermanfaat dan berharga bagi saya😊...
Terima kasih 🙏💕...