
"Haaa!... Jangann!... Haaa..." teriak Dimas yang masih menangis.
"Ga..." lanjut Bu Yuni.
"Lo pasti selamat Dim..." batin Dika.
Dor!... Dor!... Dor!...
Beberapa kali terdengar suara tembakan, namun tembakan tersebut bukan berasal dari pistol yang dipegang Bu Yuni, melainkan suara tembakan tersebut berasal dari luar.
Bu Yuni pun kaget sekaligus takut karena mendengar suara tembakan tersebut. "Apa itu?! Cepat periksa!" perintah Bu Yuni kepada orang suruhannya. Suruhan Bu Yuni pun pergi keluar untuk mengecek keadaan.
Di tengah-tengah keadaannya yang mulai melemah, wajah Dika yang pucat memperlihatkan senyuman kecil.
"Dika... maafin gue..." ucap Dimas yang sedari tadi memandangi Dika sembari menangis.
Dika menggelengkan kepalanya pelan untuk merespon ucapan Dimas. "Nggak perlu minta maaf..." ucap Dika yang sudah lemah.
"Apa kamu berani memanggil polisi?!" tanya Bu Yuni kepada Dika.
Dika tidak berkata sepatah kata pun dan Dika hanya menatap Bu Yuni dengan pandangannya yang setengah terbuka.
"JAWAB!" bentak Bu Yuni.
"Tidak..." jawab Dika.
"Jawab yang jujur!" Bu Yuni menjambak rambut Dika sehingga kepalanya mendongak.
"YUNI!!!..." teriak Dimas.
"Gue berani sumpah..." balas Dika sembari menatap Bu Yuni.
"Awas kalau kamu berani bohong!" ancam Bu Yuni. Bu Yuni pun melepaskan rambut Dika.
Dika hanya menundukkan kepalanya tanpa berkata sepatah kata pun. Nafas Dika mulai melemah, perlahan ia mulai memejamkan matanya. Seketika jantung Dimas rasanya seperti berhenti tiba-tiba dan nafasnya menjadi tidak teratur karena melihat hal tersebut.
"Dika..." ucap Dimas gemetar. Dimas memperhatikan perut Dika yang sama sekali tidak ada pergerakan.
Dimas menggelengkan kepalanya. "Nggak! Nggak! Nggak mungkin! Dika! Bangun!" Tangisan Dimas pun semakin menjadi-jadi.
Bu Yuni memperhatikan Dimas yang sedang menagis dengan perasaan yang sangat puas.
"Dika, lo jangan bercanda! Lo bercanda kan?! Gue tau lo suka bercanda! Dika bangun!" ucap Dimas pada Dika yang matanya sudah terpejam.
Bruk...
Dimas terus memberontak sampai-sampai kursinya terjatuh.
"Haaa!... Dikaaa!... Nggak mungkin!!" teriak Dimas ditengah-tengah tangisnya sembari menatap Dika yang tetap memejamkan matanya.
"Dua peluru bersarang di kaki Dika, luka di kedua pergelangan tangan Dika, seharusnya gue yang merasakan semua itu..." batin Dimas.
Bu Yuni yang melihat hal tersebut merasa sangat senang.
Dimas menatap Bu Yuni dengan tatapan penuh kebencian. "Aarrgghh!... YUNI BANGS***!!"
Bu Yuni hanya merespon ucapan Dimas dengan tertawa puas.
Sudah beberapa saat orang suruhan Bu Yuni belum juga kembali. Seketika Bu Yuni merasa sangat khawatir karena teringat akan hal tersebut, jantung Bu Yuni berdegup dengan sangat kencang karena kecemasan yang dirasakannya.
Tak berselang lama terlihat ada banyangan seseorang yang masuk, mengetahui hal tersebut hati Bu Yuni pun merasa lebih tenang. Namun alangkah terkejutnya Bu Yuni ketika melihat orang tersebut adalah 3 orang polisi bersama Pak Arthama.
Suara tembakan sebelumnya adalah berasal dari polisi yang membak kaki suruhan Bu Yuni karena orang suruhan Bu Yuni berusaha kabur dan memberontak.
"Jangan bergerak!" ancam polisi.
Pak Arthama yang melihat Dika bersimbah darah dan Dimas yang sedang tergeletak merasa sangat panik. Pak Arthama hendak menghampiri mereka berdua akan tetapi Bu Yuni lebih dulu mengancam akan menembak Dimas jika ada yang berani mendekat.
"Jangan mendekat jika kalian mau anak ini selamat!" ancam Bu Yuni sembari menodongkan pistol kepada Dimas.
Pak Arthama menatap Bu Yuni dengan tatapan penuh dengan kemarahan. "Yuni!"
"Jangan berani mendekat!" ucap Bu Yuni sambil tetap menodongkan pistol kepada Dimas.
"Ini peringatan terakhir! Kami peringatkan jangan sakiti anak tersebut! Jika tidak, kami akan melakukan tindakan tegas." ucap polisi.
Bu Yuni tidak menghiraukan perkataan polisi dan tetap menodongkan pistol kepada Dimas.
"Ini peringatan terakhir! Lepaskan anak tersebut! Jika tidak, kami akan mengambil tindakan tegas. Saya hitung sampai tiga. Satu... Dua... Ti..." ucap polisi.
Bu Yuni yang sudah kepanikan tidak bisa berpikir dengan jernih, Bu Yuni yang telah terkepung sudah tidak tau mau berbuat apa lagi. Akhirnya bu Yuni memutuskan untuk menarik pelatuk pistol tersebut, namun keberuntungan kali ini tidak berpihak kepadanya, pistol yang ia gunakan tidak bisa melepaskan tembakan karena kehabisan peluru.
Bu Yuni yang sudah terpojokkan pun sudah tidak mempunyai pilihan lain selain kabur. Karena Bu Yuni hampir saja berhasil kabur, polisi memutuskan untuk melumpuhkan Bu Yuni dengan cara menembak kakinya. Akhirnya Bu Yuni pun Berhasil ditangkap.
Pak Arthama segera menghampiri Dika. Pak Arthama kemudian langsung melepaskan ikatan Dika. Ikatan Dimas pun juga segera dilepaskan oleh polisi.
Pak Arthama memeluk Dika sembari menagis. "Ka-kamu kenapa Dika? Bangun nak..."
Dimas yang ikatannya sudah terlepas segera menghampiri Dika. Dimas memeluk Dika sembari menagis. "Buka mata lo Dika, bukaa..."
"Cepat bawa Dika ke rumah sakit," ucap Pak Arthama. Pak Arthama bersama Dimas dan seorang polisi membawa Dika kedalam mobil dan segera mengajaknya ke rumah sakit.
"Andai saja aku tidak sedang meeting dan melihat pesan Dika lebih awal, aku pasti datang lebih cepat dan pasti Dika tidak akan sampai separah ini," batin Pak Arthama.
......................
...Kilas balik...
......................
Sebelum Dika pergi ke lokasi yang dikirimkan oleh Bu Yuni, Dika sempat meminta pertolongan. Karena Dika terlalu panik, pikirannya langsung tertuju pada papanya, Dika kemudian menelepon papanya untuk meminta bantuan, disamping itu Dika memang tidak mengetahui nomor telepon polisi atau pun nomor telepon darurat lainnya.
Tuut.. tut.. tut...
Panggilan telepon tersebut tidak kunjung diangkat oleh Pak Arthama.
"Papa... angkat teleponnyaa..." gumam Dika.
Karena sudah 2 kali Pak Arthama tidak menjawab panggilan telepon, Dika memutuskan untuk mengirimkan lokasi tersebut serta pesan suara kepada Pak Arthama.
"Pa, Dimas dalam bahaya, dia disandra sama Yuni, papa secepatnya bawa pertolongan ke lokasi itu!" ucap Dika via pesan suara.
Dika pun juga mengirimkan spam chat agar Pak Arthama lebih cepat menanggapi pesannya tersebut.
Karena Dika tidak mau terlambat dan kehabisan waktu lebih banyak, Dika pun segera menuju lokasi yang dikirimkan oleh Bu Yuni.
Sesampainya di lokasi yang berada di daerah sangat sepi tersebut, Dika melihat sebuah rumah kosong yang sangat besar dam tak jauh dari rumah tersebut Dika melihat mobil Dimas terparkir. Dika pun memutuskan untuk segera mendekati rumah tersebut, baru sampai di depan rumah Dika sudah ditangkap oleh dua orang laki-laki suruhan Bu Yuni, dan Dika pun diajak masuk kedalam.
......................
...Kilas Balik Selesai...
......................
BERSAMBUNG•••••••
••••••••••••••••••••
°
°
°
Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya judulnya "Berbeda"
Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...
1 like dan komentar singkat dari para pembaca sangat berharga bagi Author 😊...
Terima kasih 🙏💕...