Choco

Choco
Mencari Makanan



Kini Widia dan Clara masih berada di dalam hutan. Mereka terus berjalan menjadi jalan keluar, namun sampai saat ini mereka belum juga menemukan titik terang. Mereka terus melangkahkan kakinya tanpa mengetahui arah yang mereka tuju.


Wajah Widia dan Clara terlihat pucat karena kelelahan, kaki mereka sudah terasa pegal karena seharian berjalan, selain itu mereka juga kelaparan.


Sesekali mereka berteriak meminta pertolongan, namun hanya terdengar suara gema dari teriakan mereka yang saling bersahutan.


"Tolong!..." teriak Clara.


"Siapapun tolong!..." teriak Widia.


Mereka benar-benar merasa ketakutan karena mereka belum juga berhasil keluar dari hutan. Jantung mereka berpacu dengan cepat, keringat dingin bercucuran, dan pikiran mereka sudah kemana-mana.


"Sial*n! Percuma teriak, nggak bakalan ada yang denger," gumam Clara.


"Kita nggak boleh putus asa, kita harus terus berusaha keluar dari hutan ini," ucap Widia.


Clara yang sudah sangat lelah dan putus asa, memilih untuk berhenti dan duduk.


"Lo kenapa duduk? Kita harus terus cari jalan keluar sebelum gelap."


Clara duduk sembari memeluk kedua lututnya, matanya pun terlihat berkaca-kaca. "Gue takut..."


Widia jongkok sembari memegang pundak Clara. Widia menatap wajah Clara yang terlihat ketakutan. "Sama, gue juga takut. Gue sama sekali nggak tau apa yang harus dilakukan saat tersesat di hutan kayak gini, gue juga nggak tau cara bertahan hidup di hutan..."


Clara yang merasa sudah tidak mempunyai harapan kini sudah tidak bisa membendung air matanya. "Hiks.. hiks.. udah sore, gue takut, gue capek, gue laper. Gue mau pulang, gue takut. Hiks.. hiks..." ucap Clara


"Ya ampun, gue juga laper banget..." batin Widia sembari memandang sekelilingnya.


Tiba-tiba perut Widia berbunyi karena lapar, sama halnya seperti Widia, perut Clara juga berbunyi karena lapar.


"Kita jalan lagi yuk, siapa tau di deket sini ada tumbuhan-tumbuhan atau buah-buahan yang bisa kita makan," ucap Widia.


Namun Clara tidak merespon ucapan Widia, ia hanya duduk memeluk lututnya sembari menangis. "Hiks.. hiks.. hiks..."


"Lo jangan nangis kayak gitu, lo harus simpan tenaga lo. Mendingan kita jalan lagi."


"Nggak, gue udah capek banget, gue laper, gue udah nggak punya tenaga."


"Ya udah, lo tunggu gue di sini, jangan kemana-mana. Gue mau pergi cari makanan, siapa tau ada tumbuhan-tumbuhan yang bisa kita makan."


"Nggak, gue takut kalo kita sampai pisah lagi," cegah Clara


"Kalo gitu lo ikut aja."


"Tapi gue capek, gue udah nggak kuat jalan."


"Gimana dong kalo gitu?... Hmm.. gue janji, gue pasti kembali, gue nggak akan pergi jauh-jauh. Gue akan bawa makanan, lo tunggu gue di sini ya..." ucap Widia dan dibalas anggukan oleh Clara.


Atas persetujuan dari Clara, Widia pergi meninggalkan Clara untuk mencari makan. Beruntung tak beberapa lama Widia berhasil menemukan pohon jambu biji di dekat sana, alangkah senangnya Widia karena melihat pohon tersebut berbuah cukup banyak.


Widia tersenyum sembari menatap pohon jambu biji tersebut. "Terima kasih Tuhan..." batin Widia.


Karena pohon jambu biji tersebut cukup tinggi, Widia pun perlu memanjat untuk memetik buahnya. Dengan mudah Widia bisa memanjat pohon tersebut karena sejak kecil ia memang sering memanjat pohon untuk memetik buah ataupun mengambil layangan.


Widia memetik buah jambu biji tersebut dan menjatuhkannya ke bawah. Ketika sedang asik memetik buah, tiba-tiba Widia digigit semut, akibatnya Widia menjadi kehilangan keseimbangan dan terjatuh.


Bruggg...


"Aww.. sakit..." gumam Widia sembari memegang kakinya. Widia kemudian mengusap tanah yang mengotori kakinya. Ketika diperiksa, ternyata lutut Widia terluka dan mengeluarkan darah. Walaupun tidak serius, tetap saja luka tersebut menyebabkan rasa perih.


Karena tidak mau membuang-buang waktu, Widia segera memungut buah yang tadi ia petik. Karena buah yang ia dapat cukup banyak, ia pun membawanya dengan menggunakan baju. Setelah itu Widia kemudian kembali menemui Clara. Akibat kakinya yang sakit, Widia harus berjalan pincang dan ia juga harus menempuh waktu yang lebih lama untuk kembali ke tempat Clara.


Ketika Widia sampai di tempat Clara, terlihat Clara sedang terbaring lemah di tanah. Clara segera membuka matanya ketika mendengar suara langkah kaki Widia.


"Widia kenapa jalan kayak gitu? Dia bawa apa?" batin Clara.


Widia kemudian duduk di samping Clara. Widia pun menunjukkan buah yang dia dapat. "Lihat, gue bawa apa."


Clara merasa sangat senang melihat buah tersebut. "Waah.. lo dapet di mana?"


"Ada, di deket sini." Widia menjulurkan beberapa buah tersebut kepada Clara. "Ini..."


Clara menatap buah tersebut dan Widia secara bergantian. "Buat gue?..." tanya Clara heran.


"Ya iyalah," balas Widia.


"Buat gue sebanyak ini?"


"Iyaa..." Widia kemudian menaruh buah tersebut di tangan Clara.


"Makasi ya..."


"Iya, kalo lo mau lagi, tinggal ambil aja."


"Widia kasi gue buah sebanyak ini. Padahal dia yang cari sendiri, dengan mudah dia kasi ke gue. Sementara gue sendiri aja nggak kasi dia minta sisa kacang gue sedikit pun," ucap Clara dalam hati sembari menatap Widia yang sedang makan.


"Lo kenapa lihatin gue kayak gitu?" tanya Widia.


Clara hanya bisa membalas ucapan Widia dengan senyuman.


"Ayo makan..." ucap Widia.


"Iya..." Clara pun memakan buah pemberian Widia.


"Lo kok bisa dapat buah jambu sebanyak ini sih?" tanya Clara.


"Pohonnya lumayan besar, gue aja sampai harus manjat," jawab Widia.


"Hah? Lo bisa manjat pohon?"


"Bisa lah, gue mah udah biasa manjat pohon dari kecil."


"Wkwkwk... ternyata lo bener-bener monyet wkwkwk..." ucap Clara sembari tertawa.


"Eleh," balas Widia.


Tiba-tiba Clara terdiam karena melihat luka di lutut Widia. "Kaki lo berdarah."


"Ooh ini, tadi gue jatuh pas metik buah."


"Widia sampai jatuh karena metik buah ini. Tanpa kebaikan hatinya gue pasti masih kelaparan sampai sekarang. Padahal gue selama ini udah jahat sama dia, gue nyesel banget," batin Clara.


Air mata Clara pun keluar karena merasa menyesal dan terharu akan kebaikan Widia.


"Eh, kenapa nangis lagi?" tanya Widia.


"Gue.. gue cuma terharu aja, ternyata ada orang sebaik lo."


"Ah, lo terlalu berlebihan, biasa aja kok," balas Widia.


"Nggak, gue serius. Padahal gue selama ini udah jahat sama lo, tapi lo masih mau baik sama gue. Gue minta maaf, gue nyesel banget."


"Udahlah, jangan dipikirin, santai aja. Gue udah lupain semuanya. Gue juga minta maaf kalo selama ini gue ada salah sama lo."


"Lo nggak perlu minta maaf, lo nggak salah... Gue yang harus minta maaf."


"Lo jadi buat gue ngerasa nggak enakan, jangan minta maaf terus, lupain aja."


"Tapi lo nggak tau, sebenarnya kita tersesat itu, sepenuhnya gara-gara gue."


Widia mengerutkan alisnya karena merasa bingung. "Maksud lo?"


"Apa setelah gue jujur Widia bisa maafin gue?..." batin Clara.


"Sebenarnya gue dengan sengaja ngajak lo ke hutan, gue mau ninggalin lo di sini. Tapi gue malah ikutan tersesat di sini."


"Apa? Lo bohong kan?"


Clara menundukkan kepalanya. "Gue nggak bohong... Gue minta maaf..." ucap Clara dengan penuh rasa penyesalan.


"Gue..." Widia pun tidak bisa berkata apa-apa lagi setelah mendengar pengakuan dari Clara.


"Gue minta maaf..." Clara pun sampai menangis karena merasa sangat menyesal dan bersalah.


Widia menghela nafas panjang. "Jujur, gue memang kecewa. Tapi lupain aja, semuanya udah berlalu," ucap Widia sembari memegang pundak Clara.


Clara pun menatap Widia. "Lo maafin gue?"


"Iya..." ucap Widia yang diakhiri dengan senyuman.


Clara pun merasa lebih lega karena mendapatkan maaf dari Widia. Clara kemudian memeluk Widia. "Makasi ya..."


"Iya, kita lupain semuanya, kita mulai dari awal lagi."


Beberapa saat kemudian mereka melepaskan pelukannya.


"Gue salut banget sama lo, lo sama sekali nggak dendam sama gue, bahkan lo nggak pernah membalas perbuatan gue," ucap Clara.


"Tapi kadang-kadang gue juga ingin memperlakukan orang sama seperti bagaimana mereka memperlakukan gue, tetapi gue tidak bisa, karena Itu bukan karakter gue... Ngomong-ngomong lo kenapa bisa sebenci itu sama gue?"


"Jujur, gue dulu iri sama lo, karena menurut gue hidup lo itu sempurna. Lo hidup di keluarga kaya dan terpandang, lo punya keluarga harmonis, lo punya temen-temen yang baik, banyak orang yang suka sama lo, lo punya pacar sempurna kayak Kak Dika. Gue nggak pernah lihat orang yang hidupnya sesempurna lo. Tapi sekarang gue sadar, gue cuma ditutupi sama rasa iri, sehingga gue nggak bisa lihat kebaikan lo," ucap Clara.


Widia tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. "Lo salah, hidup gue nggak sesempurna itu. Semua orang pasti punya masalah masing-masing, termasuk gue. Dulu gue pernah terpisah sama keluarga gue."


"Pantesan aja Kak Bryan baru-baru ini kasi tau kalo dia punya saudara, dan saudaranya itu lo."


"Iya, tapi kenyataannya bahkan Bang Iyan itu adalah saudara tiri gue. Dan gue tau hal itu baru-baru ini."


"Hah? Maksud lo apa? Gue jadi bingung."


Widia pun menceritakan tentang dirinya dan keluarganya kepada Clara.


"Ternyata hidup lo rumit juga ya," ucap Clara.


"Asal lo tau, sebelum gue ketemu sama keluarga gue, hidup gue dulu sulit. Gue sering cuma makan nasi sama garam dan minyak kelapa. Waktu sekolah gue jarang jajan, gue nggak punya uang bekal. Gue ingat, waktu jam istirahat gue duduk di warung, gue mau nge bon, tapi warungnya selalu ramai. Jam istirahat kedua gue kembali ke warung, tapi sampai jam istirahat berakhir warung tetep ramai, akhirnya gue nggak jadi makan, padahal waktu itu gue laper banget."


"Gue bener-bener nggak tau kalo lo pernah mengalami semua itu."


"Yah, yang namanya hidup nggak ada yang sempurna."


"Iya, lo bener."


"Tapi, ngomong-ngomong kenapa lo bisa nggak suka sama Intan?" tanya Widia.


"Gue cuma nggak suka aja ada Intan. Dia itu cuma anak pembantu di rumah gue, tapi mama sama papa sayang banget sama dia, semenjak kedatangan dia, kasih sayang orang tua gue jadi terbagi antara gue sama dia. Bahkan orang tua gue sampai mau biayain sekolahnya Intan," jelas Clara.


"Tapi Intan nggak salah apa-apa... Gue yakin, orang tua lo sama sekali nggak berniat membagi kasih sayang mereka, mereka cuma mau bantu Intan," ucap Widia. Namun Cara hanya diam tanpa berkata sepatah kata pun.


"Gue yakin, lo itu orang baik. Suatu saat nanti lo pasti sadar dan bisa nerima Intan," batin Widia.


......................


...BERSAMBUNG...


......................


Mohon maaf karena kesibukan di dunia nyata Author jadi telat update 😵


...°...


...°...


...°...


Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...


Terima kasih 🙏💕...