Choco

Choco
Mengangon Bebek



Karena sekarang merupakan hari libur, pagi harinya Dika menyempatkan diri untuk membersihkan kandang bebeknya. Dika menyapu hingga ke setiap sudut kandang bebeknya, ia juga memperbaiki kayu di kandang bebeknya yang sudah lapuk atau rusak.


Hanya ada Dika seorang disana, suasana terasa damai dengan suara kicauan burung yang saling bersahutan, ditambah lagi dengan hembusan angin pesawahan yang terasa sejuk.


Setelah selesai membersihkan kandang bebek, Dika pun mengangon bebek-bebek menuju sungai kecil di dekat sana. Dengan menggunakan kayu, Dika menuntun bebek-bebek menuju sungai. Bebek-bebek tersebut pun berjalan dengan barisan yang rapi.


...🦆🦆🦆🦆🦆...


Tor.. tor.. tor...


Suara traktor dari seorang petani yang sedang membajak sawahnya.


Dika pun menyapa petani tersebut ketika petani tersebut kebetulan melewatinya.


"Pagi pak..." Dika tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda menyapa.


"Pagi nak Dika..." balas Petani tersebut dengan ramah. Petani tersebut pun juga tersenyum kepada Dika.


Dika memang sudah akrab dengan orang-orang di sekitar sana termasuk dengan para petani, karena ia sudah cukup lama memelihara bebek disana. Bahkan tak jarang Dika juga ikut membantu petani disana walaupun hanya sekedar untuk mengusir burung dan memotong rumput.


"Tumben sendirian, temannya mana?" tanya petani tersebut karena biasanya ia melihat Dika bersama Restu atau pun Widia. Namun kini hanya Dika seorang diri yang mengangon bebek-bebek tersebut.


"Iya pak, teman-teman saya sedang ada kesibukan." jawab Dika.


"Ooh.. pantesan sendiri."


"Saya numpang lewat ya pak hehe... Mumpung sekarang padinya belum ditanam, saya masih bisa lewat sini. Kalau lewat sini, lebih dekat ke sungainya."


"Iya, silahkan nak Dika."


"Terima kasih pak. Saya duluan pak, mari..."


"Iya," balas petani tersebut.


Dika kemudian melanjutkan langkahnya mengangon bebek-bebek menuju sungai, pundukan sawah pun ia lalui bersama bebek-bebeknya.


Sesampainya di sungai, Dika membiarkan bebek-bebeknya berenang dengan bebas namun masih tetap di area yang masih bisa ia awasi. Sembari menunggu, Dika duduk di bawah pohon cengkeh sembari makan kacang tanah yang ia simpan di sakunya.


"Gara-gara nggak ada Widia sama Restu, gue jadi sendirian disini, bosen banget gue... Si Onyet beberapa hari ini lagi pulang kampung sama keluarganya. Sementara Restu akhir-akhir ini sering bilang sibuk. Tapi sibuk ngapain ya tu bocah? Padahal sekarang kan lagi hari libur," batin Dika.


Dika pun memeriksa handphonenya. Dika membuka WhatsApp dan terlihat hanya ada beberapa pesan dari obrolan grup. Dika kemudian mengecek WhatsApp Widia yang terakhir dilihat kemarin pulul 23.15.


"Ni bocah nggak kangen apa sama gue? Udah beberapa hari ini gue nggak ketemu sama dia gara-gara dia masih di kampung, chat-an sama gue juga jarang," gumam Dika.


Beberapa hari ini Widia dan keluarganya memang mengisi waktu libur dengan berkunjung ke rumah keluarga Pak Wahyu yang berada di kota Y.


Dika pun kemudian menelepon Widia.


......................


...Via Telepon...


......................


"Akhirnya lo angkat juga telepon gue," ucap Dika.


"Iya, ada apa Ongky?" tanya Widia.


"Lo nggak kangen apa sama gue? Dari pagi nggak ngabarin gue. Lo kapan pulang Nyet? Katanya pulang sekarang."


"Iya, gue pulang hari ini. Ini masih di perjalanan," jawab Widia.


"Lo sampai jam berapa?" tanya Dika.


"Bentar lagi juga sampai... Gue denger banyak suara bebek. Lo lagi di kandang bebek?"


"Iya, gue lagi ngangon bebek di sungai deket kandang."


"Lo tunggu gue disana, nanti gue langsung kesana," ucap Widia.


"Yang bener lo mau langsung kesini?" tanya Dika.


"Iyaa.. Lo tunggu aja gue disana."


"Apa perlu gue jemput nanti?"


"Nggak usah, biar gue aja yang kesana. Gue matiin teleponnya ya?"


"Yaah.. baru aja nelepon, masak dimatiin. Lo nggak kangen apa sama gue?"


"Bukannya gitu, ini baterai gue udah 3 persen. Gue matiin ya?"


"Eehh!.. tunggu dulu!" cegah Dika.


"Ada apa?" tanya Widia.


"Hati-hati sayang..." ucap Dika dengan lembut.


Widia pun langsung tersenyum ketika mendengar ucapan Dika.


Sebenarnya Widia sangat ingin membalas ucapan Dika, hanya saja ia merasa malu karena di dalam mobil ada banyak orang.


"Gue tutup ya, daa..."


......................


Kresekk...


Terdengar suara dari balik semak-semak yang tidak jauh dari tempat Dika berada.


Dengan waspada Dika melangkah perlahan menuju semak-semak tersebut. Ternyata di balik semak-semak tersebut ada dua orang orang remaja perempuan yang sedang bersembunyi.


"Usstt..." bisik remaja perempuan tersebut kepada temannya.


"Yaelah, gue kira apaan," batin Dika.


"Tina? Yuli? Kalian ngapain disitu?" tanya Dika. Dika memang mengenal hampir semua orang-orang disekitar sana termasuk Tina dan Yuni yang juga merupakan penduduk di sekitar sana.


"Aaa!!..." teriak Tina dan Yuli karena terkejut melihat kehadiran Dika.


"Kalian nggak apa-apa?" tanya Dika.


Tina dan Yuli pun berdiri.


"Nggak, ki-kita nggak apa-apa," ucap Tina gugup.


"Terus ngapain dibalik semak-semak?" tanya Dika.


"Kita.. kita lagi cari belalang," ucap Tina sedikit bingung. Sebenarnya hal tersebut hanyalah alasan dari Tina karena sebenarnya ia dan Yuli berada disana untuk mengintip Dika. Wajah Dika yang tampan membuatnya diidolakan oleh para remaja di sekitar sana.


"Buat apa?" tanya Dika.


Tina yang kebingungan pun menatap Yuli. "Buat..."


"Buat tugas sekolah," ucap Yuli.


"Iya, buat tugas sekolah," ucap Tina.


Dika menyipitkan alisnya karena merasa bingung. "Bukannya sekarang lagi libur semester? Masih ada tugas?"


"Hah?..." Yuli yang kebingungan pun sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Ki-kita dikasi tugas selama liburan, buat bekal liburan," ucap Tina.


"Ooh.. perlu gue bantu?" tanya Dika.


"Nggak usah kak, kita permisi dulu," ucap Tina. Tina kemudian bergegas pergi meninggalkan Dika.


"Eh, tapi nggak jadi cari be..." ucapan Dika terpotong.


"Duluan kak," ucap Yuli. Yuli pun pergi menyusul Tina.


"Iya..." ucap Dika kepada Tina dan Yuli yang sudah terlanjur pergi.


Karena Widia akan menemuinya, Dika pun bergegas mengangon bebek-bebek kembali menuju kandang.


Di perjalanan, Dika dihentikan oleh seorang petani yang tengah duduk santai di pinggir sawah.


"Nak Dika..." teriak petani tersebut. Dika pun menghentikan langkahnya. Petani tersebut kemudian menghampiri Dika sembari menggendong beberapa ikat kangkung.


Petani tersebut menaruh kangkung itu di tanah. "Ini kangkung liar yang tumbuh di pinggir sawah saya. Buat nak Dika saja, lumayan untuk makanan bebek." Petani di sekitar sana memang sering memberikan Dika kangkung secara cuma-cuma karena Dika sudah sangat akrab dengan mereka, selain itu Dika juga sering membantu mereka.


Dika memperhatikan kangkung tersebut sembari tersenyum senang. "Waah.. banyak banget, terima kasih buk. Kalo kayak gini bebek-bebek saya jadi cepat gemuk."


"Sama-sama nak Dika, nak Dika juga sering bantu ibu... Ibu mau pulang, ibu duluan ya."


"Iya buk, hati-hati."


Petani tersebut kemudian pergi meninggalkan Dika. Dika pun mengendong kangkung tersebut sembari mengangon bebek menuju kandang.


Di sepanjang perjalanan Dika saling bertegur sapa dengan orang-orang yang ia temui. Keramahan dan kebaikan orang-orang disekitar sanalah yang membuat Dika begitu nyaman bercengkrama dengan penduduk disana.


......................


...BERSAMBUNG...


......................


...°...


...°...


...°...


Author minta maaf karena Author sedang banyak tugas sekolah, Author akhir-akhir ini jadi jarang update 🤧...


Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya judulnya "Berbeda"


Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...


1 like dan komentar singkat dari para pembaca sangat berharga bagi Author 😊...


Terima kasih 🙏💕...