Choco

Choco
Menangkap Bebek



Bryan dan Widia kemudian mengajak bebek-bebek tersebut menuju sungai. Di perjalanan tiba-tiba ada seekor bebek yang terlepas dari pengawasan mereka, bebek tersebut berlari menuju sawah.


"Bebeknya kabur!" ucap Bryan.


"Kejar kejar kejar Bang! Itu bebeknya mau masuk ke sawah. Nanti rusak padi orang."


"Lah, kok kakak?"


"Kalau Widia ikutan ngejar, nanti bebek yang lain nggak ada yang jaga. Cepetan tangkap Bang!"


"Uya deh iya."


Bryan kemudian berlari mengejar bebek tersebut. Bukannya membantu Bryan, orang-orang di sana malah bengong memperhatikan Bryan.


"Itu siapa ngejar-ngejar bebek? Aku tidak pernah melihat orang itu sebelumnya." tanya seorang petani pada temannya.


"Dia ganteng sekali. Apa dia artis? Apa di sini sedang ada syuting?"


"Yang benar?"


Para petani tersebut kemudian memperhatikan sekeliling. Secara kebetulan mereka melihat Widia yang sedang memfoto Bryan menggunakan kamera handphonenya. Para petani tersebut pun memilih untuk tidak membantu Bryan karena mereka benar-benar mengira jika Bryan tengah melakukan syuting.


"Jarang-jarang Bang Iyang ngejar bebek. Yang begini harus difoto biar bisa dikadiin kenang-kenangan wkwkwk..." gumam Widia.


Bryan akhirnya berhasil menangkap bebek tersebut, ia kemudian segera kembali. Namun kesialan kembali menimpanya, ia terpeleset dan kaki kanannya tenggelam di lumpur sawah.


"Sialan!" gumam Bryan.


Bryan segera mengangkat kakinya. Kakinya pun terpenuhi oleh lumpur. Bryan kemudian memperhatikan sekeliling. Orang-orang di sekitar sana tersenyum ramah pada Bryan.


"Orang-orang di sini ramah banget. Tapi kenapa tadi nggak ada satupun dari mereka yang bantuin?" batin Bryan.


"Maaf ya buk, pak, ini sawahnya jadi rusak gara-gara saya," ucap Bryan.


"Nggak apa-apa, lagipula nggak sampai merusak tanaman padinya," ucap salah seorang petani.


"Ngomong-ngomong kamu syuting film apa?" tanya petani lainnya.


"Hah? Syuting? Saya nggak lagi syuting," ucap Bryan kebingungan.


"Saya kira tadi kamu sedang syuting. Soalnya tadi cewek di sana itu sedang foto-foto."


"Ah, saya bukan lagi syuting. Saya pergi dulu pak, bu..." Bryan kemudian menghampiri Widia.


"Iya..."


"Pantesan aja tadi mereka nggak bantuin. Ternyata mereka ngira lagi ada syuting," batin Bryan.


"Ngapain kamu senyum-senyum kayak gitu?" tanya Bryan karena ia melihat Widia senyum-senyum.


"Nggak, nggak ada apa-apa."


"Kamu, abangnya lagi susah-susah ngejar bebek malahan difoto, bukannya dibantuin. Mana tadi isi jatuh lagi."


"Ya kan biar ada kenang-kenangan."


"Kenang-kenangan apanya kenang-kenangan? Ini baru kenang-kenangan." Bryan kemudian mengoleskan lumpur di pipi Widia.


"Wkkwkwk... Ini baru cocok. Kamu nggak usah pakai make up lagi," ucap Bryan.


Widia kemudian membalas Bryan dengan mengoleskan lumpur di pipinya ke pipi Bryan. "Wkwkwk... Bang Iyan lebih cocok."


"Yah kan jadi kotor."


"Wkwkwkk..."


Bryan pun juga ikut tertawa karena melihat Widia tertawa. "Wkwkkwk..."


"Udah, sekarang kita cuci muka dulu di sungai. Sungainya udah deket. Nanti malah jadi gatal-gatal kalau nggak cuci muka," ucap Widia.


Bryan dan Widia pun pergi ke sungai untuk membersihkan wajah dan kaki mereka yang kotor. Sungai tersebut cukup besar dan airnya terlihat sangat jernih.


Bryan memperhatikan anak-anak yang sedang mandi di sungai tersebut. "Mereka kelihatan seru banget. Kalau kayak gini kakak jadi pengen berenang di sini. Airnya jernih banget."


"Tuh kan, Widia bilang juga apa. Bang Iyan pasti pengen berenang di sini. Kalau gitu Widia jagain bebek-bebek berenang di sana."


Widia kemudian mengajak bebek-bebek tersebut berenang di hilir sungai. Beberapa saat kemudian Widia kembali untuk menemui Bryan. Tidak sengaja Widia melihat seorang perempuan yang sedang memperhatikan Bryan. Widia pun menghampiri perempuan tersebut.


"Kak Wulan lagi ngapain?" tanya Widia kepada perempuan tersebut. Karena Widia sudah cukup lama memelihara bebek di sana, Widia pun mengenal beberapa orang di sana termasuk Wulan yang juga merupakan warga di sekitar sana.


"Aku lagi lihatin cogan. Uuhh.. dia ganteng bangett. Dia lebih ganteng daripada cowok yang dulu pelihara bebek di sini. Siapa yah namanya? Iya, Dika. Dika pacar kamu itu," ucap Wulan.


"Heh, tapi cowok yang lagi berenang di sana itu abang aku."


"Eh, kenalin dong Wid. Siapa nama kakak kamu? Dia udah punya pacar belum?"


"Tapi sayangnya dia udah punya pacar."


"Yah, sayang banget, ternyata dia udah punya pacar."


"Wulann..." terdengar suara seorang perempuan sedang memanggil Wulan.


"Itu ibu manggil aku. Aku pergi dulu yah. Kapan-kapan kenalin aku sama abang kamu itu."


"Iya," balas Widia.


"Nambah lagi fansnya Bang Iyan. Dari kecil banyak banget yang ngefans sama Bang Iyan," batin Widia.


Widia kemudian menghampiri Bryan. "Bang..."


Bryan pun menoleh ke arah Widia. "Apa?"



"Kalau dilihat-lihat, abang gue ini emang ganteng banget. Nggak heran sih cewek-cewek pada terpesona sama dia," batin Widia.


"Oi... Ngapain bengong?" ucap Bryan.


"Cepetan naik. Sekarang kita pulang. Udah hampir siang."


"Iya iya..."


Setelah selesai mengurus bebek, Bryan dan Widia kemudian kembali pulang. Diperjalanan pulang tiba-tiba saja hujan turun. Bryan dan Widia pun memutuskan untuk berteduh.


"Hujannya deras banget," ucap Widia.


"Iya, padahal rumah kita udah dekat. Mana nggak bawa jas hujan lagi."


"Dingin banget..."


"Kamu pakai jaket kakak aja." Bryan kemudian memakaikan jaketnya pada Widia.



"Terus Bang Iyan?" tanya Widia.


"Kakak nggak apa-apa, kamu aja yang pakek. Ngomong-ngomong ini hujannya deras banget, kayaknya bakalan lama hujannya. Gimana kalau kita terobos aja? Lagipula kan rumah kita deket."


Bryan kemudian kembali naik ke motornya namun motor tersebut tidak bisa menyala lagi.


"Yah motornya mogok," ucap Bryan.


"Mungkin gara-gara kerendam air. Lagipula motor Bang Iyan kan udah lama nggak dipakai. Tadi udah Widia suruh pakai motor Widia aja tapi Bang Iyan malah mau naik motor yang ini."


"Kakak kan nggak tau kalau motor ini bakalan mogok. Kakak telepon Pak Abi dulu, suruh dia jemput."


......................


...Via Telepon...


......................


"Halo pak," ucap Bryan.


"Iya, ada apa Den?" ucap Pak Abi.


"Tolong jemput saya di utara minimarket dekat rumah."


"Tapi mobilnya lagi dibawa Den. Ibu sama Kakek sedang keluar, bapak juga masih di kantor."


"Mobil saya?"


"Kan masih diperbaiki di bengkel."


"Ah iya saya lupa. Kalau gitu pak Abi ke sini jalan kaki aja, kan deket. Bawain payung ke sini."


"Baik Den, saya ke sana sekarang."


"Iya."


......................


Beberapa saat kemudian Pak Abi pun datang membawakan payung. Bryan dan Widia kemudian memilih pulang dengan berjalan kaki. Sementara itu Pak Abi yang mengurus motor tersebut.


Tiba-tiba saja Bryan menghentikan langkahnya.


"Kenapa berhenti bang?" tanya Widia.



"Itu, di selokan ada anak kucing. Dia pasti terjebak dan nggak bisa naik, kasihan dia. Kakak mau tolongin kucing itu. Kamu pegang dulu payungnya."


"Tapi Bang Iyan nanti kehujanan..."


Bryan langsung memberikan payung kepada Widia. Tanpa menghiraukan perkataan Widia, Bryan langsung turun ke selokan dan mengambil anak kucing tersebut.


Widia kemudian menyusul Bryan. Widia hendak memayungi Bryan namun Bryan melarang Widia.


"Jangan payungin kakak. Nanti kamu kehujanan," ucap Bryan.


"Tapi..."


"Kamu nurut sama kakak!" ucap Bryan dengan tegas.


Bryan akhirnya berhasil menyelamatkan anak kucing tersebut. Anak kucing tersebut terlihat begitu ketakutan. Badannya pun terlihat kurus.


"Gimana kalau kita bawa kucing ini pulang aja? Kakak mau pelihara dia," ucap Bryan.



"Iya iya, tapi sekarang kita cepetan pulang. Nanti Bang Iyan sakit lama-lama kehujanan."


"Iya."


...°...


...Kenapa episode tentang Bryan nya banyak banget padahal Bryan itu bukan tokoh utama?...


^^^Itu karena Author mau berbagi kehaluan Author tentang kakak impian Author 😅^^^


...Jadi gini, Author itu pengen banget punya kakak, terutama kakak laki-laki. Makanya Author buat episode tentang Bryan nya banyak-banyak....


...Author memang sengaja buat tokoh Bryan itu lebih sempurna dan ganteng daripada Dika karena Author lebih pengen punya kakak ganteng daripada pacar ganteng. Yahh.. walaupun nggak mungkin lah dapet pacar yang ganteng-ganteng amat, dapet yang biasa-biasa aja udah bersyukur banget. Author aja 18 tahun 8 bulan 10 hari menjomblo alias dari lahir, gimana mau punya pacar ganteng 😢🤧...


...Yang bisa menerima kita apa adanya aja udah lebih dari cukup yah kan... ...


...( ◜‿◝ )♡...


...♪♪♪♪♪...


...Pengumuman-pengumuman, siapa yang mau bantu tolong aku......


...Kasihani aku, tolong carikan diriku, kekasih hatiku, siapa yang mau? Woo-oh-oh-oh......


...♪♪♪♪♪...


...Uusttt... 🤫...


...Kok malah jadi nyanyi?...


...Kembali ke topik....


...(☞^o^) ☞...


...Author pengen banget punya persaudaraan kayak Bryan dan Widia, walaupun tokoh Widia nggak mirip sama Author ataupun nggak menggambarkan tentang diri Author sedikitpun 😴...


...Ya amponn.. maaf jadi curhat 😵😵...


...Tapi jujur, Author senang dapat berbagi cerita, walaupun cuma sekedar hal kecil atau kehaluan dari Author sendiri. Banyak yang bisa diceritakan, tapi tidak banyak yang mau mendengarkan......


...°...


...°...


...----------------...


...BERSAMBUNG...


...----------------...


...°...


...°...


...°...


...Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya yang berjudul "Berbeda"...


...Jangan lupa dijadiin fav yaaa🤭......


...Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya agar author jadi lebih semangat 🤗......


...Terima kasih 🙏💕......