Choco

Choco
Mencari Tau



Hari ini Intan tidak datang ke sekolah akibat sakit. Karena belum bell masuk kelas dan tidak ada yang diajak mengobrol, Widia merasa bosan, lalu ia menggambar di buku tulisnya. Adit yang baru masuk kelas menghampiri Widia yang sedang mengambar.


"Wahh... gambar lo bagus juga ya."


Widia yang kaget langsung menutup buku tulisnya. "Eh lo Dit, gue kira siapa."


"Gue boleh duduk di sini?" tanya Adit.


"Boleh, duduk aja," jawab Widia.


Widia menatap Adit yang duduk di sampingnya.


"Lo kenapa ngeliatin gue?" tanya Adit.


"Nggak... cuma... wangi aja," kata Widia sambil memasukkan bukunya ke tas.


"Ni bocah wangi banget, hidung gue jadi sakit. Parfumnya yang kewangian apa dia yang kebanyakan make sih?," pikir Widia.


"Duhh... Gue kebanyakan pake parfum nih... Niat keren di depan Widia malah malu gue. Rugi gue beli parfum mahal-mahal... Adit..Aditt..." pikir Adit.


"Hmm... Gue lupa. Mungkin gue pakenya 2 kali." Adit menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Hah, bisa kek gitu ya?." Widia tertawa heran.


Adit juga ikut tertawa karena kekonyolannya.


"Oh ya, tadi gue lihat lo lagi gambar. Lo suka gambar ya?" tanya Adit.


"Iya gue suka gambar."


"Kenapa gak milih sekolah seni aja?" tanya Adit lagi.


"Yaa... Gue ikut saran orang tua aja. Jurusan IPA oke-oke aja menurut gue," jawab Widia.


"Oo... gue bawa coklat 2 nih. Lo mau gak?." Adit mengeluarkan coklat dari tasnya dan menawarkan Widia.


"Wah... boleh juga, makasi ya. Gue makan ya Dit." Widia menerima coklat dari Adit dan memakannya bersama Adit.


Clara yang baru datang memperhatikan Adit dan Widia sedang duduk mengobrol. Ia menaruh tasnya di atas meja dan menatap kesal ke arah Widia. Widia yang mengetahui hal tersebut, lebih memilih untuk tidak memperdulikannya.


"Awas lo Widia!. Gue gak akan kalah dari lo. Liat aja nanti," kata Clara dalam hati.


Widia dan Adit tetap mengobrol sampai guru datang dan pelajaranpun dimulai.


"Dari tadi gue kok gak lihat kak Dimas sama kak Bryan ya?. Mereka bilang waktu ngenalin diri pas MPLS, mereka itu jurusan IPA. Jam istirahat gue mau nyari kak Bryan buat mastiin dia itu siapa," pikir Widia.


*******


Jam istirahat Widia langsung mencari Bryan ke kelas 12 IPA. Tapi dia tidak tau dimana kelas IPA, ia kemudian melihat kelas satu persatu.


Dika melihat Widia dan menghampirinya.


"Woi... lo ngapain di sini nyet?."


"Gue mau jalan-jalan aja," jawab Widia.


"Lu bohong yaa... Lo pasti mau nyari gue kan..." sahut Dika dengan percaya dirinya.


"GR banget lo, emang gue kurang kerjaan apa nyari-nyari lo," balas Widia dengan ekspresi juteknya.


"Gak percaya gue sama lo. Ayoo... jujur deh lo!."


Widia memutar malas bola matanya. "Gue mau nyari Kak Bryan, ada yang mau gue tanya."


"Bryan kan anak IPA, kelasnya paling timur, bukan disini. Disini tu kelas gue, kelas IPS. Mau nyari gue lo yaa..."


"Apaan sihh..." Widia berjalan meninggalkan Dika dan menuju kelas 12 IPA.


"Bryan gak ada disana!" teriak Dika.


Widia menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap ke arah Dika. "Terus dia di mana?."


Dika berjalan mendekati Widia. "Hari ini dia ikut lomba cerdas cermat sama Dimas sampai 4 hari."


"Lo kok bisa tau?" tanya Widia.


"Bryan kan sahabat gue, apalagi si Dimas kembaran gue. Masak gue gak tau sih."


"Ya udah deh, gue makan aja ke kantin kalo gitu." Widia berjalan menuju katin.


Dika berjalan mengikuti Widia. "Gue ikut ya Nyet..."


"Gue gak jadi ke kantin, kenyang gue." Widia berjalan ke arah sebaliknya.


"Kok gitu sihh... Gue traktir deh nyet."


"Gak usahh!."


"Kalo lo gak mau nanti ntar malem gue ke rumah lo lagi!" ancam Dika.


Widia menatap malas ke Dika. "Sinii..." Widia kembali berjalan ke arah kantin, begitu juga dengan Dika.


Sampailah mereka di kantin dan memesan makanan.


"Ehh... Tunggu dulu Nyet!." Dika menghentikan Widia yang ingin duduk.


"Apa lagi sih Dik?. Semut lagi?."


"Nggakk..." Dika tertawa, begitu juga dengan Widia.


"Gue cuma mau geserin tempat duduk buat lo," lanjut Dika.


Merekapun duduk dan menunggu pesanan sambil mengobrol.


"Lo ngapain sih nyari Bryan?" tanya Dika.


"Kepo..."


"Lo jangan gitu dong, lo bikin gue penasaran aja. Lo suka ya sama Bryan?. Gue kasi tau ya, Bryan itu udah punya pacar, mending jangan jadi perusak hubungan orang deh, gak baik."


"Apaan sih lo... Tapi siapa sih pacarnya?" tanya Widia penasaran.


"Tuh kan... lo kepo. Lo suka ya sama Bryan?." Dika memandang curiga ke Widia.


"Gak... gue gak suka sama dia," tungkas Widia.


"Yang benerr?..."


"Iyaa... Bener... Gue kan udah bilang tadi. Tapi kasi tau dong, gue kan jadi kepo."


"Ya udah deh kalo lo bener gak suka, gue kasi tau. Pacarnya Bryan itu Bunga, dia anak IPA juga."


"Oo... Kak Bunga yang jadi OSIS inti itu kan?"


"Iyaa... Tapi lo belum jawab pertanyaan gue. Tadi lo ngapain nyari Bryan?."


"Kepo banget ni orang... Gue gak mungkin bilang yang sebenarnya sama Dika," pikir Widia.


"Ooo.. kirain apa."


Makanan yang mereka pesanpun datang. Mereka makan dan lanjut mengobrol.


"Dik, gue boleh nanya gak?.''


"Nanya apaan?" sahut Dika sambil fokus makan.


"Bryan itu rumahnya dimana sih?."


"Ngapain lo nanya kek gitu?. Kepo banget lo sama dia." Dika memandang Widia dengan curiga.


"Yaa... Gue cuma nanya aja. Siapa tau kalo ada perlu nanya pelajaran bisa langsung ke sana."


"Gak percaya gue sama lo. Kok gue jadi curiga ya sama lo nyet. Jangan-jangan lo bener suka ya sama dia."


"Kasi tau aja kenapa sih!."


"Tanya aja langsung sama orangnya, kenapa tanya ke gue?." Dika kembali fokus ke makanannya.


"Yaelahh... Kan kak Bryan gak ada, gimana gue mau nanya."


"Ya udah deh kalo lo maksa, tapi bener kan lo gak suka sama dia. Secara dia kan ganteng, ketua OSIS lagi."


"Ihh... Apaan sih lo."


"Oke gue kasi tau, tapi ada syaratnya. Lo harus pulang bareng sama gue, nanti lansung gue ajak lewat deh depan rumahnya."


"Gak usah, lo kasi tau aja alamat rumahnya. Nanti biar gue sendiri ke sana."


"Oh, ya udah kalo gak usah. Gue juga gak mau kasi tau."


"Eeh... jangan gitu dong. Gue mau kok, cuma pulang bareng kan?."


"Iya... Nanti lo tunggu gue depan sekolah ya."


"Iya... iya."


*******


Sepulang sekolah Widia menunggu Dika di depan sekolah. Clara dan teman-temannya melihat Widia dan menghampirinya.


"Ni mak lampir bertiga ngapain nyamperin gue?. Pasti mau cari gara-gara lagi," pikir Widia yang melihat Clara dan teman-temannya berjalan menghampiri nya.


Clara menatap tajam Widia. "Eh lo!. Jangan sok akrab ya sama Adit!. Dia gak akan suka sama lo!."


Rani juga ikut mengatai Widia. "Bener kata Clara, lo kan cuma cewek missqueen. Jangan GR deh jadi orang!."


"Cihh... Suka-suka gue dong. Emang lo siapa ngatur-ngatur hidup gue?. Iri tanda TAK MAMPU!" balas Widia.


"Berani-beraninya lo sama gue. Sekarang lo ikut gue!." Clara menarik tangan Widia.


"Mau apa lo narik-narik gue!. Gue gak mau ikut sama lo!." Widia menepis tangan Clara yang menariknya.


"Dasar lo ya!" bentak Clara.


Kemudian Clara kembali menarik tangan Widia, Monica dan Rani juga ikut menarik tangan Widia.


"Lo mau bawa gue kemana?!. Gila lo bertiga!. Lepasin gue!." Widia berontak.


Teng...teng...teng...teng...


Suara nyaring motor vespa klasik berwarna putih yang dikendarai Dika mendekat.


Mendengar suara motor mendekat, membuat Monica mengalihkan pandangannya. "Eh... Lihat deh, ada cowok ganteng ke sini," bisik Monica.


Clara dan teman-temannya melepaskan tangan Widia. Mereka melihat Dika yang turun dari motornya dan berjalan mendekati mereka.


"Bukannya dia pacarnya Widia," bisik Rani.


"Lo tau dari mana?" tanya Clara.


"Dia cowok yang nolongin Widia waktu itu, cowok yang gue ceritain," jawab Rani.


"Gue denger dia itu kembarannya Dimas, tapi yang ini mah lebih keren," sahut Monica.


"Kalian jangan berani-berani ganggu dia!" ancam Dika, kemudian ia memegang tangan Widia dan mengajaknya pergi


Monica terpesona melihat Dika. "Wahh... Tu cowok ganteng bangett... Keren lagi."


Tampak ekspresi kesal di wajah Clara melihat Widia berboncengan dengan Dika. "Gue nggak terima cewek kampungan itu punya pacar."


"Kenapa?. Kan malah bagus, dia kan jadi gak bisa deketin Adit," sahut Rani.


"Secarakan Ran, cowok itu lebih ganteng dari Adit," balas Monica.


"Gue gak akan kalah dari dia," kata Clara yang masih menunjukkan ekspresi kesal.


Sementara itu Dika membonceng Widia menuju rumah Bryan. "Lo kenapa lagi sih nyet, Berantem terus?."


"Orang Clara sama temen-temennya yang sering jahatin gue. Mana mungkin gue cari gara-gara. Gue bukan orang kayak gitu!."


"Iya... Nyet, iya... Gue selalu percaya kok sama lo."


Sampailah mereka di depan rumah Bryan.


Dika menunjuk ke sebuah rumah mewah bagaikan Villa yang bergerbang tinggi dan terlihat asri dengan banyak tanaman hias di depan rumah. "Ini rumah Bryan, kita udah sampai."


"Dia udah lama tinggal di sini?."


"Ngga juga sih, baru sekitar 3 tahunan. Lo mau masuk?."


"Nggak ah, Bryan kan gak ada."


"Oh iya, lupa gue. Lo sih kurang kerjaan pake kesini. Terus sekarang lo mau ke mana?."


"Pulang aja deh."


"Gak mau mampir ke tempat gue," tanya Dika sambil tersenyum.


"Bercanda terus lo. Gak mau gue, gue mau pulang aja."


"Ya udah kalo gitu."


Dika kemudian menghantar Widia pulang.


°


°


°


Jangan lupa like, komentar, dan ratenya ya kak😊...


Terima kasih 🙏🤗❤️