
Dika mengajak Widia, Dimas, dan Bryan bermain basket di lapangan dekat taman. Awalnya Widia menolak ajakan Dika. Namun ketika ia mengetahui Bryan juga ikut, tentu saja Widia mengiyakan ajakan Dika, karena ini merupakan hari-hari terakhirnya sebelum pindah kembali ke kota X.
Widia duduk dan memperhatikan Bryan dan Dimas yang sedang bermain basket. "Berat rasanya kembali ke kota X, jadi nggak bisa ketemu lagi sama Bang Iyan dan kakek. Tapi tujuan gue kesini udah tercapai, gue udah ketemu sama Bang Iyan dan kakek. Tau keadaan mereka baik-baik aja udah cukup bagi gue. Kalo masalah Choco... mending gue lupain aja. Toh juga Dimas udah suka sama Aulia, dia pasti nggak inget sama gue," pikir Widia sambil menatap Bryan dan Dimas secara bergantian.
Merekapun beristirahat setelah lelah bermain basket.
"Gimana ya caranya supaya Widia nggak kembali ke kota X?. Apa gue jujur aja sama dia kalo gue sebenernya Choco?. Tapi gue nggak mau dia suka sama gue cuma karena gue Choco, gue mau dia tulus suka sama gue," pikir Dika sambil menatap Widia.
"Lo kenapa lihatin gue?" tanya Widia dengan jutek.
"Lo gak pernah ganti baju ya Nyet?. Perasaan lo selalu pake kaos hitam atau kaos putih aja," ucap Dika mengalihkan pembicaraan.
"Enak aja lo bilang gue nggak pernah ganti baju. Gue punya banyak baju kayak gini."
"Ya kan sama, jadi kelihatan nggak pernah ganti baju."
"Dari kecil gaya gue udah gini. Dulu gue lebih parah, jelek, kumbel, mainnya sama anak laki-laki. Gue juga selalu disuruh pake baju cewek, tapi gue nggak mau, gue malah selalu pake baju abang gue."
"Emang kakak lo siapa?. Setau gue lo nggak punya kakak," ucap Dika sambil memandang Widia dengan tatapan curiga.
"Kecelosan lagi gue..." ucap Widia dalam hati.
"Hmm... maksud gue itu kakak sepupu gue," ucap Widia.
Dika menatap Widia dengan tatapan tidak percaya. "Ooh..."
Bryan menatap Widia sambil tersenyum, karena ia teringat dengan adiknya Candra yang juga selalu menolak memakai baju perempuan dan malah memilih baju Bryan yang kebesaran.
"Kenapa senyum-senyum bang?" tanya Widia pada Bryan.
"Karena kamu mirip sama adiknya Bryan," potong Dimas. Walaupun Dimas tidak pernah bertemu dengan Candra atau Widia waktu kecil, tapi ia mengetahui cukup banyak tentang Candra. Karena Dika waktu kecil selalu bercerita tentang Candra pada Dimas.
"Iya, abang cuma inget adek abang Candra," ucap Bryan.
Widia hanya tersenyum dan menundukan kepalanya. "Karena Widia emang adek abang..." ucap Widia dalam hati.
"Tapi masak sih kamu waktu kecil jelek?. Sekarang kok bisa cantik gini?" tanya Dimas.
"Kak Dimas bisa aja..."
"Kayaknya Dimas beneran suka sama Widia," pikir Dika.
Widia mengeluarkan coklat dari kantongnya. "Oh ya, Widia punya coklat. Kak Dimas mau?." Widia memberikan sepotong coklat pada Dimas.
"Boleh Wid, makasi ya..."
"Iya kak... Lo mau Dik?" Widia juga memberikan sepotong coklat pada Dika.
"Mau lah..."
"Maaf ya Bang... Widia nggak nawarin abang. Bang Iyan kan nggak suka coklat, kecuali coklat putih," ucap Widia pada Bryan.
Bryan mengerutkan alisnya. "Dari mana kamu tau Abang suka coklat putih?."
"Ya ampun Widia... Lagi-lagi gue keceplosan..." ucap Widia dalam hati.
"Hmm... itu bang, Dika yang kasi tau," ucap Widia dengan gugup.
Widia menatap Dika. "Iya kan Dik..."
"Disini cuma lo yang bisa bantu gue Dika, nggak mungkin kan kalo gue bilang kak Dimas... tolong bilang iya Dika..." ucap Widia dalam hati.
"Hmm... I-ya Bryan..."
"Ooh pantesan..."
"Kalo dia cuma bilang gue nggak suka coklat, gue masih bisa ngerti. Tapi dia juga tau kalo gue suka coklat putih. Bahkan nggak ada yang tau kalo gue suka coklat putih, termasuk Dika," ucap Bryan dalam hati.
Beberapa saat kemudian Bryan dan Dika saling bertatapan. Dika menggelengkan kepalanya pelan, mengisyaratkan bahwa ia tidak pernah memberitau Widia, karena bahkan dirinya sendiri tidak mengetahui jika Bryan menyukai coklat putih.
*********
Siang harinya Bryan mencari Dika ke kosnya.
"Dika, bangun lo!..." ucap Bryan sambil mendorong tubuh Dika yang sedang tertidur pulas.
Dikapun terbangun karena Bryan mendorong dirinya sampai terjatuh ke lantai. Dika mengusap matanya dan melihat Bryan yang sedang duduk di kasurnya. "Bryan?..." ucap Dika dengan suara serak khas bangun tidurnya.
"Tidur mulu lo Dik," ucap Bryan.
Dika bangun dan duduk di samping Bryan. "Lo apa-apaan sih, ganggu gue aja. Main masuk, nggak pake permisi, dorong gue lagi."
"Lo kan nggak ngunci pintu, ya gue masuk aja."
"Ini masalah di taman tadi pagi Dik. Sekarang gue percaya kalo Widia itu Candra."
"Kan gue udah bilang dari dulu.
Lo sih, nggak percaya sama gue."
"Trus sekarang gue harus gimana?. Apa gue tanya aja ya, langsung ke dia?."
"Dia pasti selama ini nggak mau ngaku karena ada sesuatu yang dia tutupi. Kalo lo tanya langsung ke dia, pasti dia nggak mau ngaku."
"Iya juga ya, tumben lo pinter." Bryan mendoyor kepala Dika.
Dika juga mendoyor kepala Bryan. "Dari dulu gue emang pinter kali... Tapi gimana ya caranya biar dia ngaku?."
"Tenang aja Dik, gue ada rencana..."
********
Seperti biasa sepulang sekolah Widia menunggu angkot di depan sekolah. Widia melihat Bryan berjalan tergesa-gesa. Ia memanggil nama Bryan beberapa kali, namun Bryan tidak menghiraukan Widia dan tetap pergi. Widiapun mengejar Bryan.
"Bang Iyan kenapa kayak orang panik gitu sih?" tanya Widia yang berjalan mengikuti Bryan.
"Tadi abang dapet telepon kalo kakek lagi sakit," ucap Bryan sambil tetap berjalan.
Widia memegang tangan Bryan. "Widia ikut ya bang."
Bryan menghentikan langkahnya. "Nggak usah Wid, ngga apa-apa kok."
"Plis bang, biarin Widia ikut," ucap Widia dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Kenapa kamu perduli banget sama kakek?" tanya Bryan dengan nada curiga.
"Widia sayang banget sama kakek bang. Jadi bolehin Widia ikut ya..."
"Kenapa kamu khawatir banget sama kakek?."
"Gak ada waktu buat jelasin itu sekarang bang. Lebih baik kita lihat kedaan kakek sekarang." Widia menarik tangan Bryan.
Bryan melepaskan tangan Widia dari tangannya. "Siapa lo sebenarnya?."
"Maksud abang apa?."
"Gue tanya siapa lo sebenarnya?." Bryan berjalan maju medekat pada Widia.
Widia berjalan mundur menjauhi Bryan. "Maksud abang apa?. Widia nggak ngerti."
"Nggak mungkin kan Bang Iyan tau kalo gue itu sebenarnya Candra. Selama ini kan nggak ada bukti kalo gue Candra," pikir Widia.
Bryan memegang kedua pudak Widia. "Kenapa lo perduli banget sama kakek?. Kenapa lo khawatir banget sama kakek?. Kenapa lo tau banyak hal tentang gue, yang bahkan temen-temen gue sendiri aja nggak tau?."
"Karena..."
"Karena lo Candra kan?!." Bryan mengangkat lengan baju Widia, dan terlihat tanda lahir di lengan Widia yang sama persis dengan Candra.
"Abang..." ucap Widia dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Candra..." Bryan langsung memeluk Widia dengan erat. Air mata Bryanpun menetes karena terharu. Setelah sekian lama akhirnya dia bertemu dengan adiknya.
Widiapun membalas pelukan Bryan. "Iya bang, aku Candra, Candra Cahyani... Adek abang."
"Kenapa selama ini kamu nggak kasi tau abang?."
"Ceritanya panjang bang..."
"Candra..." ucap Bryan yang masih memeluk Widia dengan erat.
Widia melepaskan pelukan Bryan. "Bang, kita harus segera lihat keadaan kakek."
"Iya..."
Bryanpun mengajak Widia ke rumahnya untuk menemui kakek. Sebenarnya Kakek Dharma hanya tidak enak badan selama beberapa hari ini, dan itu hanya cara Bryan agar Widia mau jujur.
°
°
°
Jangan lupa like, komentar, dan ratenya ya kakak 🤗...
Terima kasih 🙏💕...