
Terima kasih sudah mampir ya kakak-kakak cantik dan ganteng 😘...
Selamat membaca 💓...
°
°
°
"Dika..." ucap Dimas yang melihat Dika sudah berada di parkiran sekolah. Dika memang tidak pernah sampai di sekolah sepagi ini, dan baru kali ini Dika datang ke sekolah lebih awal dari biasanya.
"Dimas..." ucap Dika yang baru turun dari motornya.
"Tumben lo jam segini udah ada di sekolah."
"Iya lah Bang, gue kan pengen berubah."
"Bagus kalo gitu." Dimas berjalan meninggalkan Dika.
"Tunggu Dim." Dika menghampiri Dimas.
"Ada apa?."
"Lo dapet gelang itu dari mana?." Dika menatap tangan Dimas yang memakai gelang bertuliskan Choco.
"Widia yang kasi ke gue."
Dika menarik tangan Dimas dan memperhatikan gelang yang dipakai oleh Dimas. "Gelang ini..."
Dimas menarik kembali tangannya. "Lo apa-apaan sih!."
"Kenapa Widia bisa kasi gelang itu ke lo?" tanya Dika serius.
"Emang kenapa?... Iri bilang bos!."
"Gue emang selalu iri sama lo Dim!." Dika langsung pergi meninggalkan Dimas.
"Dika... maksud gue nggak gitu, Dika..." teriak Dimas, namun Dika tidak menghiraukannya dan tetap pergi.
Dimas memperhatikan gelang di tangannya. "Gelang biasa gini apa istimewanya coba?. Apa karena gelang ini Widia yang kasi?. Secara kan Dika suka sama Widia..." gumam Dimas.
"*Ooh... gue sekarang inget, gelang ini mirip sama gelangnya Dika waktu kecil. Isi tulisan Choco, kalo ngga salah Dika bilang gelang itu dari temen ceweknya yang sering dia temuin di taman. Apa jangan-jangan cewek itu Widia*?..." pikir Dimas.
Sementara Dika langsung mencari Widia ke kelasnya, namun Widia belum datang. Dan akhirnya Dika menunggu Widia di depan sekolah. "Widia..." ucap Dika pada Widia yang baru turun dari angkot.
"Ada ap Dik?."
"Siapa lo sebenarnya?" ucap Dika dengan ekspresi serius.
"Maksud lo apa sih?" ucap Widia yang kebingungan.
"Kenapa lo kasi gelang itu ke Dimas?."
"Itu hadiah ulang tahun Dimas, kenapa sih emangnya?. Gue kan juga kasi hadiah ke lo."
"Tapi lo tau nggak gelang itu..." ucapan Dika terpotong oleh teriakan Dimas.
"Widia..." teriak Dimas yang kemudian menghampiri Widia dan Dika.
Dimas dan Dika saling bertatapan. "Mudah-mudahan Dika belum kasi tau yang sebenarnya sama Widia," ucap Dimas dalam hati.
"Kita masuk yuk Wid," ucap Dimas pada Widia.
"Iya kak."
"Tapi kita belum selesai bicara Wid," ucap Dika.
"Lain kali aja ya Dika." Widia dan Dimaspun meninggalkan Dika masuk ke sekolah.
"Kenapa sih Widia lebih milih Dimas?..." gumam Dika. Dika mengacak rambutnya.
**********
Dika duduk dibawah pohon di halaman belakang sekolah. "Sekarang gue yakin kalo Widia itu Candra. Kali ini nggak mungkin kebetulan. Gelang yang dia kasi ke Dimas mirip banget sama gelang gue, di gelang itu juga isi nama Choco. Tapi kenapa dia kasi gelang itu ke Dimas?..." gumam Dika.
»»»»» Kilas Balik «««««
"Ini Choco, gelang yang Candra janjiin waktu itu." Candra memberikan gelang pada Choco. Saat itu Candra masih berusia 5 tahun dan Dika berusia 7 tahun.
Dika memakai gelang pemberian Candra. "Waah bangus banget... isi manik-manik tulisannya Choco. Kamu kan belum bisa baca, kok bisa buat nama aku sih?."
"Iya, Candra dibantu bibik."
"Oh gitu... makasi ya Candra, aku seneng banget..."
"Candra kasi hadiah ke Choco karena Candra suka sama Choco," ucap Candra dengan senyuman manisnya.
"Baru kali ini loh aku dipuji, biasanya semua orang marahin aku. Aku nggak bisa apa-apa, katanya aku ini anak bandel, payah..." ucap Dika dengan wajah sedih.
"Siapa bilang?... Dia pasti orang jahat kan Choco?... Menurut Candra Choco itu hebat, Choco itu pahlawan bagi Candra."
"Makasi ya... Candra sayang kan sama Choco?."
"Iya, Candra sayang sama Choco."
"Kamu mau nggak jadi pacar aku?."
"Pacar?... pacar itu apa Choco?."
"Candra mau Choco."
"Kamu janji ya."
"Iya Candra janji."
Merekapun menjalin jari kelingkingnya, sebagai tanda perjanjian mereka berdua.
»»»»»»»»»»««««««««««
"Dulu gue, Candra, sama Bryan sering main di taman bareng-bareng. Tapi kenapa setelah Candra ngasi gelang itu ke gue, dia nggak pernah dateng. Setelah beberapa hari Bryan dateng dan malah kasi kabar kalo Candra itu meninggal..." ucap Dika dalam hati.
Bryan menghampiri Dika yang sedang duduk bengong di bawah pohon. "Woi!... lo ngapain bengong disini?..." Bryan mendorong Dika hingga jatuh ke tanah.
"Lo apa-apaan sih Yan, main dorong-dorong gue aja." Dika kembali duduk sambil mengusap lengan dan bajunya yang kotor.
Bryan duduk di samping Dika. "Lagian lo ngapain bengong disini?. Ini kan masih jam pelajaran. Kalo dilihat guru bisa kena hukum lo."
"Ya gue juga tau..."
"Nah tu lo tau. Emang ya, lo gak kapok-kapok kena hukum." Bryan kemudian berdiri dan pergi meninggalkan Dika.
"Bryan... Tunggu dulu..." teriak Dika yang kemudian menghampiri Bryan. "Ada yang mau gue bicarain sama lo, ini penting banget."
"Ada apa?. Jangan lama-lama, gue mau ke ruang guru."
"Candra masih hidup Bryan..."
Mata Bryan membesar karena kaget. "Hah, apa?... Gue tadi nggak salah denger kan?. Candra masih hidup?!."
"Iya, lo nggak salah denger Yan."
"Lo nggak bercanda kan Dika?. Sekarang kasi tau gue Candra dimana?." Bryan memegang pundak Dika.
"Candra itu selama ini ada sama kita. Widia itu Candra Yan..."
"Lo kalo bicara jangan ngaco!. Nggak percaya gue kalau Widia itu Candra."
"Lo harus percaya sama gue Yan!."
"Kenapa lo yakin banget, emang lo punya bukti kalo Widia itu Candra?."
"Emang lo ngga ngerasa aneh selama ini sama Widia?. Dia mirip banget sama Candra Yan, dia tau banyak hal tentang lo, selain itu dia kasi Dimas gelang persis sama yang dia kasi ke gue."
"Tapi dengan semua penjelasan lo tadi itu nggak bisa ngebuktiin kalo Widia itu Candra. Lo harus terima kenyataan Dika, kalo Candra itu udah meninggal. Gue juga sayang sama Candra, gue juga pengen Candra masih hidup. Tapi nggak mungkin Widia itu Candra!."
"Nggak ada yang nggak mungkin Yan, buktinya sampai sekarang jenazah Candra belum ketemu kan. Karena Widia itu Candra!."
"Kalo dia beneran Candra kenapa dia nggak kasi tau kita, kenapa dia malah sembunyiin identitasnya?. Kenapa dia baru datang sekarang?."
"....." Dika hanya diam tidak bisa menjawab pertanyaan Bryan.
"Nggak bisa jawab kan lo."
"Ya mungkin aja kan ada sesuatu hal yang buat dia belum mau jujur sama kita."
"Nggak mung..."
Dika memotong perkataan Bryan. "Tapi gelang yang dia kasi ..."
Bryan memotong perkataan Dika. "Gue tau lo suka sama Widia, tapi bukan berarti Widia itu Candra!." Bryan langsung pergi meninggalkan Dika.
"Tapi... Bryan..." teriak Dika pada Bryan yang tetap berjalan pergi meninggalkannya.
"Kenapa sih nggak ada yang pernah percaya sama gue... Arghh..." Dika yang kesal menendang sebuah botol di sampingnya.
*********
Jam pulang sekolah Dika mencari Widia di depan sekolah. "Nyet pulang bareng yuk," ucap Dika yang masih duduk di atas motornya.
Tiba-tiba Dimas juga menghampiri Widia. "Pulang bareng aku yuk Wid."
"Gue harus gimana ni?..." pikir Widia.
Dimas dan Dika menatap Widia.
"Maafin gue Dika, gue nggak mau PHPin lo. Cepat atau lambat gue harus milih Dimas," ucap Widia dalam hati.
"Widia bareng sama kak Dimas aja ya," ucap Widia pada Dimas.
"Yuk masuk Widia," ucap Dimas.
"Gue bareng kak Dimas ya Dik," ucap Widia pada Dika. Widia kemudian pergi bersama Dimas.
Dika hanya memandang Widia dengan tatapan kecewa.
Dika menghembuskan nafasnya panjang. "Lagi-lagi Dimas..." gumam Dika.
°
°
°
Jangan lupa like, komentar, dan ratenya ya kakak 🤗...
Terima kasih 🙏💕...