Choco

Choco
Masuk BK



"Tan, lo punya peniti nggak?. Minta 1 dong," ucap Widia yang baru datang dan langsung duduk di bangkunya.


"Punya kok." Intan mengambil peniti dari dalam dompetnya dan memberikan peniti itu pada Widia. "Buat apa Wid?."


"Ini tas gue tiba-tiba robek, baru nyadar gue. Makasi ya Tan," ucap Widia sambil memperbaiki tasnya.


"Iya sama-sama."


"Eh cewek kampungan, tas lo kenapa tuh?," ucap Rani yang masih duduk di bangkunya.


Widia tetap memperbaiki tasnya tanpa mempedulikan Rani.


"Tas aja sampe robek begitu, dasar miskin!" ucap Monica.


"Kasihan banget hidup lo," ucap Clara.


Widia menatap mereka bertiga dan menghembuskan nafasnya panjang.


"Yang sabar ya Widia, jangan perduliin mereka," bisik Intan.


"Iya Tan."


Clara, Monica, dan Rani kemudian menghampiri Widia.


"Lo ngapain sih sekolah disini?. Kalo nggak mampu nggak usah sekolah disini," ucap Monica.


"Gue tau lo sekolah disini pake beasiswa, kalo nggak gitu mana mungkin lo sekolah disini. Orangtua lo kan nggak ngampu biayain sekolah mahal-mahal," ejek Clara.


Widia yang tidak tahan langsung berdiri. "Tadi lo ngejek gue, gue masih bisa tahan. Tapi lo jangan berani-berani hina orang tua gue!" ucap Widia kesal.


"Emang lo bisa apa hah?!." Clara kemudian mendorong Widia hingga terjatuh dan tidak sengaja Widia menyenggol jendela sehingga jendela itu pecah. Beruntung Widia hanya mengalami sedikit luka goresan di tangan dan tidak mengalami luka yang serius.


Walaupun kejadian itu terjadi sangat pagi dan masih sedikit murid yang datang, tetap saja kejadian itu mengundang perhatian seisi kelas.


"Dasar gila!." Widia langsung berdiri dan mendorong Clara hingga terjatuh ke lantai.


"Aduh... perut gue sakit..." ucap Clara yang terlihat kesakitan sambil memegang perutnya.


"Perasaan tadi gue cuma dorong dia sedikit, kenapa dia bisa kesakitan gitu sih?" pikir Widia.


Monica langsung membantu Clara berdiri. "Lo nggak tau apa Clara baru operasi ginjal 5 bulan yang lalu. Ini semua gara-gara lo!."


"Apa? operasi ginjal?..." ucap Widia yang kaget.


"Ini ada apa ribut-ribut?" tanya Adit yang baru datang.


"Widia dorong Clara sampai kesakitan Dit," jawab Rani.


"Sakit banget Dit..." ucap Clara yang kesakitan.


"Ayo kita bawa dia ke UKS sekarang." Adit dan beberapa siswa lainnya membawa Clara ke UKS.


Widia yang juga ingin ikut ke UKS dihalangi oleh Monica dan Rani. Merekapun membawa Widia ke BK. Intan, Rani, dan Monica juga dipanggil sebagai saksi.


"Dari semua penjelasan tadi, ibu putuskan kamu berbukti bersalah Widia. Kamu sudah mendorong Clara hingga kesakitan dan memecahkan jendela kelas," ucap guru BK atau Bu Rahayu pada Widia.


"Maaf bu, tapi Clara yang mendorong saya hingga menyenggol jendela, saya tadi tidak sengaja memecahkan jendela kelas dan saya tidak tau jika Clara 5 bulan yang lalu operasi ginjal. Saya minta maaf bu," ucap Widia.


"Tapi tetap saja kamu sudah melakukan dua kesalahan yang tidak sepele. Sebagai penerima beasiswa seharusnya kamu tidak boleh terkena masalah di sekolah. Selain itu, nama kamu juga pernah dicatat di daftar murid yang terlambat. Jadi mohon maaf Widia, beasiswa kamu akan dicabut, dan ini sudah menjadi peraturan sekolah. Jika kamu masih mau bersekolah disini, kamu harus tetap membayar uang semester."


"Maaf bu, saya salah... Saya janji tidak akan mengulangi perbuatannya saya."


"Tapi ini sudah menjadi peraturan sekolah Widia, ibu tidak bisa berbuat apa-apa. Ini surat panggilan untuk orangtua kamu. Ibu harap kejadian seperti ini tidak terulang kembali." Ibu Rahayu memberikan surat panggilan orangtua pada Widia.


"Iya bu... Sekali lagi saya minta maaf."


"Iya Widia, sekarang kamu boleh ke kelas. Kalian bertiga juga boleh ke kelas."


"Iya bu..." ucap Widia, Intan, Rani, dan Monica. Mereka ber-empat kemudian masuk kelas.


"Adit, Clara gimana?" tanya Widia pada Adit.


"Lo tenang aja, Clara baik-baik aja. Dia cuma butuh istirahat, tadi juga udah dijemput sama orang tuanya."


"Syukurlah kalo gitu..." ucap Widia yang masih menunjukkan ekspresi sedih.


"Maaf ya, gue nggak bisa bantu lo. Walaupun gue nggak lihat kejadiannya secara langsung, gue yakin lo nggak salah."


"Iya, makasi ya Dit."


"Kamu yang sabar ya Wid," ucap Intan.


"Iya Tan."


"Ibuk sama bapak pasti kecewa sama gue... Maafin Widia ya pak, buk..." ucap Widia dalam hati.


Semua perhatian seisi kelas tertuju pada Bryan dan Dika yang baru masuk ke kelas tersebut.


"Ya ampun... Kak Bryan sama Kak Dika masuk ke kelas kita..." bisik salah satu siswi ke temannya.


"Ganteng banget... Mimpi apa gue semalem, ya Tuhan..." ucap temannya.


"Ada apa nyet? Katanya lo masuk BK." ucap Dika.


"Kamu nggak apa-apa kan Widia?" ucap Bryan.


"Iya kak, tadi ada masalah sediki..." Belum selesai Widia berbicara Dimas dan Willy langsung datang dan menanyainya.


"Kamu kenapa bisa masuk BK Widia?" tanya Dimas.


"Ada masalah apa Widia?" tanya Willy.


"Mereka ternyata langsung datang, baru aja Intan WA mereka..." ucap Intan dalam hati.


"Ternyata saingan gue banyak juga..." pikir Adit.


"Nggak nyangka 4 pangeran ganteng di sekolah ada di hadapan gue..." gumam salah satu siswi.


"Beruntung banget si Widia... Kalo kayak gini gue juga mau masuk BK..." ucap siswi lainnya.


"Ya ampun mereka ganteng banget... Tapi tetep pangeran bervespa putih gue yang paling ganteng," ucap Monica.


"Tolong cariin gue kulkas, bisa meleleh gue lama-lama lihat mereka ber-empat," ucap Rani.


"Kamu yakin nggak apa-apa?" tanya Bryan.


"Muka lo pucet banget, lo nggak apa-apa kan?" tanya Dika.


"Iya, Widia baik-baik aja kok."


"Kamu kalo butuh bantuan bilang aja ke aku Wid," ucap Willy.


"Iya Widia, jangan sungkan-sungkan. Kita pasti bantu kamu kok," ucap Dimas.


"Makasi kak, tapi beneran Widia nggak apa-apa."


"Kalian ber-empat ngapain disini?" tanya Bu Wulan atau guru bahasa Inggris yang masih berada di depan pintu.


"Ini buk..." ucap Dika.


Bu Wulan kemudian menghampiri mereka. "Ini kan masih jam pelajaran, kenapa kalian ada di sini?. Kalian mau ibu hukum?."


"Nggak buk, kami minta maaf..."


"Sekarang cepat kembali ke kelas!"


"Iya bu..." Mereka ber-empat pun kembali ke kelas masing-masing.


*********


Jam pulang sekolah Dika menemui Widia di depan sekolah.


"Tadi sebenarnya kenapa Nyet?" tanya Dika.


"Nggak apa-apa kok Dika, cuma ada masalah sedikit."


"Lo jujur aja Nyet, gue tau lo bohong. Tolong lo cerita apa yang sebenarnya terjadi, gue pasti akan bantu lo."


"Beasiswa gue dicabut Dik," ucap Widia sambil menundukkan kepalanya.


"Kenapa bisa kayak gitu Wid?..."


"Tadi Clara ngejek gue, dia hina orang tua gue. Gue marah sama dia. Dia dorong gue sampai jatuh dan gue nggak sengaja nyenggol jendela sampai pecah. Gue juga dorong dia, ternyata dia baru operasi ginjal 5 bulan yang lalu dan dia kesaktian. Untung aja dia ngga apa-apa. Gue bener-bener nggak serius dorong dia, gue cuma dorong dia pelan Dik..."


"Iya, gue percay sama lo Wid, gue tau lo nggak gitu. Tapi lo nggak apa-apa kan?"


"Gue nggak apa-apa. Tapi gue ngerasa bersalah sama orang tua gue Dik, gue udah ngecewain mereka," ucap Widia yang sedih. Air matapun keluar dari matanya


Dika mengusap air mata Widia. "Lo jangan ngomong kayak gitu. Gue akan bantu lo semampu gue, lo jangang nangis lagi ya."


"Makasi ya Dika."


"Yuk kita pulang..."


"Iya Dik."


Dikapun menghantar Widia pulang.


**********


Dimas melihat Intan yang baru keluar dari perpustakaan, Dimas kemudian menghampiri Intan. "Intan... kamu kenapa belum pulang?."


"Intan tadi ngembaliin buku kak. Kak Dimas juga kenapa masih di sekolah?."


"Tadi ada rapat OSIS. Widia mana?. Kok tumben nggak sama dia."


"Widia tadi udah pulang kak."


"Tadi kenapa Widia bisa masuk BK Tan?."


"Tadi Clara gangguin Widia, dia dorong Widia. Trus Widia juga dorong Clara. Clara kesaktian gara-gara dia baru operasi ginjal 5 bulan yang lalu... Kasihan Widia kak, beasiswanya dicabut."


"Apa beasiswanya dicabut?..."


"Iya kak... Intan tinggal pulang dulu ya kak."


"Iya Tan."


"Kasihan Widia, gue harus bantu dia..." gumam Dimas.


°


°


°


Jangan lupa like, komentar, dan ratenya ya kakak 🤗...


Terima kasih 🙏💕...