Choco

Choco
Ditemukan



Sementara itu semua masih sibuk mencari keberadaan Widia dan Clara. Karena mereka tidak menemukan Widia dan Clara dimana-mana, mereka pun memutuskan untuk mencari di dalam hutan. Semua bantuan pun sudah dikerahkan, mulai dari meminta bantuan kepada warga hingga pada tim penyelamat.


"Widiaa!... Claraa!" teriak mereka secara bergantian.


"Astaga.. udah mau malam. Lo di mana sih Widia?" batin Dika.


Aldi memperhatikan raut wajah Dika yang terlihat sangat panik. "Dika kelihatan panik banget. Kelihatan banget kalo dia benar-benar tulus," batin Aldi.


Tiba-tiba hujan turun dan dengan seketika hujan tersebut menjadi sangat deras.


"Eh! Hujan, kita balik dulu yuk," ucap Restu.


"Nggak, gue masih mau cari mereka," ucap Dika.


"Adik gue belum ketemu, gue nggak akan pulang," ucap Bryan.


"Tapi hujannya semakin deras dan hari juga hampir gelap," ucap Restu.


"Iya, Restu bener, setidaknya kita harus balik ngambil senter dan mantel karena sebentar lagi malam," ucap Adit.


"Maka dari itu, karena hari udah hampir gelap, gue harus segera nemuin mereka. Gue nggak akan pulang sebelum nemuin mereka," ucap Dika.


"Tapi hujan semakin deras dan sebentar lagi malam, bahaya kalau kita nggak bawa alat penerangan. Selain itu kasihan yang lainnya, muka mereka pucat semua, dari tadi kita sama sekali belum makan," ucap Adit.


Dika memperhatikan wajah teman-temannya yang lain. Mereka terlihat lemah, wajah mereka terlihat sangat pucat, namun diantara mereka, wajah Dimas lah yang terlihat paling pucat.


"Lo nggak apa-apa Dim?" tanya Dika.


Dengan ekspresi lemah Dimas menggelengkan kepalanya secara perlahan. "Gue nggak apa-apa."


"Lo jangan bohong, wajah lo pucat banget. Lo balik aja dulu," ucap Dika. Namun Dimas hanya diam tidak merespon ucapan Dika.


"Sebenarnya kepala gue sakit banget, tapi gue nggak mau bikin semuanya khawatir," batin Dimas.


"Res, lo sama yang lainnya balik aja duluan. Kasihan mereka," ucap Bryan kepada Restu.


"Tapi lo nggak balik?" tanya Restu.


"Nggak, gue mau tetep cari mereka," ucap Bryan.


"Ya udah, kita balik dulu. Nanti kita ke sini lagi. Kalian hati-hati ya," ucap Restu dan dibalas anggukan oleh Bryan.


Mereka semua pun pergi. Walaupun sama halnya seperti yang lain, yang merasa kelelahan dan kelaparan, Dika, Bryan, Willy, dan Aldi tetap memiliki untuk mencari Widia dan Clara.


"Widiaa!... Claraa!..." teriak mereka. Namun derasnya hujan menyamarkan suara teriakan mereka.


...****************...


Disisi lain, Widia dan Clara hanya bisa berteduh di bawah pohon untuk melindungi diri mereka dari derasnya hujan.


Clara yang sangat ketakutan memeluk Widia dengan sangat erat. "Dingin banget, gue takut banget..."


"Lo harus yakin, kita pasti baik-baik aja," ucap Widia.


"Yq ampun, dingin banget, selain itu hari udah mulai gelap," batin Widia.


Suara petir beberapa kali saling bersahutan. Udara pun sangat dingin, hingga dinginnya terasa sampai ke tulang-tulang mereka. Bibir mereka juga sampai gemetar karena saking dinginnya.


Saat ini tidak ada yang bisa Widia lakukan selai berdoa. Di dalam hati Widia terus berdoa agar dirinya dan Clara diberikan keselamatan.


Beruntung beberapa saat kemudian hujan sudah mereda. Hujan hanya tinggal menyisakan rintikan-rintikan kecil.


Langit sudah berubah menjadi warna jungga. Perlahan cahaya matahari mulai sirna, yang menandakan sebentar lagi hari akan gelap.


"Kita jalan lagi yuk, sebentar lagi gelap. Mudah-mudahan sebelum gelap kita bisa keluar dari hutan ini," ucap Widia dan dibalas anggukan oleh Clara.


Mereka pun kembali berjalan walaupun tak tau arah mana yang harus mereka tuju.


Mereka menjepit tangan mereka di ketiak untuk mengurangi rasa dingin.


Tiba-tiba Widia menghentikan langkahnya karena melihat jejak kaki hewan yang berukuran kecil. Tanah yang basah akibat hujan, dengan jelas memperhatikan jejak kaki hewan tersebut.


Widia menunjuk ke arah jejak kaki hewan tersebut. "Jejak kaki hewan."


"Iya, mungkin ini kayak jejak kaki kelinci," ucap Clara.


"Kita ikuti jejak kaki ini aja, kemungkinan bisa membawa kita ke sumber air atau makanan," ucap Widia.


"Iya, gue setuju," balas Clara.


Mereka berdua kemudian mengikuti jejak kaki hewan tersebut. Jejak kaki hewan tersebut menuntun mereka ke sebuah sungai.


"Sungai," gumam Widia ketika melihat sungai di depannya. Sungai tersebut tidak begitu besar dan arusnya juga tidak begitu deras.


"Sekarang kita harus gimana?" tanya Clara.


"Kita ikuti sungai ini ke hilir. Pasti di kita akan lebih dekat ke pemukiman," ucap Widia.


Dengan sisa tenaganya, mereka pun berjalan berjalan di pinggir sungai tersebut dengan mengikuti arus sungai ke hilir. Sesekali mereka berteriak meminta pertolongan, walau dengan suara mereka yang sudah terdengar lemah.


"Tolong!.. Tolong!..." teriak mereka.


Sudah beberapa kali mereka berteriak, namun mereka belum juga menemukan orang lain. Merekapun merasa putus asa, mereka kini hanya berjalan tanpa berteriak meminta pertolongan lagi.


Waktu sudah menunjukkan pukul 18.40. Lagit nyaris gelap, dan hari sebentar lagi akan malam.


Beberapa saat kemudian Widia kembali mencoba peruntungannya, ia kembali berteriak meminta pertolongan.


"Tolong!.. Tolong!.. Tolong!..." teriak Widia.


Tak berselang lama, teriakan Widia dibalas oleh seseorang. "Oeee..."


Samar-samar Widia dan Clara mendengar suara teriakan teriakkan tersebut, mereka pun merasa sangat senang akan hal tersebut.


"Itu! Suara itu!" ucap Clara gembira.


"Ada orang, kita teriak lagi," ucap Widia.


"Tolong!.. Tolong!..." teriak mereka sembari berjalan menuju sumber suara yang membalas teriakkan mereka.


Benar saja, tak berselang lama mereka berhasil bertemu dengan 2 orang ibu-ibu yang sedang membawa cucian.


Dengan gembira Widia dan Clara berlari menghampiri ibu-ibu tersebut.


"Kalian bukan orang sini ya? Kasihan sekali kalian, mari ikut kami," ucap salah satu ibu-ibu tersebut.


Ibu-ibu tersebut pun mengajak Widia dan Clara menuju kembali ke pemukiman. Di perjalanan mereka akhirnya bertemu dengan para warga yang kebetulan sedang mencari mereka.


Karena Clara dan Widia terlihat sangat lemah dan kelaparan, mereka pun diajak ke salah satu rumah warga. Di sana Widia dan Clara beristirahat, mereka di beri makan dan pakaian, selain itu luka Widia juga diobati.


Beberapa saat kemudian Dika, Bryan, Willy dan Aldi datang menemui mereka.


Dika, Bryan, dan Aldi menghampiri Widia. Dika berdiri menatap Widia yang berada di depannya, akhirnya perasaannya bisa lega setelah menatap Widia.


Bryan segera memeluk Widia. "Kamu kemana aja? Abang takut banget."


"Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Aldi.


"Widia nggak apa-apa kok. Maafin Widia karena udah buat kalian semua khawatir."


Bryan akhirnya melepaskan pelukannya karena ia tidak mau Widia sampai basah dan kedinginan karena memeluk dirinya yang basah kuyub akibat kehujanan. Bryan kemudian mengelus rambut adiknya.


"Abang tenang aja, Widia nggak apa-apa," ucap Widia untuk menenangkan Bryan.


Widia menatap Dika yang berdiri terpaku menatapnya. Wajah Dika terlihat pucat dan ia juga basah kuyup karena kehujanan. Beberapa saat mereka saling bertatapan sampai akhirnya Dika tiba-tiba memeluk Widia.


"Mereka sampai hujan-hujanan karena cari gue," batin Widia.


Dika hanya memeluk Widia dengan erat tanpa berkata sepatah katapun.


"Udah, gue nggak apa-apa," ucap Widia sembari mengusap punggung Dika.


Dika kemudian melepaskan pelukannya, dengan segera ia mengusap matanya karena tadi ia menangis di pelukan Widia.


"Eh, jangan nangis. Masak nagis sih, tumben gue lihat monkey bisa nangis," ucap Widia untuk menghibur Dika.


Widia yang awalnya berusaha untuk tidur menangis akhirnya juga ikut menangis karena terharu melihat Dika. Widia kemudian kembali memeluk Dika.


"Lo jangan nagis, gue nggak nangis kok," ucap Dika.


Aldi seperti memikirkan sesuatu sembari memperhatikan Widia dan Dika.


"Lebih baik gue nggak ganggu mereka lagi," batin Aldi.


Disisi lain Willy yang sangat mengkhawatirkan Clara sibuk menanyakan keadaan Clara.


"Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Willy.


"Aku nggak apa-apa kok."


Clara memperhatikan Willy yang basah kuyup dengan wajahnya yang terlihat pucat.


"Kak Willy sampai kayak gini gara-gara nyari gue," batin Clara.


Sebenarnya Willy sangat ingin melepaskan kekhawatiran dengan memeluk Clara, namun sejak awal Willy menyadari jika Clara tidak benar-benar mencintainya. Willy pun tidak mau jika ia sampai membuat Clara merasa tidak nyaman, dengan melihat Clara baik-baik saja itu sudah cukup untuk membuatnya bahagia.


Namun tak disangka-sangka tiba-tiba Clara memeluk Willy. Hal tersebut tentu saja membuat Willy kaget.


"Ini? Clara meluk gue," batin Willy.


"Gue selama ini udah buta, sampai-sampai gue menyia-nyiakan Kak Willy yang benar-benar tulus sama gue. Gue ngerasa bersalah karena udah jadiin dia sebagai pelarian. Gue sadar, ternyata gue udah benar-benar suka sama Kak Willy," batin Clara.


"Maaf ya, Clara udah buat Kak Willy khawatir," ucap Clara.


"Aku takut banget kalau kamu sampai kenapa-kenapa... I love you," bisik Willy.


"I love you too," balas Clara.


Deg...


Jantung Willy rasanya seperti berhenti seketika setelah mendengar ucapan Clara. Ini adalah kali pertamanya Clara mengatakan hal tersebut kepada Willy.


"Gue nggak mimpi kan? Ini pertama kalinya Clara bilang seperti itu sama gue," batin Willy. Bibir Willy pun menunjukkan senyuman bahagia.


Tak berselang lama teman-teman mereka yang lainnya juga datang ke sana. Hampir semua dari mereka datang kecuali Dimas, saat ini Dimas sedang tertidur di kamarnya karena sakit kepala yang ia alami. Ia ditemani oleh perawat yang dikirimkan oleh ayahnya. Perawatan tersebut membujuk Dimas agar mau ke rumah sakit, namun Dimas menolaknya. Akhirnya Dimas hanya diberikan obat dan kemudian beristirahat.


Semua teman-teman mereka yang baru datang menanyakan keadaan Widia dan Clara. Begitu juga dengan Intan yang terlihat panik menanyakan keadaan Widia dan Clara secara bergantian.


"Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Intan dengan panik kepada Clara. Mata Intan pun terlihat berkaca-kaca.


"Gue nggak apa-apa kok."


Clara memperhatikan Intan yang terlihat panik. "Widia benar, Intan nggak salah apapun. Gue yang udah cemburu tanpa alasan sama dia," batin Clara.


"Syukurlah kalau begitu..." ucap Clara.


"Makasi ya..." Clara pun memeluk Intan.


Mereka semua menanyakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Widia dan Clara. Widia dan Clara pun menceritakan kejadian yang mereka alami, namun Widia samasekali tidak mengatakan jika Clara awalnya memang berniat dengan sengaja meninggalkannya di hutan


"Widia benar-benar udah ngelupain semuanya. Bahkan dia nggak bilang kalau semua ini ulah gue. Ternyata dia punya hati sebesar itu," batin Clara.


......................


...BERSAMBUNG...


......................


Mohon pemaklumannya kepada para readers, karena Author masih sibuk, untuk Senin depan Author tidak bisa update 😵...


UP : KAMIS


...°...


...°...


...°...


Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya judulnya "Berbeda"


Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...


1 like dan komentar singkat dari para pembaca sangat berharga bagi Author 😊...


Terima kasih 🙏💕...