
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, hari ini Dika dan teman-temannya berencana pergi berlibur ke puncak.
Terlihat di dalam kamar, Dimas tengah sibuk mempersiapkan barang-barangnya untuk berlibur. Tiba-tiba Pak Arthama datang menemuinya.
Pak Arthama kemudian duduk di sofa sembari memperhatikan Dimas. "Kamu yakin ingin ikut?" Terlihat raut wajah Pak Arthama menunjukkan kekhawatiran.
"Iya pa, lagipula beberapa hari ini Dimas nggak ada jadwal pengobatan," balas Dimas.
Karena Dimas sudah selesai membereskan barang-barangnya, ia pun duduk di pinggir kasur. Pak Arthama kemudian menghampiri Dimas dan duduk di sampingnya.
Pak Arthama menatap Dimas yang duduk di sampingnya, sementara Dimas menundukkan kepalanya sembari membersihkan kaca matanya.
"Jujur, papa sangat khawatir dengan kondisi kamu."
Dimas pun memakai kaca matanya. Dimas menatap Pak Arthama kemudian tersenyum. "Papa nggak perlu khawatir, Dimas nggak apa-apa."
"Kenapa kamu harus menderita penyakit seperti ini? Andai papa bisa menggantikan kamu dan menanggung semua beban itu. Papa sangat khawatir dengan keadaan kamu. Tapi papa tidak akan menolak keputusan kamu, papa hanya ingin membuat kamu bahagia," batin Pak Arthama.
Pak Arthama hanya tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya.. papa sekarang mau ke kantor dulu. Selalu jaga kondisi kamu."
"Iya pa," balas Dimas.
Pak Arthama mengusap kepala Dimas lalu pergi. Dimas hanya tersenyum melihat Pak Arthama berjalan keluar kamar.
"Gue cuma ingin menghabiskan sisa waktu sama orang-orang terdekat gue," batin Dimas.
...****************...
Karena mereka akan berlibur di villa milik keluarga Arthama, mereka pun berkumpul di rumah Dika. Widia dan Aldi sudah sampai di rumah Dika sebelum yang lainnya. Widia dan Aldi pun duduk di sofa ruangan tengah. Karena keadaan rumah Dika sepi, Widia kemudian menelepon Dika.
......................
...Via Telepon...
......................
"Nyet," ucap Dika.
"Ongky, lo di mana? Gue di rumah lo," ucap Widia.
"Oh, lo tunggu sebentar ya, gue masih di rumah Restu. Bentar lagi gue balik."
"Ya udah, jangan lama-lama."
"Iya, bentar doang. Gue tutup ya?"
"Iya," balas Widia.
......................
"Tunggu ya kak, Dika sebentar lagi dateng, dia masih di rumah Restu," ucap Widia kepada Aldi.
"Iya, santai aja," ucap Aldi.
Seorang pembantu menghampiri Widia dan Aldi sembari membawa minuman serta cemilan. Pembantu tersebut pun menaruh minuman dan cemilan itu di atas meja.
Pembantu tersebut tersenyum kepada Widia dan Aldi. "Silahkan..."
"Bibi pake repot-repot, makasi ya bi," ucap Widia.
"Makasih ya," ucap Aldi.
"Iya, saya permisi dulu." Pembantu tersebut kemudian pergi.
Widia dan Aldi berbincang-bincang santai sembari menikmati minuman dan cemilan yang disediakan.
Beberapa saat kemudian Dika datang dengan membawa beberapa belanjaan.
"Udah lama ya?" tanya Dika.
"Nggak, baru aja," jawab Widia.
"Tunggu dulu ya, gue taruh belanjaan dulu."
"Iya," balas Widia.
Namun baru beberapa langkah Dika berjalan, ia malah berhenti.
"Oh iya," gumam Dika. Dika mengambil cokelat dari dalam sakunya.
"Nyet," ucap Dika sembari menjulurkan cokelat.
Karena jarak mereka cukup jauh, Widia pun menjulurkan tangannya dan Dika melempar cokelat tersebut kepada Widia.
"Thanks," ucap Widia, segera Widia memakan cokelat tersebut.
Dika hanya tersenyum kemudian pergi. Namun tiba-tiba ia menghentikan langkahnya lagi.
"Ada Aldi lagi, sebel banget gue lihat mukanya," batin Dika sembari menatap Aldi dari belakang.
Aldi melihat ke arah belakang. Aldi dan Dika pun saling bertatapan. Dika kemudian memutar malas bola matanya dan langsung pergi. Sementara Aldi tersenyum menyeringai sembari menggelengkan kepalanya.
"Apaan sih si Dika," batin Aldi.
"Widia, toilet di sini dimana ya?" tanya Aldi.
"Di selatan kak," jawab Widia.
"Kakak ke toilet sebentar ya."
"Iya," balas Widia.
Aldi pun pergi ke toilet untuk buang air. Ketika ingin masuk ke toilet, ia berpapasan dengan Dimas yang baru keluar dari toilet.
Aldi dan Dimas saling bertatapan. Aldi terlihat bingung melihat Dimas.
"Gaya Dika kenapa tiba-tiba bisa berubah rapi kayak gini?" batin Aldi. Aldi mengira Dimas adalah Dika karena ia selama ini memang tidak mengetahui jika Dika memiliki saudara kembar.
"Lo?..." ucap Aldi sembari menunjuk wajah Dimas. Dimas pun segera menyingkirkan tangan Aldi dari hadapannya.
"Gaya lo kenapa berubah secepat ini? Sok-sokan pake kaca mata. Ini lagi, rambut lo rapi banget, kebanyakan pomade." Aldi hendak menyentuh kepala Dimas namun Dimas segera menghindar sehingga Aldi tidak jadi menyentuh kepala Dimas.
Tanpa berkata sepatah katapun, Dimas hanya diam menatap Aldi.
"Kenapa tumben Dika nggak ngebales gue? Tatapannya juga beda banget. Dika kenapa sebenarnya?" batin Aldi.
"Aldi..." ucap Dimas. Karena hubungan antara Dimas dan Dika sekarang sudah baik, mereka pun menjadi sangat dekat, sampai kadang-kadang Dika bercerita mengenai kehidupannya dengan Dimas, termasuk perselisihan yang terjadi diantaranya dan Aldi.
Aldi pun menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya. "Ada apa?"
"Jauhin Widia!"
"Lagi-lagi Dika bilang kayak gitu," batin Aldi.
Aldi tersenyum menyeringai. "Ck!" Tanpa merespon ucapan Dimas, Aldi langsung masuk ke dalam toilet.
...****************...
Setelah Aldi selesai buang air, ia langsung menghampiri Widia. Terlihat Widia dan Dika tengah sibuk mondar-mandir memindahkan barang-barang ke dalam mobil.
Aldi memperhatikan Dika yang melintas di depannya. "Dika? kenapa penampilannya berubah lagi?" batin Aldi.
Karena sadar jika Aldi sedari tadi menatapnya, Dika pun menghentikan langkahnya di depan Aldi. "Apa lo lihat-lihat?!" ucap Dika kemudian langsung pergi.
"Lah? sifatnya juga berubah. Jangan-jangan Dika punya kelainan," batin Aldi.
"Widia," ucap Aldi kepada Widia yang kebetulan lewat di hadapannya. Widia pun menghentikan langkahnya.
"Kamu nggak ngerasa aneh apa sama Dika?" tanya Aldi.
Widia mengerutkan alisnya karena bingung. "Maksud kakak?"
"Kakak perhatiin, sifat Dika bisa berubah tiba-tiba. Kayaknya dia punya kepribadian ganda."
Widia pun tertawa kecil karena mendengar ucapan Aldi. "Huft.. kakak ada-ada aja. Nggak kok kak... Ngomong-ngomong Widia mau pergi dulu, ada beberapa barang yang harus Widia beli."
"Mau kakak anterin?"
"Nggak usah, belanjanya di seberang jalan kok." Widia kemudian langsung pergi untuk membeli beberapa keperluan.
Aldi kembali duduk di sofa sembari memainkan handphonenya. Tidak sengaja Aldi melihat ke arah atas, terlihat Dimas dari atas tangga sedang memperhatikannya sembari membawa tongkat golf.
"Dika kenapa lihatin gue kayak gitu? Serem banget," batin Aldi.
Dimas berjalan menuruni tangga dan mendekati Aldi. Aldi pun berdiri karena melihat Dimas berjalan mendekatinya.
"Ngapain dia jalan ke arah gue? Jangan-jangan dia mau macem-macem lagi sama gue. Dilihat dari sifat Dika yang berubah-ubah, bisa aja dia psikopat," batin Aldi.
Aldi yang ketakutan berjalan mundur menjauhi Dimas.
Dika yang baru datang memperhatikan Aldi yang berjalan mundur. "Aldi ngapain jalan mundur kayak gitu?" batin Dika.
Dika memiringkan kepalanyanya dan melihat Dimas. "Ooh.. jangan-jangan Aldi ngira kalo Dimas itu gue. Pasti dia kebingungan wkwkwk..." batin Dika.
Ketika Aldi berbalik, alangkah terkejutnya dia ketika melihat Dika. "Kenapa Dika ada dua?" batin Aldi. Mata Aldi terbelalak karena kaget sekaligus ketakutan.
Dika pun tertawa melihat ekspresi ketakutan di wajah Aldi. "Buakakakakak..."
Dimas pun juga ikut tertawa. "Buakakakakak...."
Dimas dan Dika tertawa sembari berjalan menghampiri Aldi. Aldi pun menjadi semakin ketakutan karena hal tersebut. Karena sudah merasa terpojokkan, Aldi hanya bisa bersender di tembok.
"Pergii!..." teriak Aldi.
Kini Dimas dan Dika sudah berada di hadapan Aldi, mereka pun terus tertawa. "Buakakakakak..."
Dika memegang pundak Dimas. "Kenapa? Takut lo? Cemen banget wkwkwkk..." ejek Dika kepada Aldi.
"Kita ini kembar, wkwkwk... Kenalin, ini abang gue, Dimas," ucap Dika.
Aldi menatap malas pada Dika yang tertawa terpingkal-pingkal. "Pantesannn..."
Dimas tertawa sembari menggelengkan kepalanya. "Lo kenapa sih? Sampai ketakutan kayak gitu. Gue cuma mau naruh tongkat golf ini di belakang." Dimas kemudian pergi ke belakang.
Sementara itu Dika masih tertawa terpingkal-pingkal. "Buakakakakak... Ekspresi takut lo buakakakakak... Lucu banget Buakakakakak..."
"Sial*n lo!" Aldi mendoyor kepada Dika, ia kemudian kembali duduk di sofa.
Dika juga ikut duduk di sofa, namun Dika tetap saja tertawa karena mengingat ekspresi Aldi. "Wkwkwk..."
"Diem nggak!" ancam Aldi. Aldi pun merasa kesal karena Dika tetap tertawa, ia kemudian memukul Dika menggunakan bantal yang ada di sampingnya.
Beruntung Dika berhasil menghindari pukulan Aldi. "Yee.. nggak kena wkwkwk..."
Aldi hanya bisa menatap malas kepada Dika yang masih tertawa.
Aldi tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Apaan sih?..."
Lama kelamaan Aldi juga ikut tertawa karena melihat Dika tertawa. "Wkwkwk..."
Akhirnya mereka berdua pun tertawa.
Sebenarnya Aldi bukan merupakan orang licik ataupun jahat. Aldi bisa dikatakan orang baik, itu bisa dilihat dari dirinya yang bisa berteman baik dengan teman-teman Dika, bahkan dirinya juga bersedia mengajari Restu bermain bulutangkis. Perselisihan diantara Dika dan Aldi sebenarnya hanya karena Aldi yang ingin memperjuangkan cintanya pada Widia. Selain itu tidak ada yang Aldi tidak sukai dari Dika karena menurut pengamatan Aldi selama ini, ia menganggap Dika orang yang baik.
...****************...
Beberapa saat kemudian semuanya mulai berdatangan satu persatu. Sekitar pukul 11.00 semua sudah berada di rumah Dika. Mereka semua adalah Dimas, Dika, Restu, Bryan, Willy, Adit, Aldi, Widia, Intan, Bunga, Aulia, Bintang, Clara, Monica, dan Rani. Karena dirasa sudah lengkap, merekapun langsung berangkat berlibur.
......................
...BERSAMBUNG...
......................
...°...
...°...
...°...
Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya judulnya "Berbeda"
Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...
1 like dan komentar singkat dari para pembaca sangat berharga bagi Author 😊...
Terima kasih 🙏💕...