Choco

Choco
Cemburu



Terima kasih udah mampir ya kakak-kakak cantik dan ganteng 😊...


Nanti jangan lupa like dan komentarnya sebagai bentuk apresiasi kalian terhadap novel ini 🤗...


Selamat membaca💕...


•••••••••


"Eh, Intan, pagi banget datangnya, udah sehat?." Widia menaruh tasnya di atas meja dan duduk menyender di tembok.


"Iya Wid, udah mendingan," jawab Intan yang masih asik menonton vidio di ponselnya.


"Nonton apa sih Tan, serius banget?." Widia yang penasaran menoleh ke ponsel Intan.


"Ini lagi nonton film, ngelanjutin yang kemarin malam. Tanggung lagi sedikit, kamu mau ikut nonton?."


Widia kembali duduk menyender di tembok. "Lucu gak ceritanya?."


Intan memutar malas bola matanya. "Ya ampun Wid... Ini kan cerita romantis bukan komedi, jelas lah gak lucu."


"Ya siapa tau kan isi lucu-lucuan. Kalo cerita romantis, gue kurang tertarik sama cerita kek gitu."


"Yang bener kamu gak tertarik sama cerita romantis?. Nonton film romantis atau apa kek?."


"Bener... Gue gak tertarik sama cerita kek gitu. Kemarin aja gue nonton Naruto."


"Naroto? Film a-"


"Siapa yang nonton Naruto?" potong Adit yang baru datang.


"Lo juga suka nonton Naruto Dit?" tanya Widia.


"Iya Wid, gue suka banget nonton Naruto. Setiap hari gue nonton, kemarin gue juga nonton." Adit menaruh tasnya dan duduk.


"Waah... Gue juga nonton tuh. Kemarin episodenya pas... hmm... Orochimaru membangkitkan empat Hokage pake edotense."


"Iya, ketawa gue lihat Hashirama, gak berwibawa banget jadi Dewa Shinobi."


"Kalian bicarain apaan sih?. Naruto itu film apa?. Drama Korea ya?" tanya Intan yang kebingungan.


Widia menahan tawa. "Huft... Bukan Tan, Naruto itu anime, bukan drama korea."


Adit juga ikut tertawa. "Intan..Intan... Kamu kebanyakan nonton drama korea."


"Tau ah, gak ngerti Intan." Intan kemudian kembali fokus menonton film di ponselnya.


Clara dan teman-temannya memperhatikan Widia, Intan, dan Adit yang sedang tertawa dan asik mengobrol.


"Awas aja lo Widia sama Intan, sekarang kalian bisa ketawa, tapi lihat aja nanti," kata Clara dalam hati.


*******


Sepulang sekolah, Dika menunggu Widia di depan sekolah bersama Restu yang juga ingin bertemu dengan Intan. Clara dan teman-temannya yang melihat Dika dan Restu menghampiri mereka.


"Permisi, kak Dika kan?. Lagi ngapain kak?" sapa Clara.


"Kalian itu cewek-cewek yang kemarin ganggu Widia kan?" jawab Dika dengan mengerutkan alisnya.


"Iya kak Dika, aku Clara. Santai aja kali kak, biasalah temen berantem."


"Iya kak, kita kan temenan, jadi wajarlah kalau berantem," sahut Monica.


"Tapi lo yang waktu itu pacarnya hampir nampar Widia, itu lo yang suruh kan?!" tanya Dika ke Rani dengan ekspresi marah.


"Ng-nggak kak, aku ngga ada nyuruh pacar ku nampar Widia. Waktu itu cuma salah paham kok," jawab Rani dengan gugup.


Dika mengangkat sebelah alisnya tidak percaya. "Terus Widia dimana?."


Clara melihat Widia dari jauh sedang berjalan mendekati mereka. "Kak Dika!." Clara menjerit dan memeluk Dika.


"Ni apa-apaan sih?!." Dika melepaskan tangan Clara yang memeluknya.


"Maaf kak, aku kaget, itu ada belalang."


"Kenapa takut sih?!. Belalangnya jauh di semak-semak itu," sahut Dika dengan wajah kesal.


Widia yang melihat kejadian itu hanya berjalan dengan wajah juteknya melewati Dika. Dika langsung mengejar Widia karena melihat Widia berjalan begitu saja melewatinya. Namun Widia langsung masuk angkot dan meninggalkan Dika tanpa mempedulikannya. Clara tersenyum dan merasa puas melihat hal tersebut.


"Intan! lo lama banget sih. Nih bawa tas gue!" bentak Clara, ia kemudian memberikan tasnya ke Intan.


"Hei! Jangan seenaknya aja sama dia!" bentak Restu pada Clara.


"Lo apa-apaan sih!. Jangan ikut campur ya... kakak CUPU!." Clara dan teman-temannyapun pergi meninggalkan Restu dan Intan.


"Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Restu.


"Makasi ya kak, aku gak apa-apa kok." Intan tersenyum ke Restu lalu pergi mengikuti Clara.


"Jadi nama cewek itu Intan, nama yang bagus... Gue jadi senyum-senyum sendiri gara-gara tadi Intan senyum ke gue, bisa meleleh gue... Tapi kenapa ya dia mau diperintah sama Clara?. Kasihan banget Intan," guman Restu.


Dikapun datang dengan wajah betek. "Lo kenapa Res?. Keknya bahagia baget," tanya Dika yang melihat Restu senyum-senyum sendiri.


"Lo tau gak, tadi temennya Widia senyum ke gue, dan ternyata namanya Intan," jawab Restu yang masih senyum-senyum sendiri.


"Gitu aja bangga lo." Dika mengusap wajah sumringah Restu sampai kacamatanya terjatuh.


Restu mengambil kacamatanya dan membersihkannya. "Daripada lo, berantem sama Widia."


"Res, bantu gue jelasin ke Widia dong. Kita kan sahabat, dia pasti salah paham gara-gara yang tadi."


Restu memakai kembali kacamata minusnya itu. "Sahabat, sahabat... Utang lo tu bayar, gak ingetkan lo. Anak sultan kok ngutang, heran gue."


Dika memandang malas Restu. "Kamu siapa ya?. Saya siapa?. Saya dimana?. Kenapa?. Kapan?. Apa?... Amnesia gue." Dika kemudian menaiki motornya dan meninggalkan Restu.


"Yaah... Dika malah pergi lagi, jangan sampai dia marah. Walau kadang-kadang nyebelin, dia kan sobat gue," pikir Restu, ia kemudian berlari mengejar Dika.


"Dika... lo jangan gitu dong... Gue mau kok bantu lo," teriak Restu.


Dikapun memutar arah dan menghampiri Restu. "Nah... gitu kek dari tadi, gue kan gak perlu capek-capek akting. Sini lo, naik ke motor gue."


"Trus mobil gue gimana?."


"Udah... Rumah Widia masuk gang, ribet bawa mobil. Cepet naik, nanti gue anter lo kesini lagi ngambil mobil." Dika kemudian membonceng Restu dan menuju rumah Widia.


Sampailah mereka di rumah Widia.


Dika memgetuk pintu. "Onyet... Nyet, Nyet..."


Widia membukakan pintu. "Ngapain lo kesini?."


"Gue cuma mau jelasin sama lo Nyet, tadi si Clara cuma kaget. Gue gak ada apa-apa sama dia, lo jangan marah ya." Dika menyenggol Restu, untuk menyuruhnya memberikan pernjelasan.


"Iya Wid, tadi Clara lihat belalang makanya dia kaget."


"Maafin gue ya Nyet."


"Ngapain minta maaf?. Gue gak marah kok." Sebenarnya Widia senang mendengar penjelasan dari Dika, tapi dia tidak mau mengaku.


"Bener lo gak marah kan?."


"Iya, gue gak marah. Karena kalian udah terlanjur kesini gue buatin minum mau gak?."


"Mau dong..." sahut Dika.


"Wah boleh juga tuh, gue bisa tanya-tanya soal Intan," ucap Restu dengan suara kecil.


"Apa?..." tanya Widia yang mendengar suara tidak jelas Restu.


"Ngga, bukan apa-apa Wid," jawab Restu yang terlihat senyum-senyum.


Mereka bertigapun masuk dan minum serta berbincang-bincang.


°


°


°


Maaf jika banyak kesalahan dalam novel ini. Saya baru pertamakali membuat novel, jadi mohon pemaklumannya kakak😊...


Terima kasih🙏🤗♥...