
Malam harinya mereka menghabiskan sisa waktu liburan dengan bersantai di halaman belakang villa. Malam itu langit begitu cerah, bulan dan bintang pun dapat terlihat dengan jelas. Hawa dingin malam itu disamarkan dengan hangatnya api unggun yang mereka nyalakan. Mereka juga membuat jagung bakar menggunakan api unggun tersebut.
Karena suasana terkesan sepi, Aldi memutuskan untuk mengambil gitar dan bernyanyi. Mendengar Aldi bernyanyi, yang lainnya pun terbawa suasana dan juga ikut bernyanyi bersama.
"Suara Aldi bagus banget, terdengar sopan," batin Aulia. Tanpa disadari Aulia terus memandang Aldi. "Gue nggak mau kehilangan pemandangan ini," batin Aulia.
Aldi yang merasa dirinya sejak tadi diperhatikan oleh Aulia pun kemudian juga mengalihkan pandangannya kepada Aulia. Secara spontan Aulia mengalihkan pandangannya ke arah lain dan berhenti menatap Aldi. "Dia lihatin gue," batin Aldi. Bibir Aldi pun menorehkan senyuman.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Satu persatu semua mulai masuk ke dalam villa dan beristirahat di kamar mereka masing-masing. Namun berbeda dengan Aulia, ia memilih tetap berada di halaman belakang villa. Aulia duduk sembari menatap bintang dengan ditemani berbagai lagu romantis yang ia dengarkan melalui earphone. Lirik dari lagu-lagu tersebut terdengar sangat pas dengan suasana hati yang Aulia rasakan sekarang.
Tiba-tiba ada seorang yang datang dan langsung duduk di samping Aulia. Aulia pun mengalihkan pandangannya kepada orang tersebut, ia tak lain adalah Aldi.
Aulia melepas salah satu earphonenya. "Aldi..." ucap Aulia.
"Lagi ngapain di sini?" tanya Aldi.
"Duduk aja, lihat bintang sambil dengerin musik."
"Lo denger lagu apaan sih?"
Aulia memberikan salah satu earphonenya kepada Aldi. "Ini..."
Aldi pun memasang earphone tersebut di telinganya dan ikut mendengarkan lagu yang Aulia dengarkan.
"Andai aja lo juga dengerin lagu yang sama seperti yang gue dengerin," ucap Aulia.
"Maksud lo?" tanya Aldi.
"Maksud gue, andai aja lo merasakan perasaan yang sama seperti yang gue rasakan," ucap Aulia dalam hati.
"Maksud gue semoga lo suka sama lagunya," ucap Aulia.
"Iya, gue suka."
"Lo sering dengerin lagu kayak gini?" tanya Aulia.
"Nggak juga, gue jarang dengerin lagu. Tapi lagu ini menurut gue bagus."
"Bagus deh kalo lo suka," ucap Aulia.
"Lagu ini menggambarkan perasaan yang gue rasakan sekarang. Perasaan ini, ini nggak pernah gue rasakan sebelumnya," batin Aldi.
Beberapa saat mereka hanya diam tanpa saling berbicara. Mereka hanya mendengarkan musik sembari memperhatikan sekeliling. Waktu pun sudah berganti menjadi pukul 1 dini hari. Suara ayam di rumah warga pun berkokok saling bersahutan.
"Udah pagi, lo nggak tidur?" tanya Aldi.
"Gue nggak bisa tidur. Kalo lo sendiri ngapain juga belum tidur?"
"Sama, gue juga nggak bisa tidur." Aldi menghela nafas panjang. "Sebenarnya ada sesuatu yang gue pikirin," ucap Aldi dengan ekspresi khawatir.
"Apa?" tanya Aulia penasaran.
"Apakah dosa kalau kita bohong?" tanya Aldi dengan ekspresi serius.
"Iya, dosa. Bohong itu nggak baik," jawab Aulia
"Misalnya kalo gue bohong sama lo?"
"Ya kalau yang namanya bohong itu nggak baik, udah pasti dosa. Bohong sama siapapun tetep aja nggak bener."
"Boleh nggak gue bohong sama lo?" tanya Aldi tetap dengan ekspresi serius.
"Ada apa sih sebenarnya?" batin Aulia bertanya-tanya.
"Jelas aja nggak," jawab Aulia.
"Ya udah, berarti gue nggak boleh bohong sama lo. Gue akan jujur..." ucap Aldi dengan ekspresi serius.
Aldi dan Aulia saling bertatapan, mata mereka saling bertemu. Aulia merasa sangat penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Aldi. Ia sangat menantikan jawaban yang keluar dari mulut Aldi.
"Ada apa sebenarnya? Apa ada sesuatu yang lo sembunyikan dari gue?" tanya Aulia.
Deg.. deg.. deg..
Seketika jantung Aulia berpacu dengan kencang setelah mendengar ucapan Aldi. Aulia pun juga tersenyum, ia merasa sangat senang karena tenyata Aldi juga merasakan perasaan yang sama dengan dirinya. Aulia tersipu malu dan mengalihkan pandangannya.
"Ini? Barusan Kak Aldi ngungkapin perasaannya sama gue?" batin Aulia.
Aulia merasa sangat gugup, ia tidak tau bagaimana caranya ia akan membalas ucapan Aldi. Karena saking gugupnya Aulia pun menjadi salah tingkah. "Ah, lo bisa aja."
"Gue nggak bercanda. Katanya gue nggak boleh bohong, bohong itu dosa, makanya gue jujur." Wajah Aldi masih menunjukkan senyuman bahagia.
Mereka pun saling bertatapan. Aulia hanya menatap Aldi dengan menunjukkan ekspresi bahagia di wajahnya.
"Gue jujur sama perasaan gue, gue nggak bohong. Gue cinta sama lo..." ucap Aldi dengan lembut.
Aulia pun menganggukkan kepalanya. "Iya, gue juga suka sama lo."
Aulia pun akhirnya juga mengakui perasaannya. Senyuman di wajah mereka berubah menjadi tawa bahagia. Mereka kemudian saling berpelukan.
"Gue bahagia banget. Ini adalah saat terbaik yang pernah gue rasakan, makasi Aulia," ucap Aldi.
"Gue juga bahagia," balas Aulia.
Aldi dan Aulia kembali saling bertatapan. Aldi menatap mata Aulia dengan tatapan lembut, hingga Aulia tenggelam dalam tatapan Aldi.
Wajah mereka perlahan mendekat, Aulia pun memejamkan matanya, dan begitu juga dengan Aldi. Hingga Akhirnya sebuah kecupan mendarat di kening Aulia.
Aulia menatap Aldi yang juga menatapnya. Aulia merasa sedikit kecewa karena awalnya ia berpikir jika Aldi akan menciumnya.
Aldi pun dapat mengetahui apa yang Aulia rasakan melalui ekpresi di wajah Aulia. "Kok ekspresinya kayak gitu?" Aldi pun tertawa kecil.
Aulia menorehkan senyuman tipis di bibirnya namun wajahnya tetap menunjukkan ekspresi kecewa.
Aldi kemudian memeluk Aulia sembari mengelus rambutnya. "Aku tidak minta banyak dari mu. Suatu saat nanti aku hanya ingin melihat mu sebagai orang pertama yang ku lihat setelah membuka mata di pagi hari. Cukup berbaring saja di sampingku selama sisa hidup kita. Kamu tidur, aku membelai rambut mu, dan melihat senyum di wajah polos mu. Ketika nafasmu dekat dengan nafasku, rasanya seperti mendengarkan irama terindah di dunia. Aku ingin menghirup aroma mu, menghirup aroma terindah di dunia. Selama kamu tinggal dengan ku, aku tidak butuh apa-apa lagi... Aku juga ingin, siapa yang tidak mau mencium perempuan secantik mu? Tapi aku ingin buktikan, kalau aku benar-benar mencintaimu, bukan hanya sekedar nafsu."
Perkataan Aldi membuat jantung Aulia berdebar dan berpacu semakin kencang. "Kenapa Kak Aldi bisa seromantis ini? Ya ampun, rasanya mau meleleh," batin Aulia.
Aulia kemudian menatap Aldi. "Siapa bilang kalau berciuman itu cuma nafsu? Bisa aja itu cara kita untuk menunjukkan rasa sayang."
Tiba-tiba Aulia mendekatkan wajahnya dengan wajah Aldi. Kini jarak diantara mereka sangat tipis, mereka bisa merasakan nafas mereka satu sama lain yang naik turun tidak beraturan. Aulia pun akhirnya memberikan kecupan di lembut bibir Aldi.
"Eh!" batin Aldi.
Aldi pun akhirnya membalas kecupan Aulia, perlahan kecupan itu berubah menjadi ciuman.
"Bunga mekar di hatiku saat kau tersenyum. Saat kau menciumku, bibirmu menghangatkanku bahkan di malam yang dingin ini. Begitu murni dan begitu naif aku mencintaimu..." ucap Aulia dalam hati.
................
...BERSAMBUNG...
................
UPDATE LAGI : KAMIS 25/02/2021
...°...
...°...
...°...
Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya judulnya "Berbeda"
Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...
1 like dan komentar singkat dari para pembaca sangat berharga bagi Author 😊...
Terima kasih 🙏💕...