
"Dulu kita berantem terus, bahkan cuma karena hal kecil. Nggak terasa, waktu berjalan begitu cepat dan sekarang kita udah bukan anak kecil lagi. Tapi gue kangen berantem lagi sama lo. Cepetan sembuh Dim..." batin Dika sambil menatap fotonya bersama Dimas sewaktu masih SMP.
"Ternyata kamu di sini..." Pak Arthama kemudian duduk di samping Dika.
"Iya pa, Dika dari tadi di sini."
Dika kembali menaruh foto tersebut di atas meja. Pak Arthama memperhatikan foto tersebut.
"Dika pasti sangat merindukan Dimas, sejak tadi dia terus memperhatikan foto itu. Tapi biar bagaimanapun, sekarang sudah saatnya aku mengatakan yang sebenarnya sama Dika," batin Pak Arthama.
"Udah lama banget Dika nggak ketemu sama Dimas. Dika yakin Dimas pasti akan sehat... Dimas harus sehat," ucap Dika.
Pak Arthama tertegun mendengar ucapan Dika. "Kamu jangan mempersulit papa Dika. Jangan mengatakan hal-hal yang membuat papa tidak sanggup untuk jujur sama kamu," batin Pak Arthama.
"Tapi semua ada di tangan Tuhan. Kita hanya bisa ikhlas menerimanya..." ucap Pak Arthama.
"Dimas harus sehat... Dika udah seneng banget kita bisa tinggal sama-sama lagi. Dika bersyukur banget... Kalau Tuhan sampai ambil Dimas, sama aja Tuhan merenggut kebahagiaan Dika. Dika nggak sanggup jika harus pisah sama Dimas. Bahkan Dika nggak bisa bayangin kalau sampai hal itu terjadi..." ucap Dika.
Pak Arthama menghela nafasnya. "Sebenarnya papa mau bilang sesuatu sama kamu..."
"Apa?..."
"Maaf Dika.. sekarang papa harus pergi dulu. Ada urusan yang sangat penting. Kita jenguk Dimas nanti aja." Pak Arthama beranjak pergi.
"Urusan apa yang lebih penting dari Dimas?" ucap Dika kesal.
"Papa cuma pergi sebentar saja. Papa janji akan kembali secepatnya, papa janji. Papa harus pergi, maafkan papa..." Pak Arthama pun melanjutkan langkahnya.
"Pa..." ucap Dika namun Pak Arthama tetap beranjak pergi meninggalkannya.
...****************...
Saat ini Pak Arthama benar-benar merasa bingung dan dilema. Ia mengendarai mobilnya tanpa arah dan tujuan yang jelas.
"Aku harus apa sekarang?..."
Pak Arthama kemudian memilih untuk pergi ke makam Dimas. Di sana terlihat sudah ada Willy yang sedang berziarah. Willy duduk sambil memperhatikan makam Dimas dengan tatapan kosong. Bahkan ia sampai tak menyadari kedatangan Pak Arthama.
Pak Arthama memegang pundak Willy. "Willy..."
Willy pun merasa sedikit kaget karena tiba-tiba ada yang memegang pundaknya. "Om..."
"Sudah dari tadi?" tanya Pak Arthama.
"Lumayan om... Rasanya baru kemarin saya bersama Dimas, tapi sekarang dia sudah tidakk bersama kita lagi. Dimas pergi begitu cepat. Rasanya seperti mimpi..."
"Om bisa mengerti apa yang kamu rasakan... Om juga sangat merasa kehilangan. Dimas itu putra om, dia itu hidup om. Rasanya sangat hancur..."
"Om yang tabah..."
"Biar bagaimanapun semua sudah terjadi, ini sudah takdir. Kita hanya bisa menerimanya dengan ikhlas. Kita harus bisa merelakan kepergian Dimas agar di bisa beristirahat dengan tenang. Yang bisa kita lakukan sekarang hanya mendoakan Dimas."
"Iya, om benar... Tapi apa om sudah mengatakan yang sebenarnya sama Dika?"
"Belum..."
"Jadi sampai saat ini om belum jujur sama Dika. Tapi lebih baik om segera memberitahu Dika. Kalau tidak, Dika pasti sangat kecewa om..."
"Iya, om juga berpikir seperti itu..."
"Sudah hampir siang, saya pulang dulu om... Beritahu Dika secepatnya om..."
"Iya," balas Pak Arthama.
Willy pun pergi meninggalkan Pak Arthama.
"Dimas... Bagaimana cara papa mengatakan yang sebenarnya sama Dika?..." ucap Pak Arthama sembari mengusap batu nisan Dimas.
"Apapun yang sedang terjadi dan akan terjadi. Aku harus mengatakan yang sebenarnya pada Dika sekarang juga. Menunda hanya akan memperburuk semuanya," batin Pak Arthama.
"Papa pulang dulu Dimas..."
Pak Arthama kemudian langsung kembali pulang ke rumah.
...****************...
Dika yang sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Dimas memutuskan untuk duduk di teras depan rumah untuk menunggu kedatangan Pak Arthama. Dika merasa kesal dengan Pak Arthama karena Pak Arthama terus saja menunda-nunda untuk menjenguk Dimas. Selain itu Dika juga kesal dengan teman-temannya lantaran tidak ada satupun dari mereka yang mau mengantarnya untuk menjenguk Dimas. Ada saja alasan yang mereka miliki untuk tidak menghantar Dika.
Beberapa saat kemudian Pak Arthama pun datang, ia langsung menghampiri Dika yang duduk di teras rumah.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Pak Arthama.
Dika menjalankan kursi rodanya namun Pak Arthama langsung menghentikannya.
"Kita pergi sekarang pa!" ucap Dika.
Dika kembali berusaha menjalankan kursi rodanya namun Pak Arthama lagi-lagi menahannya.
"Dika Dika, tunggu dulu." Pak Arthama kemudian bersimpuh di depan Dika.
Pak Arthama menundukkan kepalanya karena ia tidak sanggup menatap Dika. "Sebelumnya papa mau minta maaf, maafkan papa Dika..."
"Minta maaf?" Dika merasa sangat bingung karena Pak Arthama tiba-tiba meminta maaf.
Pak Arthama menghela nafasnya. "Papa minta maaf karena papa selama ini sudah berbohong sama kamu. Papa berusaha melakukan yang terbaik untuk kamu... Sebenarnya..."
Dika memotong ucapan Pak Arthama. "Udahlah pa, Dika nggak perduli. Ceritanya nanti aja. Kita harus pergi jenguk Dimas sekarang."
"Dika.. kita akan mengunjungi Dimas sekarang. Tapi kita tidak akan pergi ke rumah sakit, kita akan pergi ke pemakaman."
Deg...
Seketika jantung Dika seperti berhenti. Raut wajahnya langsung berubah menjadi pucat. Perasaan kaget sekaligus takut bercampur aduk di dalam hatinya.
"Papa bicara apa sih?! Buat apa ke pemakaman?! Dimas ada di rumah sakit, jadi kita harus ke rumah sakit!" ucap Dika.
Walaupun pikirannya sudah jelas-jelas mengerti maksud dari perkataan Pak Arthama. Namun hatinya memilih untuk menolak hal tersebut. Pikiran dan hatinya berperang satu sama lain. Selagi Pak Arthama tidak mengatakan mereka ke pemakaman untuk berziarah ke makam Dimas, Dika masih sangat berharap kalau Dimas masih hidup.
"Tidak Dika, kamu harus bisa menerima kenyataan ini. Kakak kamu sudah meninggal..."
Mata Dika seketika memerah, matanya pun mulai berkaca-kaca. "Nggak mungkin! Papa bohong!"
"Papa tau ini berat buat kamu, papa juga merasakan hal yang sama. Tapi biar bagaimanapun ini sudah takdir, kita harus bisa ikhlas menerimanya."
Tangisan Dika pun tak tertahankan. Air mata mengalir di pipinya bak sungai. "Nggak!"
"Dika..." ucap Pak Arthama terpotong.
Dika langsung masuk ke dalam rumah dan Pak Arthama pun langsung menyusulnya. Dika pergi ke kamarnya, ia menutup pintu dengan penuh amarah.
Brakk...
"Dika, dengarkan papa dulu," ucap Pak Arthama.
Pak Arthama hendak masuk ke dalam kamar namun Amel menghentikan Pak Arthama.
"Biarin Kak Dika sendiri dulu pa..." ucap Amel dan dibalas anggukan oleh Pak Arthama.
...****************...
"Nggak mungkin aa.. Dimas aa a..." ucap Dika ditengah-tengah tangisnya.
Brak brak brakk....
Dika memukul-mukul kursi rodanya.
"Kenapa lo pergi? Kenapa?..."
...°...
...°...
...----------------...
...BERSAMBUNG...
...----------------...
...°...
...°...
...°...
...Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya yang berjudul "Berbeda"...
...Jangan lupa dijadiin fav yaaa🤭......
...Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya agar author jadi lebih semangat 🤗......
...Terima kasih 🙏💕......