
Sekitar pukul 6 sore Bryan langsung berangkat menjemput Widia yang sedang belajar kelompok di rumah temannya. Bu Asih, Pak Wahyu, dan Kakek Dharma sempat melarang Bryan untuk menjemput Widia saat itu karena Widia biasanya pulang sekitar jam 9 malam. Namun Bryan samasekali tidak menghiraukan perkataan kakek, ibu, ataupun ayahnya, ia tetap bersih keras pergi menjemput Widia saat itu.
Bryan pun sampai di rumah temannya Widia sekitar pukul 7 malam. Bryan langsung masuk ke dalam dengan diantarkan oleh pembantu di rumah tersebut. Di sana terlihat Widia tengah belajar bersama 2 orang temannya yang bernama Nita dan Santi.
"Bang Iyan?" Widia merasa sedikit kaget melihat kedatangan Bryan karena seharusnya Bryan tidak datang secepat ini. Widia sudah memberitahu Bryan jika ia akan pulang sekitar pukul 9 malam.
"Itu kakak lo Wid?" bisik Nita.
"Iya," balas Widia.
"Ganteng bangett..." bisik Santi.
Bryan pun menyapa Nita dan Santi dengan senyuman.
"Hai kak, aku Santi, temannya Widia," ucap Santi sambil menjulurkan tangannya memperkenalkan diri.
Bryan pun menyalami tangan Santi. "Aku Bryan."
"Aku Nita kak," ucap Nita sambil menjulurkan tangannya memperkenalkan diri.
Bryan kemudian menyalami tangan Nita. "Aku Bryan..."
"Sekarang kan masih jam 7, kenapa Bang Iyan udah di sini? Widia kan udah bilang kalau Widia pulangnya jam 9."
"Kakak khawatir sama kamu, jadi kakak langsung ke sini. Kakak mau tungguin kamu aja."
Nita dan Santi pun tertawa kecil.
"Ah, Bang Iyan malu-maluin aja. Widia nggak perlu ditungguin. Mendingan Bang Iyan sekarang keluar aja dulu, jalan-jalan. Nanti jam 9 ke sini lagi," ucap Widia.
"Kenapa kamu suruh Kak Bryan pergi? Biarin aja Kak Bryan di sini," ucap Nita.
"Tuh kan, temen kamu aja nggak keberatan kakak diem di sini," ucap Bryan.
"Iya, Kak Bryan diam di sini aja," ucap Santi.
"Kakak duduk di sana aja. Kalau kakak mau keliling juga nggak apa-apa. Terserah kakak mau diam di mana aja, anggap saja rumah sendiri," ucap Nita.
"Iya, makasi ya," ucap Bryan.
"Yah, terserah kalian aja deh..." ucap Widia.
Widia kemudian kembali mengerjakan tugasnya dan begitu juga dengan teman-temannya. Sementara itu Bryan duduk di sofa yang jaraknya cukup jauh dengan Widia dan teman-temannya.
"Lo beruntung banget ya Wid. Lo punya kakak yang perhatian seperti Kak Bryan," ucap Nita.
"Ah, dia terlalu berlebihan. Lo lihat kan dia sampai nungguin gue segala? Malu-maluin aja."
"Ih, ngapain malu? Malahan lo beruntung punya kakak kayak Kak Bryan," ucap Nita.
"Tadi lo ngapain sih suruh Kak Bryan pergi. Biarin aja dia di sini," ucap Santi.
"Dia di sini malah ganggu aja," ucap Widia.
"Mana ada ganggu? Malahan kita dapat pemandangan indah wkkwwk... Kapan lagi coba bisa lihat cogan lama-lama kayak gini?" ucap Santi.
"Tapi untung Kak Bryan tadi nggak jadi pergi dan mau diam di sini. Kakak lo ganteng banget," bisik Nita.
"Ah, biasa aja."
"Biasa apaan? Kalau gue lihat wajahnya itu bersinar wkwkwk..." ucap Nita.
Terlihat ekspresi bingung di wajah Widia. "Hah??..."
"Wajah kakak lo itu 11 12 sama Justin Bieber atau Zayn Malik," ucap Santi.
Widia pun tertawa mendengar ucapan Nita dan Santi. "Puftt wkwkwk... Nggak lah. Kalian itu berlebihan banget."
"Tadi pas salaman aja tangannya lembut banget. Pokoknya gue nggak mau cuci tangan gue." ucap Santi.
"Tapi ngomong-ngomong kakak lo udah punya pacar belum?" ucap Nita.
"Tapi sayangnya dia udah punya pacar wkwkwk..." ucap Widia.
"Yah, potek hati deh gue," ucap Nita.
"Wkwkwkwk...."
"Tapi nggak apa-apalah, yang penting sekarang gue bisa merhatiin Kak Bryan sepuasnya heheh..." ucap Nita.
"Lihat deh, caranya duduk aja keren banget," ucap Nita.
"Keren apaan? Sok cool begitu dibilang keren. Bagi gue biasa aja," ucap Widia.
"Ah, lo mah nggak tau cogan," ucap Santi.
"Uh, tampannya wkkwk..." ucap Nita.
"Udah ah, daripada kalian menghalu nggak jelas kayak gitu, lebih baik kita buat tugas aja."
"Iya iya..."
Widia dan teman-temannya kemudian kembali melanjutkan mengerjakan tugas mereka. Widia pun cepat-cepat menyelesaikan semua tugasnya. Widia ingin segera pulang karena ia merasa tidak nyaman karena Bryan menemaninya di sana.
Akhirnya Widia pun dapat menyelesaikan tugasnya pukul 8 malam. Ia kemudian segera mengajak Bryan untuk pulang.
*** di mobil
"Bang Iyan ngapain sih pake nemenin Widia segala?" tanya Widia.
"Abang khawatir sama kamu. Soalnya kamu belajarnya sampai malam."
"Widia udah biasa belajar kelompok sampai malam. Lagipula Widia cuma ke rumah Nita aja, Widia nggak pergi kemana-mana. Bang Iyan nggak perlu khawatir dan nggak perlu sampai tungguin Widia kayak tadi."
"Tadi kan kamu sendiri yang nyuruh kakak buat sama kamu terus. Makanya kakak tungguin kamu."
"Ah, Bang Iyan alasan aja. Bilang aja kalau emang Bang Iyan yang pengen nungguin Widia."
"Iya iya, kakak memang khawatir sama kamu. Kakak kepikirkan sama kamu terus."
"Tapi Widia bukan anak kecil lagi. Bang Iyan nggak perlu berlebihan seperti itu." Terlihat raut wajah Widia menunjukkan ekspresi kesal.
"Iya, lain kali kakak tidak akan seperti itu lagi..."
Widia samasekali tidak merespon ucapan Bryan. Bahkan ia juga tidak menatap Bryan, ia hanya memandang ke luar melalui jendela.
"Cara bicara Bang Iyan memang berubah, dia lebih lembut dan lebih dewasa. Tapi sikapnya ke gue samasekali nggak berubah, dia selalu menganggap gue anak kecil," batin Widia.
"Mungkin memang benar, gue yang terlalu berlebihan sama Widia," batin Bryan.
Widia melihat pasar malam. Pandangannya pun tertuju pada pasar malam tersebut. Widia samasekali tidak melepaskan pandangannya, bahkan ia pun sampai harus memandang ke arah belakang karena mobil yang ia kendarai sudah melewati pasar malam tersebut. Bryan yang mengetahui hal tersebut langsung memutar balik mobilnya.
"Kenapa balik?" tanya Widia.
"Kamu mau jalan-jalan ke pasar malam kan? Kita ke sana sekarang."
Seketika raut wajah Widia langsung berubah ceria. "Wah, Bang Iyan mau ngajak Widia jalan-jalan?"
"Iya, kita jalan-jalan sepuasnya."
"Widia udah lama nggak jalan-jalan ke pasar malam." Bibir Widia tak henti-hentinya menunjukkan senyuman. Ia merasa sangat senang, bahkan sekarang ia sudah sedikit pun tidak merasa kesal pada Bryan.
"Widia kelihatan seneng banget. Mudah-mudahan dia nggak marah lagi," batin Bryan.
...°...
...°...
...----------------...
...BERSAMBUNG...
...----------------...
...°...
...°...
...°...
...Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya yang berjudul "Berbeda"...
...Jangan lupa dijadiin fav yaaa🤭......
...Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya agar author jadi lebih semangat 🤗......
...Terima kasih 🙏💕......