Choco

Choco
Bryan Pulang



Terima kasih sudah mampir 😍...


Selamat membaca 💕...


°


°


°


°


°


Hari ini Bryan sudah pulang dari luar kota setelah mengikuti lomba olimpiade matematika. Sesampainya di rumah, Bryan mendapati keadaan rumah sangat sepi.


"Bi Sri, semua kemana? Kok sepi?" tanya Bryan pada salah satu pembantu.


"Ibu tadi bilang mau pergi kondangan. Kalau Bapak dan Tuan Dharma seperti biasa sedang di kantor. Di rumah hanya ada non Widia sedang tidur di kamarnya. Den Bryan mau saya buatkan minuman atau makanan?"


"Minta tolong buatin saya jus strawberry ya bik, gulanya sedikit aja. Nanti taruh di kamar saya ya bik."


"Baik Den."


"Makasih ya Bik."


"Sama-sama den."


"Eh, tunggu dulu bik," ucap Bryan mencegah Bi Sri pergi.


"Iya, ada apa den?"


Bryan mengambil beberapa baju kaos dan jaket dari dalam kopernya. "Ini bik, saya punya oleh-oleh buat bibi dan yang lainnya. Minta tolong kasi ke yang lain juga ya bi."


"Baik den, terima kasih banyak Den." ucap Bi Sri sambil tersenyum senang.


"Iya, sama-sama bik."


Bryan pun mencari Widia ke kamarnya, terlihat Widia sedang tertidur lelap bersama kucing peliharaan Bryan yang Bryan beri nama Katty.



"Widia, Widia..." gumam Bryan sambil tersenyum melihat Widia yang sedang tertidur.


Bryan pun langsung membangunkan Widia. "Oi... bangung..."


"Heum..." ucap Widia sembari merenggangkan badannya.


Widia pun terbangun, begitu juga dengan Katty yang juga ikut terbangun dan langsung turun dari kasur. Bryan langsung mengambil dan menggendong Katty yang hendak pergi.


"Heh! Lo mau kemana?" ucap Bryan pada Katty.


"Bang Iyan udah pulang... Gimana bang lombanya?"


"Juara 1 dong...." ucap Bryan sambil tersenyum bangga.


"Songong banget!"


"Yee... biarin.. wkwkwk..."


"Ya udah, selamat deh buat abang," ucap Widia kemudian kembali tertidur.


"Yah, tidur lagi. Bangun! udah jam 4 nih." Bryan menarik tangan Widia hingga Widia kembali terbangun dan duduk.


"Paan sih bang?"


"Bangun napa, tidur terus. Udah sore masih aja pake baju sekolah. Ganti dulu sana bajunya, jorok banget."


"Gue juga kecapekan gara-gara ngurus peliharaan abang. Makanya kalo Pak Ahmad libur, abang cariin pengganti sementara buat urusin hewan peliharaan abang yang banyak banget kayak kebun binatang itu."


"Heheh... iya deh, lain kali abang cari pengganti sementara Pak Ahmad. Makasih ya, udah jagain peliharaan abang. Nih, sebagai ucapan terima kasih abang, abang beliin kamu cokelat." Bryan memberikan Widia box yang berisi berbagai macam jenis cokelat.


"Waah, makasi ya bang." Widia yang sangat senang mendapatkan cokelat dari Bryan, langsung memakan salah satu cokelat tersebut dengan lahap.


"Ya ampun, rakus banget... Ganti baju sana, jorok banget."


"Iya, habis makan 1 cokelat lagi langsung ganti baju."


"Ganti baju dulu baru makan!" Bryan langsung mengambil box yang berisi cokelat tersebut.


"Kebaliin!" Widia mencoba mengambil box yang berisi cokelat tersebut, tetapi Bryan tetap tidak mau memberikan box tersebut pada Widia.


"Ganti baju nggak!"


"Iya, iya... Kembaliin dulu tapi cokelatnya."


"Janji ganti baju?!"


"Iyaaa..."


Bryan meletakkan box tersebut diatas meja. "Nih, awas nggak ganti!" Bryan kemudian berjalan pergi.


"Iya, iyaa... Bawel banget."


Bryan membalikan badannya. "Dasar jorok," ucap Bryan sambil menjulurkan lidahnya mengejek Widia.


Widia mengambil bantal dan melemparkannya pada Bryan, namun Bryan berhasil menghindar.


"Bryan yang juga lelah karena mengikuti lomba olimpiade matematika langsung menuju kamarnya dan tidur.


...** * * * * * * * *...


Sore harinya Dika mengunjungi Widia sambil membawa anjing peliharaannya Moza yang ditemukannya di pasar bersama Widia waktu itu. Baru sampai di depan rumah, Dika berpapasan dengan Bu Asih yang baru datang dari kondangan.


"Datang dari mana bu?" tanya Dika


"Ibu datang dari kondangan. Anak temen ibu menikah. Mau cari Widia ya?"


"Iya buk."


"Yuk masuk."


Bu Asih pun mengajak Dika masuk ke dalam rumah.


"Widia... Widia... Widia..." teriak Bu Asih. Sudah beberapa kali Bu Asih memanggil Widia, namun tetap saja tidak ada yang menjawabnya.


"Kamu nggak ada nelpon Widia?" tanya Bi Asih.


"Ada buk, tapi handphonenya nggak aktif."


"Kebiasaan banget si Widia."


"Widia dimana bi?" tanya Bu Asih pada Bi Sri yang kebetulan lewat.


"Tadi sedang tidur bu. Sekarang saya kurang tau, dari tadi saya sedang mencuci baju."


"Baik bi, makasi ya bi."


"Iya bu."


"Kamu cari aja Widia di atas, ibuk mau ganti baju dulu. Ibuk habis ini mau jenguk teman ibu yang sedang sakit." ucap Bu Asih pada Dika.


"Iya buk," Dika pun langsung naik ke atas mencari Widia.


"Tumben gue naik ke atas, setelah Bryan pindah rumah, gue cuma pernah sampai depan doang. Kamar Widia yang mana ya? Lupa gue nanya sama ibuk," batin Dika.


Langkah Dika terhenti di depan sebuah kamar yang terbuka. Dari luar, kamar tersebut terlihat berantakan dan banyak dekorasi keren seperti kamar laki-laki. "Gila! berantakan banget. Ini pasti bukan kamar Widia. Ish, ish... Bryan jorok banget."


Dika menutup pintu kamar tersebut dan kemudian pergi ke kamar yang ada di samping. Sudah beberapa kali Dika mengetuk pintu, namun tidak ada respon. Karena pintu kamar tersebut tidak terkunci, Dika pun memutuskan untuk langsung masuk. Di dalam kamar, terlihat seseorang sedang tertidur pulas di balik selimut.


"Tidur mulu ni bocah, kasihan kalo di bangunin," gumam Dika.


Dengan hati-hati Dika naik keatas kasur dan berbaring di samping orang tersebut. Sejenak Dika menatap orang yang tidur membelakanginya tersebut, Dika kemudian membalikan badannya membelakangi orang tersebut. Lama kelamaan Dika juga ikut tertidur. Beberapa saat kemudian orang tersebut berbalik dan memeluk Dika yang sedang tertidur dari belakang.


...* * * * * * * * * * *...


"Oi..." ucap Widia.


Perlahan Dika membuka matanya. Dika yang setengah sadar samar-samar melihat Widia sedang berdiri di depan pintu.


"Hem..." ucap Widia sambil menahan tawa.


"Lah! siapa yang meluk gue?!" batin Dika. Dika langsung melempar tangan orang tersebut dan kemudian berbalik. Dika terkejut melihat orang yang disampingnya adalah Bryan, begitu juga dengan Bryan yang terkejut karena baru membuka mata sudah melihat Dika di sampingnya.


"Lo ngapain peluk-peluk gue?!" Dika melepar bantal kepada Bryan.


Bryan juga membalas Dika dengan melempar bantal kepada Dika. "Lo yang ngapain tidur di kamar gue?!"


"Bukannya lo lagi olimpiade matematika? Kenapa bisa ada disini? Gu-gue kira ini kamar Widia."


"Ooo jadi lo mau tidur di kamar adek gue?! Enak aja lo!" Bryan langsung mendorong Dika. Dika pun terjatuh karena berada di pinggir kasur.


"Main dorong-dorongan aja lo! Lagian gue cuma mau rebahan doang, nggak ngapa-ngapain." Dika langsung berdiri dan naik ke atas kasur. Terjadilah pergulatan antara Dika dan Bryan.


"Wkwkwkwk..." Widia hanya tertawa karena melihat kelakuan konyol Bryan dan Dika. Widia pun memilih untuk pergi dan membiarkan mereka bergulat.


•••••••••••••••


BERSAMBUNG


°


°


°


°


°


Sambil nunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya judulnya "Berbeda"



Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...


Saya penulis pemula, jadi maaf jika ada banyak kesalahan dalam novel ini✌️...


Jika ada kritik dan saran mohon disampaikan, karena itu sangat bermanfaat dan berharga bagi saya😊...


Terima kasih 🙏💕...