
Pagi hari Dimas dan Willy menemui Widia di sekolah.
"Eh Kak Dimas, Kak Willy," sapa Widia yang melihat Dimas dan Willy menghampirinya.
"Widiaa..." Willy mencubit pipi Widia.
"Kak Willy... Sakit tau..." Widia tertawa sambil mengusap pipinya.
"Iya, iya... Abis sih pipi kamu tembem, bikin kakak gemes aja."
"Hebat baget ya kamu, bisa bikin Willy si gunung es berubah," ucap Dimas pada Widia.
"Biasa aja kali kak."
"Iri aja lo Dim!" ucap Willy dengan nada bercanda pada Dimas.
"Oh ya Widia, nanti malam kamu dateng ya ke acara ulang tahun ku, jangan lupa ajak Intan juga, ini undangannya." Dimas memberikan undangan pada Widia.
"Iya kak Dimas, Widia besok pasti dateng."
"Makasi ya Widia, kita duluan ya, mau kasi undangan ke yang lain."
"Iya kak."
Dimaspun pergi meninggalkan Widia.
"Ini buat kamu." Willy memasukan coklat ke kantong Widia.
"Makasi ya kak."
"Iya sama-sama. Kakak tinggal dulu ya." Willy kemudian pergi menyusul Dimas.
*********
Sesampai di kelas Widia memberikan undangan itu pada Intan. "Tan, ini ada undangan ulang tahun dari kak Dimas."
Intan terlihat sangat senang mendapat undangan dari Dimas. "Waah... yang bener Wid?. Aku diundang?."
"Iyalah bener, masak boong. Besok kesananya bareng yuk Tan?."
"Sip lah Wid..."
"Seneng banget rasanya diundang sama kak Dimas," ucap Intan dalam hati.
Tiba-tiba seisi kelas menjadi hening karena semua perhatian tertuju pada Dika yang masuk ke kelas 10 IPA 1.
"Waah lihat deh itu kembarannya Kak Dimas... Kak Dika masuk ke kelas kita," bisik seorang siswi ke temannya.
"Iya, gila... ganteng banget..." bisik temannya.
"Ya ampun... Pangeran bervespa putih gue..." gumam Monica yang bengong menatap Dika.
"Gak usah lebay gitu kali Mon," bisik Clara pada Monica.
"Tapi Kak Dika emang beneran ganteng banget..." ucap Clara dalam hati.
"Si Dika ngapain kesini sih?. Tebar pesona aja ni bocah," ucap Widia dalam hati.
Dikapun menghampiri Widia dan duduk diatas bangkunya. "Nyet, lo punya kalkulator nggak?."
"Punya," jawab Widia jutek.
"Lo pakek ngga?. Pinjem dong, gue ulangan sekarang."
Widia mengambil kalkulator dari dalam tas dan memberikannya pada Dika. "Ini... lo cepet pergi, tebar pesona aja lo," bisik Widia.
"Cemburu ni?" ucap Dika dengan senyuman jahilnya.
"Pergi nggak!."
"Iya, iya... daa..." Dikapun pergi keluar kelas.
"Dia sebenernya siapa sih Wid?. Pacar lo ya?" tanya Adit.
"Nggak lah."
"Ooh, gue kira pacar lo. Soalnya kalian kelihatan akrab banget."
"Dika itu cuma temen gue Dit."
"Syukur deh dia bukan pacarnya Widia, berarti gue masih ada kesempatan," ucap Adit dalam hati.
*********
Jam pulang sekolah Widia mencari Dika ke kelasnya.
Dika yang baru keluar dari kelas melihat Widia menunggunya di depan kelas. "Lo ngapain Nyet?. Nungguin gue yaa..."
"Ish... siapa yang nungguin lo, gue cuma mau minta kalkulator gue aja."
"Ini kalkulator lo, makasi ya. Maaf lama, soalnya dari tadi kepake terus." Dika memberikan kalkulator pada Widia.
"Iya sama-sama." Widia mengambil kalkulatornya dan kemudian pergi.
Dika menyusul Widia. "Lo mau kemana?. Pulang sama gue ya?."
"Gue nggak mau pulang."
"Lah, terus mau kemana?"
"Mau beli baju."
"Gue anter ya... mau ya Nyet..."
"Ya udah deh, sekalian bantuin gue milih ya."
"Siap."
Dikapun menghantar Widia membeli baju ke mall.
"Ada acara apa beli baju Nyet?" tanya Dika sambil memilih-milih pakaian.
"Nanti malem kan ulang tahunnya Kak Dimas," jawab Widia yang juga memilih-milih pakaian.
"Ooh gue kira apa."
"Lo ntar ulang tahun juga kan?."
"Nggak, ulang tahun gue besok. Gue beda sehari sama Dimas." Walaupun mereka kembar, ulang tahun Dika memang beda satu hari dengan Dimas, karena Dimas lahir pukul 23.50 sedangan Dika pukul 24.20.
"Ooh... gitu toh. Ntar lo dateng ngga ke ulang tahunnya Kak Dimas?."
"Ya udah kalo gitu, besok kita rayain ulang tahun lo sama-sama."
Mendengar perkataan Widia membuat Dika senang. "Yang bener?. Janji ya Nyet."
"Iya gue janji."
"Tapi lo niat banget ke ulang tahunnya Dimas, pake beli baju segala."
"Ya gue nggak punya baju Dik, udah pada kusam."
"Udah, gak usah ribet-ribet, lo pake baju biasa aja udah cukup. Lo mau pake baju robek juga tetep cantik di mata gue."
Widia tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Hadeh... jangan banyak bicara, bantu gue milih napa."
"Iya, ini juga lagi milih."
"Dika, kalo yang ini gimana?." Widia menunjukan dress berwarna putih pada Dika.
"Bagus... tapi yang ini menurut lo gimana?." Dika menunjukkan dress selutut berwarna biru dongker.
"Bagus sih... tapi yang ini aja deh."
"Emang lo nggak suka yang ini?."
"Bukannya ngga suka Dik, tapi harganya mahal banget."
"Ngga apa-apa kalo lo suka ambil aja, gue yang bayar."
"Ngga usah, gue beli yang ini aja."
"Yang ini aja, gue tau lo lebih suka yang ini."
"Lo kok maksa sih!. Nggak mau gue!."
Dika memandang malas Widia. "Ambil ngga!."
"Ngga usah Dikaa..."
"Kabulin permintaan gue sekali aja kenapa sih, gue cuma mau lihat lo pake baju pilihan gue."
"Iya deh, gue coba ya." Widiapun mencoba pakaian pilihan Dika.
"Gila... baru dandan segitu aja Widia udah cantik banget, bisa meleleh gue," pikir Dika yang melihat Widia mengenakan baju pilihannya.
"Lo kenapa bengong?. Nggak cocok ya?" tanya Widia yang melihat Dika bengong menatapnya.
"Bukan gitu, tapi lo cantik banget." Dika mengambil tangan Widia dan menempelkan tangan Widia di pipinya. "Sampe panas dingin gue Nyet," ucap Dika dengan tatapan terpesona pada Widia.
Widia mendorong pipi Dika. "Dasar gombal!."
"Nggak kok lo emang cantik."
"Udah, mending kita bayar bajunya, biar bisa cepet pulang."
"Ngga mau makan dulu?. Biar gue yang traktir."
"Ngga usah, ibuk gue udah masak. Gue mau pulang aja."
"Ya udah kalo gitu."
Merekapun membayar pakaian itu ke kasir.
"Tuan Dika tumben kesini," kata mbak kasir.
"Nggak usah panggil tuan kali mbak, panggil Dika aja."
"Tapi sayanya yang jadi ngga enak sama Tuan Dika."
"Santai aja sama saya Mbak."
"Iya mas Dika."
"Ngga panggil mas juga kali mbak, saya kan masih SMA. Panggil adek aja."
"Iya Dek Dika."
Widia tertawa "Wkwk... Dek Dika konon..."
Dika mengerutkan alisnya. "Malah ketawa ni bocah, apanya yang lucu sih?."
"Lagian sih lo, masak Dek Dika. Tampang lo emang udah kayak mas-mas, terima aja napa... Tapi kok tadi mbak ini manggil lo Tuan sih Dik?."
"Mbak nggak tau ya kalo Dek Dika ini anak pemilik mall ini mbak," ucap mbak kasir pada Widia.
"Yang bener mbak?. Mall sebesar ini punya Dika?" tanya Widia yang terlihat tidak percaya pada mbak kasir.
"Bukan punya gue, tapi punya papa gue," jawab Dika.
"Bukan mall ini aja mbak, Perusahaan Arthama Group juga milik Tuan Arthama, papanya Dek Dika," kata mbak kasir.
"Ternyata lo orang kaya ya Dik. Tapi kok anak sultan modelannya kayak gini sih." Widia menatap Dika dari atas ke bawah.
"Ya ampun, lo jangan bilang kayak gitu. Kegantengan gue ini nggak perlu diragukan lagi," ucap Dika dengan pedenya.
"Ini mbak belanjaannya." Mbak kasir memberikan belanjaan pada Widia.
"Jangan panggil mbak juga kali mbak, saya ini masih SMA, panggil adek aja."
Dika menahan tawa. "Hufp... Ngarep..."
"Yee biarin..."
Dika mengeluarkan uang dari dompetnya dan membayar belanjaan. "Ini mbak uangnya, maaf ya uang receh."
"Ngga apa-apa Dek Dika, Dek Dika ini emang rendah hati ya. Biasanya kalau keluarga Arthama belanja keseni ngga pernah bayar, ini baru Dek Dika aja yang bayar."
"Iya dong mbak, saya ini kan tidak sombong, baik hati, dan rajin menabung mbak."
"Pede banget ni bocah... Tebar pesonanya udahan aja, tuh lihat masih banyak yang ngantri." Widia pun mengajak Dika pergi.
°
°
°
Jangan lupa like, komentar, dan ratenya ya kakak 🤗...
Terima kasih 🙏💕...