Choco

Choco
Mandiri



Pukul 06.30 pagi


Tok tok tok...


Bryan mengetuk pintu kamar Widia. Karena tidak ada jawaban samasekali, Bryan pun memutuskan untuk membuka pintu kamar Widia.


"Widia..."


Bryan memperhatikan sekeliling kamar yang sudah terlihat rapi dan di sana tidak ada keberadaan Widia.


"Widia nggak ada. Ternyata Widia udah bangun. Kamarnya juga udah rapi. Biasanya jam segini dia masih tidur. Kenapa dia bangun sepagi ini?" batin Bryan.


Bryan kemudian memutuskan untuk mencari Widia. Akhirnya ia berhasil menemukan Widia yang sedang memasak di dapur bersama dengan asisten rumah tangga.


"Kamu.. kamu masak?" tanya Bryan.


Bryan merasa heran pada Widia karena Widia yang biasanya untuk bangun tidur saja harus dibangunkan sekarang malah bisa bangun lebih awal darinya dan bahkan saat ini Widia sedang memasak.


"Iyalah, kan Bang Iyan lihat sendiri Widia lagi goreng ayam. Sebentar lagi ayamnya matang," ucap Widia.


Widia memperhatikan ayam yang sedang digoreng oleh Widia. Ayam itu terlihat begitu lezat dan aromanya pun juga sangat sedap. Bahkan Bryan sampai-sampai menelan ludahnya beberapa kali.


"Aromanya enak banget... Tunggu tunggu, kamu bangun sepagi ini dan kamu masak. Apa akan ada acara di rumah kita? Atau kamu masak khusus untuk kakak?" ucap Bryan.


"Wkwkwk... Bang Iyan pede banget. Widia nggak masak khusus buat Bang Iyan. Di rumah kita juga nggak lagi ada acara."


"Terus ngapain kamu masak? Biarin aja mbak yang masak, dia kan udah biasa masak sendirian."


"Setiap pagi kalau ada waktu adik kamu memang sering masak," ucap Bu Asih yang baru datang.


"Eh, ibu udah selesai mandi," ucap Widia.


"Jadi Widia emang sering masak?" tanya Bryan.


"Iya, masakannya enak loh. Kamu harus cobain," ucap Bu Asih.


"Bryan jadi penasaran sama masakan Widia," ucap Bryan.


"Oh ya, ini sayurnya udah matang bu," ucap Widia.


"Kalau begitu ibu bawa ke meja makan ya," ucap Bu Asih.


"Iya bu," balas Widia.


Bu Asih pun membawa beberapa hidangan ke meja makan.


"Tadi kakak baru aja mau bangunin kamu. Tapi ternyata kamu udah bangun dan kamar kamu udah rapi. Kakak juga nggak nyangka sekarang kamu bisa masak," ucap Bryan.


"Bisa dong bang."


"Padahal dulu kamu bangun aja kesiangan. Kakak setiap pagi harus bangunin kamu dan paksa kamu buat bersihin kamar. Tapi sekarang kamu sudah bisa mandiri, kakak bangga sama kamu."


"Widia kan udah besar, harus bisa mandiri. Masak terus-terusan mau kayak dulu..."


"Iya, kamu benar."


"Akhirnya matang juga." Widia memindahkan ayam goreng tersebut ke atas piring.


"Kakak boleh cicipi nggak?"


"Boleh."


Bryan kemudian mencicipi masakan Widia. Bryan pun bengong setelah mencicipi makan tersebut.


"Kenapa? Nggak enak ya?" tanya Widia.


"Ini enak banget!"


Bryan kembali memakan masakan buatan Widia. Widia pun merasa senang karena Bryan menyukai masakannya. Bryan terlihat sangat menyukai masakan buatan Widia, ia memakannya lagi dan lagi. Tiba-tiba Widia mengambil ayam goreng tersebut.


"Loh, kok diambil?" ucap Bryan.


"Bang Iyan makannya banyak banget. Katanya mau nyobain, tapi malah sarapan."


"Tapi kakak boleh nyobain sedikit lagi yah?"


"Nggak," balas Widia.


"Kamu sama abang sendiri aja pelit."


"Kalau mau makan, nanti di meja makan aja," ucap Widia sambil berjalan keluar dapur.


"Dasar adek pelit..." teriak Bryan namun Widia tetap tidak menghiraukannya.


"Widia sekarang jadi lebih mandiri..." batin Bryan.


...****************...


Setelah selesai makan, Widia seperti biasa membantu-bantu mencuci peralatan makan di dapur.


"Wihh.. rajin banget," ucap Bryan yang baru datang.


"Widia kan emang rajin dari dulu. Bang Iyan aja yang nggak sadar."


"Rajin konon... Oh iya, hari ini kita mau jalan-jalan kemana?"


"Kayaknya hari ini Widia nggak bisa jalan-jalan. Widia mau bersih-bersih, baju Widia numpuk, banyak yang belum disetrika."


"Minta tolong mbak aja buat setrika."


"Nggak ah, Widia udah biasa setrika sendiri."


"Terus setelah cuci piring kamu mau ngapain?"


"Widia mau ke kandang bebek. Mau ngurus bebek-bebek."


"Kalau gitu kakak ikut."


"Beneran Bang Iyan mau ikut?"


"Iya, kakak dari dulu nggak pernah ke kandang bebek kamu."


"Ya udah, sebentar lagi Widia selesai cuci piring. Setelah ini kita langsung ke sana."


"Sekarang kakak langsung ganti baju. Setelah itu kakak tunggu di mobil."


Bryan hendak pergi namun Widia mencegahnya.


"Heh!" ucap Widia.


"Apa?"


"Ngapain naik mobil? Kita naik motor aja. Mau ngangon bebek aja kok pake naik mobil segala. Bang Iyan ada-ada aja wkwkwk..."


"Ya.. kan biar nggak kepanasan."


"Udah, naik motor aja."


"Iya iya..."


...🦆🦆🦆🦆🦆🦆🦆🦆🦆...


Akhirnya Bryan dan Widia sampai di kandang bebek. Bryan memperhatikan sekeliling kandang yang berisi banyak bebek.


"Kamu ngapain lihatin kakak kayak gitu?"



Bryan merasa bingung karena Widia menatapnya sembari senyum-senyum.


"Widia ngerasa lucu aja. Tumben Widia lihat orang mau ngurus bebek pakai pakaian bagus kayak Bang Iyan. Bang Iyan yang biasanya kerja kantoran dan jadi seorang bos sekarang mau ngurus bebek. Emangnya Bang Iyan bisa."


"Bisa lah, kamu jangan remihin abang kamu ini. Kamu lihat aja nanti, kalau soal ngurus bebek mah kecil."


"Dih, pede banget wkwkwk..."


"Tapi ternyata bebek kamu banyak banget. Kakak baru pertama kali ke sini," ucap Bryan.


"Iya, Dika pelihara bebek udah sejak dia kelas 3 SMP, makanya bisa sebanyak ini. Widia cuma bantu nerusin usaha dia aja."


"Iya sih, udah lama. Tapi kakak salut loh, kalian masih nerusin usaha ini dan bisa bertahan sampai sekarang."


"Sayang kalau nggak diterusin."


"Sekarang kita ngapain nih?"


"Ini kangkung dapat dari mana?"


"Ini Pak Budi yang beli. Dia yang bantu-bantu ngurus bebek kalau Widia lagi sibuk."


"Ooh... Ya udah kakak bantuin." Bryan kemudian membantu Widia memotong kangkung.


"Bang," ucap Widia.


"Apa?"


"Kenapa motong kangkungnya kecil-kecil gitu? Kayak potong bawang aja wkwkwk... Kalau kayak gitu bisa sampai besok motongnya."


"Ini biar kangkungnya mudah diproses. Kalau kecil-kecil kan jadi lebih mudah dicerna."


"Ah, nggak ada kayak gitu, Bang Iyan jangan aneh-aneh. Bang Iyan sok tau aja. Potongnya kayak Widia aja, Widia udah biasa kasi makan bebek."


"Tapi kan..."


"Udah udah, Bang Iyan campurin kangkung yang udah dipotong sama pakan bebek aja. Ini biar Widia yang lanjutin."


"Kangkung sama pakan bebek itu?" tanya Bryan.


"Baunya aneh banget," batin Bryan.


"Iya."


"Terus sendoknya di mana?"


"Buat apaan?"


"Ya buat ngaduk."


"Ngapain pakai sendok? Ngaduknya itu pakai tangan."


"Hah? Pakai tangan?"


"Iya tangan."


"Kenapa pakai tangan? Pakai sendok kek, atau kayu."


"Ngaduknya emang pakai tangan. Eleh, kan udah Widia bilang, Bang Iyan itu nggak bisa ngurus bebek."


"Nggak, kakak bisa kok. Kakak akan campurin pakan bebeknya."


Bryan kemudian mencampur kangkung yang sudah dipotong dengan pakan bebek.


"Ini udah selesai," ucap Bryan.


"Sekarang Bang Iyan kasi makan bebeknya. Itu tempat makan bebeknya di tengah-tengah kandang."


Bryan memperhatikan tempat makan bebek yang berada di tengah-tengah kandang bebek. Di dalam kandang tersebut terdapat bebek yang sangat banyak.


"Nggak salah aku harus ke tengah-tengah kadang itu? Mana bebeknya banyak lagi," batin Bryan.


"Kenapa bengong?" tanya Widia.


"Iya, ini juga mau ke sana."


Bryan kemudian berjalan ke dalam kandang bebek. Bryan menutup hidungnya karena ia tidak tahan dengan bau di kandang tersebut.


"Widia..." ucap Widia.


"Hmm..."


"Ini bau banget..."


"Iya lah bau, orang isi t*i bebek. Bebeknya kan berak."


"Ya ampunn... Bau bangett..."


"Udah nggak usah ngeluh."


"Siapa yang ngeluh? Orang kakak cuma bilang kenyataannya aja."


"Wkwkwk... jalani aja."


Widia tertawa kecil melihat Bryan. "Lucu banget lihat Bang Iyan ngurus bebek," batin Widia.


Brugg...


Tiba-tiba pakan bebek yang dibawa Bryan jatuh dan memenuhi kakinya. Sontak saja bebek-bebek berdatangan menyerbu kaki Bryan.


"Aaaaa..." teriak Bryan.


"Buakakakakak..." Bukannya merasa perihatin, Widia malah tertawa melihat Bryan yang dikerumuni bebek.


"Hush hush... Pergi!..."


Bryan terlihat sangat ketakutan. Ia kemudian berusaha untuk keluar dari kandang namun ia malah terjatuh. Bebek-bebek pun masih mengerumuni Bryan.


"Berhentiii! Jangan patuk-patuk lagi! Aku ini bos!" teriak Bryan.


"Wkwkkwk mau jadi bos, mau jadi mentri, bebek-bebek itu akan tetep nyosor kaki Bang Iyan kalau di kaki Bang Iyan isi makanan bebek."


Bryan kemudian bangun dan pergi keluar dari kandang bebek.


"Wkwkwk..." Widia terus saja tertawa melihat ekspresi ketakutan di wajah Bryan.


Bryan menatap malas pada Widia. "Abangnya lagi kesusahan malah diketawain..."


"Wkkwkwk tapi ekspresi Bang Iyan itu lucu banget. Widia sampai nggak tahan wkwkwk..."


Bryan tetap menatap Widia dengan tatapan malas.


"Iya iya, Widia minta maaf. Jangan cemberut kayak gitu lagi yaa..." ucap Widia sambil mencubit pipi Bryan.


"Awas ketawa lagi."


"Iya... Yuk kita bersihin celana Bang Iyan yang kotor."


"Dimana?"


"Di dekat sini ada kali."


"Ah, kamu ada-ada aja. Masak di kali."


"Kali di sini bersih bang, udah gitu gede lagi. Coba aja Bang Iyan ke sana, pasti Bang Iyan pengen nyebur."


"Nggak usah, kakak cuci sampai rumah aja... Sekarang kita ngapain nih?"


"Kita ngangon bebek ke kali."


"Ya udah, ayok..."


...°...


...°...


...Ya amponnn 😵...


...Author butuh semangat 🤧...


...°...


...----------------...


...BERSAMBUNG...


...----------------...


...°...


...°...


...°...


...Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya yang berjudul "Berbeda"...


...Jangan lupa dijadiin fav yaaa🤭......


...Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya agar author jadi lebih semangat 🤗......


...Terima kasih 🙏💕......