
Terima kasih sudah mampir 😍...
Selamat membaca 💕...
°
°
°
°
°
Tok... tok... tok...
Pak Arthama mengetuk pintu kamar Dika.
"Dika... ini papa..." ucap Pak Arthama.
Karena tidak ada respon dari Dika dan kebetulan pintu kamar Dika tidak terkunci, Pak Arthama pun langsung memasuki kamar Dika. Di dalam kamar terlihat Dika sedang sibuk mengobati memarnya.
Pak Arthama pun duduk disamping Dika. "Memar kamu gimana Dika?"
"..." Dika tidak menjawab pertanyaan Pak Arthama dan tetap sibuk mengobati memarnya.
"Dika..." ucap Pak Arthama. Pak Arthama mencoba menyetuh memar di pipi Dika.
Dika menepis tangan Pak Arthama. "ish!... papa apa-apaan sih?!"
"Papa cuma mau lihat memar kamu."
"Buat apa?! Toh, papa nggak percaya sama Dika!"
"Maafin papa, papa salah. Seharusnya papa percaya sama kamu... Papa janji, papa akan cari siapa yang sudah melakukan semua ini sama kamu."
"Nggak usah pa."
"Kenapa?"
"Sebenarnya papa belum dengar cerita yang sebenarnya. Sebenarnya Dika nabrak dia pa, mungkin dia marah, makanya dia mukulin Dika," jelas Dika.
"Emang kamu nggak minta maaf?"
"Dika baru keluar dari mobil dan belum sempat minta maaf, dia malah langsung bangun dan mukulin Dika. Hmm... jangan marah ya pa."
"Papa nggak akan marah, papa percaya sama kamu. Lain kali kamu hati-hati."
"Iya pa."
Karena pintu kamar Dika terbuka, Dimas yang tidak sengaja lewat di depan kamar Dika melihat Pak Arthama dan Dika mengobrol.
"Lagi-lagi rencana gue gagal bikin papa benci lagi sama Dika," batin Dimas. Dimas pun langsung pergi karena merasa kesal melihat keakraban Pak Arthama dengan Dika.
"Papa mau nanya sama kamu."
"Nanya apaan pa?"
"Kamu kenal baik kan sama anaknya Om Wardana?"
"Aulia?"
"Iya."
"Dika kenal baik sama dia. Sejak kecil Dika sama dia kan sering main bareng."
"Menurut kamu dia orangnya gimana?"
"Dia orangnya baik, pinter, ceria..."
"Apa kamu suka sama dia?"
"Hmm... maksud papa apa nanya kayak gitu?"
"Papa sama Om Wardana sudah bersahabat sejak lama, papa udah anggap Aulia seperti anak papa sendiri. Papa cuma mau tau aja perasaan kamu gimana ke Aulia."
"Dia sahabat perempuan Dika yang paling dekat, Dika sayang sama dia."
Pak Arthama pun tersenyum mendengar ucapan Dika. "Habis obatin luka, kamu langsung siap-siap. Kita ada acara makan malam bersama keluarga Wardana," ucap Pak Arthama.
"Dalam rangka apa pa?" tanya Dika.
"Sejak keluaga Wardana pindah ke luar negeri, kita kan jarang ketemu sama mereka. Papa cuma mau menjalin silaturahmi dengan keluarga Wardana."
"Ooh... iya pa."
Pak Arthama mengusap kepala Dika dan kemudian pergi meninggalkan kamar Dika.
"Maafin Dika pa, Dika nggak mau buat papa khawatir... Orang yang ngeroyok gue pasti udah ngerencanain semua ini dari awal. Pasti ada orang yang sengaja ngelakuin semua ini," batin Dika.
* * * * * * * * * *
Keluaga Arthama diantaranya Pak Arthama, Dimas, dan Dika mengadakan acara makan malam bersama keluarga Wardana, diantaranya Pak Wardana, Bu Ami, dan Aulia. Selesai makan malam mereka pun berbincang-bincang santai.
"Sudah lama sekali kita tidak berkumpul seperti ini," ucap Pak Wardana.
"Kita bersahabat sudah sangat lama, tentu saja kita harus tetap menjaga hubungan baik ini," ucap Pak Arthama.
"Bagaimana dengan yang tadi siang kita bicarakan?" tanya Pak Wardana.
"Tentu saja saya sangat setuju dengan perjodohan tersebut. Hubungan kita akan menjadi lebih erat dengan adanya perjodohan tersebut. Sekarang tinggal kita tanyakan pada anak-anak saja."
"Perjodohan?... bukannya Aulia nggak setuju sama perjodohan itu?... Tapi bagus deh, Dimas nggak ganggu gue sama Widia lagi," batin Dika.
"Akhirnya mereka bicarain ini juga," batin Dimas.
"Apa keputusan gue bener dengan ikutin saran Dimas buat setuju dan lanjutin perjodohan ini? Kok gue jadi deg-degan..." batin Aulia.
"Bagaimana Dika?" tanya Pak Arthama.
"Bagaimana apanya pa?" ucap Dika bingung.
"Apa kamu setuju dengan perjodohan ini?" tanya Pak Arthama.
Mendengar pertanyaan Pak Arthama membuat Dika terkejut. "Kenapa nanya ke Dika? Bukannya Dimas yang mau dijodohin?"
"Maaf pa, om, tante... Saya minta maaf sebesar-besarnya, saya tidak bisa menerima perjodohan ini."
"Kenapa? Dengan adanya perjodohan ini hubungan diantara keluarga kita akan semakin erat," ucap Pak Arthama.
"Ayolah Pa, masak zaman sekarang masih ada jodoh-jodohan kayak gitu. Lagian Dika kan masih SMA."
"Aulia ini anak baik, papa berharap dia bisa merubah kebiasaan kamu."
"Kebiasaan apa pa?! Ternyata pandangan papa selama ini ke Dika nggak pernah berubah, papa selalu anggap Dika anak nakal, Dika anak bodoh, Dika tukang cari gara-gara! Apa lagi pa?!" ucap Dika kesal.
"Jangan bikin papa malu! Jaga nada bicara kamu! Maksud papa bukan begitu."
"Udahlah pa!" Dika pun langsung meninggalkan meja makan dan pergi keluar rumah.
"Gue nggak nyangka Dika berani nolak papa. Susah payah Dika memperbaiki hubungannya sama papa. Gue pikir Dika nggak akan berani ngelawan papa karena dia takut dibenci lagi sama papa," batin Dimas.
Terlihat raut wajah Aulia menunjukkan ekspresi kecewa.
"Wardana, Ami, saya minta maaf sebesar-besarnya atas kejadian ini," ucap Pak Arthama.
"Tidak usah dipikirkan. Saya bisa mengerti," ucap Pak Wardana.
"Iya, kami bisa memakluminya. Tidak baik juga jika memaksa anak-anak," ucap Bu Ami.
"Kalian memang sahabat terbaik saya, terima kasih atas pengertiannya... Aulia, om juga minta maaf atas kejadian barusan" ucap Pak Arthama.
"Tidak apa-apa om, Aulia nggak apa-apa kok." ucap Aulia.
Dimas menatap mata Aulia seperti mengisyaratkan sesuatu.
"Dimas permisi kebelakang dulu," ucap Dimas. Dimas pun kemudian pergi.
Beberapa saat kemudian Aulia juga ikut pergi ke belakang menemui Dimas.
"Lo bilang Dika akan setuju sama perjodohan ini," ucap Aulia pada Dimas.
"Gue pikir dia akan setuju, gue nggak nyangka dia akan nolak permintaan papa. Ini diluar kendali gue. Gue akan pikirin rencana baru."
"Udahlah gue udah muak sama semua ini."
Aulia pun hendak pergi tetapi Dimas menghalangi jalan Aulia.
"Biarin gue pergi!" ucap Aulia.
"Nggak! Lo harus bantu gue."
"Gue nggak mau! Gue heran, kenapa lo benci banget sama Dika?! Jangan-jangan wajah Dika memar gara-gara lo?!"
Dimas hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Aulia.
"Ngaku lo! Gue yakin lo yang ngelakuin semua itu!"
"Iya!"
"Lo bener-bener licik! Asal lo tau, gue udah tau sifat asli lo dari dulu. Makanya gue nggak pernah mau menerima perjodohan gue sama lo!"
"Gue nggak perduli lo nolak sama gue. Tapi lo harus tetep lanjutin perjodohan lo sama Dika."
"Gue nggak mau! Dika sama Widia orang baik. Gue nggak mau ganggu mereka lagi." Aulia pun langsung pergi meninggalkan Dimas.
"Sialan!" gumam Dimas.
Karena hari sudah larut, Pak Wardana dan keluarganya pun pulang. Pak Arthama menghantar Pak Wardana dan keluarganya ke depan rumah.
"Wardana, Ami, Aulia, terima kasih sudah mau berkunjung. Saya benar-benar minta maaf karena kejadian tadi," ucap Pak Arthama.
"Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Seharusnya kita belajar dari kejadian yang menimpa Bimo. Jangan paksakan anak-anak, lebih baik kamu cari Dika sekarang."
"Iya, kamu benar. Terima kasih atas pengertiannya."
"Kita sudah lama bersahabat, tidak usah bilang terima kasih... Saya pulang dulu, kapan-kapan kita berkumpul seperti ini lagi."
"Iya, hati-hati."
"Aulia pulang dulu ya om." Aulia menyalami tangan Pak Arthama.
"Iya, hati-hati."
Pak Wadana dan keluarganya pun pulang.
"Benar kata Wardana, jangan sampai kejadian yang menimpa Bimo terulang kembali," batin Pak Arthama.
Pak Arthama pun pergi mencari Dika. Pak Arthama juga menyuruh Dimas untuk mencari Dika.
Pak Arthama, Pak Bimo, dan Pak Wardana sudah bersahabat sejak lama, bahkan hubungan diantara mereka sudah seperti keluarga.
Seperti yang sudah diceritakan di awal, Pak Bimo adalah papa dari Bryan dan Widia. Pak Bimo dipaksa menikah dengan mamanya Bryan (Bu Santi) demi mempererat hubungan bisnis. Karena Pak Bimo tidak mencintai Bu Santi, akhirnya Pak Bimo diam-diam menikah dengan mamanya Widia (Bu Cintya). Dan hal itulah yang membuat keluaga Pak Bimo hancur.
•••••••••••••••
B E R S A M B U N G
Up setiap Selasa
°
°
°
°
°
Sambil nunggu cerita ini update yuk mampir ke cerita author yang lainnya judulnya "Berbeda"
Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...
Terima kasih 🙏💕...