
Sepulang sekolah Dika sudah mendapati keadaan rumahnya yang sepi. Dika mencari-cari Dimas kemana-mana namun ia tidak dapat menemukan keberadaan Dimas dimana pun.
"Dimas kemana sih?..." gumam Dika.
"Bik," ucap Dika pada pembantunya yang kebetulan lewat.
"Iya, ada apa Den?"
"Papa sama Dimas kemana bi?" tanya Dika.
"Bapak sama Den Dimas tadi bilang ke rumah sakit."
"Rumah sakit dimana?"
"Kalau itu saya tidak tau Den. Bapak cuma bilang mau ke rumah sakit, tapi bapak tidak bilang rumah sakitnya dimana."
"Terus ke sananya jam berapa?"
"Dari sekitar jam 10 pagi."
"Ternyata udah lumayan lama."
"Den Dika sekarang mau makan apa? Biar bibi masakin."
"Hmm.. nasi goreng aja deh biar cepet. Sama minumannya es teh ya bik."
"Baik, sekarang saya akan buatkan."
"Makasi ya bik."
"Iya Den."
Dika kemudian menelepon papanya untuk menanyakan rumah sakit tempat Dimas berobat. Sudah beberapa kali Dika mencoba menelepon papanya namun panggilan telepon tersebut tidak diangkat.
"Papa sama Dimas kemana sih? Mereka berdua nggak angkat telepon lagi. Gue jadi kepikiran terus sama Dimas," gumam Dika.
Akhirnya setelah selesai makan Dika memutuskan untuk langsung mencari ke beberapa rumah sakit terdekat dari rumahnya. Akan tetapi di setiap rumah sakit yang Dika datangi, ia sama sekali tidak dapat menemukan keberadaan Pak Arthama dan Dimas.
'Kemana sih mereka? Udah gue cari ke beberapa rumah sakit tapi nggak ada. Telepon gue juga nggak diangkat... Apa jangan-jangan mereka udah pulang?' batin Dika. Dika kemudian langsung bergegas kembali ke rumahnya.
Sesampainya di rumah Dika mendapati keadaan rumah masih sepi, ternyata Pak Arthama dan Dimas belum juga pulang. Dika kemudian kembali berusaha menelepon Dimas dan papanya. Akhirnya usahanya kali ini berhasil, Pak Arthama akhirnya mengangkat panggilan telepon dari Dika.
......................
...Via Telepon...
......................
"Papa dimana?" tanya Dika.
"Papa di rumah sakit, papa nganterin Dimas."
"Rumah sakit mana?"
Pak Arthama hanya diam tidak menjawab pertanyaan Dika.
"Pa... Rumah sakit mana pa? Dika udah ke semua rumah sakit terdekat tapi Dika sama sekali nggak dapat nemuin keberadaan papa sama Dimas."
'Beruntung aku belum bilang apa-apa dan belum sempat bohong sama Dika. Jika seperti ini mau tidak mau aku harus jujur sama Dika.' batin Pak Arthama.
"Papa di rumah sakit A."
Dika pun sedikit terkejut mendengar hal tersebut karena jarak rumah sakit A sangat jauh dari rumahnya. "Apa?! Rumah sakit A? Kenapa cari rumah sakit sampai ke luar kota? Di sini kan masih banyak rumah sakit."
Pak Arthama diam sejenak. "Iya, rumah sakit di sini lebih lengkap. Kamu tenang aja, sebentar lagi papa sama Dimas akan pulang."
"Kalau gitu Dika ke sana sekarang, biar Dika jemput."
"Tidak usah, tunggu di rumah saja."
"Tap..."
"Tidak pakai tapi-tapian. Kamu diam di rumah, jaga rumah!"
"I-iya pa."
"Teleponnya papa tutup."
"Ya."
......................
"Rumah sakit A? Kalau cuma nggak enak badan kenapa harus sampai ke sana? Pasti ada yang papa dan Dimas sembunyikan dari gue. Ada apa sama Dimas sebenarnya?" gumam Dika.
Seperti yang diperintahkan oleh Pak Arthama, Dika tetap berdiam diri di rumah untuk menunggu kedatangan Pak Arthama dan Dimas. Untuk mengisi waktu Dika duduk di sofa ruang tengah sembari menonton televisi. Karena terlalu lelah Dika pun sampai tertidur di sofa.
Beberapa jam kemudian akhirnya Dika terbangun dari tidurnya. Dika yang baru bangun memperhatikan jam didinding, waktu pun sudah menunjukkan pukul 20.00 malam. "Ya ampun, ternyata udah malam. Cepet banget... Tv-nya masih nyala lagi. Ini mah bukan gue yang nonton Tv, tapi malah Tv-nya yang nonton gue," gumam Dika.
Dika pun langsung mengambil remote untuk mematikan televisi. Dika kemudian bangun dan merenggangkan badannya, ia memperhatikan sekeliling namun keadaan rumah masih sepi.
'Apa papa sama Dimas udah pulang? Mungkin aja mereka di kamar,' batin Dika.
"Papa... Dimas..." teriak Dika sembari berkeliling rumah.
Pembantu di rumah tersebut pun menghampiri Dika karena mendengar Dika sedari tadi terus berteriak.
"Apa Den Dika mencari Bapak dan Den Dimas?"
"Iya bik, mereka udah pulang?"
"Belum Den, mereka belum datang."
"Saya kira mereka udah pulang," ucap Dika.
"Apa Den Dika ada perlu sesuatu?"
"Nggak bik."
"Kalau Den Dika mau makan, saya sudah siapkan makan malam di atas meja makan."
"Iya bik, nanti saya makan setelah mandi."
"Kalau begitu saya permisi dulu."
"Iya," balas Dika.
"Papa bilang sebentar lagi mau pulang. Tapi kenapa jam segini belum juga sampai di rumah? Bikin gue khawatir aja," gumam Dika.
'Apa gue telepon aja ya? Tapi kalau mereka masih di jalan malah jadi ganggu. Papa udah suruh gue tunggu di rumah, kalau gue telepon terus nanti papa malah marah,' batin Dika.
Dika kemudian menyempatkan diri untuk mandi, setelah itu ia pun langsung makan. Selesai makan ia memutuskan untuk duduk di depan rumah menunggu kedatangan Pak Arthama dan Dimas. Dika memeriksa handphonenya dan terlihat ada pesan masuk dari Widia.
"Ya ampun, ternyata Onyet dari tadi nge-WA," gumam Dika.
......................
...Via WhatsApp...
......................
ββ[19.22] Ongky π
ββ[19.22] Lagi ngapain? Sibuk ya?
^^^Sorry baru bales Nyet [21.11]β^^^
^^^Tadi gw ketiduran [21.11]β^^^
^^^Gw baru sempat buka hp [21.11]β^^^
^^^Gw di rumah, lagi santai" aja [21.11]β^^^
^^^Lo sendiri lagi ngapain? [21.12]β^^^
......................
"Yah, Onyet off," gumam Dika. Karena Widia tidak bisa dihubungi melalui WhatsApp Dika pun kemudian memutuskan untuk langsung menelepon Widia.
......................
...Via Telepon...
......................
"Nyet, kok off sih?" ucap Dika.
"Ngapain juga on, lo juga nggak bales wa gue."
"Yah, ngambek nih ceritanya? Wkwkwk..."
π "Malah ketawa lagi."
"Nggakk.. cuma lucu aja gitu, tumben lo ngambek. Biasanya kan lo marah kalau gue ngechat lo sering-sering. Sekarang kok baru nggak dibales beberapa jam aja udah ngambek."
"Ih, siapa bilang gue ngambek. Gue emang lagi buat tugas aja."
"Alahh.. ngaku aja, nggak usah malu-malu wkwkwk..."
"Nggakk!..." tungkas Widia.
Tuut.. tuut.. tuut...
Tiba-tiba saja Widia memutus panggilan telepon tersebut.
......................
Dika kemudian beberapa kali kembali mencoba menghubungi Widia. Pada panggilan telepon ke-5 Widia pun akhirnya mau mengangkat telepon dari Dika lagi.
......................
...Via Telepon...
......................
"Gue kesel aja sama lo. Lo ada perlu apa? Gue mau matiin teleponnya."
"Jangan na marah gitu sama gue Nyet. Masak nelepon aja nggak boleh, jangan nak e gitu, sebentar aja peh sayang."
"Ngapain nelepon gue? Lo kan tadi sibuk sama cewe lain."
Dika pun menahan tawa karena sikap Widia yang tiba-tiba berubah menjadi posesif. 'Yah, dia cemburu," batin Dika.
"Eh, kenapa ni? Gue nggak ada sama cewe lain. Orang tadi gue bener-bener ketiduran," ucap Dika.
"Dahlah, gue nggak mau denger alasan apapun dari lo. Malam-malam gini nelepon, ganggu aja."
"Oh, jadi gue ganggu ni?" ucap Dika dengan nada sedikit marah.
'Ya ampun! Gue salah ngomong!' batin Widia.
"Eh, bukan git-..."
"Rasanya sakit banget dibilang pengganggu."
"Dika, gue nggak bermaksud bilang kayak gitu. Gue tadi cuma asal bicara aja," ucap Widia dengan panik.
Dika pun menahan tawa karena mendengar suara Widia yang panik. 'Dia mulai panik wkwkwk... Gue kerjain ah, pura-pura ngambek aja,' batin Dika.
"Udah, matiin aja teleponnya kalo gitu."
"Dika, gue..." ucap Widia terpotong.
"Lo tutup aja teleponnya."
"Gue nggak bermaksud ngomong kayak gitu..."
"Tutup aja."
Beberapa saat keadaan menjadi hening. Mereka tidak saling berbicara namun panggilan telepon masih berlangsung. Mereka berdua sama-sama melihat waktu pada panggilan telepon tersebut yang masih terus berjalan.
'Panggilannya masih berlangsung. Dika belum tutup teleponnya,' batin Widia.
'Ternyata dia belum tutup teleponnya. Tapi dia juga nggak bicara sama sekali,' batin Dika.
"Dika, lo masih..." ucap Widia
"Lo yang tutup teleponnya."
"..." Widia hanya terdiam.
"Matiin na teleponnya," ucap Dika.
Tuut.. tuut.. tuut...
Akhirnya yang memutuskan panggilan telepon tersebut adalah Widia.
"Adududuu.. kok beneran dimatiin sih? Gue kan cuma bercanda doang, iseng mau ngerjain dia. Gue kira dia bakalan ngerayu gue biar nggak marah. Ya ampunn.. gatot deh, gagal total," gumam Dika.
Ting...
Terdapat sebuah pesan WhatsApp dari Widia.
Dika pun tersenyum melihat pesan tersebut. "Dia nge-WA," gumam Dika. Wajah Dika pun menunjukkan senyuman senang.
......................
...Via WhatsApp...
......................
ββ[21.43] Gw minta maaf Dikaπ Tadi gw bener" nggak bermaksud
ββ[21.43] πππ
^^^Gw yg seharusnya minta maaf, gw yg udah ganggu lo malem-malemπ [21.44]ββ^^^
ββ[21.44] Gw udah salah bicara,
gw minta maaf Dik π
^^^Nggak usah minta maaf, ngapain minta maaf? orang lo nggak salah [21.45]ββ^^^
^^^Gw yang salah, gw yang udah ganggu waktu loππ [21.45]ββ^^^
ββ[21.45] Ya ampun Dika pliss
ββ[21.45] Gimana cara gw biar
lo bisa maafin gw?
ββ[21.45] Gw bener-bener nggak
bermaksud bicara kyk gitu
ββ[21.45] Tadi gw cuma kesel aja sama
lo. Gw emang ngambek
karena lo seharian nggak
kabarin gw. Gw kira lo sma
cwe lain. Gue takut kalo lo
mulai bosan sama gue.
^^^Lo bilang apa sih?π‘ [21.46]ββ^^^
^^^Gw akan berhenti mencintai lo cuma disaat gw menutup mata untuk selamanyaβ€οΈ [21.46]ββ^^^
^^^Udahlah sayangggπ... Tadi cuma bercanda aja π [21.46]ββ^^^
^^^π€£π€£π€£ [21.46]ββ^^^
ββ[21.46] ππ
^^^Buakakakakakπ€£ [21.47]ββ^^^
ββ[21.47] π
ββ[21.47] Mendingan gw buat tugas
^^^Iya, sana nak e buat tugas [21.48]ββ^^^
^^^Semangat Nyetπͺ [21.48]ββ^^^
ββ[21.48] Tengkyuu
ββ[21.48] Tapi beneran udah nggak marah lagi kan?
^^^Emang nggak marah kok. Tadi beneran cuma bercanda ajaπ€£ [21.49]ββ^^^
^^^Semangat ya buat tugasnya Onyet sayanggπππ [21.49]ββ^^^
ββ[21.49] Dihh alay banget pake stiker banyak"
^^^Yee biarin, org gw suka π [21.50]ββ^^^
ββ[19.50] π
^^^Selamat malam sayanggππ€πβ€οΈβ€οΈ[21.50]ββ^^^
ββ[21.51] Iya
^^^Kok balesnya kyk gitu sih? cuek bangetπ [21.51]ββ^^^
ββ[21.52] Ehπ€£
ββ[21.52] Mat malamπ€£
^^^Yang serius nak e, jangan isi ketawa π [21.52]ββ^^^
^^^Jangan lupa isiin kata sayang nya [21.52]ββ^^^
ββ[21.52] Selmat malam Dika syg β€οΈ
^^^π [21.52]ββ^^^
ββ[21.53] π€
^^^Katanya mau belajar, belajar nak eπ [21.53]ββ^^^
......................
"Widia.. Widia..." gumam Dika sembari senyum-senyum sendiri.
...----------------...
...BERSAMBUNG...
...----------------...
...Β°...
...Β°...
...Β°...
...Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya yang berjudul "Berbeda"...
...Jangan lupa dijadiin fav yaaaπ€......
...Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya agar author jadi lebih semangat π€......
...Terima kasih ππ......