Choco

Choco
Penyebab Kepergian Mama



"Sebenarnya..." Dimas pun menceritakan kejadian yang sebenarnya.


......................


...Kilas Balik...


......................


Pada suatu hari, Dimas dan Dika yang masih berusia 10 tahun terlihat tengah menghabiskan waktu senggang bersama mamanya (Bu Ima). Dimas dan Dika sedang belajar menggambar dengan ditemani mamanya, kehangatan pun terasa diantara mereka bertiga.


"Ma, coba lihat gambar beruang yang Dimas buat." Dimas menunjukkan gambar yang ia buat.



"Waah... bangus sekali, kamu hebat Dimas," ucap Bu Ima sembari tersenyum bangga.


"Tapi ini belum selesai, Dimas mau tebalin warnanya biar lebih bagus," ucap Dimas.


"Iya sayangg..." ucap Bu Ima sembari mengelus rambut Dimas.


Sementara itu Dika terlihat masih sibuk mewarnai gambarnya.


"Kalau gambar kamu bagaimana Dika?" tanya Bu Ima.


"Belum maa..." jawab Dika sembari tetap sibuk mewarnai.


"Coba mama lihat." Bu Ima memerhatikan gambar buatan Dika.


"Huft..." Bu Ima menahan tawanya karena melihat Dika mewarnai gambar beruangnya menggunakan warna pink, selain itu warnanya pun juga terlihat tidak rapi.


"Mama kenapa ketawa?" tanya Dika.


Bu Ima menggelengkan kepalanya sembari tertawa kecil. "Dika, Dika... Kamu ada-ada aja, masak beruang warna pink. Ini, pakai warna coklat kayak yamg Dimas buat." Bu Ima memberikan Dika karayon berwarna coklat.


Dika pun kembali mewarnai gambarnya tetapi tetap saja Dika tidak bisa mewarnainya dengan rapi.


"Bukan seperti ini Dika, warnanya jangan sampai lewat garis seperti ini." Bu Ima pun mebantu Dika dan memberikan contoh cara mewarnai yang benar.


Dimas yang melihat kejadian tersebut pun merasa iri karena Bu Ima membantu Dika, sementara Bu Ima tidak membantu Dimas samasekali.


"Selalu aja Dika yang mama bantu. Dika lagi, Dika lagi..." batin Dimas.


Tiba-tiba saja Bu Ima terlihat kurang sehat, ia memegang dadanya dan seperti menahan rasa sakit, dan memang sebenarnya Bu Ima memiliki riwayat penyakit jantung.


"Dimas, Dika, kalian lanjutkan menyambarnya, mama mau istirahat sebentar. Kalian jangan kemana-mana ya," ucap Bu Ima.


"Iya maa..." sahut Dimas dan Dika secara bersamaan.


Bu Ima pun pergi ke kamarnya untuk beristirahat.


Tiin.. tiin.. tiin... tiin.. tiiin...


Dari jalan raya terdengar suara klakson dan suara gemuruh sorakan suporter menyanyikan yel-yel.


"Eh, apaan tu?!" ucap Dika.


"Yuk lihat," ucap Dimas.


Dimas dan Dika pun pergi ke depan rumah. Dari gerbang mereka melihat para suporter sepak bola tengah konvoi di jalan raya.


"Waah.. ada pertandingan sepak bola," ucap Dika.


"Kayaknya di lapangan deh, kemarin kakak lihat di lapangan udah dihias dan ada stan-stan dagang," ucap Dimas.


"Maksud kakak di lapangan dekat belokan itu?" tanya Dika.


"Iya, lapangan itu nggak terlalu jauh dari rumah kita. Hmm... kamu kan suka main bola, kamu nggak nonton?" ucap Dimas.


"Dika sebenarnya pengen banget nonton, tapi kan mama suruh kita diam di rumah," ucap Dika.


"Nggak apa-apa, lagian lapangannya dekat," ucap Dimas.


"Bener nggak apa-apa?" tanya Dika.


"Iya, nggak apa-apa," ucap Dimas yang diakhiri dengan senyuman palsu.


"Paling cuma dimarahin aja," ucap Dimas dalam hati.


"Ya udah, Dika bilang ke mama dulu."


Dimas pun mencegah Dika. "Eh, jangan, kalo kamu bilang ke mama, nanti kamu malah nggak dikasi. Kamu pergi aja, nanti kamu kembali sebelum mama bangun. Pasti nggak akan ketahuan, nggak apa-apa."


"Hmm.. gitu ya?" ucap Dika.


"Iyaa..." balas Dimas.


"Tapi kan ada pak satpam, pasti ketahuan."


"Kamu tenang aja, itu urusan kakak, kamu pergi aja."


"Ya udah kak," balas Dika.


Dimas pun menghampiri satpam yang bekerja di rumahnya dan menyuruh satpam tersebut membeli es krim. Setelah melihat satpam pergi, Dika pun segera pergi menonton sepak bola.


"Aku akan buat mama sama papa benci sama Dika," ucap Dimas dalam hati sambil memandang Dika yang berjalan menjauh.


Sekitar pukul 17.00 Bu Ima sudah terbangun dari tidurnya, ia pun mencari Dimas dan Dika. Namun Bu Ima hanya mendapati Dimas yang sedang tertidur nyenyak di kamarnya.


Karena tidak mau mengganggu Dimas, Bu Ima pun kembali mencari Dika ke tempat lain. Namun Bu Ima tetap tidak dapat menemukan Dika dimana pun, ia kemudian menanyakan kepada satpam dan pembantunya, tetapi satpam dan pembantunya pun tidak mengetahui keberadaan Dika.


Akhirnya Bu Ima membangunkan Dimas dan menanyakan keberadaan Dika.


"Dimas, dimana Dika?" tanya Bu Ima.


"Hmm... Dimas nggak tau ma, sebelum Dimas tidur dia masih menggambar," jawab Dimas.


"Ya ampun, adik kamu kemana?!" ucap Bu Ima panik. Bu Ima segera menghubungi suaminya (Pak Arthama). Pak Arthama pun segera pulang dan mengajak Bu Ima mencari Dika. Sementara Dika ditinggalkan di rumah bersama pembantu.


"Dika, Dika... siap-siap aja lo kena marah," batin Dimas.


Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 sore, kini Dimas tengah tidur sembari asik bermain game di tabletnya. Tanpa disadari, tiba-tiba saja sudah ada Dika disampingnya.


"Dimas..." ucap Dika sambil memandang layar tablet yang dipegang oleh Dimas.


"Oee!" ucap Dimas kaget.


"Gantian dong main gamenya Dim," pinta Dika.


"Kenapa Dika pulang secepat ini?" batin Dimas.


"Kamu kapan pulang?" tanya Dimas.


"Baru aja," jawab Dika.


"Terus papa sama mama dimana?" tanya Dimas.


"Ya nggak tau, Dika kan baru pulang."


"Jadi mama sama papa belum tau kalo Dika udah pulang," batin Dika.


"Emangnya pak satpam sama bibik nggak lihat kamu?"


"Aku lihat mereka, tapi mereka nggak lihat aku. Bibik lagi nyapu di depan dan pak satpam lagi bersihin motor, aku masuk aja diam-diam."


"Ooh... Hmm... Kamu mau main game?" ucap Dimas.


"Mau, mau..." ucap Dika senang.


"Ya udah, tapi kamu mainnya dibawah tempat tidur aja."


"Hah? kenapa?" tanya Dika bingung.


"Mama kan nggak kasi kita main game lama-lama, emangnya kamu mau dimarahi?"


Dika menggelengkan kepalanya. "Nggak, nggak."


"Kalo gitu kamu mainnya dibawah tempat tidur aja, ini tabletnya." Dimas menyerahkan tablet kepada Dika.


"Iya," ucap Dika. Dika pun menuruti perkataan Dimas.


Dimas kemudian pergi menonton tv diruangan tengah. Beberapa saat kemudian Pak Arthama dan Bu Ima pun datang.


"Adik kamu ada pulang Dimas?" tanya Pak Arthama kepada Dimas.


"Nggak pa," jawab Dimas.


"Ya ampun, kamu dimana Dika?" ucap Bu Ima sembari menangis.


Pak Arthama memeluk Bu Ima untuk menenangkannya. "Sudah, sudah, Dika pasti ketemu."


Secara sangat kebetulan berita di televisi menginformasikan bahwa akhir-akhir ini sering terjadi penculikan dan perdagangan manusia.


Bu Ima yang melihat berita tersebut menjadi semakin panik. "Bagaimana kalau Dika diculik mas?"


"Ini semua salah aku mas, aku lalai menjaga Dika," ucap Bu Ima yang masih tetap menangis.


"Sudah, jangan menyalahkan diri kamu sendiri. Ini semua bukan salah kamu," ucap Pak Arthama.


Tiba-tiba saja Bu Ima merasa sakit di bagian dada. Sakit jantung yang diderita Bu Ima kambuh. Pak Arthama pun segera membawa istrinya ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Bu Ima segera ditangani. Namun sekitar 30 menit kemudian Bu Ima sudah tidak dapat diselamatkan, dan dokter sudah memvonis Bu Ima meninggal dunia.


Pak Arthama pun pulang seorang diri.


"Dimas..." ucap Pak Arthama memanggil Dimas.


Dimas pun datang dari dalam kamarnya. "Papa kenapa nangis?" tanya Dimas karena melihat mata Pak Arthama mengeluarkan air.


Pak Arthama memeluk dan mengusap kepala Dimas sembari menangis.


"Ada apa pa? Papa kenapa?..." tanya Dimas lagi.


Namun Pak Arthama tetap tidak menjawab pertanyaan Dimas. Pak Arthama hanya terus memeluk dan mengusap kepala Dimas sembari menangis.


Tiba-tiba Pak Arthama terpaku, ia memandang Dika yang sedang berdiri di depan pintu kamar dengan penuh amarah.


"Papa?..." ucap Dika. Dika pun merasa bingung melihat Pak Arthama menangis.


Pak Arthama menghapiri Dika. "Dari mana kamu?!" tanya Pak Arthama dengan raut wajah marah.


Dika yang melihat ekspresi papanya menjadi sangat ketakutan. "Di-Dika, Dika di kamar pa..." ucap Dika terbata-bata karena ketakutan.


"Jangan bohong kamu! Dari tadi siang papa sama mama nyari kamu kemana-mana!" bentak Pak Arthama.


Dika pun menangis karena Pak Arthama membentaknya. "Hu.. hu.. hu..."


Pak Arthama mendorong pundak Dika. "JAWAB!" ucap Pak Arthama dengan nada tinggi.


"Ta-tadi siang Dika non-ton bola... Hu.. hu.. hu..." jawab Dika sambil tetap menangis.


"Dasar kamu!..." Hampir saja Pak Arthama memukul Dika, tetapi beruntung Pak Arthama cepat sadar dan tidak jadi menukul Dika. "Arrgghhh!..."


PRANKK...


Pak Arthama yang sangat emosi menghempaskan vas bunga yang ada diatas meja.


Dimas dan Dika yang menyaksikan hal tersebut merasa sangat ketakutan.


"Ada apa ini sebenarnya?" batin Dimas bertanya-tanya.


Pak Arthama menarik leher baju Dika dan menyeretnya. Dimas pun juga mengikuti Pak Arthama.


"Papa maafin Dika pa. Hu.. hu... Dika mau dibawa kemana? Dika takut pa... Jangan tarik baju Dika pa... Jangan... Hu.. hu..." ucap Dika sembari menagis.


Pak Arthama mendorong Dika masuk ke gudang. "Sekarang kamu diam disini!"


BRAKK...


Pak Arthama menutup pintu gudang dengan sangat keras.


Dor.. dor.. dor...


Dika mengetuk pintu sembari menangis dan memohon kepada Pak Arthama mengeluarkannya.


"Hu.. hu... Pa, Dika nggak mau disini pa. Disini gelap, Dika takut pa... Hu.. hu.. hu..."


"Itu hukuman buat anak bandel seperti kamu!" ucap Pak Arthama dari luar.


"Hu.. hu.. hu... Maafin Dika pa, Dika janji nggak akan keluar rumah sendiri lagi. Dika mau keluar pa, disini gelap, Dika takut. Hu.. hu.. hu..." ucap Dika dari dalam.


Pak Arthama menyenderkan badannya di pintu sembari memangis sejadi-jadinya. "Ha.. ha.. ha..."


Dimas hanya bisa terdiam kaku melihat kejadian tersebut.


"Mama... tolong Dika ma. Dika takut... Hu.. hu.. hu..."


"Jangan panggil mama kamu lagi!" ucap Pak Arthama dengan nada tinggi.


Dika yang berada di dalam merasa sangat kaget mendengar teriakkan Pak Arthama.


"Kamu tidak akan pernah bertemu dengan mama kamu! Kamu sudah buat mama kamu pergi untuk selamanya!"


"Maksud papa? Mama dimana? Mama... Hu.. hu.. hu..." ucap Dika.


Pak Arthama kemudian pergi tanpa mempedulikan Dika, Dimas pun mengikuti Pak Arthama.


"Papa..." ucap Dimas gemetar.


Pak Arthama menghentikan langkahnya dan Dimas pun menghampiri Pak Arthama.


"Mama dimana pa?..." tanya Dimas.


Pak Arthama berlutut dan mengusap kepala Dimas.



"Ada apa pa?" tanya Dimas.


"Mama.. mama kamu sudah pulang ke rumah Tuhan nak..." jawab Pak Arthama.


"Mak-maksud papa apa?" tanya Dimas takut.


"Mama sudah meninggal nak..." Pak Arthama kemudian memeluk Dimas.


Dimas mendorong papanya. "Nggak! Papa bohong! Papa bohong!"


"Papa nggak bohong..." Pak Arthama hendak memeluk Dimas tetapi Dimas menepis tangan Pak Arthama.


Dimas berlari mencari mama kesemua sudut rumah sambil menangis dan memanggil mamanya.


"Mama.. mama.. mama..." teriak Dimas sembari berlari kesana-kemari.


Pak Arthama menghentikan Dimas kemudian memeluk Dimas. "Sudah sayang, sudah... Papa cuma mau berpesan sama kamu, kamu jangan bandel seperti adik kamu."


"Kenapa semua jadi seperti ini? Dimas cuma mau mama benci sama Dika. Tapi kenapa mama malah pergi untuk selamanya?" batin Dimas.


Disisi lain Dika tetap dibiarkan terkurung sendiran di dalam gudang semalaman.


Sejak saat itu Dika dianggap sebagai anak bandel dan hampir setiap apa pun yang dilakukan oleh Dika dianggap salah oleh Pak Arthama, terlebih lagi Dimas yang sering menghasut orang-orang untuk membenci Dika.


......................


...Kilas Balik Selesai...


......................


"Ternyata waktu itu Dimas emang sengaja suruh gue pergi. Dan Dimas juga nggak bilang kalo gue udah pulang," batin Dika.


"Dimas minta maaf pa, Dika..." ucap Dimas. Mata Dimas pun terlihat berkaca-kaca.


Pak Arthama menggelengkan kepalanya kecewa. "Dimaass!" Pak Arthama benar-benar tidak menyangka jika Dimas yang selama ini ia kenal sebagai anak yang baik melakukan semua hal-hal yang terungkap belakangan ini.


"Dimas minta maaf pa. Dimas tau Dimas salah karena sudah dengan sengaja menghasut Dika supaya melanggar perintah mama. Dimas benar-benar menyesal pa..." ucap Dimas.


Pak Arthama hanya menatap Dimas dengan penuh amarah.


"Dimas akaui, semua itu salah Dimas pa..." ucap Dimas.


"Nggak, semua bukan salah Dimas pa. Dika juga salah, Dika yang hilang. Dika minta maaf pa..." ucap Dika.


"Dimas akan lakukan apa pun supaya papa bisa maafin Dimas..." ucap Dimas.


"Kalau kamu mau papa tidak emosi. Sekarang kamu pergi! Cepat pergi!" ucap Pak Arthama.


"Lebih baik gue pergi aja sekarang, biarin papa menenangkan diri dulu," batin Dimas.


Dimas pun pergi meninggalkan ruangan tersebut.


"Pa... Dika minta maaf..." ucap Dika.


"Tidak Dika, papa yang harus minta maaf. Papa selama ini sudah salah paham sama kamu," ucap Pak Arthama.


"Papa nggak perlu minta maaf, papa sama sekali nggak salah... Tapi papa maafin Dika kan?"


"Tentu saja papa maafin kamu," balas Pak Arthama.


"Kalau begitu papa juga harus maafin Dimas..."


Pak Arthama hanya diam tidak merespon ucapan Dika.


"Dika mohon papa harus maafin Dimas. Dimas sudah mengakui semua kesalahannya dan semua juga sudah berlalu," ucap Dika dan hanya dibalas dengan senyuman terpaksa oleh Pak Arthama.


BERSAMBUNG••••••••