Until the End

Until the End
Kekhawatiran Ira



Ira menggeram kesal saat Danu menceritakan kejadian tentang cucunya yang terkena bully di sekolah, terima? tentu saja tidak, Reysha adalah cucu kesayangannya.


"Bisa-bisanya dijaman sekarang masih ada aja yang namanya bullying." ujar Kinan tak habis pikir.


"Kenapa kamu nggak cerita sama nenek Mei?" tanya Ira menatap Meisa yang menundukkan kepalanya.


"Sebenarnya Reysha sering berurusan sama Intan nek, bahkan Reysha juga pacaran sama Marvel." jawab Meisa takut-takut.


Kinan dan Danu membelalakkan matanya, sedangkan Ira tidak terlalu terkejut akan hal itu, karena dia juga mengetahui semuanya.


"Biarkan! Yang penting tetap Azzam yang jadi pemenangnya, Azzam yang jadi suami Reysha." sahut Ira.


"Ibu khawatir sama keadaan Reysha, apalagi Arkan sama Marisa jarang di rumah, lebih baik Reysha tinggal bersama Rey dan Alesha." ujar Ira.


"Bu, Reysha udah punya suami, dan Azzam berhak membawa Reysha kemana pun." kata Kinan yang tidak ingin Ira ikut campur dengan rumah tangga Reysha.


"Ibu tau, ibu hanya memberi saran." sahut Ira.


"Rey sama Alesha udah membicarakan semuanya kok Bu, dan Azzam setuju. Tapi Azzam butuh ijin dari orang tuanya juga."


"Malam ini ibu mau ke rumah Azzam." ujar Ira.


"Ibu mau ngapain?" tanya Kinan.


"Mau mastiin kalau cucu ibu baik-baik aja." setelahnya Ira menyuruh Danu untuk mengantarkannya ke kediaman Azzam.


Sesampainya di kediaman Azzam, Ira langsung disambut baik oleh suami dari cucunya itu yang tengah duduk di teras rumah.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam eyang, kok mau kesini nggak bilang-bilang?" tanya Azzam menyalami tangan Ira dan Danu.


"Eyang mendadak datang kesini gara-gara denger kalau cucu eyang kena bully, dimana orang tua kamu?" tanya Ira.


"Ayah sama bunda masih sibuk di tempat kerja, kemungkinan mereka pulang malam." sahut Azzam.


"Mari masuk Om, eyang." ajak Azzam menyuruh Ira dan Danu masuk, rasanya tidak sopan jika harus membiarkan mereka berada di luar rumah.


"Eyang...." pekik Reysha senang saat baru turun dari tangga melihat keberadaan neneknya itu.


"Cucu eyang yang cantik, apa kabar sayang?" tanya Ira mengecup kening cucunya.


"Kabar baik eyang. Eyang kok tumben kesini?" tanya Reysha menarik Ira agar duduk disampingnya.


Ira tersenyum penuh sayang ke arah cucunya, Reysha adalah cucu yang paling ia nanti di keluarga Rey, karena selama beberapa tahun menikah dengan Safira,Rey tidak kunjung dikarunia seorang anak hingga Safira dan Ira menyarankan Rey untuk menikah lagi.


"Eyang tau dari Om kamu kalau kamu dibully, kenapa kamu nggak ngadu sama Kak Meisa kalau kamu di bully di sekolah? kalian kan Kakak adek." ujar Ira mengusap rambut panjang Reysha.


"Bukan nggak ngadu, tapi sekarang Reysha kan ada Kak Azzam yang bisa jagain Reysha." ujar Reysha berusaha membuat neneknya agar tidak khawatir berlebihan.


"Iya beda yang punya suami mah, sekarang jadi ada yang melindungi." goda Danu yang duduk beriringan dengan Azzam.


"Om apaan sih." ujar Reysha yang terlihat malu karena digoda omnya.


"Oh iya, gimana Zam, kamu udah bicara sama orang tua kamu kalau mau pindah?" tanya Ira.


"Belum eyang, ayah sama bunda nggak pernah ada waktu, jadi nanti Azzam usahain secepatnya agar bisa pindah ke rumah Papa sama Mama." jawab Azzam.


Ira mengangguk mengerti, memang hal wajar jika Arkan sulit untuk meluangkan waktu untuk keluarganya, pasalnya dia adalah pengusaha sukses yang memang sibuk dengan banyak urusan kantor.


*****


Azzam berjalan dengan satu tangan dimasukan kedalam saku celana dan berjalan dengan gayanya. Tubuh Azzam yang tinggi membuat ia menatap rendah cewek-cewek yang menggodanya.


"Udin sialan, lo becandanya gitu males gue." ucap Reysha sesenggukan. Bagaimana tidak? Udin selalu saja mengganggunya, bahkan sekarang tasnya nyangkut di paku yang cukup tinggi akibat ulah Udin yang menaruh tas Reysha di atas sana.


"Ambilin gak mau tau, Din." rengeknya sambil menghentakkan kaki.


"Ambil aja sendiri, punya tangan kan." ujar Udin yang tidak peduli.


"Ngeselin banget sih, gue juga kalau bisa udah ambil sendiri hiks." kata Reysha sambil memukul tubuh Udin dengan bukunya.


"Heh Udin anak orang lo bikin nangis, tanggung jawab kagak lo." ucap Sasa mengompori.


"Biarin, dari pada gue cium" balas Udin yang membuat Reysha tambah kesal.


"Reysha Larissa anaknya Mama Alesha dipanggil tuh sama babang Azzam." panggil Aris berteriak.


"Mampus lo pawangnya dateng, abis lo sama Kak Azzam." ucap Cika menakuti.


Reysha menatap Udin sinis sebelum keluar kelas untuk menemui Azzam.


"Kenapa?" tanya Azzam saat melihat wajah kusut Reysha


"Di gangguin Udin mulu tuh." jawab Aris.


"Di apain?" tanya Azzam lagi sambil mengusap air mata Reysha.


"Tas gue nyangkut karena ulah Udin." ucap Reysha sambil sesegukan membuat siapa saja ingin tertawa melihatnya.


"Dimana?" tanya Azzam, lalu Reysha menunjuk tas yang tersangkut dipaku.


"Ambilin ya Kak, gue belum ngerjain PR jam kedua bukunya ada di tas." ucap Reysha dengan manja.


"Oke"


Saat Azzam masuk kedalam kelas Reysha. Banyak dari teman sekelasnya yang menyoraki Udin karena menganggu Reysha.


Dan banyak sorakan centil dari teman ceweknya. Wajah Udin berubah pucat, ia menjadi kikuk sendiri ditempatnya.


Ternyata Azzam hanya melewatinya, ia naik ke atas meja lalu mengambil tas Reysha yang nyangkut di atas. Jangan diragukan lagi, Azzam itu memiliki tubuh yang sangat tinggi.


Setelah mendapatkan tas itu Azzam memberikannya kepada Reysha. "Gue balik ke kelas" ucap Azzam.


"Thanks" ujar Reysha seraya tersenyum manis.


"Jangan sering gangguin cewek, emang lo suka sama dia?" setelah mengatakan itu kepada Udin, Azzam segera pergi.


"Hayo loh, pawangnya cembokur Din, makannya jangan suka gangguin Reysha, mending dulu Marvel nggak seserem Azzam." ujar Aris.


"Iya sih, tapi Reysha untung banget ya putus sama Marvel sekarang sama Azzam, kayaknya takdir Reysha mulus bener." sahut teman cewek sekelas Reysha.


"Diam deh lo semua jangan gosipin gue terus, muak gue dengernya." ketus Reysha kemudian duduk kembali di bangkunya.


Memang benar, Marvel memiliki pembawaan yang ramah walaupun terkenal galak, tetapi galaknya Azzam bisa dilihat dari mukanya yang dingin membuat orang yang berhadapan seketika membeku di tempatnya.


Bel masuk berbunyi membuat teman sekelas Reysha duduk ditempatnya masing-masing. Langkah Bu Keysa terdengar jelas, suara pantopelnya begitu nyaring sampai membuat seisi kelas menegang. Bu Keysa itu guru yang paling killer dari para jajaran guru lainnya, lebih tepatnya tegas. Sangat menjunjung tinggi sopan santun dan kerapihan.