Until the End

Until the End
Malam pertama



Alesha merebahkan tubuhnya diatas ranjang yang ada di kamarnya,ia menghela nafas panjang menatap langit-langit kamarnya.


Alesha mengambil handuk dan bajunya lalu memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, setelah tiga puluh menit akhirnya ia keluar dengan handuk yang ada di kepalanya, ia mendekati meja rias dan mulai mengoleskan beberapa skincare di wajahnya, setelah itu ia mengeringkan rambut dan memakai kembali kerudungnya.


Setelah selesai tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar Alesha, dengan wajah masam Alesha membuka pintu kamarnya yang tadi sempat ia kunci.


"Ale bisa saya minta handuk dan sikat gigi?" tanpa menjawab Alesha langsung mengambilkan barang yang diinginkan Rey.


"Makasih, kalo gitu mas mandi dulu ya" ujar Rey memasuki kamar mandi.


Sedangkan Alesha sedang mematung mendengar Rey menyebut dirinya sendiri dengan sebutan Mas.


Sambil menunggu Rey selesai mandi Alesha kembali merebahkan dirinya diatas ranjang, namun karena lelah akhirnya ia menyelami alam mimpi.


Rey yang melihat istri barunya hanya menggelengkan kepala, ia langsung membangunkan Alesha agar bisa sholat bersama.


Setelah sholat selesai Rey mengulurkan tangan didepan Alesha dan disambut dengan baik oleh Alesha. Namun tanpa diduga Rey mencium kening Alesha membuat sang empu terperanjat kaget.


"Ale mas mau bicara" ujar Rey memegang telapak tangan Alesha.


"Bicara apa pak? Oh iya panggil aja Asha jangan Ale nanti dikira Ale ale" ucap Alesha mencebikkan bibirnya.


"Jangan panggil saya bapak sha, panggil mas"


"Iya mas" jawab Alesha santai, Rey terkejut karena tidak ada kecanggungan pada Alesha, biasanya wanita akan malu atau canggung tapi beda dengan Alesha yang menanggapi itu semua dengan santai.


"Mas tau pernikahan ini sangat sulit apalagi dengan status mas yang sudah memiliki istri, mas minta maaf karena telah menjerat kamu kedalam pernikahan ini, tapi mas minta Asha harus belajar menerimanya ya" ucap Rey dengan lirih.


Alesha menghela nafas panjang sebelum menjawab ucapan pria yang berada didepannya itu.


"Kamu jangan pernah bicara seperti itu mas, aku bersedia menikah denganmu jadi berarti aku sudah menerimamu, hanya satu harapan aku dalam pernikahan ini, yaitu bimbing aku menjadi orang yang lebih baik lagi"


"Alhamdulillah, mas bersyukur kalau kamu bisa menerimanya, jujur mas juga berat untuk menjalani ini semua tapi mas yakin akan selalu membahagiakan kamu dan Safira dan mas juga berjanji bakal membimbing kamu jadi lebih baik lagi,Asha"


Rey meraih tangan Alesha dan mengecup punggung tangannya berkali-kali, Rey mengusap lembut pipi Alesha dan tanpa meminta izin istrinya,Rey mendaratkan ciuman dibibir Alesha.


Alesha hanya diam mematung mendapat perlakuan dari Rey, rasanya jantung Alesha ingin melompat saat ini juga. Merasa tidak ada balasan Rey mengakhiri ciuman tersebut seraya mengusap bibir Alesha.


"Kok diem? Kenapa gak balas ciuman saya?" tanya Rey membelai rambut Alesha.


"A-aku gak tau caranya mas" cicit Alesha menunduk malu.


Rey tersenyum geli melihat rona merah di wajah Alesha yang tengah menunduk, ia kemudian mengungkung tubuh Alesha membuat Alesha menahan nafasnya.


*****


Pukul 02.37 dini hari Rey terbangun dari tidurnya, ia melihat disebalahnya terlihat wanita cantik yang terlelap dalam tidurnya, Rey menyunggingkan senyuman kala mengingat apa yang telah ia lakukan beberapa jam yang lalu.


Sebenarnya Rey tidak tega membangunkan Alesha, namun ia harus tetap membangunkan Alesha untuk menunaikan tahajjud.


"Asha, bangun yuk kita sholat" ajak Rey menggoyang-goyangkan lengan istrinya.


"Eunghh" Alesha melenguh kemudian menarik kembali selimutnya hampir menutup seluruh badannya.


"Asha bangun, kita harus sholat"


"Ya udah kamu lanjut tidur aja ya, biar nanti mas bangunin kalo udah masuk waktu subuh ya cantik" ujar Rey mencium kening Alesha kemudian beranjak memasuki kamar mandi untuk mandi dan mengambil air wudhu.


Setelah selesai sholat, Rey masih duduk di atas sajadah memilih untuk muraja'ah. Alesha yang tadinya terlelap langsung membuka matanya mencari asal suara tersebut.


Seketika bibirnya tersenyum kala melihat pemandangan yang ada dihadapannya dimana seorang pria yang kini menyandang status sebagai suaminya tengah melantunkan ayat suci Al-Quran dengan suara yang merdu.


Ketika Alesha ingin beranjak mendekati Rey, ia membulatkan matanya kala mengingat kini dirinya tidak memakai sehelai benang pun.


Rey yang merasakan ada pergerakan diatas ranjang langsung menatap Alesha yang sedang meringis menahan malu.


"Udah bangun?" tanya Rey menaruh kembali Al-Qur'an ketempat semula dan beranjak mendekati istrinya.


"U-udah" cicit Alesha memegang erat selimutnya.


"Mandi gih" ujar Rey


"I-iya tapi mas bisa keluar dulu gak?" tanya Alesha tanpa menatap wajah suaminya.


"Kenapa?" tanya Rey mengerutkan keningnya.


"M-malu" ujar Alesha kembali menundukkan kepalanya seraya menggenggam erat selimut.


"Gak mau digendong?" goda Rey membuat Alesha melemparkan bantal ke wajah Rey.


"Masss" kesal Alesha


"Iya-iya, ya udah kamu cepetan mandi mas tunggu dibalkon aja ya" ujar Rey melangkahkan kaki ke arah balkon.


Alesha memincingkan matanya menatap kepergian Rey, setelah aman ia masuk ke dalam kamar mandi bergegas mandi dan mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat subuh.


Rey menatap langit, ia tidak menyangka kehidupan rumah tangganya akan berubah hanya sekejap, bukannya tidak bersyukur karena diberi kesempatan memiliki dua istri, tetapi Rey benar-benar tidak menginginkan semua ini.


Tapi walau bagaimanapun Rey akan tetap memenuhi kebutuhan lahir batin kedua istrinya karena ia tau harus berlaku adil kepada keduanya.


"Yaallah jika memang ini yang terbaik, hamba memohon kepadamu permudahlah hamba dalam menjalani rumah tangga ini, dan hamba memohon berilah berkah dalam rumah tangga ini dan berilah hamba seorang malaikat yang akan hadir di tengah-tengah kita yaallah, sejujurnya hamba menginginkan seorang anak yang akan mengobati lelah hamba dan memberi semangat hamba dalam menjalani semua ini"


Waktu sudah memasuki subuh, Rey memasuki kamarnya dan melihat istrinya tengah menyiapkan sajadah dan mukenah untuk sholat, tetapi ia melipat sajadah yang akan digunakan Rey yang membuat suaminya bingung.


"Kok sajadah mas dilipat?" tanya Rey


"Mas kan harus sholat ke masjid, bukankah seorang pria memang lebih baik sholat di masjid" ujar Alesha membuat senyum Rey mengembangkan.


"Ya udah kalo gitu mas pergi ke masjid dulu ya takut telat, assalamualaikum" ujar Rey


"Waalaikumsalam" jawab Alesha


Setelah selesai sholat, sambil menunggu Rey, Alesha lebih memilih membereskan barang-barang dan baju-bajunya yang akan ia bawa. Karena hari ini Alesha akan tinggal di rumah Rey dan Safira.


Sungguh hal yang sangat membuat Alesha canggung adalah ketika berada satu rumah dengan kakak madunya. Tapi mau bagaimana lagi, Rey menolak tinggal dirumah pemberian ibunya karena ia ingin membelikan sendiri rumah atas nama Alesha dengan hasil jerih payahnya. Bahkan rumah yang kini mereka tempati adalah rumah dengan atas nama Safira.


Sebelum mengajak Alesha tinggal bersama di rumah Safira, Rey sudah membicarakan ini dengan istri pertamanya dan Safira menyambut dengan baik kedatangan Alesha.


Safira sudah menganggap Alesha seperti adiknya sendiri, karena ia sadar Alesha lah yang akan menjadi sumber kebahagiaan dalam keluarganya. Tidak ada rasa iri dibenak Safira, ia percaya bahwa suaminya bisa bersikap adil kepada dirinya dan Alesha.