
Hari ini sampai dua hari ke depan adalah jadwal Safira dan Rey menghabiskan waktunya.
Safira menggeliat dalam tidurnya saat ada sesuatu yang menindih perutnya membuatnya terusik, ia pun membuka mata. Dan pemandangan pertama yang dia lihat adalah wajah tampan Rey yang sedang memejamkan matanya.
Senyum Safira mengembang cerah saat mengingat kejadian semalam dimana suaminya mengajaknya kencan makan malam romantis di suatu restoran mewah yang berada di sekitar tempatnya tinggal.
"Udah puas senyum-senyum sambil ngeliatin muka, Mas?" Safira terkejut saat tangan hangat Rey memegang kedua pipinya dengan lembut serta mengusapnya pelan.
"Morning kiss, Humaira." ucap Rey namun Safira masih diam membuat Rey gemas sendiri. Rey mendekatkan wajahnya dengan wajah Safira dan mengecup bibir istrinya dengan singkat.
Rey terkekeh pelan melihat keterkejutan Safira, kemudian ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher istrinya.
"Mas Rey nih pagi-pagi main nyosor aja" seru Safira berusaha menjauhkan kepala Rey dari lehernya. Rey mendongak menatap wajah cantik Safira, ia kembali menarik Safira ke dalam pelukannya.
"Mas Rey kita sarapan bareng Ale---" ucapan Safira terpotong kala Rey langsung menyambar bibirnya.
"Iya sayang, iya. Kita sarapan, habis itu Mas juga harus berangkat ke kantor." ujar Rey pergi memasuki kamar mandi.
Sedangkan Safira langsung pergi ke luar kamar untuk membuat sarapan.
"Assalamualaikum Alesha." salam Safira berdiri di samping Alesha yang sedang membuat sereal.
"Wa'alaikumussalam mba." jawab Alesha.
"Kamu mau makan apa Sha, biar mba masakin" tanya Safira dengan senyuman manisnya.
"Nggak usah Mba, ini Asha cuma mau makan sereal aja." ucap Alesha yang kemudian duduk di meja makan yang tak jauh dari dapur.
"Ya udah Mba mau masakin nasi goreng aja buat Mas Rey" ujar Safira yang di angguki Alesha.
Tak lama setelah itu Rey keluar kamar, ia sudah rapi memakai kemeja putih di balut jas hitam yang membuat kesan tampan di wajah Rey.
"Assalamualaikum sayang." salam Rey mengecup singkat kepala Alesha. Alesha menjawab salam Rey dengan senyum, apalagi saat ini Rey sedang berjongkok di hadapannya mengingat rutinitas Rey adalah mengajak bicara bayi yang ada dalam perut Alesha.
"Assalamualaikum anak Papa, sehat-sehat di sana ya nak, bentar lagi kita pasti ketemu, Papa gak sabar deh pengen ketemu sama kamu." ucap Rey mengusap perut Alesha dengan sayang dan sesekali mengecupnya.
Safira datang dengan dua piring nasi goreng di tangannya, ia juga biasanya akan sering berinteraksi dengan perut Alesha.
"Anak bunda sehat-sehat ya nak, sampai ketemu nanti, kalo kamu perempuan pasti kamu bakal cantik kaya Mama kamu, tapi kalo kamu laki-laki pasti kamu bakal ganteng seperti Papa kamu." ucap Safira mengusap singkat perut Alesha.
Alesha hanya tersenyum melihat interaksi kedua insan tersebut, ia akan tenang meninggalkan anaknya bersama orang-orang yang tepat.
****,
"Maafin Fira Mas, Fira salah karena pergi keluar rumah gak ijin dulu sama Mas Rey" ucap Safira menundukkan kepalanya tidak berani menatap wajah Rey.
Rey menarik dagu Safira agar istrinya itu mau menatapnya. "Kamu pikir Mas bisa marah sama kamu heum?"
"Mas punya sesuatu buat kamu, kamu tutup mata dulu ya sayang." ucap Rey menarik pinggang Safira hingga tubuh Safira tertarik menubruk dada bidang Rey.
Safira menggeleng tanda tidak mau."kenapa?" tanya Rey.
"Nanti Mas nyosor udah kaya bebek" cibir Safira yang mengundang gelak tawa suaminya.
"Nggak sayang, serius tutup mata kamu."
"Ya udah tapi Mas jangan macem-macem ya." ujar Safira menutup kedua matanya.
"Nggak sayang."
Rey mengambil kotak kecil di dalam sakunya, ia berdiri di belakang Safira sambil memakaikan istrinya kalung yang memiliki bandul berinisial S.
"Boleh buka mata Mas?" tanya Safira yang langsung di iyakan Rey.
Safira menubruk dada bidang Rey dengan gerakan cepat membuat badan Rey terhuyung ke belakang.
"Kenapa sayang?" tanya Rey.
"Ini pasti mahal ya." lirih Safira memegang bandul kalung itu.
Rey tertawa pelan, merasa gemas dengan tingkah sang istri. "Ini gak mahal kok, ini bentuk kasih sayang Mas ke kamu."
Safira tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia pun berhambur ke dalam pelukan sang suami.
"Makasih Mas, selama nikah sama Mas, kamu selalu buat aku bahagia." ucapan Safira terdengar tulus, namun Rey merasa jika Safira sedang menyindirnya karena menorehkan luka di hati Safira kala dia menikahi Alesha.
"Maafin Mas karena telah membawa wanita lain di tengah-tengah kebahagiaan kita." lirih Rey memeluk erat tubuh ramping Safira seakan-akan ia takut kehilangan istrinya.
Dilain sisi Alesha tengah membersihkan halaman belakang rumahnya, ia merasa bosan harus menghabiskan waktu seharian di kamar. Alesha merasa seperti tahanan yang mendekam di dalam kamar.
Mata Alesha tertuju pada sebuah kertas yang robek menjadi dua bagian di sebeleh pohon belakang rumahnya. Ia mengambil kertas tersebut dan membuangnya ke tempat sampah, namun belum sampai kertas tersebut masuk ke dalam sampah Alesha melihat nama Safira yang tertera di surat tersebut.
Alesha menjadikan satu surat yang sudah robek terbagi dua itu, Alesha membekap mulutnya tidak percaya kala surat itu menyatakan bahwa Safira mengidap penyakit leukimia.
Alesha langsung berlari kedalam rumah mencari keberadaan Safira namun dia berhenti tepat di depan kamar Safira dan Rey, ia ragu untuk mengetuk pintu tersebut, tetapi Alesha harus memastikan jika surat tersebut salah.
"Mba Safira, buka pintunya Mba." teriak Alesha dari luar kamar membuat kedua insang yang sedang berpelukan terkejut dengan suara Alesha.
Rey bergegas membuka pintu kamar Alesha dan mendapati istrinya menangis.
"Kamu kenapa Sha?" tanya Rey memeluk Alesha, Safira juga sama terkejutnya mendapati Alesha menangis.
"Hey kamu kenapa" tanya Rey untuk yang kedua kalinya, Alesha masih tetap diam sambil memandangi wajah Safira.
"Ini apa Mba?" tanya Alesha menatap sendu Safira.
"Ini pasti bohong kan Mba" lirih Alesha, tubuhnya hampir ambruk jika saja Rey tidak menahannya.
Rey mengambil surat yang ada di tangan Alesha, tangan Rey bergetar setelah membaca isi surat tersebut.
"Fir" panggil Rey, Safira menggeleng pelan, ia takut Rey akan marah mengetahui penyakit yang di deritanya saat ini.
"Kamu anggap aku apa fir" ujar Rey melepaskan pegangannya dari tubuh Alesha.
"Maaf Mas" hanya dua kata itu yang mampu Safira ucapkan, ia tau suaminya dan Alesha kecewa dengan apa yang di sembunyikan Safira saat ini.
"KAMU MENYEMBUNYIKAN PENYAKIT KAMU SELAMA INI" bentak Rey membuat Safira refleks memejamkan matanya.
Alesha memegang kedua tangan Rey dan menggeleng." Jangan meninggikan suara, Mas."
"Aku gagal Sha, aku gagal menjaga istri aku, bahkan aku gak tau sama sekali kalo selama ini Fira menderita, dia menderita karena aku."
"Enggak Mas, ini semua takdir aku" lirih Safira.
Alesha memeluk erat tubuh Safira yang bergetar, sungguh dia takut kehilangan Safira wanita yang sangat baik kepadanya. Terlepas dari apapun juga Alesha sangat menyayangi Safira seperti kakaknya sendiri.
"Aku yakin Mba pasti sembuh, Mba udah janji buat rawat anak kita sama-sama, Mba nggak boleh ingkar janji" ujar Alesha, ia yakin Safira bisa sembuh.
Alesha ingin mengubah semua rencana yang ia buat waktu itu, setelah tau Safira sakit, ia ingin menamani Safira sampai sembuh, dia tidak mau meninggalkan Safira dalam keterpurukannya.
Ia hanya perlu menjaga jarak dengan suaminga agar Rey fokus dengan kesembuhan Safira.
Rey menatap dalam wajah Safira, ia tidak menyangka di balik wajah ceria Safira, dia menyimpan begitu banyak luka.