
Semalaman menangis di pelukan Rey. Sejujurnya ia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa suaminya menderita kanker.
"Sayang, udah. jangan nangisin Mas terus. Mas nggak papa," Rey mengelus surai Alesha dengan lembut. Berulang kali ia mengucapkan kata tidak apa-apa.
Padahal Alesha tahu kalau Rey itu kenapa-napa. Ia hanya mencoba terlihat kuat didepannya.
"Nggak papa gimana? Kamu sakit kanker Mas. Aku nggak bisa nerima ini..."
Rey menghela nafasnya, "Mas juga sempat nggak terima waktu tau aku kena kanker. Tapi seiring berjalannya waktu, Mas tau alasan Tuhan ngasih aku penyakit ini, Mas jadi sering ada di rumah." Katanya sambil tersenyum.
"Semua yang Tuhan kasih ke kita pasti ada hikmahnya masing-masing sayang. Jadi daripada nangisin Mas kayak gini, mending kita berdoa supaya aku bisa bertahan sampai waktunya kamu melahirkan nanti."
Alesha menatap kesal kearah resep, "Hanya sampai anak ini lahir? Kamu nggak mau ada di samping aku dan anak-anak selamanya?"
"Bukan gitu," Rey meraih tangan Alesha dan menggenggamnya, "Ada hal yang harus kamu tau. Sha, jarang banget ada orang yang bisa sembuh dari kanker. Kalaupun Mas ngelakuin kemoterapi, itu cuma mengurangi pertumbuhan kankernya aja, bukan menghilangkannya. Safira aja yang sampai berobat ke luar negri tetep pergi."
Alesha menepis tangan Rey, "Kamu bukan Mas Rey yang aku kenal," Suara Alesha bergetar. Pertanda kalau dia akan kembali menangis, " suami aku itu selalu berpikiran optimis. Bukan pesimis kayak gini!"
"Kita ke rumah sakit sekarang. Kamu harus kemoterapi dan di rawat di sana," Putusnya. Tidak perduli jika Rey akan menolaknya.
Alesha pergi ke rumah sakit bersama Rey dan Reysha yang kini berada di gendongan Alesha.
Mereka bertiga tengah menunggu dokter Hakim di ruangannya. Perawat bilang ia sedang memeriksa pasien lain, "Rey? Udah lama nunggu?" tanya Dokter Hakim yang baru saja datang dan langsung duduk di hadapan kami.
Rey menggeleng, "Barusan."
Dokter Hakim kemudian mengalihkan pandangannya pada Alesha."Jadi Rey udah ngasih tau kamu?" Tanyanya yang Alesha balas anggukan.
"Apa kanker itu beneran nggak bisa disembuhin dok?" tanya Alesha.
Hakim menghela nafasnya, "Sebelumnya saya udah ngasih tau suami kamu dan menjelaskan tentang kanker otak ini sama dia. Untuk sembuh dari kanker ini kemungkinannya sangat kecil. Dan melakukan kemoterapi adalah salah satu cara menghambat pertumbuhan kanker ini. Tapi suami kamu menolak melakukannya. Alasannya sepele, dia nggak mau ngerepotin kamu dan bikin kamu khawatir."
Alesha menatap Rey, "Kalau kamu nggak mau bikin aku khawatir dan sayang sama aku, lakuin kemoterapi Mas."
"Tapi Mas nggak mau menguras waktu kamu hanya untuk ngurusin Mas yang penyakitan sha. Kamu tau kan kemoterapi itu butuh tenaga dan waktu?"
"Itu udah tugas aku Mas! Tugas aku buat ngerawat kamu dan anak-anak kita. Jangan pernah berpikiran kalau hidup kamu ngerepotin aku. Sama sekali engga," Nafas Alesha memburu. Di satu sisi ia kesal dengan sikap Rey, dan di sisi lain ia juga merasa kasihan padanya.
"Kamu mikir nggak? Justru kalau kamu nggak kemoterapi, kanker itu malah makin ngerusak tubuh kamu dan itu bikin hati aku malah makin sakit."
"Tolong pikirin baik-baik Mas. Aku pamit dulu," Alesha pergi bersama Reysha meninggalkan Rey begitu saja. Untungnya Reysha tertidur. Jadi ia tidak mendengar saat Alesha membentak Ayahnya.
Alesha sengaja pulang ke rumah untuk menenangkan pikirannya. Alesha benar-benar kalut sekarang.
Semua pikiran negatif seolah-olah bertumpuk di otaknya.
Alesha takut jika Rey tidak akan sembuh seperti Safira.
Alesha takut jika Rey pergi meninggalkannya dan Reysha untuk selama-lamanya.
Banyak sekali hal yang Alesha takutkan.
Alesha terduduk di depan pintu kamar Reysha setelah menaruh Reysha di kamarnya.
Alesha membuka ponselnya dan melihat salah satu foto yang memperlihatkan Rey tengah bermain dengan Reysha.
Rasanya hati Alesha sakit melihat foto ini.
Alesha harap ia, Rey, Reysha dan adiknya bisa terus melewati hari-hari kami bersama tanpa ada satu orang pun yang harus pergi.
"Maafin aku Mas..." Alesha kembali terisak, "Aku nggak bermaksud ngebentak kamu."
Melihat Rey berdiri di hadapannya membuat Alesha reflek memeluknya, "Maafin aku. Aku nggak bermaksud ngomelin kamu. Aku kalut banget tadi. Aku takut kalau kamu tambah sakit."
"Mas tau kamu khawatir sayang," Katanya, "Dan apa yang kamu bilang ke Mas tadi ada benarnya. Mas bakal ngelakuin kemoterapi mulai minggu depan."
Alesha mendongak menatap suaminya."Beneran?"
Rey mengangguk, "Iya. Hakim lagi ngurus semuanya, dan jadwal kemoterapi pertama Mas, minggu depan."
Rey menangkup pipi Alesha dan menghapus air mata Alesha dengan jempolnya, "Utututu jangan nangisi Mas lagi ya? Mas nggak tega liatnya."
"Maafin aku Mas. Seharusnya aku nguatin kamu, bukan malah bentak kamu kayak tadi," Alesha merasa bersalah pada suaminya.
"Iya sayang nggak apa-apa. Kamu bisa janji satu hal sama Mas nggak?"
"Janji apa?"
"Mulai sekarang, jangan nangisin Mas lagi. Mas nggak mau liat air mata kamu jatuh terus. Terlalu menyakitkan buat Mas."
Alesha menghela nafas dan memegang tangan Rey yang berada di pipinya."Aku janji sama Mas kalau aku nggak akan nangis lagi. Kecuali tangis air mata bahagia karena dapat kabar kalau kamu sembuh total."
Rey terkekeh, "Makasih ya. Kita berdua harus sama-sama kuat dan menerima keadaan ini."
*******
"Papa!" Reysha menggedor-gedor pintu kamar orang tuanya. Tak kunjung mendapatkan respon dari orang tuanya, Reysha mulai menangis, "Papa...." Katanya sambil terisak.
"Mas, itu bukannya suara Reysha ya?" Alesha bertanya pada sang suami dengan suara parau khas bangun tidur.
"Masa sih?" Tanya Rey balik dengan mata yang masih terpejam.
"Papa....." Lagi, Alesha mendengar suara Reysha.
"Iya Mas, itu Reysha. Aku mau liat dia dulu," Alesha menyingkirkan tangan Rey yang melingkar di perutnya.
"Reysha? Kenapa nangis sayang?" Alesha sedikit terkejut saat melihat Reysha menangis dengan posisi terduduk di depan pintu.
"Mama...." Reysha merentangkan tangannya meminta digendong Alesha. Dengan segera Alesha menggendongnya.
"Kenapa nangis sayang?" tanya Alesha mengusap air mata Reysha.
"Mama, Papa mau pergi" Lirihnya. Membuat Alesha menatap Rey yang kini sedang terduduk di atas kasur.
"Kenapa sayang?" Tanya Rey tanpa bersuara.
Alesha menggeleng pelan, "Papa nggak kemana-mana. Dia lagi duduk di kasur. Tuh liat," Alesha menunjuk Rey yang sedang menyandarkan kepalanya di kepala ranjang.
"Tadi kakak mimpi. Di mimpi itu Papa pergi ninggalin Reysha sama Mama," Ceritanya.
Deg!
Hati Alesha mendadak nyeri. Ini baru mimpi. Bagaimana jika itu menjadi kenyataan?
Alesha segera menepis pikiran buruknya jauh-jauh.
"Mas harus terus di sisi aku sama anak-anak," Gumamnya meyakinkan diri sendiri.
Alesha kini mengusap punggung Reysha, "Papa nggak akan kemana-mana. papa bakal terus ada sama kita. Kan tadi cuma mimpi, jadi kakak jangan takut ya?"
Bersambung.........