
Rey menatap dalam wanita yang tengah terlelap di dekapannya, semalam ia meminta haknya kepada Alesha, walaupun Alesha terlihat lelah tetapi ia harus melayani Rey dengan sepenuh hati.
Rumah tangga Alesha dan Rey tidak terasa sudah berjalan hampir tiga bulan, selama itu juga hati Rey masih bimbang akan perasaannya terhadap Alesha.
Alesha mengerjapkan matanya kala mendengar suara adzan berkumandang, Rey menyambut Alesha dengan senyuman yang tentunya membuat jantung Alesha berdegup dengan kencang.
"Assalamualaikum Zaujati" salam Rey tersenyum lebar.
"Wa'alaikumussalam, pagi ini harus keramas ya? Males banget dingin" lirih Alesha
"Nanti biar Mas siapin air hangat"
"Hari ini ujian tapi aku belum sempet belajar, semalem aku mau belajar tapi diganggu mulu" cibir Alesha menyindir Rey yang membuatnya gagal belajar.
"Udah sana mandi, abis itu kita sholat berjamaah di bawah ya" ajak Rey berusaha mengalihkan pembicaraan.
Alesha mendengus kesal lalu bangkit meninggalkan Rey yang terkekeh melihat wajah menggemaskan istrinya.
Rey biasa memanggil Safira istri pertamanya dengan sebutan Humaira yang memiliki arti kemerahan, putih campur merah, atau yang berpipi merah karena kulit putih Safira dan pipi yang kemerahan cocok untuknya dipanggil Humaira.
Sedangkan Alesha biasa dipanggil Rey dengan sebutan Zaujati yang berarti istriku.
Tidak ada yang di beda bedakan antara Alesha dan Safira, bagi Rey mereka berdua memiliki arti penting tersendiri di hatinya.
Setelah selesai sholat kini Alesha tengah duduk berhadapan dengan Rey dan juga Safira di meja makan. Alesha menatap tidak suka makanan yang dihidangkan dihadapannya.
Rasa lelah, ngantuk dan juga sedikit pusing membuat Alesha tidak berselera memakan makanan tersebut.
"Alesha kenapa gak dimakan, makanannya gak enak ya?" tanya Safira yang melihat Alesha hanya mengaduk aduk makanannya.
"Asha lagi gak nafsu makan, oh iya pulang sekolah Asha mau kumpul sama temen-temen dulu boleh ya" ijin Alesha kepada dua orang yang ada di hadapannya.
"Sama temen-temen cowok kamu itu?" tanya Rey yang dibalas anggukan Alesha.
"Alesha, sayyidina Umar bin Khattab Radhiallahu Anhu pernah berkata "sejelek-jeleknya wanita adalah yang menampakkan dirinya kepada para laki-laki asing dan tidak malu terhadap mereka( riwayat Ibnu Abi syaibah)
"Ingat Alesha, Dalam ajaran Islam pertemanan hanya berlaku diantara sesama muslim sesuai gendernya, laki-laki dengan sejenisnya, wanita dengan sejenisnya. Artinya tidak dikenal istilah "teman lawan jenis" atau tidak ada istilah pertemanan antara laki-laki muslim dan perempuan muslim"
"Disini mas bukan membatasi pergaulan kamu, tapi mas cuma ingin yang terbaik buat kamu, mas ijinkan kamu pergi dengan Resa tapi tidak dengan pria" jelas Rey, Alesha hanya mengangguk malas kemudian bangkit dari duduknya mengambil tas.
"Ya udah Alesha berangkat dulu, Alesha berangkat sendiri aja mau langsung belajar disana" ucap Alesha menyodorkan tangannya kepada Rey dan Safira.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" jawab Rey dan Safira
Kini tinggal Rey dan Safira yang berada di meja makan melanjutkan sarapannya.
"Mas, akan lebih baik kamu nasihati Alesha jika sedang berdua, aku nggak mau dia merasa malu karena kamu menegurnya dihadapan aku seakan-akan kamu telah mempermalukannya" terang Safira
"Iya maaf" jawab Rey singkat
*****
Ujian hari pertama berjalan dengan lancar, Alesha dan Resa kini tengah duduk di taman belakang sekolah. Keduanya sama-sama hanyut dengan pikiran masing-masing.
Resa menatap sekilas sahabatnya, antara ragu dan takut untuk mengatakan jika ia punya hubungan dengan kakaknya.
"Gue tau semuanya" ucap Alesha membuka suara, Resa menatap diam sahabatnya sambil menaikan sebelah alisnya.
"Maksud lo?" tanya Resa yang tidak mengerti ucapan Alesha.
"Hubungan lo sama bang Alan" ucap Alesha tanpa menoleh ke arah Resa.
"Gue denger sendiri pembicaraan lo sama abang gue, kenapa lo gak pernah bilang sama gue sa? Andai gue tau lo sama abang gue punya hubungan, gue gak akan pernah dukung Ciko buat nyantain perasaannya sama lo"
"Lo becanda kan sha, Ciko gak mungkin punya perasaan sama gue,Kita semua sahabat"
"Lo tau sa gak ada namanya cewe sama cowo sahabatan murni sahabatan tanpa ada perasaan" ujar Alesha
"Tapi gue gak pernah suka sama Ciko" ucap Resa menyangkal kebenaran kalau Ciko mencintainya.
"Tapi Ciko suka sama lo sa, gue bakal dukung lo sama abang gue, tapi gue dukung kalian bukan untuk pacaran, gue dukung kalian sampe ke jenjang yang halal, gak ada namanya pacaran antara lo dan abang gue. Gue yakin kalo kalian berjodoh pasti kalian di persatuin kembali" ujar Alesha seraya melangkahkan kaki meninggalkan Resa yang semakin hanyut dengan pikirannya.
Alesha sampai didepan cafe yang dimana sudah terdapat Rey duduk bersandar di motornya sambil memainkan ponsel.
Rey yang melihat kedatangan Alesha langsung memasukan ponselnya" kok lama?" tanya Rey menyodorkan tangannya didepan Alesha.
"Tadi ada urusan sebentar sama Resa, oh iya mas, sebenernya aku mau ajak mas sama mba Safira ke rumah bunda, katanya bunda mau kita bertiga main ke sana. Udah lama juga kan kita gak ke sana" ucap Alesha menaiki motor Rey sambil memegang bahu suaminya.
"Boleh, mas juga pengen silaturahmi sama ayah,bunda"
"Tapi bunda nyuruh kita nginep di sana"
"Nanti kita lanjut bicarain di rumah ya" ujar Rey melakukan motornya ke rumah mereka.
*****
Malam harinya mereka berdua tengah berada di rumah Bimo, Safira tidak ikut serta menginap dirumah keluarga Alesha, sebab ia merasa tidak enak hadir di tengah-tengah mereka walau Mega dan Bimo telah menganggap Safira bagian dari keluarga yang tak lain putrinya sendiri.
"Bunda gak enak sama Safira, kenapa gak ikut aja nginep disini biar nanti bunda tidur sama Alesha sama Safira" ucap Mega disela-sela makannya.
"Iya Asha juga gak enak banget, tapi gimana lagi mba Safira gak mau ikutan" guman Alesha mengaduk aduk makannya.
"Alesha kok makanannya gak dimakan, gak baik sha" tegur Bimo pada Alesha, Alan hanya diam menikmati makannya tanpa minat ikut berbicara.
"Maaf yah, gak tau akhir-akhir ini Alesha jadi males makan, gampang cape, apalagi sering pusing" adu Alesha mendorong pelan makannya kemudian menyandarkan kepalanya di kursi makan.
"Gejala hamil kali" ujar Alan yang dari tadi hanya diam, sontak Alesha mendelik mendengar ucapan abangnya.
Berbeda dengan Mega, Bimo dan Rey yang tengah memperhatikan Alesha.
Apa benar Alesha hamil? Tanya Rey pada dirinya sendiri.
"Gak mungkin, katanya gejala hamil kan pusing sama mual-mual, tapi Asha gak mual tuh" elak Alesha
Mega berpindah duduk yang semula di samping Bimo kini mendudukan dirinya di samping Alesha.
"Dari kapan kamu pusing kaya gini?" tanya Mega
"Hampir lima hari ini sih bun" jawab Alesha malas
"Bulan ini kamu udah dateng bulan?"
"Belum, gak tau biasanya sih udah tapi Asha udah telat tiga mingguan kayanya sih"
Deg!
Jantung Rey berpacu dengan cepat, ia tidak mau terlalu berharap, tetapi jika memang ini benar ia akan menjadi orang yangs sangat bahagia menantikan kehadiran calon anaknya.
"Kayanya kamu beneran hamil sha" ucap Mega serius.
Alesha hanya mengedikkan bahunya acuh seolah pembahasan ini terlalu membosankan, jika memang ia tengah mengandung Alesha akan sangat bersyukur, tetapi jika tidak ia bisa apa.
Alesha bukan seperti kebanyakan wanita yang akan terkejut dengan ucapan tentang hamil dan tiba-tiba tersedak mendengarnya, itu terlalu drama buat hidupnya yang biasa-biasa aja.