Until the End

Until the End
Aneh



"Sayang, ayo buka mulutnya. Makan, ya ? Sedikit aja." mohon Rey pada Alesha yang terus-terusan menggelengkan kepalanya.


Rey menghela nafas berat.Beberapa minggu ini nafsu makan Alesha sebenarnya mulai membaik. Gadis itu sudah tidak lagi sulit untuk memasukkan makanan ke dalam tubuhnya. Hanya saja ia masih sering mual.


"Sayang, aku tidak mau makan, aku mau makan kalau Mas yang masak." ujar Alesha, pasalnya semenjak Alesha hamil yang kedua, Rey tidak memperbolehkannya masak karena takut terjadi hal yang tidak-tidak pada calon anaknya.


Rey menghela nafas berat, dirinya tidak bisa memasak dan kini Alesha ingin memakan masakannya, dia takut jika anaknya keracunan.


"Sayang, Mas kan gak bisa masak, makan yang ini aja ya." ujar Rey berusaha membujuk istrinya.


Lagi-lagi Alesha bersidekap dada sambil menggelengkan kepala. Mulut gadis itu juga mengerucut lucu dengan mata melebar yang sedikit berkaca-kaca. Jurus andalan yang mampu membuat Rey merutuki diri sendiri karena dirinya menjadi sangat lemah dan tidak bisa menolak keinginan Alesha.


Rey menghela nafas. Yah, kalau sudah begini mau tidak mau Rey harus menuruti keinginan Alesha. Sudah syukur gadis itu mau makan sekarang, walaupun dengan persyaratan harus memakan masakannya.


"Yasudah kalau begitu, kamu jaga Risa dulu ya, Mas mau masak" ucap Rey terdengar pasrah.


"Beneran Mas mau masak buat aku ?" ucap Alesha bertanya antusias. Gadis itu bahkan nyaris bangkit dari duduknya untuk melompat-lompat saking senangnya. Kebiasaan yang selalu Alesha lakukan jika terlampau bahagia atau antusias terhadap suatu hal. Beruntung Rey yang sudah paham akan hal ini berhasil menahan tubuh Alesha terlebih dahulu. Bukan apa-apa, masalahnya saat ini gadis itu sedang hamil.


"Jangan lompat-lompat sayang! Kamu sedang hamil! Berbahaya! Bagaimana kalau bayinya nanti kenapa-napa?!" pekik Rey tertahan karena takut membuat Alesha menangis lagi.


Alesha merengut. "Maaf Mas. Tadi aku terlalu bersemangat." ucap Alesha.


Menjalani masa kehamilan memang membawa tantangan namun juga menjadi pengalaman berharga. Banyak hal yang terjadi selama proses tersebut, baik secara fisik maupun emosional. Jika pada trimester pertama Mama akan mengatasi morning sickness yang memengaruhi mood , pada trimester kedua gejala tersebut mungkin mulai berkurang.


Meski demikian, Alesha juga mengalami tantangan baru. Fluktuasi emosi masih sering terjadi, walaupun tidak terpisah saat trimester pertama kehamilan.


"Ya udah Mas masak dulu ya." ujar Rey mengecup sekilas kening Alesha.


Rey berjalan menuju dapur untuk menyiapkan makanan, Alesha sedang mengajak bicara anaknya.


"Mama, Reysha mau main sama Papa." ujar Reysha melempar lempar bonekanya.


"Iya nanti, Papanya lagi masak buat mama." ucap Alesha mengusap rambut halus putrinya.


"Lama Mama." pekik Reysha dengan wajah cemberut.


Alesha menghela nafas kasar, entah mengapa akhir-akhir ini dirinya ingin menangis dan marah-marah setiap harinya.


"MAS REY." pekik Alesha membuat Rey langsung berlari ke arahnya takut terjadi sesuatu pada Alesha.


"Kenapa sayang?" tanya Rey dengan raut wajah panik.


"Udah deh gak usah masak, aku males makan, jagain aja Reysha, dia maunya cuma sama kamu." ujar Alesha pergi meninggalkan Rey dengan mata memerah.


Rey hanya diam, dia masih mematung di tempat, susah payah dia berusaha memasak tetapi Alesha malah tidak mau makan akibat kesal kepada Risa.


"Kakak, jangan gitu lagi ya sayang, kasian Mamanya, main sama Mama ataupun Papa juga sama aja kan?" ucap Rey memberi pengertian kepada putrinya, karena selama ini Rey tidak pernah berteriak di depan Risa ataupun Alesha.


"Tapi Mamanya gak asik Papa, Mama marah-marah terus." ucap Reysha mencebikkan bibirnya.


"Mama gak marah-marah tadi, ya udah Reysha bobo siang sama Papa ya." ajak Rey menggendong Reysha, niatnya setelah selesai menidurkan putrinya,ia akan berusaha membujuk Alesha kembali.


"Iya Papa." ujar Reysha memeluk leher Rey.


Bersambung...........