Until the End

Until the End
Keadaan Safira



Safira Khumaira wanita segudang rahasia yang menyimpan banyak luka, luka yang di sebabkan dirinya sendiri karena memulai semuanya dengan kebohongan.


Bukan Safira jahat, tapi dia hanya ingin merasakan cintanya terbalaskan oleh Rey. Bahkan buka dirinya saja yang salah di sini, tetapi Ira juga telah mendukung semua kemauan Safira.


Kalian boleh menganggap Safira jahat, tapi apakah takdir bisa di hindari? seolah-olah Safira jahat tetapi takdir buruk yang selalu menghampirinya, mulai dari bundanya yang pergi meninggalkan Safira dan mengasuh anak orang lain, sampai dia divonis tidak bisa memiliki anak dan juga penyebab kematian Alvin.


Kalian tau takdir? Takdir adalah sesuatu yang telah ditetapkan Allah SWT pada makhluk-Nya, baik berupa penciptaan, peniadaan, maupun perubahan terhadap sesuatu.


Dan Safira tidak bisa merubah takdir yang sudah di gariskan kepadanya.


Hari ini adalah jadwal Safira bertemu dokter yang selama ini menanganinya, dia akan di temani oleh Alesha dan Rey. Sebenarnya Rey telah melarang Alesha untuk ikut karena merasa kasihan akan kandungan Alesha, tetapi Alesha memaksa ingin ikut menemani Safira.


"Yuk berangkat." ajak Alesha.


"Yakin mau ikut?" tanya Safira yang masih duduk di bangku halaman rumahnya.


"Kenapa? Nggak boleh ya" tanya Alesha.


"Nggak, bukan gitu Sha" ujar Safira memegang tangan Alesha.


"Ya udah kalian pergi aja, aku di rumah aja deh." Safira menggeleng pelan, pasti Alesha salah paham dengan ucapannya.


"Kamu salah paham Sha."


Alesha hanya tersenyum, ia meninggalkan Safira yang masih menatapnya.


Rey yang baru saja keluar rumah menatap aneh antara Safira dan Alesha, bukankah tadi Alesha ingin ikut bersamanya.


"Kok Alesha masuk lagi, emang dia gak jadi ikut?" tanya Rey.


"Tadi dia salah paham Mas, aku cuma tanya dia yakin mau ikut, tapi dia ngira aku gak ngebolehin dia ikut." jujur Safira.


"Ya udah biarin aja, lagian Mas juga kasihan kalau Alesha harus ikut."


Rey dan Safira pergi menuju rumah sakit untuk mengecek keadaan Safira, Rey berharap Safira akan baik-baik saja.


Sesampainya di rumah sakit Safira langsung memasuki ruangan dokter Lala.


"Kita harus cepat melakukan operasi sumsum tulang belakang agar menghambat terjadinya hal yang tidak di inginkan." jelas dokter Lala.


"Untuk saat ini mungkin operasi adalah tindakan yang tepat mengingat belum ada obat yang bisa menyembuhkan penyakit ini, jadi kita harus berusaha mencari pendonor yang cocok untuk ibu Safira."


Rey menggenggam erat tangan Safira untuk menguatkan istrinya."Kalo gitu terimakasih dok, kami permisi."


Setelah keluar dari ruangan dokter Lala, entah mengapa Rey dan Safira sama-sama diam tidak ada yang membuka pembicaraan sampai tempat parkir, Rey membukakan pintu untuk Safira.


"Maafin aku Mas, aku selama ini cuma nyusahin kamu." ujar Safira menundukkan kepalanya.


"Maksud kamu apa Fir, justru selama ini kamu gak pernah nyusahin aku sama sekali, bahkan sampai kamu sakit separah ini kamu nutupin semua itu dari aku."


"Aku gak berguna, aku penyakitan, aku gak bisa ngasih kamu keturunan, itu semua udah jelas kalo aku nyusahin kamu Mas."


Rey menggeleng pelan, ia menarik Safira kedalam pelukannya. Dia tidak mengerti apa yang ada di pikiran Safira, bukankah suami istri harus saling terbuka satu sama lain.


Susah dan senang pun mereka harus menjalaninya bersama-sama.


Ujian Allah ini tidak lain tanda kasih Allah dalam membentuk manusia yang tangguh dan muslim yang memiliki kualitas iman tinggi.


Sejatinya, kemudahan dan kesulitan datang karena ridha Allah semata. Kita dituntut untuk selalu siap menghadapi segala hal, termasuk kondisi yang sangat sulit.


Hidup berjalan dengan kondisi yang silih berganti. Kadang sangat mudah dan menyenangkan namun bisa berubah seratus delapan puluh derajat dalam hitungan detik.


Tanamkan dalam diri kita bahwa ujian bukanlah siksaan, bahwa ujian bukanlah azab dari Allah melainkan justru Allah sangat cinta kepada kita, Allah sangat mencintai hamba hamba-Nya yang beriman dan sabar dalam menghadapi ujian-Nya.


"Aku yakin kamu bisa sembuh fir, nggak ada yang nggak mungkin, kita cuma bisa berdoa dan meminta kepada Allah untuk kesembuhan kamu." ucap Rey meyakinkan Safira agar tidak menyerah menghadapi ujian yang menimpanya.


Namun di dalam lubuk hati Safira, dia ikhlas jika takdir berkata lain dan hidupnya hanya sampai di sini. Ia lelah harus berpura-pura tegar di hadapan orang lain. Safira juga lelah jika harus terus bergantung dengan obat-obatan yang di konsumsinya.


Saat ini mereka telah tiba di pekarangan rumahnya, di sana Rey dapat melihat jelas di balik jendela kamar Alesha jika perempuan itu sedang melamun di dalam kamar.


Rey membawa Safira agar beristirahat di kamarnya, setelah itu ia membawakan makanan untuk Safira."Aku gak separah itu sampe kamu nyuruh aku makan di kamar." keluh Safira, ia merasa jika Rey sudah berlebihan terhadapnya.


"Nggak ada yang berlebihan, aku cuma mau merawat istri aku, apa itu salah?"


"Ya nggak gini juga Mas."


"Udah kamu habisin makanannya, Mas mau keluar sebentar." ujar Rey beranjak meninggalkan kamar Safira.