Until the End

Until the End
Pulang



"Jawab sayang, apa kamu mau memaafkan Mas? Apa kamu mau percaya kembali, Mas mohon jawab Sha, jangan diam saja."


"Apa Mas gak akan berlaku seperti itu lagi jika aku kembali?" tanya Alesha tanpa mau melihat suaminya.


"Sekarang, tolong kamu percaya dan maafkan saya, ya? Maafkan saya kalau sikap Mas membuat kamu jadi kayak gini. Maaf, Sha, Mas janji gak bakal ulangin lagi kesalahan tersebut." ucap Rey penuh harap agar Alesha luluh dan mau memaafkan dirinya.


Alesha menarik napas dalam-dalam sambil memejam mata. Dia benar-benar dilema. Cinta yang terlanjur terpatri, benar-benar sangat membingungkan hatinya.


"Sayang"


"Aku maafin kamu. Tapi aku minta, tolong jangan diulangin lagi, Mas. Hati aku bener-bener sakit kalo kamu giniin aku, bukan cuma aku aja tapi Risa juga."


"Iya, sha, iya. Mas pasti gak akan ngulangin kesalahan Mas lagi. Mas janji." ujar Rey tersenyum gembira mendengar jawaban sang istri.


"Terima kasih untuk maaf yang kamu kasih,sayang. Mas pasti akan selalu ngejagain kamu dan anak kita. Mas gak akan bikin kalian sedih lagi. Makasih, sayang, makasih." lanjutnya sambil memeluk hangat perempuan tersebut.


Pelukan yang membuat Alesha perlahan tenang dari huru hara di hatinya, pelukan yang akhirnya membawa kedamaian bagi dirinya.


Entah apa yang dimiliki lelaki ini, tetapi semua yang ada pada dirinya seakan mampu membuaikan bagi Alesha yang membuatnya tak bisa untuk menolak memaafkan.


Sementara Rey kini dapat bernapas lega karna akhirnya telah mendapatkan maaf dari sang istri. Ia berjanji dalam hati bahwa kesalahan ini sebisa mungkin tidak akan terulang lagi.


Masih menggenggam tangan Alesha."Kita pulang ya sayang, Mas mau kumpul lagi sama kalian."


Alesha mengangguk singkat."Tapi nanti Mama sendirian lagi." ujar Alesha menundukkan kepalanya.


"Kamu mau Mama ikut sama kita? kalo kamu mau kita bisa ajak."


"Iya aku masih kangen sama Mama."


"Ya udah kita ajak aja Mama pulang, oh iya gimana keadaan Risa, kata Mama dia demam."


"Risa baik-baik aja Mas,dia cuma demam biasa."


Setelah berbincang-bincang lebih lama, akhirnya Rey dan Alesha pun pulang tanpa membawa Maura, karena Maura lebih nyaman dirumahnya sendiri dan takut merepotkan, dan karena ini permintaan Maura sendiri. Maka mau tidak mau Alesha harus menerima keputusan mamanya.


"Kamu mau makan apa sayang? biar Mas beliin makanan buat kamu, di rumah juga lagi gak ada bahan yang bisa di masak." ucap Rey menggendong Risa, sedangkan Alesha sudah duduk bersandar di sofa.


Alesha melirik sekilas Rey, rasanya ia masih ingin mendiami suaminya itu, tapi Alesha merasa itu adalah hal yang salah.


Hukum istri mendiamkan suami adalah haram dalam Islam. Ini didasarkan pada sebuah hadist dari Mu’adz ra. Rasulullah SAW bersabda:


"Tidak halal istri meninggalkan tempat tidur suami dan tidak halal pula mendiamkan suaminya. Jika ada suatu perbuatannya yang menzalimi suami, hendaklah ia datang kepadanya hingga suami menyatakan keridhaannya. Jika ternyata suami mau meridhainya, kedatangannya sudah cukup dan kelak Allah akan menerima alasannya dan memenangkan hujjahnya, dan ia tidak berdosa lagi. Akan tetapi, jika suami tidak mau meridhainya, sesungguhnya istri telah menyampaikan alasannya di hadapan Allah." (HR Al-Thabrani, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi)


Dalam hadist tersebut dijelaskan bahwa sikap mendiamkan suami adalah hal yang tidak dianjurkan dalam Islam. Jika seorang istri telah melakukan kesalahan kepada suaminya, hendaklah ia segera meminta maaf. Inilah yang utama baginya.


Apabila sang suami memaafkannya, maka terhapuslah dosa dia kepada suami. Namun, jika suami tidak mau memaafkannya, maka Allah kelak yang akan mengadili urusan tersebut.


"Terserah."


"Ya udah nanti Mas pesenin makanan kesukaan kamu ya, Mas taruh Risa ke kamar dulu." Rey berlalu meninggalkan Alesha.


Setengah jam kemudian, makanan yang di pesan mereka pun telah sampai. Mereka menikmati makan siang mereka dengan khidmat tanpa ada suara.


Alesha memasuki kamarnya ingin mengistirahatkan tubuhnya yang sangat lelah akhir-akhir ini.


"Sini sayang, Mas mau bicara sama kamu." ujar Rey menepuk sisi ranjangnya yang kosong.


Alesha dengan pasrah langsung duduk di samping suaminya, ia penasaran apa yang mau Rey katakan kepadanya.


"Mau ngomong apa?" tanya Alesha ketika sudah duduk di samping Rey.


"Sayang, apa kamu masih mau kuliah mengejar cita-cita kamu yang sempat tertunda?" tanya Rey mengusap pelan surai istrinya dengan sayang.


"Maksud kamu?" tanya balik Alesha yang tidak mengerti atas ucapan suaminya.


"Kamu masih mau kuliah?"


Alesha mengernyitkan keningnya tanda tidak mengerti akan ucapan Rey yang terdengar basa-basi.


"Mas mau kamu lanjut kuliah Sha, Mas mau liat kamu mewujudkan cita-cita kamu sendiri."


"Nggak perlu, aku udah punya anak, dan cita-cita aku pun pasti sulit untuk di gapai."


"Kalo alasan kamu cuma karena Risa, Mas bisa bantu kamu Sha, bukan berarti setelah punya anak kamu gak bisa mewujudkan cita-cita kamu."


"Menjadi mahasiswa dan orang tua sekaligus bukanlah tugas yang mudah Mas.menemukan waktu untuk menyeimbangkan antara tanggung jawab pendidikan dan merawat anak. Begadang untuk menyelesaikan tugas kuliah mungkin tidak jadi masalah kalo nggak punya tanggung jawab, tetapi mengurus anak dalam keadaan kurang tidur dan tidak tidur sama sekali bisa menjadi bencana besar, dan waktu belajar aku nantinya bisa ikut berantakan."


Rey menghela nafas panjang mendengar penuturan istri kecilnya itu.


"Mas bisa bantu buat jadwal kalender, agenda, atau pembuat jadwal scheduler dan menetapkan waktu tertentu sedikitnya satu kali sehari)untuk belajar dengan gangguan minimal. Mungkin sesekali kamu nggak bisa memenuhi jadwal tersebut, tetapi memiliki rutinitas belajar akan membantu kamu memanfaatkan waktu seefisien mungkin dan mencegah tugas sebagai orang tua merampas waktu belajar di rumah." ucap Rey memberikan solusi untuk Alesha.


"Kenapa?"


"Apanya?" tanya Rey.


"Kenapa Mas nyuruh aku kuliah, Mas nggak takut kalau aku nantinya bakal lupa sama tanggung jawab aku sebagai istri dan ibu?"


Rey memegang bahu Alesha dan menatap dalam wajah istrinya.


"Mas percaya sama kamu Sha, selama Mas menikah dan kamu masih sekolah aja kamu mampu membagi waktu antara pendidikan dan kewajiban."


"Terus siapa yang bakal jaga Risa Mas?"


"Ada ibu yang mau jaga Risa, Mas juga akan tetep awasi Risa, kamu kejar cita-cita kamu ya sayang, Mas cuma mau kamu bahagia." Rey memeluk tubuh mungil istrinya, rasanya ia masih merasa bersalah telah merenggut masa muda Alesha dan setelahnya dia malah seperti mencampakkan istrinya.


Jika wanita lain, mungkin dia tidak akan sekuat Alesha untuk bertahan sejauh ini, gadis remaja yang harus di paksa menjadi istri kedua dari gurunya sendiri, bahkan di paksa untuk menghasilkan keturunan, tidak sampai di situ kesedihan Alesha, fakta yang lebih menyakitkan lagi adalah jika dia bukan putri kandung dari Mega, wanita yang selama ini merawatnya.


"Gimana, kamu mau kan sayang?"


"Aku pikirin dulu ya Mas, aku gak mau sampai Risa jadi kekurangan kasih sayang dari aku nantinya."


Bersambung......