Until the End

Until the End
Perkara Intan



Suasana rumah Azzam saat ini sangat sepi. Orang tuanya sedang pergi keluar kota untuk beberapa minggu, dan Reysha terlihat tidak keluar kamar dari tadi. Sedangkan Azzam sedang menonton tv diruang tamu.


"Zam, Azzam..." teriak Reysha dari kamar.


Azzam mengerutkan keningnya, apa ia tidak salah dengar? Samar-samar Azzam mendengar suara teriakan itu lagi. Ia mendongak melihat ke arah kamarnya, setelah itu ia kembali mendengar suara teriakan Reysha yang memanggil namanya.


"Azzam.."


"Sebentar" balas Azzam sambil menghampiri gadis itu.


Setelah sampai Azzam pun membuka pintu kamarnya, disana ia melihat Reysha yang sedang meringkuk sambil memegang perutnya.


"Kenapa?" tanya Azzam menghampiri Reysha.


"Sakit...hiks" jawab Reysha sambil menangis.


"Eh?" Azzam terkejut saat mendengar Reysha menangis, ia tidak tau harus berbuat apa untuk menenangkan Reysha.


Reysha mengubah posisinya jadi berbalik, kakinya berada di atas kepala ranjang dengan kepala di bawah. Inilah posisi yang sedikit nyaman saat sedang nyeri haid. "Perut gue sakit..." rengeknya.


"Terus?" tanya Azzam bingung.


"Ya nggak terus-terusanlah! Beliin gue kiranti sama pembalut. Se-ka-rang!" omel gadis itu.


"Fine" balas Azzam sedikit kesal. Yang benar saja ia disuruh membeli pembalut. Azzam mengambil topi dan masker agar tidak ada yang bisa mengenalinya dan melangkahkan kakinya keluar kamar.


"Eh tunggu Zam" panggil Reysha.


"Apa?" tanya Azzam membalikkan tubuhnya.


"Beli pembalut yang ada sayapnya" ujar Reysha masih dengan menahan rasa sakit.


"Maksud lo?" tanya Azzam bingung.


"Ck, pembalutnya yang ada sayapnya. Lo baca aja deh, pokoknya lo beli itu" jawab Reysha.


"Ribet" balas Azzam lalu segera melangkahkan kakinya keluar.


Dengan kaos polos hitam dan celana training puma, tak lupa dengan masker yang menutupi sedikit wajahnya. Azzam pergi ke minimarket yang tak terlalu jauh dari rumahnya.


Setelah sampai Azzam langsung masuk dan mencari apa yang gadis itu katakan. Pembalut bersayap? Azzam benar-benar tidak tau itu yang mana.


"Mana yang ada sayapnya" guman Azzam sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Saat sedang mencari sesuatu, pelayan pun menghampiri Azzam.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan tersebut.


"Saya cari pembalut yang ada sayapnya." ujar Azzam.


"Ukuran berapa? Mau yang merek apa Mas?" tanya pelayan itu.


"Terserah deh, pokoknya untuk cewek, kalau bisa ambil semua sama minuman pereda nyeri haid." Pelayan pun mengangguk.


****


Reysha mengecek isi kantung pelastik yang Azzam bawa. Semuanya lengkap dan camilannya pun sangat banyak. Ia terseyum lalu segera turun dari kasur untuk pergi ke dapur, nyeri haidnya sudah berkurang.


"Bosen baget gue hidup kayak gini, boleh kali gue besok main sama temen-temen?" tanya Reysha sambil menatap Azzam.


"Main aja" balas Azzam cuek.


"Fine" ucap Reysha lalu kembali bersuara "lo punya pacar gak sih?" tanya Reysha dengan kepo


"Sejak kapan lo kepo?" tanya Azzam yang mulai tak nyaman dengan pertanyaan Reysha.


"Tinggal jawab doang iya apa nggak." balas Reysha sambil memutar bola matanya kesal karena Azzam sangat bertele-tele.


"Nggak" jawab Azzam lalu menghela nafas dann membesarkan volume tv.


"Masa sih? Kok gue gak percaya ya? Secara lo kan ganteng walau masih gantengan cowok gue Marvel sih." balas Reysha dengan santai.


"Serah lo" ucap Azzam lalu mematikan tv dan pergi ke kamarnya.


"ih ngeselin banget sih" ujar Reysha kesal. Salah apa dirinya, Reysha kan hanya kepo takut pacarnya Azzam tau kalau cowoknya udah nikah.


Setelah kepergian Azzam suasana menjadi sangat hening dan mencekam. Ia melirik ponselnya dan melihat dilayar itu sekarang sudah jam sepuluh lewat lima belas. Reysha merinding lalu berlari ke kamar menyusul Azzam.


BRAK..


Dengan keras Reysha membuka pintu kamar sampai membuat Azzam menoleh kaget. Ia meringis saat melihat tatapan dingin dari Azzam.


"Santai aja dong matanya, mau gue colok?" ketus Reysha.


*****


Disepanjang jalan menuju kantin mereka berempat bercanda. Saling meledek dan dorong-dorongan sampai akhirnya dorongan Reysha dan Sasa mengenai kakak kelasnya.


"Ups..." guman Reysha.


"Eh maaf kak nggak sengaja" ujar Sasa yang merasa bersalah.


"Punya mata nggak sih!" Ketus kakak kelas itu, setau Sasa namanya adalah Intan.


"Sakit tau" marah Intan sambil memegang pundaknya yang ditabrak oleh Sasa.


"Maaf ya kak, kita duluan" ucap Syifa menyudahi.


"Enak aja lo, minta maaf yang bener. Tunduk sini, lo nggak tau siapa kita?" bentak Intan dengan kesal.


Reysha yang mendengar nada tinggi Intan pun langsung geram. Apa-apaan kakak kelasnya itu sampai Sasa harus tunduk, memangnya dia putri raja apa.


"Eh, dia udah minta maaf ya. Lagian dia gak sengaja, gue yang dorong dia" ujar Reysha dengan sangat nyolot.


"Wah berani dia sama kita" ucap teman Intan yang bernama Rani.


"Heh lo tuh adek kelas, gak usah sok jagoan deh" ucap Intan menunjuk wajah Reysha.


"Gue gak sok jagoan, kita cuma minta maaf tapi maksud lo apa harus tunduk? Emangnya siapa lo? Sok berkuasa banget." balas Reysha yang sudah sangat kesal.


"Sialan!" Pekik Intan lalu menampar wajah Reysha, tapi tidak sampai karena gadis itu menepis tangan Intan dengan kasar.


"Gak usah main kasar, kalau gitu kita tarik permintaan maaf kita. Bye!" Ucap Reysha songong lalu mengajak teman-temannya menuju kantin kembali.


"Kurang ajar" ujar Intan seraya bersedekap dada.


"Dia ceweknya Marvel" ucap Lisa teman Intan membuka suara.


"What? Serius lo?" tanya Intan dan yang lainnya kaget.


"Ya kali lo semua gak tau, kudet banget" ucap Lisa.


"Tu anak emang gak terkenal mangkanya gue gak tau" ketus Intan.


Reysha dan teman-temannya sudah memesan makanan. Dan kini mereka sedang makan siang sambil bergosip.


"Siapa sih tuh kakak kelas" tanya Reysha sambil mengunyah mie ayam yang dia pesan.


"Intan Maheswari, dia kakak kelas yang paling disegani. Gue aja takut mangkanya tadi gue diem aja" jawab Cika.


"Apa? Lo takut sama orang kayak dia?" Tanya Reysha tak percaya.


Cika mengangguk "dia sering banget bully adek kelas, bahkan ada yang sampai pindah sekolah." ucap Cika menyeruput minumannya.


"Jangan bilang lo pernah dibully sama dia?" tanya Reysha sambil menyipitkan matanya.


"Enggak lah, jangan sampe amit -amit." jawab Cika sambil mengetuk kepalanya lalu mengetuk meja kantin.


Saat sedang asik makan sambil bergosip, tiba-tiba kakak kelasnya itu datang lagi dan menumpahkan jus tepat mengenai kepala Reysha.


"Sialan!" pekik Reysha seraya berdiri di ikuti oleh ketiga temannya.


"Ups nggak sengaja" ucap Intan menutup mulutnya.


"Mau lo apa sih?" tanya Reysha kesal.


"Emang gila lo ya, yang salah siapa yang harus minta maaf siapa, ogah banget gue minta maaf sama modelan cewek kaya lo." kata Reysha sambil membersihkan tumpahan jus itu.


"Mangkanya kalau jadi adek kelas itu jangan songong" ketus Intan, semua yang berada di kantin menonton adegan itu.


"Lo jadi kakak kelas jangan pansos, sok jagoan nanti dilain nanges." balas Reysha tak kalah ketus.


"Emang kenapa kalau gue pansos?" tanya Intan sambil menoyor kepala Reysha.


"Oh lo mau main kasar, oke gue jabanin?" ujar Reysha lalu mendorong kedua bahu Intan sampai kakak kelasnya itu tersungkur.


Saat itu juga Reysha menumpahkan kuah bakso milik Syifa yang masih lumayan panas ke tubuh Intan. "Arghh panas" pekik Intan merasakan panasnya kuah bakso itu.


Tak tahan melihat itu Azzam langsung menarik lengan Reysha menjauh dari kantin. "Lepas" ucap Reysha.


"Gak seharusnya lo gitu" ucap Azzam tegas.


"Terus gue harus diem aja gitu? Gila kali lo" balas Reysha kesal.


"Tapi itu panas" kata Azzam.


Reysha tertawa "emang kenapa kalau itu panas? Oh itu gebetan lo kan?" tuduh Reysha menatap tajam Azzam.


"Serah lo" ucap Azzam setelah itu meninggalkan Reysha.


Reysha memutar bola matanya malas lalu bersedekap. Dan menoleh saat seseorang memanggil namanya.


"Reysha disuruh ke kantor"


"Sialan, beraninya dia ngadu." giman Reysha


Setelah memasuki kantor, akhirnya Reysha mendapatkan hukuman dari Pak Santo guru BK di sekolahya.


Setelah sampai Reysha berkacak pinggang saat melihat lapangan upacara yang sangat panas karna matahari sudah mulai naik. Dengan malas ia berlari mengelilingi lapangan, sesekali Reysha berhenti hanya untuk mengatur nafasnya. Ia menyeka keringat yang ada dipelipisnya, membuat poninya ikut bergerak dan sedikit berantakan.


"Gila, ini baru tiga putaran. Kayanya sepuluh putaran gue gak sanggup deh" guman Reysha dengan nafas yang terengah.


"Masih tujuh putaran lagi Reysha Larissa!!" tegur Pak Santo saat melihat Reysha berhenti lalu melanjutkan langkahnya.


Reysha tersentak lalu kembali melanjutkan larinya. Kini sudah pukul sebelas, matahari semakin terik membuat wajah Reysha memerah.


"Gue gak sanggup deh, bodo amat" ujarnya lalu berjalan menuju kantin untuk membeli minum.


"Sayang, aku cariin ternyata kamu disini" ujar seseorang yang tak lain adalah Marvel.


Reysha hanya meliriknya karena ia sedang menenggak air minum. "Kamu ada masalah apa sama Intan?" tanya Marvel sambil membenarkan poni Reysha yang berantakan.


"Intan sekelas sama kamu?" tanya Reysha menatap Marvel.


"Ngga, cuma aku kenal aja sama dia" jawab Marvel.


"Sumpah ya itu orang ngeselin banget tau. Masa aku sama temen-temen disuruh tunduk sama dia, emangnya dia siapa? putri keraton atau baby keraton." ucap Reysha berapi-api.


Marvel terkekeh mendengar kekasihnya bercerita "yaudah, setelah ini kamu jangan buat masalah lagi ya sama dia?" ujar Marvel dengan lembut.


"Ya aku sih oke aja kalau dianya gak nyari masalah sama aku." balas Reysha santai.


"Kamu gimana latihannya? Capek ya? Seharusnya kamu udah ga ikutan tanding kaya gitu lagi, kan udah kelas dua belas" ucap Reysha sambil menatap Marvel.


"Aku nggak bisa, lagian tanding ini yang terakhir kok. Besok-besok aku ga ikutan lagi" balas Marvel dan Reysha hanya mengangguk.


"Kalian berdua ngapain di kantin?" tanya Pak Joko yang datang tiba-tiba.


"Lagi duduk Pak" jawab Marvel santai


Sekolah sudah lumayan sepi, tadi Reysha sudah mengecek ke parkiran dan motor Azzam masih ada Disana. Ia berjalan menelusuri koridor kelas 12, semoga Marvel sudah pulang karna ia lupa mengecek motor kekasihnya itu masih ada atau tidak. Masih tiga kelas lagi yang harus Reysha lewati karena kelas Azzam itu terletak diujung.


Reysha mengecek kelas itu dengan menongolkan kepalanya di pintu kelas. Tidak ada siapapun, dan saat berbalik Reysha dikejutkan dengan seseorang yang tubuhnya jauh lebih tinggi darinya. Ya, itu Azzam.


"Ngapain?" tanya Azzam to the poin.


"Ngagetin aja" omel Reysha sambil mengelus dadanya "pulang bareng lah, masa gitu aja nanta" ucapnya tanpa melihat Azzam, ia masih sedikit kesal karena cowo itu memarahinya tadi saat Reysha melukai Intan.


"Sayang ayo pulang." suara cempreng itu merusak telinga Reysha. Dia Intan, kakak kelas yang sempat bertengkar dengannya tadi.


"Heh, ngapain lo disini sama pacar gue?" ujar Intan dengan sinis.


"Oke nggak jadi, gue bisa balik duluan." ucap Reysha kecewa. Ia melangkahkan kakinya kembali, tapi tangannya sudah lebih dulu dicekal oleh Azzam.


"Lo pulang bareng gue" ucapnya dingin membuat Reysha merinding.


"Tuh mak lampir kan mau pulang bareng sama lo" ketus Reysha sambil menatap tajam Intan.


"Yang sopan ya kalau ngomong sama kakak kelas." ketus Intan yang mendengar Reysha memanggilnya Mak lampir.


"Idih, ogah banget gue sopan sama manusia kaya lo." balas Reysha sambil bersedekap.


"Sayang, kok kamu pulang bareng dia sih? Kamu kan udah janji sama aku bakal pulang bareng." ucap Intan sok imut sambil memegang tangan Saga. Sontak hal itu langsung membuat Reysha melotot.


"Gue nggak pernah buat janji sama lo." balas Azzam lalu menarik lengan Reysha.


Reysha yang merasa menang langsung menjulurkan lidahnya pada Intan.


"Sasimo banget sih, gue aduin Marvel tau rasa." geram Intan.


Setelah sampai diparkiran Azzam langsung memberikan helm kepada Reysha, sedangkan dia tidak memakainya karena Azzam hanya membawa satu. Ia tidak tau kalau Reysha akan pulang bersamanya.


*****


Setelah maghrib yang dilakukan Azzam dan Reysha hanya bermain ponsel. Keduanya masih canggung dan malu untuk saling berbicara. Dan kini Reysha masih kesal dengan Azzam.


Ponsel Reysha berbunyi menampilkan Marvel yang melakukan sambungan viedo call-nya. Sontak hal itu langsung membuat Reysha kalang kabut, ia harus bagaimana? Kamar ini berbeda dengan kamarnya, jika Marvel menanyakannya bagaimana?


"Angkat. Brisik banget" ketus Azzam.


"Santai dong" balas Reysha sambil memutar bola matanya.


"Gue ke balkon, jangan lewat kebelakang gue nanti Marvel liat." ucap Reysha sambil melangkahkan kakinya menuju balkon sambil merapihkan rambutnya.


"Sayang...." panggil Marvel saat sambungnya terhubung.


"Kenapa?" tanya Reysha.


"Kamu udah makan belum?" tanya Marvel di seberang sana.


"Belum, aku belum laper." jawab Reysha.


"Mau aku beliin makanan nggak?" tanya Marvel.


"Nggak usah sayang, Mama udah masak kok, kalau aku laper nanti tinggal aku makan aja." balas Reysha menampilkan senyuman manisnya.


"Ya udah jangan lupa makan, oh iya besok aku tanding, nanti kamu nonton sama semangati aku kan?" tanya Marvel lagi.


"Pasti dong sayang, aku bakal nonton dan semangati kamu, nanti aku bakal berdiri paling depan sambil teriakin nama kamu." ucap Reysha terkekeh geli.


"Ya udah aku tutup dulu telponnya ya sayang." balas Marvel.


"iya."


Sambungan telfon-pun terputus. Reysha kembali memasuki kamar dan melihat Azzam tidak memakai baju.


"Saga pakai bajunya" pekik Azzam sambil menutup matanya.


"Gerah" balas Azzam cuek.


"Ck, bodomat deh. Lo mau makan nggak? Gue udah laper" ucap Reysha lalu turun untuk makan.


Azzam memakai bajunya lalu mengikuti Reysha dari belakang karena ia juga merasa lapar.


Bersambung.......