Until the End

Until the End
sakit



Alesha berjalan memasuki gerbang sekolah, hari ini dia sengaja berangkat pagi untuk menghindari Rey dan Safira, bukan tanpa sebab Alesha ingin menghindari keduanya, namun ia ingin sepasang suami istri tersebut mempunyai waktu berdua tanpa gangguan Alesha.


Alesha menuju ruang perpustakaan untuk belajar bersama Resa sebelum bel masuk berbunyi.


"Halo sayangnya akoehhhh, kangen gak lo sama gue?" ucap Alesha disambut malas sahabatnya.


"Lo kemana aja sha, gue gada temen selain lo"


"Ya maap soalnya gue kan abis liburan" liburan ke rumah suami lanjut Alesha dalam hati.


Mana berani dia mengungkapkan statusnya kepada Resa, jika dia tau pasti dia akan menjauhi Alesha karena menganggapnya sebagai pelakor.


"Liburan tapi gak ngajak-ngajak" sindir Resa


"Tenang aja kali, balik sekolah bisa lah kita kumpul-kumpul lagi, gue kangen ketemu sama yang lain, udah lama juga kan kita gak kumpul sama anak-anak" ujar Alesha tanpa ingat kalau dirinya sudah memiliki suami.


"Wah boleh tuh, traktiran dong"


"Santai aja kali re, udah yuk kita lanjutin di kelas aja belajarnya" ajak Alesha


Alesha dan Resa berjalan beriringan menuju kelas, namun di tengah-tengah perjalanannya, Guntur sang ketua basket menghadang jalan Alesha.


"Assalamualaikum Alesha" salam Guntur dengan senyuman dimple membuat kesan manis.


"Waalaikumsalam" jawab Alesha


"Lo kok gak salam sama gue sih" sungut Resa kesal.


"Oh ada lo? Gue perasaan tadi gak liat kutu"


"Ngadi-ngadi ya lo,mau gue tonjok"


"Udah deh males gue ngomong sama lo, oh iya sha, aku mau ngasih ini buat kamu" ucap Guntur menyerahkan sebatang coklat kepada Alesha.


"Giliran sama Alesha manggilnya aku-kamu" sindir Resa.


"Berisik"


"Makasih, kalo gitu aku ke kelas dulu ya assalamualaikum" pamit Alesha menarik lengan Resa agar menjauh dari Guntur yang notabenya musuh bebuyutan Resa.


Tanpa Alesha sadari sedari tadi ada seorang pria yang memperhatikan interaksinya dan Guntur, siapa lagi kalau bukan Rey yang menyaksikan seorang remaja berusaha mendekati istrinya, jika bukan disekolah maka Rey akan menegur keduanya.


Hari ini adalah pelajaran matematika,karena gurunya tidak ada maka Rey yang menggantikan guru tersebut mengajar di kelas Alesha, tentu saja Rey senang karena bisa berada di kelas istrinya.


Tanpa Rey ketahui wajah Alesha sangat pucat karena belum sarapan, Alesha memiliki penyakit magh, maka dari itu seharusnya Alesha tidak diperbolehkan melewatkan sarapannya.


Karena sudah tidak kuat akan kepalanya yang pusing, Alesha menyandarkan kepalanya dimeja.


"Sha, lo sakit?" tanya Resa khawatir dengan keadaan temannya.


"Gak tau, kepala gue pusing banget" lirih Alesha memejamkan matanya.


"Mending kita ke UKS aja sha, gue takut lo kenapa-kenapa" ujar Resa memegang lengan Alesha yang dibalas gelengan.


"Ya udah lo tiduran aja"


Rey yang tidak sengaja melihat Alesha tidak memperhatikan penjelasannya mendekati meja Alesha kemudian memukul keras meja tersebut hingga membuat Alesha tersentak kaget.


Brakk!


"Saya tidak suka ada seseorang yang tidur pada saat saya menjelaskan materi" Bentak Rey


Resa yang geram akan gurunya memandang sinis Rey.


"Maaf pak Alesha bukan tipe orang yang suka tidur di kelas, Alesha sedang sakit dan saya menyuruh Alesha agar pergi ke UKS,namun dia menolak, jadi saya memutuskan menyuruh Alesha agar tidur di kelas" ucap Resa


"Ya sudah kalau kamu sakit, mending kamu pergi ke UKS" ujar Rey dengan tegas, tetapi di dalam lubuk hatinya ia khawatir akan keadaan Alesha.


Alesha mengangguk, ia beranjak dari tempat duduknya keluar dari kelas, namun didepan pintu kelas tiba-tiba Alesha kehilangan kesadaran membuat Rafdy selaku ketua kelas yang duduk di bangku depan refleks berlari menahan tubuh Alesha yang akan ambruk.


"Kalian lanjut belajar, biar saya yang membawa Alesha ke UKS" ujar Rey menarik tubuh Alesha yang ada di dekapan Rafdy.


"Maaf pak, bukannya bapak selalu menjaga pandangan dan juga tidak mau memegang yang bukan mahromnya" ujar Rafdy mengingatkan Rey.


"Ini keadaan darurat, saya hanya membantunya saja" ucap Rey menggendong Alesha.


Semua murid di kelas menatap Rey dengan penuh tanya, pasalnya Rey jarang mau bersentuhan dengan wanita, bahkan meliriknya saja enggan.


Sesampainya di UKS, Rey langsung membaringkan Alesha diatas tempat tidur, ia menatap khawatir wajah pucat istrinya.


"Jangan bikin saya khawatir Sha, belum satu minggu saya menjadi suami kamu, tapi saya sudah gagal menjaga kamu" lirih Rey memegang tangan Alesha.


Tidak lama kemudian Alesha mengerjapkan matanya, ia melihat sekeliling dan matanya terpaku pada Rey yang tengah menangis sambil menggenggam tangannya. Tangan Alesha terulur menyentuh rambut Rey membuat sang empu mendongakkan kepalanya.


"K-kamu udah sadar sha? Mas khawatir banget sama kamu, maafin mas yang tadi udah bentak kamu sha" ucap Rey mencium kening Alesha.


"Ih apaan sih, aku gak papa" jawab Alesha memalingkan wajahnya.


"Kamu pasti sakit gara-gara belum makan kan? Kamu mau makan apa biar nanti mas beliin"


Alesha menggeleng pelan, ia tidak nafsu makan walau perutnya terasa sangat lapar.


"Pak Rey mending balik ke kelas deh, aku udah gak papa kok"


"Enggak, mas mau disini nungguin kamu"


"Kalo mas disini bisa-bisa nanti ada yang curiga, aku gak mau sampai ada yang tau kalo aku istri kedua, apalagi aku takut nanti dihujat sebagai pelakor" cicit Alesha takut-takut.


"Ya udah nanti mas panggilin Resa buat nemenin kamu" ujar Rey meninggalkan Alesha yang masih terbaring di tempat tidur.


Sepeninggalan Rey, Alesha menahan sakit diperutnya yang kembali datang, ia seharusnya tidak melupakan penyakitnya yang akan kambuh kapan saja.


Melihat Rey menangis khawatir padanya membuat hati Alesha berdesir, Alesha yakin Rey menangis hanya karena takut gagal menjaga amanah dari ayahnya, karena selama tiga hari menjadi istrinya Rey, Alesha yakin bahwa Rey hanya berpura-pura berusaha adil antara Safira dan juga Alesha.


Alesha tidak cemburu jika Rey lebih mencintai istri pertamanya, namun ada rasa sesak kala Rey berlaku manis kepada dirinya, karena ia yakin itu semua hanya paksaan.


Alesha berharap bisa secepatnya memberikan keturunan kepada Rey, dan setelah itu ia ingin pergi menjauh dari kehidupan pria yang sudah menjadi suaminya itu, bahkan Alesha sudah menyusun rencana kabur setelah melahirkan, ia juga tidak ingin sampai orang tuanya tau keberadaan Alesha nantinya.


Alesha sudah menuruti kemauan kedua orang tuanya untuk menepati janji ayah kepada orang tua Rey, keluarga Rey juga hanya menginginkan keturunan bukan? Jadi tidak ada salahnya setelah Alesha berhasil memberikan keturunan setelah itu ia berhak mundur.


Pintu UKS terbuka menampilkan Resa yang tengah berjalan sambil membawa makanan ke arah Alesha.


"Lo gak papa kan sha? Gue khawatir banget sama lo, apa lagi pas lo pingsan di depan kelas" ujar Resa dengan raut wajah paniknya.


Alesha tersenyum dan menggeleng "gue gak papa re"


"Gue rasanya mau ikut pingsan liat sahabat gue ambruk di depan mata kepala gue sha" ucap Resa dengan dramatis membuat Alesha memutar bola matanya malas.


"Lebay kali ah"


"Yea lo mah, eh tapi tau gak sih yang bikin gue gak nyangka"


"Apa?" tanya Alesha mengerutkan keningnya.


"Yang bawa lo ke UKS itu pak Rey, gue gak nyangka aja dia yang biasanya liat perempuan kaya liat kotoran bisa gendong lo, secara dia kan mandang perempuan aja gak mau tapi sekarang malah gendong lo" ujar Resa dengan wajah julid, Alesha yang mendengar sontak memutar otak untuk menanggapi celotehan Resa.


"Ya, ya mungkin dia ngerasa salah sih, secara dia kan tadi udah bentak gue" jawab Alesha berusaha sesantai mungkin agar Resa tidak curiga bahwa dia dan Rey memiliki hubungan.


"Iya juga sih, ya udah nih makan nanti Lo sakit lagi"