
Rey terbangun dari tidurnya, ia melihat jam yang masih menunjukan pukul 02.30 dini hari. Rey menatap Safira yang berada di pelukannya sambil mengecup seluruh wajah istrinya yang masih terlelap.
Safira menggeliat merasa terganggu akan kelakuan suaminya, namun ia malah menatap lembut wajah Rey tanpa ada raut wajah kekesalan.
"Eunghh, kenapa mas?" tanya Safira.
"Kita sholat tahajud yuk" ajak Rey yang langsung diangguki Safira.
Safira mengangguk dan langsung berjalan menuju kamar mandi di ikuti Rey untuk mengambil wudhu.
Setelah selesai menunaikan sholat, Rey memilih pergi ke dapur karena haus, sedangkan Safira melanjutkan tidurnya kembali. Namun langkah Rey terhenti kala ada suara orang yang sedang berbicara di kamar Alesha.
"Jadi rencana lo apa sha?" tanya seorang perempuan diseberang sana.
"Gue cuma mau lepas dari beban ini, gue gak mau terus-terusan ngerusak kebahagiaan perempuan lain walau gue udah terlanjur nyaman ada di tengah-tengah ini, rencananya gue mau secepatnya punya anak setelah itu gue pergi jauh dari keluarga gue, gue mau hidup tenang tanpa merusak ketenangan orang" jawab Alesha
"Lo yakin? Pernikahan bukan main-main sha"
"Itu lo tau kalau pernikahan bukan permainan, tapi mereka mempermainkan gue didalamnya, memaksa gue untuk menjadi istri kedua sedangkan lo tau kalau hati gue bakal tetap buat Alvin" jawaban Alesha membuat Rey mengepalkan kedua tangannya, kenapa Alesha tidak mengatakan jika ia mencintai orang lain. Rey tidak sadar kalau selama ini perhatian Alesha hanya pura-pura kepadanya, dan alasan Alesha yang ingin memiliki seorang imam yang mampu merubahnya juga hanya pura-pura.
"Sadar sha Alvin udah gak ada"
"Gue sadar dan sangat sadar, lo tau sejak kecil gue gak pernah mau ada diposisi kedua, gue mau egois tapi gue gak bisa jadi satu-satunya cara yaitu gue memberi keturunan dan setelahnya gue lepas dari keadaan ini, lo bayangin ada diposisi gue, jadi peringkat kedua aja gue ogah apalagi jadi istri kedua" tungkas Alesha
"Ogah gue bayangin, gue cuma mau nikah sekali dan jadi satu-satunya"
Rey masih setia mendengarkan percakapan Alesha entah dengan siapa sampai selesai, dadanya terasa sesak, padahal ia sudah mau membuka hatinya untuk Alesha, tapi mendengar rencana Alesha ingin meninggalkannya membuat amarah Rey memuncak.
Brakk!
Rey membuka pintu kamar Alesha dengan kasar membuat Alesha terperanjat kaget akan kedatangan Rey.
"M-mas" gugup Alesha takut-takut Rey mendengar pembicaraannya di telepon tadi.
"Kenapa? Kamu takut saya denger semuanya?" Ucap Rey dengan nada dingin serta tidak lupa tatapannya yang begitu tajam.
"Syukur deh kalau kamu denger semuanya, lagian apa lagi yang harus
ditutupi lagi" ujar Alesha dengan nada santai menatap nyalang Rey.
"Kenapa kamu mau nikah sama saya sha kalau ujung-ujungnya kita akan berpisah" lirih Rey
"Karena terpaksa,kalau bukan karena perjanjian konyol ayah, aku gak bakal terjebak disini"
"Dan sekarang aku mau kita ce---"
"NGGAK"
Teriak Rey mengusap kasar wajahnya kala tau semua itu hanya mimpi, ia melirik Safira yang ada disampingnya dan ia langsung bergegas pergi ke kamar Alesha untuk melihat keadaan istrinya.
Rey bernafas lega kala melihat Alesha tengah tertidur pulas sambil memeluk guling dengan erat. Rey merebahkan tubuhnya di samping Alesha dan memeluknya dari belakang.
"Eungh" lenguh Alesha merasa terusik akan kehadiran Rey.
"Mas Rey?" panggil Alesha mengusap tangan Rey yang ada di perutnya.
"Hm" guman Rey menutup matanya sambil menghirup aroma tubuh Alesha yang menenangkan.
"Lagi pengen disini aja"
"Gak boleh gitu, kamu harus adil.jadi sekarang kamu balik lagi ke kamar kamu" titah Alesha yang tidak digubris Rey, ia malah mengeratkan pelukannya kepada Alesha.
"Mas Rey" ujar Alesha mencubit lengan suaminya.
"Iya-iya sha,mas balik" ucap Rey mencium sekilas bibir Alesha dan langsung berlari keluar kamar takut-takut Alesha mengamuk.
"MASSSS REYYY"
*****
Pagi hari Alesha sedang disibukkan mempersiapkan perlengkapan yang akan ia bawa untuk mengikuti olimpiade, bahkan tadi Safira ikut membantu Alesha untuk menyiapkannya.
"Pagi" sapa Alesha duduk di ruang makan yang sudah ada Rey dan Alesha disana, namun Alesha terkejut akan keberadaan mertuanya.
"Assalamualaikum Bu, ibu kapan datang?" tanya Alesha menyalami ibu mertuanya yang langsung dipeluk Ira.
"Waalaikumussalam,ibu kangen banget sama kamu sayang" ucap Ira mencium pipi Alesha membuat Safira tersenyum kecut, Ira mengingatkan dulu saat ia baru menjadi menantu di keluarga Prayoga,ia diperlakukan seperti Alesha. Namun saat mertuanya tau ia tidak bisa memberikan keturunan Safira dihempaskan begitu saja. Safira selalu berdoa agar Alesha tidak seperti dirinya yang dibuang bak sampah yang tidak berguna.
"Ibu apa kabar"
"Alhamdulillah ibu sehat nak, ibu denger kamu akan mengikuti olimpiade sekolah ya"
"Iya bu,doain Alesha lulus olimpiade ya bu"
"Pasti sayang, ibu pasti doain kamu" ucap Ira menatap penuh kasih kepada Alesha.
"Ibu bangga mempunya menantu seperti kamu, kamu pinter dan juga cantik, ini ibu bawain makanan kesukaan kamu, pas ibu tau kamu bakal ikut olimpiade ibu tanya ke bunda kamu apa makanan kesukaan Alesha"
Alesha merasa tidak enak terhadap Safira, ia menantu tertua tapi justru Alesha yang dimanja, ia juga tidak enak karena Safira sudah memasak banyak untuknya, Safira tersenyum dan mengangguk menyuruh Alesha memakan makanan dari Ira.
"Makasih banyak bu jadi ngrepotin"
"Nggak ngrepotin nggak apa sha,sini ibu suapin" ucap Ira menyendokkan makanan yang ia bawa dan menyodorkan ke hadapan Alesha, tentu saja Alesha menerima suapan tersebut dengan senang hati.
"Asha jadi kangen bunda, bunda juga sering suapin Asha, apalagi rasa makanannya enak kaya masakan bunda" ujar Alesha
"Ibu juga kaya bunda kamu kan"
"Heheh iya bu"
"Ngomong-ngomong bukannya tiga bulan lagi kamu lulus ya, apa kalian gak ada niatan buat honeymoon biar Rey junior cepet jadi" ucap Ira tanpa sadar melukai hati Safira.
Rey menegang, ia takut mimpi itu jadi kenyataan, jika ia dan Alesha memiliki anak ia takut Alesha akan meninggalkannya karena tanggungjawab Alesha sudah selesai.
"Bu Alesha masih muda, dia juga harus kuliah. Rey gak mau Alesha kehilangan masa mudanya" ujar Rey menatap dalam ibunya.
"Bukannya banyak ya yang menikah masih muda masih bisa kuliah, ibu cuma pengen cepet-cepet punya cucu dari kalian berdua"
Rey hendak menjawab kembali ucapan ibunya tapi langsung dipotong Alesha.
"Doain aja yang terbaik bu, Alesha gak keberatan mau sekarang atau nanti itu udah kehendak jadi kita cuma bisa berdoa"
Ira tersenyum senang, ia menatap Rey dengan menggoda jika anaknya akan segera menjadi seorang ayah.