Until the End

Until the End
Kena pukul



Saat pulang sekolah Reysha dan Azzam melihat keributan diparkiran. Lebih tepatnya Reysha yang mengajak Azzam untuk melihatnya padahal cowok itu sudah melarangnya.


Reysha menutup mulutnya kaget karena Marvel dan Gema bertengkar. Reysha tidak tau penyebabnya apa tapi yang pasti Marvel sudah babak belur oleh Gema.


Azzam menariknya mundur tapi Reysha tidak mau, ia masih mau melihat adegan baku hantam ini. Rasanya Reysha mau memisahkan mereka, tapi tidak berani.


Saat Marvel ingin melayangkan pukulannya pada Gema, seseorang mendorong Reysha hingga akhirnya gadis itu masuk ke dalam lingkaran orang-orang yang sedang menonton.


Tinjuan Marvel meleset mengenai Reysha, gadis itu langsung tersungkur dengan sudut bibir yang berdarah. Semua orang terkejut, Marvel dan Gema terdiam. Sedangkan Azzam sudah menghampiri Reysha yang terlihat kesakitan.


"Reysha," panggil Gema tersadar.


Azzam menepis kasar tangan Gema yang mau menyentuh Reysha. Azzam menatap tajam Gema dan Marvel, lalu membangunkan Reysha yang sedang meringis kesakitan.


"Bangsat kenapa lo mukul dia" bentak Gema tambah marah.


"Gue nggak tau juga kalau dia tiba-tiba datang." balas Marvel tak kalah marah.


"Gue liat tadi Reysha di dorong sama Intan" ujar Rendi, membuat Intan yang sedang tersenyum menang langsung gelagapan.


"Jangan sok tau lo." ketus Intan lalu segera pergi dari kerumunan itu.


"Masalah kita belum selesai" tunjuk Gema pada Marvel.


Di lain tempat Reysha menangis karena sudut bibirnya sangat terasa sakit. Azzam membawanya ke UKS untuk mengobati luka itu, Azzam tau pasti luka itu sangat menyakitkan karena ia melihat tinjuan Marvel itu sangat kencang.


"Gue udah bilang jangan liat." omel Azzam sambil mengobati luka Reysha.


"Hiks...kan-kan aku gak tau kalau bakal gini," ucapnya sesegukan.


"Sakit hiks," tangisnya.


"Diem," ujar Azzam, bagaimana tidak sakit kalau Reysha masih terus menangis? Gadis aneh.


"Jangan galak-galak."


"Pelan-pelan kamu bisa gak sih" omel Reysha pada Azzam yang tidak benar mengompresnya.


"Lagian siapa sih yang dorong aku ke sana? Ngeselin banget, AW...," Reysha memekik lagi membuat Azzam menutup telinganya.


"Sakit hiks...," rengeknya sambil menganyunkan kakinya yang tidak mau diam.


Gema datang membuat kedua pasangan itu reflex menoleh. Azzam masih dengan tampang datarnya sedangkan Reysha menatap tajam Gema.


"Lo gak papa?" tanya Azzam khawatir.


"Gak papa apanya? Sakit tau." jawab Reysha sambil menunjuk-nunjuk lukanya.


"Ayo pulang." ajak Azzam sambil menarik Reysha agar turun.


"Gendong" ucap Reysha sambil merentangkan tangannya.


Gema terdiam kaku, jadi berita Reysha dan Azzam pacaran itu benar? Astaga kenapa Gema merasakan sesak di dadanya?.


Azzam menghela nafas lalu menuruti kemauan Reysha. Ia berbalik dan sedikit membungkuk. Yang sakit bibirnya kenapa kakinya yang tidak mau bergerak? Dasar.


Setelah Reysha dan Azzam keluar Gema berdehem lalu menggelengkan kepalanya, "Gak bener," ucapnya.


****


Setelah sampai rumah Reysha lagi-lagi minta digendong, Dan Azzam hanya bisa menurutinya. Gadis itu melingkarkan lengannya cukup erat di leher Azzam.


"Eh Reysha kenapa?" tanya Marisa saat melihat Reysha digendong Azzam dengan sudut bibir yang lebam.


"Nggak papa kok bun," jawab Reysha sambil terkekeh.


"Kamu ini" decak Marisa khawatir.


"Nggak usah khawatir Bun." ucapnya.


"Kita ke kamar dulu" ujar Azzam, lalu melangkahkan kakinya menuju anak tangga.


Setelah sampai Azzam menurunkan Reysha, cowok itu langsung duduk di bibir kasur sambil membuka sepatunya. Sedangkan Reysha sudah rebahan sambil menikmati dinginnya AC.


Azzam meletakan sepatunya lalu kembali menghampiri Reysha. "Masih sakit?" tanya Azzam.


Reysha memegang sudut bibirnya lalu mengangguk seperti anak kecil, "Perih," jawabnya.


Reysha tersenyum kecil lalu mengusap kepala Reysha. "Gue mandi dulu, nanti di obatin lagi" ucap Azzam dan Reysha hanya mengangguk.


Setengah jam kemudian Azzam dan Reysha sudah selesai mandi, mereka berdua sudah memakai baju rumahan yang santai.


"Gue ambil air hangat dulu, lo ambil kotak P3K di atas lemari ya," ucap Azzam setelah itu berjalan keluar.


Reysha menengok ke arah lemari yang tinggi dan besar itu, melihatnya saja Reysha yakin kalau ia tidak akan sampai. Reysha menolehkan tatapannya ke kanan dan kiri untuk mencari kursi agar dapat mengambil kotak P3K.


"Biarin Azzam aja deh." gumannya lalu kembali rebahan.


Azzam datang dengan baskom kecil di tangannya. Ia melihat Reysha yang belum mengambil kotak P3K, lalu dirinya lah yang mengambil kotak itu tanpa menggunakan bantuan kursi, hanya perlu sedikit berjinjit.


"Sini," panggil Azzam membuat Reysha segera mendekat.


"Pelan-pelan ya," ucapnya seraya menutup mata.


Azzam kembali mengompres luka lebam Reysha dengan hati-hati, ia menatap wajah Reysha yang menggemaskan saat menutup mata seperti itu. Gadis ini sangat nakal dan sulit diberi tahu, jika sudah kena dia juga yang repot.


"AW!!" pekik Reysha saat luka itu terasa sangat perih.


"Dikasih apa? Kok perih banget si," tanya Reysha.


Reysha menepis lengan Azzam, "udah ah perih," ucapnya.


"Ya udah," balas Azzam lalu meletakan kotak P3K itu ke tempatnya lagi. Sedangkan baskom Azzam letakan di atas nakas.


"Pokoknya gue besok mau ribut sama yang ngedorong gue tadi, berani-beraninya dia sama gue" ucap Reysha sambil mengepalkan tangannya.


Azzam tersenyum tipis lalu menggenggam kepalan tangan kecil Reysha. "Gak boleh dendam," ujar Azzam.


"Ya tapi kan--," ucapan Reysha terpotong saat telunjuk Azzam menempel di bibirnya.


"Diam," titah Azzam dan Reysha langsung bungkam.


"Keluar yuk, bosen banget di rumah," ajak Reysha.


"Besok sekolah, nanti telat kalau kecapean." balas Azzam, lalu merebahkan dirinya.


Reysha berdecak kesal lalu pergi ke balkon, "Ngomong aja males."


Reysha menghirup udara malam yang segar, ia menatap langit yang menampakan begitu banyak bintang malam ini. Azzam datang dari belakang, Reysha menolehkan sedikit kepalanya.


"Ngapain?" tanya Reysha jutek.


"Nemenin kamu," jawab Azzam membuat Reysha sedikit terkejut karena Azzam merubah panggilannya menjadi aku-kamu.


"Jadi mau keluar?" tanya Azzam lagi.


Reysha menggeleng lalu menyenderkan kepalanya di lengan Azzam, bahu cowok itu sangat tinggi jadi Reysha tidak sampai. Reysha mendongak menatap wajah Azzam dari samping, "Kok tinggi banget sih kak" tanya Reysha iri.


"Gen" jawab Azzam.


"Padahal Papa sama Mama juga tinggi, tapi kenapa aku pendek." ucapnya sambil memanyunkan bibir.


"Olahraga, jangan rebahan terus." balas Azzam lalu Reysha sedikit menjauhkan tubuhnya dengan Azzam.


"Mau liat itu dong," tunjuk Reysha ke perut Azzam.


Azzam mengangkat sedikit bajunya yang menampakan perut kotaknya. Reysha menganga sambil berdecak kagum, ingin sekali Reysha memegangnya.


"Gimana caranya bisa kaya gitu?" tanya Reysha.


"Olahraga" jawab Azzam lalu kembali menutup perutnya.


"Kok aku kayak donat ya?" tanyanya sambil mengangkat sedikit bajunya ke atas.


Azzam langsung menurunkan baju Reysha, "Jangan pamer gini," ucap Azzam.


"Gak ada yang liat kok" balas Reysha lalu menopang lengannya di pembatas balkon.


"Nanti masuk angin," alibi Azzam.


"Angin ini yang masuk bukan bayi," balas Reysha.


"Ke dalam yuk dingin," ajak Reysha sambil merentangkan tangannya. "Gendong" ucapnya sambil terkekeh.


Azzam menggendongnya seperti anak kecil, Reysha memeluk Azzam dari depan dan melingkarkan kakinya di pinggang Azzam.


"Aku gak berat kan?" tanyanya sambil memeluk Azzam lebih erat.


"Nggak." jawab Azzam lalu menurunkan Reysha saat sampai kasur.


"Tidur," titah Azzam.


"Masih jam berapa juga," balas Reysha.


"Tidur Sa," ucap Azzam lembut.


"Iya-iya Kakak juga tidur sini," balasnya sambil menepuk kasur disebelahnya.


"Duluan, gue mau ngerjain PR,"


"Masih di kasih PR kelas dua belas?"


"Hm,"


"Untung aku jarang di kasih PR,"


"Ya udah tidur sana,"


"Iya nanti,"


Azzam pergi ke meja belajarnya lalu segera membuka buku, setelah itu Azzam mengerjakannya dengan benar.


Reysha turun dari kasur lalu menghampiri Azzam, "Semangat sayangku," ucap Reysha lalu mengecup pipi Azzam singkat.


Azzam cukup terkejut, gadis itu selalu saja mengambil start duluan. Jantungnya langsung berdetak kencang, jika Azzam tak bisa menahannya sudah dipastikan ia akan salah tingkah.


Azzam menatap Reysha yang terlihat sedang tersenyum malu, ia menarik lengan Reysha agar duduk di pangkuannya. Menatap bibir pink mungil itu dengan gemas, Azzam terpancing dan Reysha duluan yang memulai.


Reysha hanya diam dipangkuan Azzam, mereka saling tatap. Azzam mendekatkan wajahnya lalu memiringkan kepalanya, Reysha dapat merasakan hembusan nafas Azzam yang hangat, setelah itu Reysha menutup matanya.


"Zam eh...." ucapan Marisa terhenti.


"Maaf Bunda nggak tau," ucap Marisa malu sambil menahan tawa.


"Lanjutkan" setelah itu Marisa kembali keluar dan menutup pintu kamar itu rapat-rapat.