Until the End

Until the End
Melahirkan



Semalam kondisi Rey tiba-tiba drop. Suhu tubuhnya panas tinggi, kepalanya sakit, dan yang lebih parahnya penglihatan Rey benar-benar kabur dan tidak bisa digunakan untuk melihat secara normal.


Alesha panik? Tentu saja ia panik melihat keadaan suaminya seperti itu.


Alesha bahkan langsung menelpon Alan dan memintanya untuk mengantarkan Rey ke rumah sakit.


Dan di sini mereka sekarang, di ruang rawat inap VIP yang sengaja Ira pilih untuk anaknya.


Alan menemani Alesha dan Rey di rumah sakit semalaman. Kalau Reysha ada Ira yang bisa menjaga.


"Kamu udah makan?" tanya Rey dengan suara lemahnya.


Alesha mengangguk, "Jangan khawatir sama aku," Katanya sambil mengelus tangannya, "Nanti jam bentar lagi dokter kesini buat meriksa kondisi kamu, sekalian ngasih tau jadwal operasi."


Ya, semalam saat dokter Hakim memeriksa kondisi Rey, ia bilang kalau Rey harus segera di operasi untuk mengangkat sel kankernya. Jika di tunda-tunda, dokter Hakim khawatir sel kanker akan terus menyebar dan akhirnya merusak jaringan-jaringan penting dalam tubuhnya. Termasuk mata.


"HPL nya kamu kapan? Mas takut operasinya barengan sama jadwal lahiran kamu,terus Mas gak bisa nemenin." ucap Rey.


"Aku nggak apa-apa ngelahirin sendiri Mas. Yang penting kamu sehat," Aku mengalihkan pembicaraan. Menghindar untuk menjawab pertanyaan Rey.


"Kapan sha?" tanyanya lagi.


Alesha menghela nafas, "Seminggu lagi."


"Permisi," Dokter Hakim masuk ke ruangan. Menyudahi pembicaraan Alesha dan Rey, "Kepalanya gimana Rey? Masih sakit?"


"Lumayan." jawab Rey.


Dokter Hakim mengangguk paham, "Ini jadwal operasinya. saya dan dokter-dokter terbaik yang ada di rumah sakit ini bakal berusaha yang terbaik buat kesembuhan kamu."


Alesha mengambil dokumen yang dokter Hakim sodorkan dan membacanya, "Seminggu lagi ya dok?" Tanya Alesha saat membaca jadwal operasi itu.


"Iya. Dan untuk seminggu ke depan Rey harus di rawat di rumah sakit."


"Nggak bisa mundur seminggu lagi kim?" tanya Rey membuat Alesha melotot menatap suaminya.


"Nggak ada nunda-nunda ya Mas!" Omel Alesha, "Seminggu lagi kamu operasi. Ini harus di tanda tanganin kan dok? Mana pulpennya? Kasih saya," Alesha mengambil pulpen yang berada di tangan dokter Hakim dan segera menandatangani dokumennya.


"Sha, seminggu lagi itu artinya barengan sama jadwal lahiran kamu," Ujar Rey tidak terima.


"Ya terus kenapa? Kamu mau sehatkan? Mau cepat-cepat ketemu sama baby kan? Kalau iya nggak usah nunda-nunda."


"Bener kata istri kamu Rey. saya khawatir kalau kamu menunda operasinya, kondisi kamu bakal semakin drop," Timpal dokter Hakim


Rey menghela nafasnya berat, "Oke-oke. saya setuju."


Setelah mendapat persetujuan dari Alesha dan Rey, dokter Hakim pamit pergi. Begitupun dengan Alan yang pamit keluar sebentar untuk membeli air minum.


"Sayang," Panggil Rey.


"Kenapa? Mau berubah pikiran?" ketus Alesha.


Alesha kesal karena tadi Rey sempat akan menunda operasinya.


Alesha mengangguk dengan cepat, "Mas Rey pasti bisa liat dengan normal lagi. Mas juga pasti bakal sembuh. Aku yakin." ucap Alesha menggenggam tangan Rey.


Rey tersenyum, "Mas sayang kamu."


"Aku tau. Aku juga sayang kamu," Alesha mengecup kilat bibir suaminya, "Keep holding my hand, then we will be strong."


"Try hug me, then we will become stronger," Alesha tertawa pelan lalu memeluk Rey. Mungkin setelah ini mereka berdua akan jarang bertemu. Karena Rey yang akan fokus dengan operasinya dan pemulihan pasca operasi, begitupun dengan Alesha yang akan sibuk mengurus bayi.


*****


Seminggu kemudian, sesuai perkiraan dokter kandungan, Alesha akan segera melahirkan. Begitupun dengan Rey yang akan melakukan operasinya pada siang nanti.


Alesha yang sedang menahan sakit di ruang bersalin, masih sempat-sempatnya mengingat Rey, "Ma, Mas Rey gimana? Operasinya bentar lagi kan?" Tanyanya pada Maura yang sedang menemaninya.


Maura mengangguk, "bentar lagi dia masuk ruang operasi."


"Alesha pengen banget ketemu Mas Rey."


"Engga bisa sayang. Dokter bilang pembukaan kamu sebentar lagi lengkap." jawab Maura.


"Huh," Alesha memejamkan matanya. Mencoba untuk menahan rasa sakit diperutnya. Ia sangat ingin bertemu dengan suaminya. Tapi kondisinya sangat tidak memungkinkan, "Mas Rey," Lirihnya pelan. Air matanya jatuh begitu saja.


Rasanya sulit sekali untuk Alesha berjuang di ruang bersalin tanpa Rey di sampingnya.


Sedangkan di lain sisi, Rey juga sudah di bawa ke ruang operasi.


"Kim, tolong sampaikan pesan saya barusan ke istri saya ya."


"Iya. Pasti," Setelah mengatakan itu, Dokter Hakim mulai menyuntikan obat bius pada Rey.


*****


"Lucu banget cucunya Kakek," Bimo menimang cucunya yang baru saja lahir beberapa jam yang lalu.


Bayi mungil itu tampak tenang dan tidak terganggu dengan bisingnya suara orang-orang yang sedari tadi memujinya lucu dan tampan.


"Ganteng ya,kaya Papanya," tambah Ira. Sebenarnya Ira ingin menemani Rey di depan ruang operasi. Tapi Danu mengatakan bahwa ia saja yang menemani Rey. Sisanya diminta untuk menjaga Alesha.


"Keadaan kamu gimana sayang? Udah baikan?" Tanya Mega.


Alesha tersenyum kecut, "Nggak sepenuhnya baik. Aku belum tau keadaan Mas Rey."


"Rey pasti kuat. Kamu nggak usah khawatir. Kita berdoa aja supaya operasinya lancar," Ujar Maura dengan tenang.


Selang beberapa menit kemudian, dokter Hakim masuk ke ruangan Alesha. Ia memberitahu pada mereka bahwa operasi Rey berjalan dengan lancar dan tidak ada kendala.


Semua orang di sana bernafas dengan lega. Begitupun dengan Alesha. Ia bahkan tidak kuasa untuk menahan air matanya lagi, "Saya juga diminta oleh Rey untuk mengatakan sesuatu pada Alesha," Dokter Hakim mendekat kearah Alesha dan tersenyum, "Makasih karena sudah berjuang untuk melahirkan pangeran kecil kita. Aku cinta kamu, Reysha dan Muhammad Azwar Haidar." Ucap dokter Hakim meniru gaya bicara Rey.


Alesha tersenyum sambil meneteskan air matanya,, Muhammad Azwar Haidar. Nama yang telah Rey siapkan untuk putra kecilnya itu.


Bersambung.......