
Kini semua orang sudah berada di meja makan, bahkan Reysha dan Azzam pun tengah menikmati makanan yang dibuat Alesha.
"Gimana masakan Mama? enak kan Kak?" tanya Haidar kepada Azzam yang baru pertama kali merasakan makanan buatan mertuanya.
"Enak, masakan Mama enak banget, serasa makan di hotel bintang sepuluh." canda Azzam membuat Alesha tersenyum.
"Kamu bisa aja Zam. Dulu pas nikah sama Papa, Mama sama sekali nggak bisa masak."
"Oh ya? tapi sekarang masakan Mama enak banget."
"Iya karena Mama rajin belajar, Mama juga waktu SMA tergolong anak yang pintar kok Zam, Mama itu cepat tanggap dalam segala hal apapun, bahkan sampai sekarang dia bisa bikin Papa makin hari makin cinta." sahut Rey di iringi candaan.
Azzam dan yang lainnya hanya terkekeh mendengar candaan Rey, bahkan Reysha dan Haidar seolah-olah sudah terbiasa melihat kedua orang tuanya yang makin hari makin bertambah romantis.
"Pasti Papa sayang banget ya sama Mama, aku yang baru ketemu Mama aja merasa kalau Mama itu bisa bikin nyaman seseorang, bukan karena parasnya yang cantik, melainkan karena hatinya juga yang baik."
"Iya benar. Mama itu udah cantik, baik, pinter, aku nanti pengen punya istri yang sifatnya kaya Mama." ujar Haidar yang sudah pasti mendapatkan tatapan tajam dari Rey dan Alesha.
"Masih kecil udah mikirin punya istri, mau dikasih apa istri kamu nanti?" kata Reysha menatap sinis adiknya.
"Nggak usah nyindir diri sendiri kali Kak, emang umur kakak berapa sih? kakak juga buktinya masih kecil udah nikah."
"Udah-udah habisin dulu makannya baru boleh debat terserah kalian." ujar Alesha berusaha melewati keduanya.
Akhirnya mereka pun menikmati makanannya dengan khidmat, setelah selesai makan Alesha menahan mereka semua yang akan beranjak dari tempatnya.
"Kenapa Ma?" tanya Haidar.
"Kita ke makam bunda Safira ya, Mama kangen sama dia, kita doain bunda biar tenang di sana."
"Dia bukan bunda kita." bantah Reysha.
"Reysha! Walaupun bukan bunda yang mengandung kamu, tetapi selama hamil kamu bunda selalu jagain Mama." ujar Alesha.
Reysha menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan ucapan mamanya, bisa-bisanya namanya itu masih berbaik hati kepada pembunuh seperti Safira.
"Mama, aku mohon jangan pernah lagi ucapin nama dia di depan aku, aku benci dia, gara-gara dia Mama harus jadi yang kedua, gara-gara ibunya dia juga Mama harus berpisah sama Oma Maura, terus gara-gara dia juga Om Alvin meninggal!"
"CUKUP REYSHA!" bentak Rey.
"Nggak masalah kamu nggak menganggap Safira sebagai bunda kamu, tapi jangan pernah ungkit lagi kesalahan-kesalahan dia! Papa nggak pernah ngajarin kamu supaya nggak menghormati orang yang lebih tua, Safira juga istri Papa, siapapun yang membencinya berarti dia juga membenci Papa."
"Bahkan gara-gara dia aku bakal kehilangan Papa aku sendiri, Papa sama Mama pernah hampir berpisah gara-gara dia kan? Dia egois cuma mau punya anak dan mengorbankan Mama yang saat itu masih muda, Papa juga sama egoisnya. Di saat aku lahir bukannya Papa bahagia tapi Papa bersedih karena kehilangan wanita itu! Papa bahkan sampai nelantarin aku!"
Rey tidak bisa berkata-kata lagi, apalagi saat ingat kalau dia pernah tidak peduli kepada Alesha dan anaknya saat kepergian Safira untuk selama-lamanya.
"Dia pembunuh! Pembunuh" setelah itu Reysha berlari menuju kamarnya untuk menumpahkan segala rasa kesalnya.
"REYSHA MAU KEMANA KAMU?" teriak Alesha saat Reysha berlari begitu saja meninggalkan mereka semua.
Alesha memegang kepalanya yang berdenyut nyeri, Siapa yang memberitahu Reysha semua ini? bahkan yang tau semua ini hanya para orang tua saja.
"Siapa! siapa yang ngasih tau Reysha Mas." lirih Alesha dengan mata yang berkaca-kaca.
"Maaf Ma, Pa. Azzam mah nyusul Reysha dulu." ucap Azzam langsung menyusul Reysha ke kamarnya.
Setibanya di depan pintu kamar Reysha, Azzam mendengar Isak tangis perempuan itu, sontak Azzam langsung saja menghampiri Reysha yang sedang berjongkok di samping tempat tidur.
"Sa.." panggil Azzam.
"Kenapa Mama masih baik aja sama wanita itu, padahal dia yang udah hancurin hidup Mama, Zam."
"Kamu tau? Sebenernya Mama itu istri kedua Papa, Mama terpaksa nikah gara-gara wanita itu nggak bisa ngasih Papa keturunan. Wanita itu juga yang udah bunuh cinta pertama Mama, Aku tau semuanya Zam, tapi kenapa Mama masih mengingat wanita itu juga." tangis Reysha kembali pecah, Azzam langsung membawa Reysha ke dalam pelukannya untuk menenangkan emosi Reysha yang kian menggebu.
Azzam terus saja mendengarkan racauan Reysha, sampai wanita itu tertidur di dalam dekapannya. Azzam sempat terkejut saat mengetahui ternyata mertuanya itu istri kedua. Tetapi pasti ada alasan dibalik ini semua selain ingin mendapatkan keturunan semata.
Pria itu membaringkan Reysha di atas ranjang dan menyelimuti tubuhnya sebatas dada.
"Gue nggak tau banyak tentang keluarga ini, tentang kesedihan Reysha, tapi gue yakin kalau Mama Alesha bukan orang ketiga, dan kenapa gue juga nggak yakin kalau wanita yang bernama Safira itu jahat, Semuanya memang rumit. Gue gak mau ikut campur masalah ini, gue cuma mau Reysha bahagia itu aja." setelahnya Azzam ikut berbaring di samping Reysha dan memeluknya dari samping.
Azzam tidak ingin ikut campur karena tidak tau permasalahannya, bukan hanya itu saja, Azzam hanyalah anggota baru yang harus lebih menjaga sikapnya.
Dia hanya akan mendengarkan keluh kesah Reysha kepadanya karena memang itu yang diperlukan seseorang yang sedang memiliki masalah, mendengarkan akan membuat perasaan Reysha lega.
Mendengarkan curhatan orang lain dan memberinya masukkan memang diperbolehkan asalkan tidak melebihi batas hingga ikut campur urusan orang tersebut. Tidak ikut campur urusan orang lain merupakan salah satu bentuk untuk menghargai privasi mereka. Apabila kamu sudah tahu sebab masalah mereka, maka cukup sampai di situ saja informasi yang kamu simpan, jangan mengorek hingga ke akar dan tidak sadar sudah terlalu jauh masuk ke ranah privasi orang lain.
Sering kali orang berpikir bahwa ikut campur ke masalah orang lain bisa membantu orang tersebut untuk menemukan titik terang. Namun, tanpa disadari hal itu justru mendatangkan masalah tanpa diduga.
"Selamat tidur Sa, semoga setelah ini kamu nggak bakal sedih-sedih lagi." ujar Azzam yang setelahnya ikut memejamkan matanya menyusul Reysha ke alam mimpi. Hingga tanpa sadar Reysha pun membalas pelukan Azzam seperti biasanya mereka akan saling berpelukan dalam tidurnya.