
"Mas kamu udah tidur?" tanya Alesha.
"Hm" gumam Rey mengeratkan pelukannya.
"Kamu gak berat gitu tidur gini." ujar Alesha, pasalnya kini tubuh Alesha berada di atas tubuh Rey.
Rey tersenyum dan memindahkan Alesha di sampingnya, Alesha berbaring di lengannya dan memeluknya dari samping.
"Capek ya?" tanya Alesha memandang wajah Rey yang masih terpejam.
"Gak capek sayang, cuman Alhamdulillah kerjaan Mas banyak banget." ucapnya masih memejamkan mata, Alesha benar-benar terpaku dengan ketampanan suaminya.
"Ganteng banget sih, suaminya siapa, pasti istrinya beruntung banget dapat suami kaya kamu ini, utututu." guman Alesha menyatukan hidungnya dengan hidung Rey. Gemas dengan hidungnya yang mancung.
Dan pada akhirnya Rey terpaksa membuka mata, lalu ada senyum kecil mengembang.
"Akhirnya aku bisa berada di titik terbahagia bersama kamu, jangan pernah tinggalin aku yang, Mas sayang banget sama kamu, selama ini Mas selalu berusaha memperbaiki diri agar bisa bersanding dengan kamu, rasanya Mas jadi pria paling beruntung bisa ada di samping kamu."
"Kamu terbaik versi diri kamu sendiri Mas, aku menerima kekurangan dan kelebihan kamu, sama seperti kamu yang menerima kekurangan dan kelebihan aku,"
"Mas boleh nanya sesuatu sama kamu? Ini agak nggak sopan sih, tapi Mas pengen tau jawaban dari kamu."
"Tentu boleh Mas,"
Rey menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan perlahan." Kamu udah bisa lupain Alvin? Maksud Mas apa masih ada namanya di hati kamu, bukankah di saat kamu udah nikah sama Mas, kamu masih mencintainya?" tanya Rey.
Alesha mengembangkan senyumnya, dia tau kalau suaminya itu pasti sedang cemburu dengan masa lalunya itu.
"Mas coba ingat, kita udah puluhan tahun bersama dan kamu baru menanyakannya, kalau aku belum lupa mana mau aku diajak bikin anak lagi, mana ada Haidar di sini, Kak Alvin cukup berada di dalam hati aku, karena memang dia pernah menjadi bagian terindah, sedangkan kamu masa depan aku, kamu yang akan mendampingi aku hingga menua nanti." jawab Alesha.
"Jadi, nggak ada lagi nama Alvin di hati aku, sekarang hanya ada aku, kamu dan anak-anak." lanjut Alesha.
Rey menarik Alesha kedalam pelukannya,mencium wajahnya bertubi-tubi membuat Alesha terkekeh di buatnya.
"Sayang, badan Mas sakit semua nih, kamu mau nggak mijitin Mas." Alesha menghela nafas, memang dasar suaminya itu sudah tua kebanyakan gaya. Tadi bilangnya nggak capek, sekarang minta dipijit.
"Ya udah, aku ambil lotion dulu."
Alesha membelalakkan matanya saat Rey sudah membuka kaosnya, dan celana panjangnya.
"Kok dibuka semua sih Mas." ujar Alesha, Rey masih membuka pakaiannya dan langsung menggunakan sarung dan berbaring tengkurap di atas ranjang.
"Biar enak sayang, lagian Mas juga pakai sarung kok."
Alesha mengabaikan ucapan Rey dan mulai memijatnya, dari punggung ke pinggang dan berulang-ulang seperti itu.
"Agak kebawah yang, kayanya gara-gara capek seharian duduk nih pinggang Mas jadi capek."
Alesha hanya menurut dan melanjutkan acara pijat memijatnya.
"Jangan curi-curi kesempatan yang." kekeh Rey.
"Kenapa? Kamu mau."
"Jangan bikin aku kesel ya Mas." ketus Alesha melanjutkan pijatannya dari ujung kaki ke betis.
"Galak banget sih mamanya anak-anak, gimana setelah ini kita bikin adik buat Haidar." tanya Rey sambil memejamkan matanya. sontak Alesha langsung menekan dengan keras punggung Rey.
"Jangan macam-macam ya Mas, nanti bisa-bisa umur anak sama cucu sama aja." ujar Alesha.
"Anak kita aja yang kecepatan nikah, sebenernya kita masih bisa kok nambah anak." kata Rey membalikan badannya hingga Alesha sekarang berada di dalam kungkungan Rey.
"Ish! Minggir nggak!" ucap Alesha berusaha mendorong badan Rey agar menyingkir dari atas tubuhnya.
"Nggak mau." ucap Rey.
"Mas..." panggil Alesha.
"Hmm.." guman Rey yang sudah menjatuhkan kepalanya di atas dada Alesha.
"Sejujurnya aku nggak mau ngomong gini, tapi kadang aku masih ada rasa cemburu saat kamu ingat Mbak Safira, hati aku sakit, tetapi itu wajar karena Mbak Safira juga kan istri kamu, padahal Mbak Safira udah nggak ada tapi tetap aja rasa cemburu terus merayap di dada."
"Kamu ingat cerita istri Rasulullah."
Sifat cemburu yang dimiliki Aisyah adalah bukti tulusnya cinta kepada Rasulullah saw. Cemburu sendiri adalah sifat manusiawi yang menjadi bukti tanda kekuasaan Allah, bahwa Dialah yang maha membolak-balikkan hati.
Ketika Nabi Muhammad saw sering menyebut nama Khadijah, istrinya yang sudah meninggal dunia, Aisyah benar-benar merasa cemburu meskipun belum pernah saling bertemu.
Cemburunya Aisyah itu disebutkan dalam sebuah hadis, Tidaklah aku cemburu kepada salah seorang istri-istri Nabi saw sebagaimana kecemburuanku terhadap Khadijah. Padahal aku belum pernah melihatnya. (HR. Muslim).
Saking cemburunya, Aisyah bahkan pernah bercerita, Aku tidak pernah cemburu kepada seorang wanita seperti cemburuku kepada Khadijah. Karena Nabi saw sering menyebut namanya.
Suatu hari beliau mengingatnya. Lalu aku berkata, Apa yang dapat engkau lakukan dengan wanita keriput dan sudah ompong itu? Padahal Allah Swt telah memberi ganti untukmu dengan yang lebih baik darinya.
Beliau Rasulullah saw menjawab, Demi Allah. Allah Swt tidak menggantinya untukku? (HR. Bukhari dan Muslim).
Apa yang sering ditunjukkan Aisyah tersebut sering menjadi bahan pergunjingan banyak orang. Sebab, menurut mereka, perangai yang ditunjukkan Aisyah sangatlah tidak baik.
Hal tersebut jelas bukan alasan untuk menghakimi Aisyah. Sebab, ia adalah seorang yang memang sangat mencintai Nabi Muhammad terlebih tidak ada laki-laki lain di hidupnya selain Nabi Muhammad.
"Hikmahnya adalah, cemburu tidak hanya dimiliki oleh orang biasa, tapi bahkan perempuan semulia ibunda Aisyah juga bisa merasa cemburu. Selain itu, dalam kehidupan rumah tangga juga pasti ada dinamika konflik yang terkadang muncul karena masalah sepele."
"Maafin Mas kalau udah buat kamu cemburu, tapi Mas nggak ada maksud kaya gitu, yang terpenting adalah sekarang kamu yang akan menemani Mas hingga menua nanti sambil melihat anak cucu kita kelak, setiap kali kamu merasa cemburu, tolong tegur Mas agar tidak lagi menyakiti hati kamu." ujar Rey mengusap surai hitam Alesha.
"Maafin aku, kadang pikiran aku yang buat aku sakit hati, aku sering berpikir kalau kita lagi bermesraan, terus tiba-tiba bayangan aku adalah kamu dan Mbak Safira, bahkan setelah ia tiada aku masih saja cemburu terhadapnya."
"Mas hanya menghabiskan waktu enam tahun, sedangkan bersama kamu sudah tiga belas tahun, bahkan Mas lebih dulu mengenal kamu dibanding Safira, jadi lupakan semuanya, cemburu itu wajar, tetapi kalau kita marah-marah karena cemburu, itu yang nggak wajar sayang." ujar Rey kemudian merapatkan badannya kepada Alesha dan menarik selimutnya.
"Allahumma janibnasyaithana wa janibnisyathanamarazaqna"
"MAS..." pekik Alesha karena tiba-tiba Rey mulai menerkamnya.