Until the End

Until the End
Kegelisahan Rey



Adakalanya dalam hidup ini kita merasakan sehat dan adakalanya kita sakit. Ketika kita sehat, hendaknya kita selalu bersyukur kepada Allah karena dengan nikmat sehat. Dengan kesehatan yang ada pada diri kita, banyak sekali nikmat lainnya yang dapat kita rasakan. Dengan sehat, kita dapat menikmati makan dan minum, ibadah, serta aktivitas hidup lainnya.


Sebaliknya, ketika kita sedang sakit, hendaknya kita bersabar atas sakit yang menimpa diri kita.


Selain itu, dengan sakit ini, tentunya kita sadar bahwa nikmat sehat begitu sangat berharga dan sehat merupakan anugerah Allah yang luar biasa. Sebagai seorang yang beriman, sudah selayaknya kita meyakini bahwa ada hikmah di balik musibah sakit yang kita alami.


Pada hakikatnya, semua keadaan seorang muslim mengandung kebaikan di dalamnya, baik ketika sehat ataupun ketika sakit.


Saat ini Safira tengah mengalami itu semua, dan ia hanya bisa bersabar atas apa yang menimpa dirinya. Sedangkan Rey tengah frustasi akan semua ini.


Lelaki yang baik bisa menjadi lelaki yang bahagia sekaligus, jika kita mampu mengidentifikasi masalahnya. Perasaan soal tanggung jawab membahagiakan pasangan ini akan berubah menjadi rasa frustasi ketika ia merasa gagal melakukan hal yang baik untuk pasangannya.


Dan Rey tengah frustasi dengan posisinya saat ini, di sisi lain ia harus terus menjaga kesehatan Safira, namun dia juga tidak boleh lupa akan Alesha yang sedang hamil tua.


Rasanya Rey ingin menyerah dengan semua keadaan ini, namun menyerah bukan pilihan yang harus ia pilih. Ia akan terus bertahan dalam kondisi yang tidak membuatnya bahagia karena ia lebih takut kehilangan orang yang ia cintai.


Salah satu aspek yang perlu digaris bawahi dari berpoligami adalah perihal keadilan pemberian tanggung jawab. Baik terhadap istri pertama, maupun istri istri kedua. Dan Rey telah gagal menjaga keduanya, di saat ia bersama Safira ia merasa hanya Safira yang ada di hatinya, dan sebaliknya jika dia berada di samping Alesha maka ia selalu menganggap Alesha adalah istri satu-satunya.


"Kamu belum tidur Mas" tanya Alesha melihat suaminya sedang duduk bersandar di depan tv dengan pandangan kosong.


Rey terkejut dengan kehadiran Alesha, ia tersenyum paksa menatap dalam wanita yang ada di hadapannya.


Rasanya Rey ingin memeluk dan menumpahkan segala kesedihannya pada Alesha, tetapi Rey takut itu akan menjadi beban pikiran Alesha.


"Mas belum ngantuk Sha." jawab Rey.


"Mas mau ngomong serius sama kamu Sha."


"Mau ngomong apa Mas?" tanya Alesha.


"Mas udah tau semuanya." Alesha mengerutkan keningnya tidak mengerti akan ucapan suaminya.


"Mas tau siapa kamu dalam hidup Mas, Mas tau juga latar belakang kamu dan Safira, dan Mas tau bunda bukan ibu kandung kamu" Alesha memejamkan matanya mengingat kenyataan kalau Mega orang yang sangat menyayanginya bukanlah ibu kandungnya.


"Kamu gak ada dendam sama Safira?"


"Ternyata selama ini kamu gak mengenal aku sama sekali, buat apa Mas, buat apa aku dendam sama Mba Safira, dia gak ada masalah sama aku, bahkan dia baik banget sama aku, rasanya aku berdosa banget kalo punya dendam sama Mba Safira dan bunda."


"Tapi kalau aku tau dari awal mungkin kita gak bakal terjebak dalam situasi ini."


"Justru membalas dendam perbuatan bodoh karena mentoleransi atau membenamkan kebencian dalam diri aku sendiri Mas."


"Aku tau semua drama dalam rumah tangga ini, tapi aku diam Mas, aku tau ibu kamu hanya pura-pura benci Mba Safira." lanjut Alesha dengan mata berkaca-kaca.


"Dan Mas juga baru tau kalau selama ini ibu juga yang menyembunyikan penyakit Safira,ibu rela terlihat buruk di depan semua orang demi Safira,dan demi Safira ibu menyuruh aku nikah lagi sama kamu Sha, Safira ingin menyatukan kisah kita yang belum usai" potong Rey membuat Alesha menatap tajam suaminya.


"Kisah mana yang belum usai Mas? itu bukan kisah kita tapi kisah kamu sendiri, bahkan saat itu aku belum mengerti apa arti cinta tapi kamu yang mencintai aku lebih dulu, aku masih berumur sepuluh tahun Mas, sepuluh tahun dan kamu tujuh belas tahun yang artinya cuma kamu yang mencintai aku tapi aku gak ngerti apa itu cinta, cinta kamu abadi bersama Mba Safira dengan ikatan yang halal."


"Lupain masa lalu kamu, buat hidup Mba Safira bahagia dengan cinta yang kamu berikan selama ini, cinta kamu itu tulus hanya untuk Mba Safira, aku hanya sebuah kesalahan yang masuk dalam rumah tangga kalian."


Sebelum meninggalkan Rey, Alesha berbalik menatap suaminya yang sedang menatap dalam dirinya."Perasaan kamu itu cuma cinta monyet Mas, gak ada seorang remaja yang mencintai bocah."


Rey termenung dengan ucapan Alesha, sebenarnya hatinya itu untuk siapa?


Alesha benar ia mencintai Safira dengan tulus dan dengan ikatan yang halal, tapi dia juga merasakan aneh di hatinya saat pertama kali mengajar di kelas Alesha kala itu.


"Jangan pergi Sha." ujar Rey membuat Alesha membalikkan badannya.


"Aku tau setelah anak kita lahir kamu bakal ninggalin aku, kamu boleh gak cinta sama aku, tapi pikirin perasaannya, apa kamu tega kisah lama terulang lagi, kisah kamu yang tidak mengetahui siapa ibu kandung kamu dan anak kamu pun akan merasakan hal yang sama."


"Kamu udah janji sama aku dan Safira kalau kita akan sama-sama jaga anak kita." lanjut Rey dengan nada memohon.


"Aku gak bisa, aku udah terlalu dalam menyakiti hati Mba Safira, mungkin ini semua balasan atas bunda yang telah merebut ayah dari ibu aku, tapi aku gak mau merebut kamu dari Mba Safira, tolong jaga anak aku nanti, biarin Mba Safira sama seperti bunda yang menjaga aku dengan penuh kasih sayang, aku yakin Mas Rey sama Mba Safira bisa menjaga anak kita dengan baik, tugas aku udah selesai Mas."