Until the End

Until the End
tetangga baru



Alesha beringsut turun dari kasur dan memunguti semua pakaiannya yang bertebaran karena ulah Rey. Selesai memakai pakaian, Alesha pergi ke toilet untuk membasuh wajahnya. alesha berdecak saat melihat dirinya di cermin, "Mas Rey ngeselin banget si!" kesal Alesha. suaminya itu membuat banyak sekali jejak di sekitar lehernya.


Bagaimana jika nanti Risa melihat tanda itu? bagaimana nanti Alesha menjelaskannya.


Alesha keluar kamar mandi dan melihat Rey masih tertidur pulas dibalik selimut. Huh, melihatnya seperti itu rasanya ia ingin menelan suaminya hidup-hidup, karena sudah membuat bercak-bercak ungu di tubuhnya.


Dari pada Alesha menelan suaminya hidup-hidup, lebih baik ia keluar kamar dan melihat anak-anaknya.


Klek,


Alesha membuka pintu kamar Reysha dan Haidar perlahan. ia kira mereka berdua masih tertidur. Tapi ternyata Reysha sudah bangun. Alesha juga melihat Reysha yang sedang mengelus-elus kening Haidar dengan lembut, "Loh anak Mama udah bangun?" Tanya Alesha sambil menghampiri anak-anaknya.


"Tadi Haidar nangis ma, jadi Kakak kebangun deh." jawab Reysha dengan muka bantalnya.


Alesha mengernyitkan dahi, "Kok kakak nggak ngasih tau Mama kalau Haidar nangis?"


"Tadi aku ke kamar Mama, tapi kamarnya di kunci. aku ketuk-ketuk nggak ada yang nyaut." sahut Reysha.


Alesha menepuk jidatnya. Ia baru ingat jika semalam Rey mengunci pintu kamar, karena ia takut jika anak-anaknya mengetahui kegiatan mereka.


Alesha menggendong bayi yang baru tiga bulan tapi sudah pisah kamar karena tidak mau telinganya rusak mendengar suara berisik yang ditimbulkan orang tuanya, "Anak Mama kenapa nangis hm,laper ya sayang?" Alesha menurunkan sedikit pakaiannya dan membiarkan Haidar menyusu.


"Mama, kok leher Mama merah-merah?" Tanya Reysha sembari menunjuk leher Alesha.


Alesha tersenyum kikuk, "Iya nih. Di kamar Mama banyak nyamuk kak," Nyamuknya sebesar Papa kamu, lanjut Alesha dalam hati.


Selesai menyusui Haidar, Alesha membawa anak-anak ke ruang tengah dan membiarkan mereka bermain di sana, sebelum itu dia memakai kerudung terlebih dahulu takut jika bi Ijah melihatnya.


"Eh Bi," Panggil Alesha pada Bi Ijah yang baru saja masuk rumah. Sepertinya Bi Ijah baru saja berbelanja bahan makanan, "Bibi mau masak ya?" Tanya Alesha.


Bi Ijah mengangguk, "Semalam, sebelum Pak Rey masuk kamar, dia minta bibi buat masakin sayur bayam bu."


Alesha tersenyum, "Ya udah. Hari ini biar aku yang masak bi," Ya meskipun Alesha tidak terlalu jago dalam urusan masak-memasak, tapi hari ini ia ingin memasak makanan untuk suaminya. Sudah lama Alesha tidak memasak untuknya.


"Eh biar Bibi aja Bu, nanti ibu kecapean lagi."


Alesha menggeleng, "Enggak capek kok Bi. Baru juga bangun tidur."


Alesha memasakkan Rey sayur bayam dan ikan goreng. Untuk urusan rasa, Alesha ragu jika ini enak. Karena yang biasa masak itu suaminya, Alesha hanya tau sedikit-sedikit saja tentang memasak.


Saat sedang mengaduk sayur,Alesha merasakan lengan kekar melingkar di pinggangnya. Alesha juga sedikit kegelian saat deru nafas yang hangat menggelitik lehernya, "Mas, geli tau."


Rey terkekeh. Bukannya menjauh dari Alesha, ia malah mengecup leher istrinya yang masih tertutup Khimar.


"Astaghfirullah, Mas!" Alesha menyikut perut suaminya sedikit keras, membuat Rey itu meringis kesakitan.


"Sakit sayang, kamu kok kasar," ringisnya.


Alesha mendengus, "Lagian kamu nempel nempel terus, udah kayak apa aja."


Alesha melotot, "Apanya yang manis?"


"Muka kamu sayang, manis." jawab Rey.


Seketika pipi Alesha memanas, "Emangnya aku gula apa?"


"Lebih dari gula kayaknya." jawab Rey dengan senyumannya.


"Mama!" Alesha yang baru saja ingin membalas ucapan Rey mengurungkan niatnya saat mendengar teriakan Reysha dari ruang tengah.


"Iya sebentar," ucap Alesha, "Mas, kamu lanjutin masaknya. Aku mau liat kakak dulu bentar."


"Loh kok jadi aku yang? Alesha?!" Rey terus memanggil Alesha. Tapi Alesha tidak menanggapinya dan lebih memilih menghampiri anak-anaknya.


"Kenapa sayang?" tanyaku pada Reysha.


"Ada om-om yang nyariin di depan rumah," ucap Reysha sambil menunjuk pintu depan.


Alesha mengernyitkan dahi, "Oh ya? Mama liat sebentar ya. Kakak tungguin Haidar di sini."


Alesha membuka pintu rumah untuk melihat siapa tamu yang datang sepagi ini.


Ada seorang laki-laki jangkung sedang tersenyum kearahnya. Di tangan kanannya terlihat ia membawa sesuatu, "Maaf? Cari siapa ya?" tanya Alesha.


Laki-laki itu menjulurkan tangannya, "Kenalkan, saya Juan. Penghuni baru di komplek ini."


Alesha menangkan kedua tangannya , "Saya Alesha. Kebetulan saya juga baru pindah ke sini."


"Oh begitu." jawab Juan kembali menarik tangannya dengan canggung.


"Iya. Memangnya ada keperluan apa ya Mas?"


"Ini," Laki-laki itu menyodorkan satu kantung plastik, "Saya ingin membagikan kue yang saya sengaja beli untuk tetangga-tetangga baru saya di sekitar sini."


Alesha menerimanya, "Makasih banyak ya Mas."


"Panggil saya Juan aja. Oke?"


Alesha mengangguk ragu, "Iya Juan. Terimakasih untuk kuenya."


"No problem," Balasnya sambil tersenyum.


Tapi kenapa Alesha merasa risih dengan senyuman yang ia berikan. Atau ini cuma perasaannya saja?.


bersambung.............