
"Kondisi Ibu dan bayinya sehat. Sepertinya ibu Alesha menjaga kondisinya dengan baik. Hal seperti ini harus terus di pertahankan sampai saat melahirkan nanti. ibu Alesha harus makan-makanan yang sehat, meminum susu hamil, juga vitamin yang telah di berikan, selain itu harus tetap melakukan pemeriksaan secara rutin seperti ini." terang dokter Syifa setelah tadi sempat memeriksa kondisi Alesha dan juga kehamilannya.
"Yang lebih penting lagi adalah jangan stress dan terlalu banyak pikiran. Wanita hamil harus selalu bahagia."
"Pasti dok, saya pastikan istri saya tidak akan terlalu banyak pikiran." ujar Rey.
"Ibu Alesha dan Pak Rey mau sekalian melakukan USG?" tanya dokter Syifa.
"Tentu dok, saya tidak sabar melihat calon anak saya." ujar Rey antusias.
Dokter Syifa tersenyum dan mengiyakan perintah Rey. Dokter itu segera mempersiapkan peralatan yang di butuhkannya, kemudian menyuruh Alesha berbaring, setelah itu dokter Syifa mengoleskan gel khusus untuk mencegah terjadinya gesekan antara kulit dan transducer. Gel tersebut juga berfungsi memudahkan pengiriman gelombang suara ke dalam tubuh.
Setelah semuanya siap, dokter Syifa menggerak-gerakkan transducer di atas perut Alesha untuk memantulkan kembali gelombang suara dan memunculkan gambar yang baik.
"Mas Rey lihat! itu anak kita!" ujar Alesha memekik girang saat melihat layar komputer.
Pekikan Alesha seakan seperti angin lalu untuk Rey. Mata pria itu fokus terhadap layar komputer dengan mulut terbungkam rapat. Dada Rey bergemuruh hebat. Ada rasa haru yang ia rasakan saat melihat gambar itu.
"Mas Rey, kenapa Mas hanya diam aja dari tadi ? Apa Mas nggak bahagia melihat bayinya ?" tanya Alesha lirih melihat Rey tanpa reaksi sedikitpun.
Rey menunduk sejenak sambil menggeleng pelan. Tanpa sadar kedua sudut bibirnya menyunggingkan senyum tipis.
"Nggak sayang, Mas sangat bahagia sampai Mas tidak mampu berkata-kata lagi." ujar Rey memeluk tubuh istrinya setelah selesai melakukan USG.
"Mas, apa aku boleh panjang foto hasil USG nya di rumah ?" tanya Alesha saat keduanya sudah berada di koridor rumah sakit.
"Boleh sayang. Kamu boleh memajangnya di manapun kamu mau." ucap Rey menggandeng tangan Alesha.
"Aku juga mau kasih liat foto ini sama ayah dan bunda, ibu, dan Mama, boleh kan?" ujarnya lagi.
"Tentu. Mereka pasti akan senang melihat perkembangan calon cucunya." jawab Rey.
"Aku seneng banget." Alesha memekik. wanita itu sedikit terlonjak sebelum kemudian berjinjit untuk memeluk leher Suaminya secara tiba-tiba.
"Terimakasih, Mas Rey," ucapnya riang.
Rey membalas pelukan istrinya sebelum melepaskannya berlahan, memberikan sedikit jarak di antara mereka agar ia bisa mengelus perut wanita itu dengan sayang.
"Mulai sekarang berhati-hatilah saat melakukan sesuatu hmm ? Jangan loncat-loncat atau bergerak sembarangan, kamu itu sedang hamil. Mengerti ?"
Alesha mengangguk patuh.
Rey tertawa sambil mencubit hidung mungil Alesha dengan gemas.
******
Setelah dari rumah sakit Rey dan Alesha pergi ke rumah Ira. mereka akan menjemput Reysha yang sedang di titipkan di sana, Reysha sangat suka berada di sana karena ada Fajar dan Meisa, anak dari Kinan dan Danu.
"Assalamualaikum." salam Rey dan Alesha memasuki rumah.
"Jangan lari-lari sayang." tegur Rey.
bruk
Belum sempat Rey menutup mulutnya tetapi Reysha sudah tersungkur ke lantai akibat menginjak mainan.
"HUWAAA PAPA." tangis Reysha pun pecah.
Alesha langsung menggendong putrinya yang sedang menangis.
"Hiks hiks, sakit Mama." ujar Reysha sesegukan, Alesha mengusap punggung Reysha yang bergetar.
"Udah nggak papa kok sayang, Kakak kan pinter, Papa juga tadi bilang jangan lari-lari kan?" ucap Alesha diangguki Reysha.
"Lain kali nurut oke?"
"Iya Mama." Alesha membawa Reysha duduk di sofa ruang keluarga, di sana sudah ada Ira, Kinan,Danu dan juga anak-anaknya.
"Tante, kata Reysha ,Reysha mau punya adik ya?" tanya Fajar.
"Iya sayang, Reysha mau punya adik." jawab Alesha mengusap lembut kepala Fajar.
"Kok Reysha seneng sih punya adik, Fajar aja gak suka punya adik, apa-apa di suruh ngalah, apalagi adiknya kaya Meisa nyebelin." ujar Fajar membuat Reysha menggelengkan kepalanya.
"Iya kah?" tanya Reysha.
"Iya, nanti Tante Alesha lebih sayang sama adiknya dari pada kamu."
"Fajar gak boleh gitu, semuanya sama aja, mau adik mau kakak semuanya sama, sama-sama di sayang Mama,Papa." tegur Ira dengan lembut.
"Gimana sama kandungan kamu?" tanya Ira mengusap perut menantunya.
"Alhamdulillah baik Bu." jawab Alesha, kemudian menyerahkan hasil USG tersebut kepada mertuanya.
"Alhamdulillah, syukur. semoga dia baik-baik aja."
Alesha hanya mengangguk dan tersenyum, sedangkan Rey sedang sibuk dengan Danu membahas masalah pekerjaan.
"Mbak gak nyangka, di usia kamu yang masih muda kamu udah di kasih kepercayaan untuk yang kedua kalinya." ujar Kinan.
"Alhamdulillah Mbak, aku juga seneng mendapat kepercayaan ini."
"Oh iya, kamu udah di kasih tau Rey belum soal butik."
"Udah Mba, dan kayanya sekarang aku masih pengen fokus sama kehamilan aku dan anak-anak, lagian juga kuliah aku udah selesai. jadi aku ingin tau perkembangan anak-anak aku."
Kinan mengangguk paham, sebagai seorang ibu Kinan juga tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk melihat perkembangan anak-anaknya.